Bunga Matahari di Teras Rumah

 


Pagi di rumah ini selalu datang dengan cara yang sama. Tidak tergesa, tidak pula berisik. Matahari muncul dari balik pepohonan di ujung halaman, menyelinap perlahan, seolah tahu bahwa rumah tua ini tidak suka kejutan. Aku sudah duduk di teras bahkan sebelum cahaya itu benar-benar hangat. Usia membuatku bangun lebih awal, atau mungkin kebiasaan yang tidak pernah berubah sejak lama.

Hal pertama yang kulakukan setiap pagi adalah menyiram bunga matahari di sudut teras. Potnya tidak besar, catnya sudah mengelupas di sana-sini. Tanahnya sering mengering lebih cepat dari yang seharusnya, tapi bunganya tetap tumbuh tegak. Aku tidak pernah menanam banyak. Satu saja cukup. Dari dulu, aku memang tidak pandai membagi perhatian.

Air mengalir pelan dari gembor plastik biru. Daunnya bergerak sedikit, seperti orang yang terbangun tapi belum sepenuhnya sadar. Aku menunggu sampai tanahnya benar-benar basah, baru berhenti. Tidak terburu-buru.

Setelah itu aku masuk ke dapur. Kompor tua masih setia menyala, meski kadang harus diputar dua kali. Aku menyiapkan teh. Bukan kopi. Sejak dulu kami memang lebih sering minum teh. Dua cangkir, selalu dua. Ukurannya sama, motifnya juga sama—bunga kecil berwarna hijau yang mulai pudar. Aku menuang air panas, aroma daun teh mengisi udara dapur yang sempit.

Dua cangkir itu kubawa ke teras dan kutaruh di meja kayu kecil di antara dua kursi. Satu kursi kududuki. Kursi satunya tetap kosong.

Aku menyesap tehnya perlahan. Tidak pernah langsung habis. Aku suka membiarkannya hangat cukup lama, lalu dingin dengan sendirinya. Cangkir di seberangku tidak tersentuh sama sekali. Uapnya perlahan menghilang.

Aku duduk menghadap matahari. Bukan karena ingin berjemur, tapi karena dari arah itulah pagi selalu datang. Dari sanalah cahaya masuk pertama kali ke rumah ini. Aku tidak pernah memindahkan posisi kursi, meski bayangan kadang terasa menyilaukan. Arah ini terasa benar.

Suara langkah kecil terdengar dari dalam rumah. Tidak lama kemudian, Nala muncul dengan rambut yang masih sedikit berantakan. Usianya baru lima tahun, tapi pertanyaannya sering kali lebih besar dari tubuhnya. Ia berdiri di ambang pintu, mengucek matanya, lalu langsung menatap meja.

“Kakek,” katanya sambil menunjuk cangkir yang masih utuh. “Itu tehnya kenapa nggak diminum?”

Aku tersenyum. Pertanyaan pagi selalu datang dari arah yang sama juga. “Nanti,” jawabku singkat.

Nala mendekat, berdiri di samping kursi kosong, lalu mengintip ke dalam cangkir. “Udah dingin nanti.”

“Iya,” kataku. “Memang begitu.”

Ia mengerutkan dahi, tidak puas, tapi belum cukup berani membantah. Anak kecil sering kali tahu ada sesuatu yang ganjil, tapi belum bisa menamainya.

Tak lama kemudian Aruna muncul. Cucuku yang satu ini sudah sepuluh tahun. Ia tidak langsung bertanya. Ia memperhatikan dulu. Dari pintu, dari jarak aman, seperti sedang mengumpulkan potongan gambar. Ia melihat bunga matahari, dua cangkir, dua kursi, lalu kembali padaku.

“Kakek selalu bikin dua, ya?” katanya akhirnya.

Aku mengangguk. “Dari dulu.”

“Dari dulu itu sejak kapan?”

Aku tertawa kecil. “Sejak sebelum kamu lahir.”

Aruna mendekat dan duduk di lantai teras, menyandarkan punggungnya ke tiang kayu. Matanya tidak lepas dari kursi kosong. Anak seusianya mulai menyadari pola, dan pola yang berulang tanpa penjelasan selalu membuat penasaran.

“Kakek nunggu siapa?” tanyanya pelan.

Pertanyaan itu melayang di udara beberapa detik. Aku mengangkat cangkirku, menyesap teh yang sudah tidak sepanas tadi. Rasanya masih sama. Tidak pernah berubah.

“Nggak nunggu,” jawabku akhirnya.

“Tapi kursinya kosong.”

“Iya.”

“Tehnya dua.”

“Iya.”

Aruna menghela napas kecil, seperti orang dewasa yang sedang mencoba bersabar. “Kalau nggak nunggu, kenapa selalu begitu?”

Aku menoleh ke arah bunga matahari. Kelopaknya menghadap ke arah yang sama denganku. Aku tidak menanamnya di situ tanpa alasan. Ada hal-hal yang lebih mudah dijelaskan lewat kebiasaan daripada kata-kata.

Nala kembali menyela. “Kakek ngobrol sama hantu ya?” tanyanya polos.

Aku tertawa. Kali ini lebih lepas. “Bukan.”

“Terus sama siapa?”

Aku menatap mereka berdua. Dua anak kecil dengan cara bertanya yang berbeda, tapi rasa ingin tahu yang sama. Aku tahu, suatu hari nanti mereka akan mengerti. Tapi pagi itu, aku hanya ingin mereka tahu secukupnya.

“Ada orang,” kataku pelan, “yang tidak pergi, hanya tidak kelihatan.”

Aruna mengernyit. Ia mengulang kalimat itu dalam kepalanya, jelas terlihat dari caranya menatap lantai. Nala tidak terlalu memikirkan. Ia lebih tertarik pada bunga.

“Itu bunganya kenapa cuma satu?” tanya Nala.

“Karena satu sudah cukup,” jawabku.

Aku kembali menghadap matahari. Cahaya pagi kini sudah lebih hangat, menyentuh wajahku dengan lembut. Angin kecil lewat, membuat daun bunga matahari bergoyang pelan. Cangkir di seberangku sudah benar-benar berhenti mengepul.

Aku tidak merasa sendirian. Tidak pagi itu, tidak juga pagi-pagi sebelumnya. Kursi itu memang kosong, tapi tidak pernah terasa benar-benar kosong. Ada kebiasaan yang tinggal, ada arah yang tidak berubah.

Anak-anak akhirnya masuk ke dalam rumah, dipanggil oleh suara ibunya. Aku tetap duduk di sana beberapa menit lagi, menghabiskan tehku sampai tetes terakhir. Seperti biasa, aku membiarkan satu cangkir tetap utuh, dingin, dan tenang.

Pagi selalu berakhir dengan cara yang sama. Dan aku tidak pernah ingin mengubahnya.

 

Aruna dan Nala kembali ke tempatku berada, lalu duduk di lantai teras. Nala bersila seadanya, kakinya belum benar-benar tenang. Aruna duduk lebih rapi, punggungnya kembali bersandar ke tiang kayu. Mata mereka berdua mengarah kepadaku, menunggu.

Aku tahu tatapan itu. Tatapan yang tidak ingin jawaban cepat. Mereka ingin cerita.

Aku menarik napas panjang. Bukan napas orang yang lelah, tapi napas orang yang sedang membuka lemari lama di kepalanya. Lemari yang jarang dibuka, bukan karena takut, tapi karena isinya terlalu penuh.

“Kalian mau dengar cerita tentang nenek?” tanyaku akhirnya.

Nala mengangguk cepat. Aruna tidak langsung menjawab, tapi senyumnya muncul pelan, seperti orang yang merasa mendapat sesuatu yang sudah lama dicari.

Aku menatap meja kecil di depan kami. Dua cangkir masih di sana. Satu kosong, satu penuh tapi dingin. Aku menggeser cangkir itu sedikit ke tengah, seolah memberi ruang.

“Nenek kalian,” kataku pelan, “namanya Sekar.”

Aku jarang menyebut namanya keras-keras. Bukan karena berat, hanya terasa lebih tepat disimpan di dalam. Tapi pagi itu, menyebutnya terasa benar. Angin lewat bersamaan dengan namanya, menyentuh wajahku, membawa aroma tanah basah dari halaman.

“Sekar Ayu,” lanjutku. “Orangnya… cerewet.”

Nala tertawa kecil. “Cerewet gimana?”

“Kalau diam, itu justru aneh,” jawabku. “Kalau rumah sepi, biasanya karena dia lagi mikir.”

Aku berhenti sejenak. Ada bayangan di kepalaku—teras ini, tapi puluhan tahun lalu. Kayunya masih lebih terang, cat dinding belum mengelupas. Sekar duduk di kursi yang sekarang kosong itu, kakinya diangkat satu, memegang cangkir teh sambil mengomel soal hal-hal kecil.

Aku tidak langsung menceritakan semuanya. Ingatan datangnya tidak berbaris. Ia datang seperti angin pagi: pelan, acak, tapi terasa.

“Kakek kenal nenek waktu masih muda?” tanya Aruna.

Aku tersenyum. “Waktu kakek belum jadi kakek. Bahkan belum jadi apa-apa.”

Aku memejamkan mata sebentar. Suara anak-anak di sekitarku pelan-pelan menjauh, bukan hilang, hanya berubah jadi latar. Yang muncul justru suara lain. Suara yang lebih lama.

Aku ingat pertama kali melihat Sekar. Bukan momen yang besar. Tidak ada hujan, tidak ada lagu, tidak ada kejadian istimewa. Ia hanya lewat, tertawa bersama temannya, rambutnya terikat asal. Aku sedang duduk di bangku panjang, menunggu sesuatu yang bahkan aku tidak ingat apa.

Yang kuingat justru perasaan aneh di dada. Bukan degup keras, hanya rasa ingin melihat lagi.

Aku membuka mata. Aruna dan Nala masih di sana, menunggu.

“Nenek kalian,” kataku, “bukan orang yang langsung jatuh cinta.”

“Maksudnya?” Aruna bertanya.

“Maksudnya,” aku tersenyum, “dia punya banyak hal di kepalanya. Banyak orang di sekitarnya.”

Aku tidak bilang bahwa Sekar punya lebih dari satu pacar waktu itu. Belum. Aku hanya bilang ia sibuk. Sibuk hidup. Sibuk menjadi dirinya sendiri. Dan aku… ada di pinggir. Tidak selalu terlihat, tapi selalu ada.

Angin kembali berembus. Daun bunga matahari bergoyang pelan. Aku menatapnya, lalu kembali ke masa lalu tanpa benar-benar meninggalkan pagi ini.

Aku ingat menunggu. Banyak menunggu. Menunggu Sekar selesai bicara dengan orang lain. Menunggu dia punya waktu. Menunggu dia menoleh. Tidak pernah aku merasa itu menyiksa. Menunggu waktu itu rasanya seperti bagian dari hari.

“Kakek nggak capek nunggu?” tanya Nala tiba-tiba, seolah membaca pikiranku.

Aku tersenyum. “Kalau nunggu sesuatu yang kita mau, capeknya beda.”

Aku tidak menjelaskan lebih jauh. Anak lima tahun tidak perlu semua jawaban. Cukup tahu bahwa menunggu tidak selalu buruk.

Ingatan lain muncul. Sekar duduk di bangku kayu, memarahiku karena aku terlambat. Aku hanya diam, mendengarkan. Aku memang sering diam. Bukan karena tidak punya kata, tapi karena lebih suka menyimpan.

Aku ingat pertama kali dia marah besar. Aku juga ingat pertama kali dia tertawa karena leluconku yang tidak lucu. Hal-hal kecil itu menumpuk pelan, membentuk sesuatu yang baru kusadari bertahun-tahun kemudian: aku mencintainya bahkan sebelum aku tahu namanya akan menjadi rumah.

“Kakek,” kata Aruna pelan, “nenek orangnya baik, ya?”

Aku mengangguk. “Baik, tapi bukan tanpa salah.”

Aku tidak ingin menjadikan Sekar tokoh yang sempurna. Dia bukan itu. Dia manusia. Pernah ragu, pernah salah arah, pernah ingin pergi. Tapi justru itu yang membuatku tetap memilihnya.

Angin pagi bertiup sedikit lebih kencang. Aku merasakan dinginnya di kulit, seperti sentuhan dari waktu lain. Aku tahu, setelah ini, ceritaku akan semakin jauh masuk ke masa lalu. Ke masa ketika aku belum tahu bagaimana akhirnya.

Aku menarik napas lagi. Kali ini lebih dalam.

“Cerita nenek panjang,” kataku. “Dan nggak semuanya manis.”

Aruna mengangguk, serius. Nala mendekat sedikit, bersandar ke kakaknya.

Aku tersenyum kecil. “Tapi kalau kalian mau dengar, kakek ceritakan pelan-pelan.”

Aku menatap kursi kosong di depanku, lalu kembali menghadap matahari. Cahaya pagi sudah naik sedikit lebih tinggi. Teras ini masih sama. Tapi di kepalaku, aku sudah berdiri puluhan tahun yang lalu, menunggu seseorang yang belum tahu akan memilihku atau tidak.

Dan dari situlah ceritanya benar-benar dimulai.

 

Kalau dipikir-pikir sekarang, pertemuan pertama kami tidak layak disebut peristiwa penting. Tidak ada yang berhenti, tidak ada yang berubah arah. Dunia tetap berjalan seperti biasa. Hanya aku yang pulang hari itu dengan kepala sedikit lebih ramai dari biasanya.

Waktu itu aku masih muda. Rambutku masih hitam semua, punggung belum sering pegal, dan masa depan masih terasa seperti sesuatu yang jauh, bukan sesuatu yang harus dikejar. Kami hidup di masa ketika hidup tidak terlalu cepat. Surat masih ditunggu berhari-hari. Janji bertemu dipegang seperti utang. Dan kabar sering datang dari mulut ke mulut, bukan dari layar kecil di tangan.

Aku bertemu Sekar di sebuah acara kecil. Bukan pesta besar. Hanya kumpul sederhana anak-anak muda di kampung, dengan kursi kayu disusun seadanya dan musik diputar dari radio tua. Lagu-lagu mengalun pelan, kadang terputus karena sinyal yang naik turun. Semua orang bercakap, tertawa, saling menyapa.

Sekar datang tidak sendirian. Ia selalu begitu. Dikelilingi teman-temannya, laki-laki dan perempuan. Rambutnya diikat rapi, pakaiannya sederhana tapi bersih. Ia tertawa lepas, seperti tidak punya beban apa pun. Aku melihatnya dari jauh. Tidak berani mendekat. Tidak karena takut, hanya karena aku tidak merasa perlu terburu-buru.

Di antara banyak orang di ruangan itu, aku bukan siapa-siapa. Tidak paling pintar, tidak paling tampan, tidak paling pandai bicara. Aku hanya duduk di pinggir, membantu apa yang bisa dibantu. Kadang mengangkat kursi, kadang menuang minum. Aku lebih sering mendengar daripada bicara.

Sekar memperhatikanku bukan karena aku menarik perhatian. Ia memperhatikanku karena aku selalu ada di tempat yang sama. Saat orang lain sibuk menonjolkan diri, aku tetap duduk, tetap tenang. Katanya kemudian, itu yang membuatnya penasaran.

Kami berbicara pertama kali bukan tentang hal besar. Hanya soal cuaca yang terlalu panas dan radio yang terlalu sering mati sendiri. Obrolan biasa. Tapi sejak itu, kami sering saling menyapa. Tidak selalu lama, tidak selalu berdua. Kadang hanya senyum, kadang hanya anggukan.

Sekar punya banyak teman laki-laki. Itu bukan rahasia. Semua orang tahu. Di masa itu, perempuan yang berani tertawa keras dan bicara lugas sering dianggap “terlalu bebas”. Tapi Sekar tidak peduli. Ia tetap berjalan dengan caranya sendiri.

Aku tahu sejak awal, aku bukan satu-satunya. Aku tahu ia punya pacar. Bahkan lebih dari satu dalam rentang waktu yang berbeda. Aku mendengarnya dari orang lain, bukan dari Sekar sendiri. Dan anehnya, aku tidak pernah merasa perlu menanyakannya langsung.

Aku sempat menjauh. Ada masa ketika aku merasa kehadiranku tidak diperlukan. Aku berhenti muncul di tempat-tempat yang biasa ia datangi. Berhenti menunggu di sudut yang sama. Aku pikir, mungkin itu yang paling bijak. Menghilang sebelum berharap terlalu jauh.

Tapi menjauh tidak membuat perasaan itu pergi. Ia hanya diam, menunggu di tempat yang sama di dalam dada.

Beberapa bulan kemudian, aku kembali. Bukan dengan niat besar. Aku hanya kembali menjadi diriku sendiri. Hadir tanpa membawa tuntutan. Duduk di tempat biasa. Menyapa seperti biasa.

Sekar memperhatikan perubahan itu. Suatu sore, kami duduk di bangku panjang dekat lapangan. Anak-anak kecil bermain kelereng di tanah. Matahari hampir tenggelam. Sekar menatapku lama, lalu bertanya, “Kamu kemarin ke mana saja?”

“Ke rumah,” jawabku jujur.

“Kok jarang kelihatan?”

Aku mengangkat bahu. “Nggak ke mana-mana.”

Ia tertawa kecil. “Kamu aneh.”

Aku tersenyum. “Katanya juga begitu.”

Sekar menatap ke depan, lalu berkata pelan, “Kamu tahu kan, aku nggak suka diatur.”

Aku mengangguk. “Aku tahu.”

“Kamu juga tahu aku nggak janji apa-apa.”

“Iya.”

Ia menoleh padaku, sedikit heran. “Kamu nggak keberatan?”

Aku diam sejenak. Kata-kata itu kupikirkan lama sebelum keluar. Bukan karena aku ingin terdengar bijak, tapi karena aku ingin jujur.

“Aku ingin kamu memilihku,” kataku akhirnya, “bukan karena kamu tidak punya pilihan.”

Sekar tidak langsung menjawab. Ia hanya tersenyum kecil. Senyum yang tidak menjanjikan apa pun, tapi juga tidak menutup pintu. Di masa itu, senyum seperti itu sudah cukup.

Setelah hari itu, tidak banyak yang berubah di permukaan. Sekar tetap menjadi dirinya. Aku tetap menjadi diriku. Kami tidak resmi. Tidak ada status yang bisa disebutkan dengan jelas. Tapi kami sering berbagi waktu. Jalan sore. Duduk berdua di teras rumahnya sambil mendengarkan radio. Bicara tentang hal-hal kecil: tentang kerja, tentang keluarga, tentang mimpi yang masih kabur bentuknya.

Aku tidak pernah melarang Sekar bertemu siapa pun. Tidak pernah menuntut kabar setiap saat. Bukan karena aku tidak peduli, tapi karena aku percaya: cinta yang dipaksa tidak pernah bertahan lama.

Ada malam-malam ketika aku pulang dengan perasaan kosong. Ada hari-hari ketika aku mendengar kabar Sekar dekat dengan orang lain. Aku merasakannya, tentu saja. Tapi aku memilih untuk tetap hadir. Hadir bukan sebagai penjaga, tapi sebagai tempat pulang jika ia ingin.

Waktu berjalan pelan di masa itu. Tidak ada yang terasa dikejar. Kami hidup dari hari ke hari, dari percakapan ke percakapan. Dan tanpa kusadari, kebiasaan itulah yang akhirnya menumbuhkan sesuatu yang lebih kuat dari janji.

Sekar mulai lebih sering mencari aku. Bertanya pendapatku. Duduk lebih lama. Tertawa lebih lepas saat bersamaku. Aku tidak merayakannya. Aku hanya menerimanya.

Cinta kami tidak lahir dari momen besar. Ia tumbuh dari hal-hal kecil yang dilakukan berulang. Dari kehadiran yang tidak memaksa. Dari kesabaran yang tidak banyak bicara.

Di teras rumahku sekarang, aku kembali membuka mata. Aruna dan Nala masih duduk di depanku. Angin pagi masih sama. Tapi ceritaku sudah berjalan jauh.

“Terus?” tanya Aruna pelan.

Aku tersenyum. “Terus… suatu hari, nenek kalian berhenti melihat sekeliling.”

Aku menoleh ke kursi kosong itu lagi. Di sanalah dulu Sekar duduk, sebelum akhirnya memilih tinggal.

 

Sekar memilihku tanpa pengumuman. Tidak ada kalimat resmi, tidak ada tanda besar yang bisa ditunjuk dan dikenang. Ia hanya berhenti berjalan ke banyak arah, lalu duduk di sampingku lebih lama dari biasanya. Dan dari situlah aku tahu.

Waktu itu sore. Kami duduk di bangku kayu dekat rumah orang tuanya. Udara hangat, suara radio dari rumah tetangga samar-samar terdengar. Sekar memutar-mutar ujung bajunya, kebiasaan kecil yang sering ia lakukan saat sedang berpikir.

“Rak,” katanya tiba-tiba, memanggil namaku dengan nada yang tidak biasa.

Aku menoleh. “Iya?”

“Kamu capek nggak sih?” tanyanya.

Aku tertawa kecil. “Capek kenapa?”

“Jadi orang yang selalu ada,” katanya, lalu menatapku lurus. “Aku sering mikir… kamu itu bodoh atau sabar.”

Aku mengangkat bahu. “Mungkin dua-duanya.”

Sekar tersenyum. Senyum yang lama. Tidak terburu-buru. “Kalau aku berhenti muter-muter,” katanya pelan, “kamu masih mau duduk di sini?”

Aku tidak langsung menjawab. Bukan karena ragu, tapi karena aku tahu jawaban itu akan mengubah arah hidupku. Aku menatap jalan kecil di depan kami, debu yang berpendar kena cahaya sore.

“Aku dari dulu duduk di sini,” kataku akhirnya. “Kalau kamu mau duduk juga, kursinya masih muat.”

Sekar tertawa pelan. “Kamu ini… nggak pernah minta apa-apa, ya.”

“Aku cuma minta kamu memilih.”

Ia mengangguk. Tidak ada pelukan. Tidak ada air mata. Tapi sejak hari itu, Sekar tidak lagi pergi ke banyak arah. Ia tetap menjadi dirinya—ceria, mandiri, kadang keras kepala—tapi langkahnya kini selalu kembali ke tempat yang sama.

Kami tidak langsung menikah. Di masa itu, menikah bukan perkara ringan. Ada keluarga yang harus diberi tahu, ada pembicaraan panjang di ruang tamu, ada kopi yang diseduh berkali-kali. Aku datang ke rumah orang tuanya dengan kemeja terbaik yang kupunya. Tangan dingin, tapi niatku hangat.

Ayah Sekar menatapku lama. “Kamu yakin?” tanyanya.

Aku mengangguk. “Yakin.”

“Sekar itu bukan perempuan yang mudah.”

Aku tersenyum. “Saya tahu.”

Ibunya hanya tersenyum kecil. “Kalau begitu, jaga dia.”

Aku mengangguk lagi. Itu janji pertama yang kuucapkan tanpa kata-kata besar.

Pernikahan kami sederhana. Tidak ada gedung besar, tidak ada pesta mewah. Hanya rumah, keluarga, tetangga, dan hidangan yang dimasak ramai-ramai. Sekar duduk di sampingku dengan kebaya sederhana. Tangannya gemetar sedikit saat aku menggenggamnya.

“Kamu gugup?” bisikku.

“Sedikit,” jawabnya. “Takut nanti kamu bosan.”

Aku menoleh padanya. “Aku dari dulu nggak pernah bosan.”

Ia mendengus pelan. “Jangan bohong.”

“Aku nggak pintar bohong.”

Ia tertawa, lalu menunduk. Dan sejak hari itu, tawanya menjadi bagian dari rumah kami.

Tahun-tahun awal pernikahan kami dipenuhi hal-hal kecil. Kami belajar hidup bersama. Belajar berbagi ruang, waktu, dan kebiasaan. Sekar tidak suka bangun pagi, aku tidak suka tidur terlalu malam. Kami sering berdebat soal hal sepele.

“Kamu taruh sendok sembarangan,” katanya suatu pagi.

“Kamu juga,” balasku.

“Tapi ini rumah kita,” katanya sambil menunjuk dapur.

“Iya, makanya kita berantakan bareng,” jawabku.

Sekar tertawa, lalu melempar lap ke arahku.

Kami sering tertawa. Tidak selalu karena lucu, kadang karena lelah. Kami membuat rencana-rencana kecil: menabung sedikit demi sedikit, memperbaiki atap bocor, membeli kursi baru untuk teras.

Anak pertama lahir tidak lama kemudian. Sekar menangis saat pertama kali menggendongnya. Aku berdiri di samping, tidak tahu harus berbuat apa selain memegang bahunya.

“Rak,” katanya pelan, “aku takut.”

“Aku juga,” jawabku jujur.

Ia menatapku, lalu tersenyum. “Bagus. Berarti kita sama-sama.”

Anak kedua dan ketiga menyusul di tahun-tahun berikutnya. Rumah kami semakin ramai. Suara tangis, tawa, langkah kecil berlarian di lantai. Sekar sering mengeluh lelah, tapi matanya selalu berbinar saat melihat anak-anak tidur.

“Kita berhasil, ya?” katanya suatu malam.

“Kita masih di tengah jalan,” jawabku.

Ia mendengus. “Kamu ini nggak pernah puas.”

“Cukup itu bukan berhenti,” kataku. “Cukup itu bertahan.”

Cinta kami tidak pernah sempurna. Ada hari-hari ketika kami diam satu sama lain. Ada malam-malam ketika Sekar merasa aku terlalu pendiam, dan aku merasa ia terlalu keras. Tapi kami selalu kembali ke meja yang sama, ke teh yang sama, ke kursi yang sama.

Di teras rumah kami, kami sering duduk berdua setelah anak-anak tidur. Tidak selalu bicara. Kadang hanya mendengarkan malam.

“Rak,” kata Sekar suatu kali, “kalau suatu hari aku berubah…”

Aku menoleh. “Kamu memang akan berubah.”

“Kalau aku bikin kamu capek?”

Aku tersenyum. “Kamu bukan beban.”

Ia diam, lalu menyandarkan kepalanya di bahuku. “Aku senang kamu nggak pernah nyuruh aku jadi orang lain.”

Aku menatap ke depan. “Aku jatuh cinta sama kamu yang seperti ini.”

Sekarang, di teras yang sama, aku kembali sendirian. Tapi cerita itu masih hidup. Aruna dan Nala mendengarkan dengan mata lebar.

“Jadi nenek milih kakek karena kakek baik?” tanya Nala.

Aku tersenyum. “Nenek milih karena kakek tinggal.”

Angin pagi kembali berembus. Aku menatap kursi kosong itu, lalu menyesap teh yang sudah dingin. Pilihan yang tenang, ternyata bisa bertahan seumur hidup.

 

Tidak ada yang memperingatkanku bahwa kebahagiaan yang tenang bisa berubah arah tanpa suara. Tidak ada tanda besar, tidak ada pertengkaran hebat. Perubahannya datang pelan, seperti debu yang menumpuk di sudut rumah—tidak terlihat dari jauh, tapi terasa ketika disentuh.

Sekar mulai sering diam. Bukan diam yang biasa. Bukan diam setelah lelah seharian mengurus rumah dan anak-anak. Diamnya seperti orang yang sedang mendengar suara lain di dalam kepalanya. Kadang ia duduk lama di depan cermin, kadang memandangi halaman tanpa benar-benar melihat apa pun.

“Kamu kenapa?” tanyaku suatu sore.

Ia mengangkat bahu. “Nggak apa-apa.”

Jawaban itu sering muncul belakangan. Terlalu sering untuk sesuatu yang katanya tidak apa-apa.

Sekar mulai mengeluh tentang hal-hal yang dulu tidak pernah ia persoalkan. Tentang hidup yang terasa berulang. Tentang dirinya yang hanya dikenal sebagai istri dan ibu. Tentang mimpi-mimpi kecil yang entah kapan ditinggalkan.

“Aku capek,” katanya suatu malam sambil melipat pakaian.

“Kamu kurang istirahat,” jawabku.

“Bukan itu,” katanya pelan. “Aku capek jadi aku yang sekarang.”

Aku terdiam. Kata-kata itu tidak marah, tapi tajam. Aku ingin menjawab banyak hal, tapi tidak ada yang terasa tepat. Jadi aku memilih diam, berharap waktu akan mengurai sendiri.

Jarak mulai tumbuh. Tidak besar, tapi cukup untuk membuat kami harus berbicara lebih keras agar saling mendengar. Sekar sering pulang lebih larut. Alasannya selalu masuk akal. Kegiatan ini, pertemuan itu. Aku tidak pernah melarang. Tidak pernah menanyai berlebihan.

Sampai suatu hari, nama itu muncul. Bukan dari Sekar, tapi dari orang lain. Seorang pria yang kembali ke hidupnya seperti cerita lama yang belum selesai. Datangnya tiba-tiba, seperti masa muda yang mengetuk pintu tanpa sopan.

Aku tidak marah. Bukan karena aku tidak peduli, tapi karena marah tidak akan menyelesaikan apa pun. Aku menunggu Sekar bercerita sendiri. Dan suatu malam, ia melakukannya.

“Kita perlu bicara,” katanya. Suaranya gemetar sedikit.

Aku duduk di kursi teras. Kursi yang sekarang kosong di depanku dulu selalu terisi olehnya. Ia berdiri, tidak duduk. Seperti orang yang siap pergi.

“Aku ketemu seseorang,” katanya akhirnya.

Aku mengangguk. “Aku tahu.”

Ia terkejut. “Kamu tahu?”

“Orang-orang cerita,” jawabku. “Dan aku kenal kamu.”

Sekar menunduk. “Aku nggak niat menyakiti.”

“Aku tahu,” kataku. Dan itu benar.

Ia mengusap wajahnya. “Aku bingung, Rak. Aku merasa… hilang. Dan waktu aku ketemu dia, aku merasa jadi aku yang dulu.”

Aku menarik napas panjang. Kata-kata itu berat, tapi aku tidak ingin memotongnya.

“Aku nggak minta izin,” katanya. “Aku cuma jujur.”

Kejujuran memang tidak selalu lembut.

Malam itu, Sekar mengemas barangnya. Tidak banyak. Beberapa baju, tas kecil. Anak-anak sudah tidur. Aku berdiri di ambang pintu kamar, memperhatikannya.

“Kamu mau ke mana?” tanyaku, meski aku tahu jawabannya.

“Aku perlu pergi,” katanya. “Aku perlu tahu siapa aku tanpa semua ini.”

Aku mengangguk. Tanganku dingin, tapi suaraku tetap tenang. “Anak-anak?”

Ia berhenti. Air matanya jatuh tanpa suara. “Aku… aku nggak tahu.”

Aku tidak menangis. Bukan karena aku kuat, tapi karena aku tahu, kalau aku runtuh malam itu, tidak akan ada yang tersisa untuk ditinggali.

Saat Sekar melangkah keluar, aku tidak mengejarnya. Aku berdiri di pintu, melihat punggungnya menjauh. Langkahnya ragu, tapi tetap melangkah.

“Sekar,” panggilku.

Ia berhenti, menoleh.

Aku menatapnya lama. Wajah yang sama yang kucintai sejak muda. Wajah yang kini penuh luka dan kebingungan.

“Kalau kamu pulang,” kataku pelan, “aku masih di sini.”

Ia tidak menjawab. Hanya menatapku beberapa detik, lalu pergi.

Malam itu panjang. Rumah terasa terlalu besar, terlalu sunyi. Aku duduk di ruang tamu sampai pagi, mendengarkan jam berdetak, suara napasku sendiri. Aku menyiapkan sarapan.

Anak-anak bertanya. Aku menjawab sejujurnya yang bisa kutanggung.

“Ibu lagi pergi sebentar,” kataku.

“Pergi ke mana?” tanya yang paling kecil.

“Cari dirinya,” jawabku.

Hari-hari berikutnya berjalan lambat. Aku menjalani rutinitas seperti biasa. Bekerja, mengurus anak-anak, membersihkan rumah. Tidak ada yang berhenti. Hidup tidak menunggu orang yang hatinya tertinggal.

Ada malam-malam ketika aku duduk sendirian di teras, memandang kursi kosong itu. Ada amarah yang datang, tapi aku biarkan lewat. Ada sedih yang menekan, tapi aku duduk tegak. Aku tidak ingin anak-anakku melihat ayahnya hancur.

Aku tidak pernah mencari Sekar. Tidak menanyakan kabarnya. Bukan karena aku tidak peduli, tapi karena aku ingin ia benar-benar memilih. Bukan karena kasihan. Bukan karena terpaksa.

Kupikir saat itu, bukan tentang menahan orang agar tidak pergi. Tapi tentang tetap menjadi tempat pulang jika ia tersesat.

Sekarang, saat aku menceritakan ini pada Aruna dan Nala, suaraku tetap tenang. Tapi dadaku mengingat semuanya.

“Kakek sedih nggak?” tanya Nala pelan.

Aku tersenyum kecil. “Sedih.”

“Marah?”

Aku menggeleng. “Aku lebih takut kehilangan diriku sendiri kalau marah.”

Aruna menunduk. Ia mulai mengerti bahwa cinta tidak selalu indah.

Angin pagi bertiup lembut. Aku menatap kursi kosong itu lagi. Malam itu adalah titik terendah kami. Tapi juga titik di mana aku belajar: mencintai bukan berarti menggenggam lebih erat. Kadang, mencintai berarti membuka tangan—dan tetap berdiri, meski gemetar.

 

Beberapa bulan kemudian Sekar pulang pada suatu sore yang tidak istimewa. Tidak ada hujan, tidak ada petir, tidak ada firasat apa pun sejak pagi. Aku sedang duduk di ruang tengah, menambal sandal anakku yang talinya lepas, ketika pintu depan diketuk pelan. Bukan ketukan orang yang yakin, lebih seperti orang yang ragu apakah masih boleh masuk.

Aku berdiri perlahan. Kakiku sempat gemetar sedikit, tapi aku tetap berjalan. Saat kubuka pintu, Sekar berdiri di sana.

Tubuhnya lebih kurus. Matanya sembab. Rambutnya tidak lagi rapi seperti dulu. Tangannya gemetar memegang tali tas kecil yang dulu sering ia pakai. Ia menatapku seperti orang yang baru kembali dari perjalanan panjang dan tidak tahu apakah rumahnya masih ada.

Aku tidak berkata apa-apa.

Sekar melangkah masuk satu langkah, lalu berhenti. Air matanya jatuh sebelum ia sempat bicara. Ia menutup mulutnya, mencoba menahan isak, tapi gagal. Tangisnya pecah, bukan tangis keras, tapi tangis orang yang kehabisan tenaga untuk berpura-pura kuat.

“Rak…” suaranya serak. “Aku salah.”

Aku tetap diam.

Ia melangkah lebih dekat, lalu—tanpa aba-aba—berlutut di hadapanku. Tangannya gemetar memegang kakiku. Tubuhnya membungkuk, dahinya hampir menyentuh lantai.

“Maafin aku,” katanya terisak. “Aku bodoh. Aku pulang karena aku tahu… aku nggak punya rumah selain ini.”

Aku terkejut. Bukan oleh kepulangannya, tapi oleh caranya kembali. Aku segera berlutut juga, mengangkat bahunya.

“Sekar,” kataku pelan, “jangan begitu.”

“Tolong,” katanya sambil menangis. “Aku akan lakukan apa saja. Aku nggak minta dimengerti. Aku cuma minta diizinkan pulang.”

Aku menatap wajahnya. Wajah yang dulu sering tertawa. Wajah yang pernah pergi dengan ragu. Wajah yang kini hancur oleh penyesalan.

Aku tidak bertanya ke mana ia pergi. Tidak bertanya apa yang ia lakukan. Semua pertanyaan itu tidak akan membuat apa pun lebih baik.

Aku hanya berkata satu hal, dengan suara setenang yang aku punya.

“Masuk dulu.”

Sekar terdiam. Ia menatapku, seolah tidak yakin ia mendengar dengan benar. Aku membantunya berdiri, lalu mengantarnya masuk. Anak-anak sedang tidur di kamar. Rumah ini masih sama. Bau kayu tua, jam dinding yang berdetak pelan, meja makan dengan taplak yang mulai pudar.

Sekar duduk di kursi. Tangisnya belum berhenti, tapi lebih pelan. Aku mengambilkan air minum, menaruhnya di depan.

Ia menatapku, matanya merah. “Kamu nggak mau tanya apa-apa?”

Aku menggeleng. “Kalau kamu mau cerita, aku dengar. Kalau tidak, juga tidak apa-apa.”

Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan. Tangisnya pecah lagi. Kali ini lebih keras. Aku duduk di depannya, menunggu. Tidak menyentuh, tidak mendesak. Hanya ada.

Setelah lama, ia berkata pelan, “Aku kira aku akan menemukan diriku di sana.”

Aku mengangguk. “Terus?”

“Aku cuma menemukan sepi,” katanya. “Dan rasa bersalah yang nggak berhenti.”

Aku tidak menjawab. Aku hanya mengulurkan tanganku. Ia menggenggamnya erat, seperti orang yang takut kehilangan pegangan.

Malam itu, Sekar tidur di rumah. Di kamar kami. Tidak ada pembicaraan panjang. Tidak ada kesepakatan tertulis. Hanya kehadiran dua orang yang sama-sama lelah.

Pagi berikutnya, kami sarapan bersama. Anak-anak terkejut melihat ibunya. Ada tangis, ada pelukan, ada tanya yang tidak semua dijawab. Sekar meminta maaf pada mereka satu per satu. Aku melihatnya dari jauh, dadaku terasa penuh, tapi tenang.

Sejak hari itu, hubungan kami berubah. Bukan menjadi lebih manis, tapi lebih jujur. Kami tidak lagi berpura-pura kuat. Kami bicara lebih pelan, lebih hati-hati.

Sekar tidak pernah meminta maaf lagi dengan kata-kata besar. Ia menebusnya dengan hadir. Dengan pulang tepat waktu. Dengan mendengarkan. Dengan duduk di teras bersamaku tanpa berkata apa-apa.

“Aku takut kamu suatu hari berubah pikiran,” katanya suatu malam.

Aku menatap bunga matahari di sudut teras. “Aku sudah memilih.”

Ia mengangguk. “Aku juga.”

Kami menua bersama dengan cara yang sederhana. Rambut kami memutih sedikit demi sedikit. Langkah kami melambat. Anak-anak tumbuh, lalu pergi satu per satu. Rumah kembali sepi, tapi tidak kosong.

Anak pertama menikah, disusul yang lain. Rumah kami ramai lagi oleh suara cucu. Sekar sering duduk di kursi yang kini kosong di depanku, menggendong cucu sambil mengomel kecil.

“Kamu jangan kasih permen terus,” katanya padaku.

“Kamu juga jangan terus belain mereka,” balasku.

Ia tertawa. Tawa yang lebih tenang dari dulu, tapi lebih dalam.

Kami sering mengenang masa lalu tanpa menyalahkan. Sekar tidak pernah lagi membicarakan masa perginya kecuali satu kali.

“Aku bersyukur kamu nggak ngejar aku,” katanya.

Aku menoleh. “Kalau aku ngejar, mungkin kamu pulang karena kasihan.”

Ia tersenyum kecil. “Dan aku nggak mau pulang karena itu.”

Sekar menua dengan damai. Tidak lagi gelisah. Ia menemukan dirinya bukan di luar rumah, tapi di dalam kejujuran kami.

Sekarang, saat aku menceritakan ini pada Aruna dan Nala, mereka duduk lebih dekat. Tidak banyak bertanya.

“Jadi kakek maafin nenek?” tanya Nala.

Aku mengangguk. “Aku tidak pernah berhenti mencintai.”

Aruna menunduk. “Kalau kakek nggak maafin?”

Aku tersenyum tipis. “Mungkin kakek hidup lebih tenang. Tapi tidak lebih utuh.”

Angin pagi berembus lembut. Aku menatap kursi kosong itu. Sekar pernah duduk di sana, kembali tanpa syarat. Dan aku memilih menerima, tanpa menanyakan apa pun—karena cinta, pada akhirnya, bukan soal siapa yang paling benar, tapi siapa yang tetap tinggal.

Top of Form

Sekar mulai melemah dengan cara yang nyaris tak terasa. Bukan sakit yang datang tiba-tiba lalu merenggut, melainkan kelelahan yang menetap, duduk diam di tubuhnya, dan menunggu hari demi hari untuk mengambil sedikit demi sedikit.

Awalnya hanya lupa kecil. Ia lupa menaruh kacamata, lupa mematikan kompor, lupa hari. “Ah, umur,” katanya ringan, sambil tersenyum. Aku mengangguk, pura-pura percaya. Tapi aku mulai menghitung napasnya ketika ia tertidur, mulai memperhatikan langkahnya yang tak lagi seimbang.

Dokter menyebut usia, menyebut penyakit yang terdengar panjang dan asing. Tidak ada satu kata yang benar-benar menakutkan—yang menakutkan adalah cara dokter mengatakannya dengan tenang.

“Pelan-pelan saja, Pak,” katanya. “Kita jaga kualitas hidup.”

Sekar menatapku di ruang praktik, lalu tersenyum kecil. “Kita ini memang hidupnya pelan,” katanya, seperti sedang bercanda. Aku menggenggam tangannya, mengangguk, menelan apa pun yang ingin kutanyakan.

Hari-hari berikutnya kami jalani seperti biasa, hanya lebih lambat. Sekar tak lagi bangun paling pagi. Ia duduk lebih lama di kursi. Aku yang kini membuatkan teh, memotongkan buah, menyisir rambutnya.

“Rambutku makin putih,” katanya suatu pagi.

“Cocok,” jawabku. “Bikin kamu kelihatan bijak.”

Ia tertawa pelan, cepat lelah. Tawanya berhenti di tengah, diganti napas panjang.

“Aku nggak sakit parah, kan?” tanyanya hati-hati.

Aku menatapnya. “Kamu sedang menua,” kataku jujur. “Seperti kita semua.”

Ia mengangguk. Tidak bertanya lagi.

Sekar tidak pernah mengeluh. Ia hanya semakin sering diam. Matanya menatap halaman, bunga matahari yang kini tumbuh lebih pendek. Ia suka menggenggam tanganku tanpa alasan.

“Kamu capek?” tanyaku.

“Enggak,” katanya. “Aku cuma lagi ingat-ingat.”

“Mau cerita?”

Ia menggeleng. “Nanti.”

Nanti itu tidak pernah benar-benar datang. Yang datang justru malam-malam panjang, ketika napasnya terdengar berat, dan aku terjaga, mendengarkan hidup yang sedang bersiap pergi.

Hari itu cerah. Terlalu cerah untuk hari perpisahan. Sekar terbaring di tempat tidur, matanya setengah terpejam. Aku duduk di sampingnya, menggenggam tangannya yang kini jauh lebih ringan.

“Rak,” katanya pelan.

“Aku di sini.”

“Kamu capek?” tanyanya.

Aku tersenyum. “Enggak.”

Ia menatapku lama. Matanya masih jernih, meski tubuhnya tidak lagi patuh. “Aku takut,” katanya jujur.

Aku menggenggam tangannya lebih erat. “Aku juga.”

Ia tersenyum kecil. “Syukurlah.”

Kami terdiam. Tidak ada doa panjang, tidak ada kata-kata besar. Hanya napas yang saling menyusul.

“Aku sering mikir,” katanya pelan, “kalau dulu aku nggak pulang.”

Aku menggeleng. “Kamu pulang.”

“Dan kamu nerima.”

Aku mengangguk.

Ia menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Tangannya sedikit bergetar di genggamanku.

“Terima kasih,” katanya hampir tak terdengar.

Aku menunduk, mendekatkan kening ke punggung tangannya. Suaraku keluar pelan, tanpa gemetar yang berlebihan. Tidak ada tangis keras. Tidak ada jeritan kehilangan.

“Terima kasih sudah pulang,” kataku, “dulu dan sekarang.”

Sekar tersenyum. Senyum kecil yang utuh. Lalu napasnya berhenti, seolah ia hanya tertidur lebih dalam dari biasanya.

Aku duduk lama setelah itu. Tidak bergerak. Tidak menangis. Aku hanya memegang tangannya, memastikan kehangatan itu benar-benar pergi, dan tidak akan kembali.

Anak-anak datang. Tangis pecah di tempat lain, bukan di dadaku. Aku berdiri ketika mereka memelukku. Aku mengatakan hal-hal yang perlu dikatakan. Bahwa nenek mereka tenang. Bahwa ia tidak kesakitan. Bahwa ia pulang dengan lembut.

Malam itu, rumah terasa sunyi dengan cara yang berbeda. Bukan kosong, tapi selesai. Aku duduk di kursi yang biasa ia duduki. Tanganku masih refleks mencari tangannya.

“Sekar,” gumamku pelan, “kita berhasil.”

Tidak ada jawaban. Tapi ada damai.

Kini, ketika Aruna dan Nala duduk di depanku, aku melihat mata mereka berkaca-kaca.

“Kakek sedih?” tanya Nala.

Aku mengangguk. “Sedih itu tetap ada.”

“Tapi kakek kelihatan tenang.”

Aku tersenyum kecil. “Karena kakek tidak kehilangan. Kakek hanya mengantar.”

Angin sore berembus pelan. Bunga matahari di halaman bergerak perlahan. Aku menatapnya lama, lalu menutup mata sejenak—mengingat seorang perempuan yang pernah pergi, lalu memilih pulang, dan akhirnya berpamitan dengan cara yang paling lembut.

 

Aruna dan Nala diam.

Tidak seperti diam anak-anak yang sedang bosan, tapi diam yang sedang mencoba memahami sesuatu yang lebih besar dari umur mereka. Aruna menatap lantai teras, jarinya menggeser-geser garis kayu. Nala memeluk lututnya, sesekali melirik cangkir teh yang mulai dingin.

Angin pagi kembali lewat. Sama seperti tadi. Sama seperti kemarin. Sama seperti lima belas tahun terakhir.

Aku berdiri, mengambil cangkir yang tak diminum, lalu meletakkannya kembali di tempat semula. Uapnya sudah hilang.

“Jadi… nenek nggak akan balik lagi?” tanya Aruna pelan.

Aku menggeleng. “Enggak dengan cara yang kalian kenal.”

“Tapi kakek masih bikinin teh,” katanya.

Aku tersenyum kecil. “Iya.”

Ia tidak bertanya lagi. Anak sepuluh tahun sudah cukup tahu kapan pertanyaan tidak butuh jawaban tambahan.

Nala menatap bunga matahari di sudut teras. Kepalanya miring, seperti sedang menghitung sesuatu.

“Kenapa bunganya ngadep ke situ terus, Kek?” tanyanya polos.

“Karena mataharinya di sana.”

“Kalau mataharinya pindah?”

“Bunganya ikut.”

Ia terdiam sebentar, lalu menunjuk cangkir teh. “Kalau neneknya nggak ada, kenapa tehnya masih dua?”

Aku duduk kembali di kursiku. Menarik napas panjang—bukan berat, hanya penuh.

“Karena cinta tidak selalu selesai ketika orangnya pergi,” kataku pelan.

Nala mengerutkan dahi. “Maksudnya?”

Aku menatap halaman, lalu langit yang mulai naik. “Ada cinta yang tugasnya menemani. Ada juga cinta yang tugasnya mengingat.”

“Terus kakek sekarang yang mana?”

“Kakek sedang mengingat.”

Aruna menoleh. “Apa nggak capek, Kek?”

Aku menggeleng. “Tidak. Ini seperti duduk menghadap matahari. Hangat. Tidak menuntut apa-apa.”

Nala turun dari pangkuan kakaknya dan menghampiriku. Ia memegang tanganku, menggenggam dengan dua tangannya yang kecil.

“Nanti kalau kakek pergi, kakek masih cinta nenek?”

Aku tersenyum. Pertanyaan yang sederhana, tapi sangat jauh.

“Kalau kakek pergi,” kataku pelan, “kakek tidak membawa apa-apa kecuali cinta itu.”

Ia mengangguk, seolah jawabannya cukup.

Aku berdiri, menyiram bunga matahari seperti biasa. Air jatuh perlahan ke tanah. Tidak tergesa. Tidak berlebihan.

“Kakek,” kata Aruna lagi, “kalau cinta itu nggak berhenti, berarti kakek sama nenek masih bersama?”

Aku berpikir sejenak. Lalu mengangguk. “Dengan cara yang tenang.”

Kami duduk lagi. Matahari naik sedikit lebih tinggi. Teras tidak pernah benar-benar kosong. Ada kenangan yang duduk diam di kursi seberang, tidak bicara, tidak meminta.

Aku mengangkat cangkir tehku, menyesap pelan.

Untuk Sekar.

Untuk cinta yang tidak pernah perlu dibuktikan dengan kehadiran, karena ia sudah menetap—di teras, di pagi hari, dan di hidup yang pernah kami jalani bersama.

 

Pagi itu datang seperti pagi-pagi sebelumnya. Tidak ada yang istimewa, dan mungkin memang tidak perlu. Matahari muncul perlahan dari balik atap rumah tetangga, cahayanya jatuh miring ke teras, menyentuh ujung pot bunga matahari yang sudah mulai tua.

Aku berdiri dengan selang air di tangan. Aruna dan Nala duduk di anak tangga, diam-diam memperhatikan. Mereka tidak lagi banyak bertanya seperti kemarin. Anak-anak, rupanya, tahu kapan harus menyimpan pertanyaan untuk nanti.

Air mengalir pelan, membasahi tanah. Tidak berlebihan. Aku selalu takut menyiram terlalu banyak—takut akar bunga itu membusuk, takut sesuatu yang terlalu dijaga justru mati.

“Kenapa bunganya selalu disiram pagi, Kek?” tanya Aruna akhirnya.

“Supaya dia siap,” jawabku singkat.

“Siap apa?”

“Siap menghadap matahari.”

Bunga matahari itu tidak lagi setinggi dulu. Batangnya tidak sekuat waktu pertama kutanam, beberapa daunnya mulai menguning. Tapi kepalanya masih setia mengarah ke timur, ke arah yang sama setiap pagi.

Nala memperhatikan lama. “Dia nggak pernah bosen, ya?”

Aku tersenyum kecil. “Bukan soal bosen atau tidak. Dia tahu ke mana harus menghadap.”

Aku mematikan selang dan meletakkannya di sudut teras. Lalu aku mengambil dua cangkir teh, menuang air panas seperti biasa. Satu kuminum, satu kualihkan ke meja kecil di depan kursi kosong.

Aruna tidak lagi bertanya tentang cangkir itu. Ia hanya menatapnya, lalu menatapku.

“Kakek,” katanya pelan, “nenek dulu suka pagi-pagi?”

Aku mengangguk. “Suka. Katanya pagi itu jujur. Kalau kita masih bisa duduk tenang di pagi hari, berarti hidup belum terlalu buruk.”

Nala tersenyum mendengarnya, meski mungkin belum sepenuhnya paham. Ia berdiri dan mendekat ke pot bunga matahari. Jarinya menyentuh daun yang kasar.

“Kalau bunganya mati gimana?” tanyanya lirih.

Aku tidak langsung menjawab. Aku menatap bunga itu, lalu halaman, lalu langit yang kini lebih terang.

“Kalau dia mati,” kataku akhirnya, “kita tanam lagi. Tapi arah mataharinya tetap sama.”

Mereka terdiam. Bukan karena sedih, tapi karena kata-kata itu butuh waktu untuk duduk di kepala.

Aku kembali ke kursiku. Duduk menghadap matahari. Seperti yang selalu kulakukan. Kursi di seberang tetap kosong, tapi tidak terasa menunggu. Ia hanya ada.

Angin pagi berembus pelan. Tidak membawa apa-apa, hanya bergerak, seperti ingatan yang datang tanpa diminta.

Aku teringat Sekar—bukan wajahnya saat terakhir, tapi caranya mengaduk teh, caranya menatap bunga matahari sambil berkata, “Dia keras kepala, ya, Rak.” Aku dulu hanya tertawa. Sekarang aku mengerti. Itu bukan keras kepala. Itu kesetiaan.

Aruna berdiri di sampingku. “Kakek,” katanya, “nanti kalau aku gede, aku mau punya rumah yang ada terasnya.”

Aku menoleh. “Kenapa?”

“Biar bisa duduk pagi-pagi.”

Aku mengangguk. “Itu keputusan yang baik.”

Nala ikut berdiri, menggenggam tangan Aruna. Mereka menatap bunga matahari itu bersama-sama. Kepala bunga itu masih menghadap matahari, tidak peduli siapa yang melihat atau tidak.

Aku menyadari sesuatu yang sederhana: cinta tidak selalu harus disimpan dalam cerita panjang atau kenangan yang rumit. Kadang ia cukup menjadi arah. Sesuatu yang membuat kita tahu ke mana harus duduk, ke mana harus menoleh, dan ke mana harus kembali setiap pagi.

Aku mengangkat cangkir tehku. Menyesap pelan. Rasanya sama seperti kemarin. Sama seperti tahun-tahun sebelumnya.

Tidak ada yang berubah. Dan justru di situlah ketenangannya.

Lima belas tahun bukan waktu untuk melupakan.

Itu hanya cukup untuk membuktikan bahwa arahku tidak pernah berubah.

Share:

Setahun Tanpa Cahaya

 


Daegu, Korea Selatan 2017

Pagi itu sama seperti pagi-pagi sebelumnya: cahaya matahari Daegu yang pucat merembes perlahan dari celah tirai kain murah di rumah kecil keluarga itu. Tidak ada yang spesial. Tidak ada firasat buruk. Tidak ada tanda bahwa hari itu akan mencuri seluruh hidup mereka.

Dong-ho (34 Tahun), dengan rambut acak-acakan dan mata sembab akibat tidur hanya empat jam, sedang berdiri di belakang Eun-seo (7 Tahun) yang duduk di kursi plastik kecil berwarna kuning. Rambut anak itu—hitam, lembut, sedikit kusut karena tidur gelisah—jatuh sampai bahunya seperti tirai tipis.

“Appa… cepat,” rengek Eun-seo sambil menggoyang-goyangkan kaki mungilnya.

“Appa sedang berusaha,” jawab Dong-ho dengan nada sungguh-sungguh, seolah mengerjakan operasi rumit.

Tangannya bergerak pelan, hati-hati, mencoba mengikat rambut putrinya menjadi ekor kuda seperti permintaan. Namun hasilnya belepotan, miring, dan bahkan rambut bagian kiri ada yang menonjol keluar seperti antena kecil.

Eun-seo menoleh dan melihat hasilnya di cermin kecil di meja. Ia terdiam satu detik—lalu cekikikan, menutup mulutnya dengan telapak tangan mungil.

“Appa tidak akan pernah bisa rapi,” katanya sambil tertawa.

Dong-ho ikut tertawa, sedikit malu. “Appa sudah rapiin. Rambut kamu yang nakal.”

“Bohong,” Eun-seo mencubit kecil pipi ayahnya.

Jina, sang ibu, memasukkan nasi putih, telur gulung, dan dua potong kimchi ke dalam kotak bekal plastik. Ia menatap dua manusia kesayangannya itu sambil tersenyum kecil; senyum yang lebih seperti napas lega setelah melalui banyak hari berat bersama.

“Kalian seperti dua anak kecil,” katanya.

“Aku bukan anak kecil,” Eun-seo protes.

Dong-ho menunjuk ikat rambut yang miring. “Kalau bukan anak kecil, rambutnya tidak akan melawan Appa.”

Eun-seo menjulurkan lidah.

Mereka bertiga tertawa kecil. Tawa itu ringan, ringkih, tapi hangat. Tawa yang seharusnya bisa terus mereka dengar bertahun-tahun ke depan—namun justru menjadi gema yang menghantui.

Jina (32 Tahun) menutup kotak bekal. “Hari ini pulangnya jangan telat, hm? Besok kita mau ke pasar pagi-pagi.”

Dong-ho mengangguk sambil mengambil jaket kerjanya. “Iya. Aku pulang cepat.”

Ia mengucapkannya seperti janji paling sederhana. Tidak ada yang tahu kalimat itu akan menjadi semacam ironi yang menyayat.

Eun-seo mengambil tasnya, memasangkan sepatu kecil warna putih kesayangannya, lalu berdiri tegak. “Appa! Lihat! Rambutku sudah tidak miring, Omma benerin.” Ia menunjuk ibunya dengan bangga.

Jina memeluknya sebentar.

Dong-ho menepuk kepala putrinya—bagian yang tidak diikat rambut. “Ayo kita pergi.”

Keluarga kecil itu melangkah keluar dari rumah mungil di ujung gang. Tidak ada dialog dramatik. Tidak ada salam perpisahan yang berat. Hanya pagi biasa, dengan bau sup rumput laut dari rumah tetangga dan suara anak-anak berjalan menuju sekolah.

Pagi yang terlalu biasa untuk menyadari bahwa itu adalah hari terakhir yang normal.

Jalan menuju sekolah hanya sepanjang lima menit jika berjalan cepat. Tapi Dong-ho selalu memperlambat langkah ketika bersama Eun-seo, seolah waktu akan menunggu jika ia cukup lambat.

Gang di sekitar rumah mereka sempit, dindingnya dipenuhi poster-poster kampanye old-school, tanaman pot tetangga yang ditata seadanya, dan jemuran pakaian anak-anak. Udara musim semi masih dingin, membuat napas mereka terlihat seperti asap kecil.

“Appa, nanti kalau aku besar, rambutku panjang sekali. Sampai lutut,” kata Eun-seo tiba-tiba.

“Nanti Appa makin susah ngiketnya,” Dong-ho menjawab sambil mengusap rambut putrinya.

Eun-seo menggeleng cepat. “Nanti aku yang ngiket sendiri. Appa tinggal lihat.”

Dong-ho tersenyum. Ada sesuatu dalam senyum itu—kebanggaan sederhana, dan cinta yang begitu besar untuk anak kecil yang memegang tangannya.

Ketika mereka mencapai ujung blok, Dong-ho berlutut agar tingginya sejajar dengan Eun-seo. “Sampai sini saja ya, sayang. Appa harus ke pasar pagi ini.”

Eun-seo mengangguk, sudah terbiasa. Namun hari itu, entah kenapa, ia menoleh bukan sekali. Ia melangkah sambil melambaikan tangan kecilnya.

Pertama kali ia menoleh, ia tertawa.

Kedua kali ia menoleh, ia tersenyum lebih lebar, seolah menghafal wajah ayahnya.

Dong-ho membalas lambaian itu sampai bayangan kecil putrinya hilang di belokan. Ia berdiri lama, lebih lama dari biasanya, meski ia tidak tahu alasan kenapa dadanya tiba-tiba terasa berat.

Kadang sebuah tragedi tidak memberikan firasat. Hanya keheningan kecil yang tidak bisa dijelaskan.

Waktu bergerak seperti biasa. Jina mencuci pakaian pelanggan; ia menerima jasa laundry rumahan. Dong-ho bekerja mengantar sayuran dari pasar ke restoran kecil.

Tidak ada perubahan apa pun.

Hingga hari mulai gelap pelan-pelan, dan angin sore bertiup dingin.

Jina berdiri di halte sekolah dengan tas kain di tangannya. Orang tua lain berangsur pergi menjemput anak-anak mereka. Satu demi satu. Dua demi dua. Hingga tempat itu hampir kosong.

Ia mulai gelisah. Tapi ia mencoba tetap rasional—mungkin Eun-seo main sebentar dengan teman. Mungkin ia ke toilet. Mungkin ia berjalan pelan.

Tapi ketika guru datang keluar, merapikan papan absensi, Jina mendekat.

“Seonsaengnim… Eun-seo belum keluar ya? Saya tidak melihatnya.”

Guru itu menatapnya bingung. “Eun-seo sudah pulang lebih dulu. Dia keluar bersama rombongan pertama.”

Jina merasa tenggorokannya mengering. “Tidak mungkin. Dia selalu menunggu saya.”

Guru itu terlihat cemas. “Tadi saya lihat dia jalan ke arah gerbang. Apakah… apakah dia tidak pulang ke rumah?”

Jina mencoba menelan ketakutannya. “Saya… saya cek rumah dulu.”

Ia mulai berjalan cepat. Lalu berlari. Dunia di sekelilingnya seperti bergerak lebih lambat dari langkahnya. Pandangan matanya bergetar, napasnya pecah.

Ketika sampai di gang rumah, Jina terpaku.

Di tanah, di tengah aspal yang sedikit retak, tergeletak sesuatu yang sangat ia kenal.

Satu sepatu kecil warna putih.

Sepatu yang pagi tadi dipakai Eun-seo. Sepatu yang ia bersihkan malam sebelumnya. Sepatu yang selalu dipuji anaknya, “Ini sepatu favoritku, Omma.”

Namun hanya ada satu sepatu terbalik. Satunya lagi entah dimana.

Jina merasakan dunia mencengkeram dadanya, seolah waktu menolak bergerak. Tangannya gemetar ketika menyentuh sepatu itu. Dingin. Sedingin tubuh yang tidak seharusnya ditinggalkan sendirian.

“Eun-seo…?” suaranya pecah, lebih seperti bisikan.

Tidak ada jawaban. Hanya suara angin yang berdesir di antara jemuran tetangga.

Detik itu, sesuatu dalam dirinya runtuh. Ia tahu. Ia tahu ada sesuatu yang tidak semestinya.

Sementara itu, jauh dari sana, Dong-ho sedang mengemudi, pikirannya sibuk dengan tagihan listrik dan rencana kecil untuk libur akhir pekan. Ia bahkan belum tahu bahwa hidupnya sedang bergeser, perlahan tapi pasti, menuju kegelapan yang tidak pernah ia bayangkan.

Dan sepatu kecil yang terbalik itu berdiri sebagai saksi bisu—bahwa keluarga itu baru saja melangkah melewati batas yang tidak bisa kembali.

 

Ruang kantor polisi malam itu terang oleh lampu neon yang dingin. Bau kopi basi dan kertas lembap memenuhi udara. Dong-ho masuk sambil menggenggam sepatu kecil putih itu, sementara Jina meremas lengan jaket suaminya, tubuhnya gemetar tak terkendali.

Meja laporan dikelilingi orang-orang yang menunggu giliran mengurus masalah masing-masing. Beberapa terlihat bosan; beberapa terlihat lelah. Tidak ada yang terlihat panik seperti pasangan itu.

Seorang petugas muda di balik meja menoleh tanpa banyak ekspresi. “Ada yang bisa dibantu?”

Dong-ho menarik foto kecil dari saku. “Anak saya… hilang. Namanya Eun-seo. Tujuh tahun. Dia tidak pulang sejak siang.”

Petugas itu melihat foto itu sekilas, lalu mengetik lamban. “Sejak jam berapa?”

“Sejak jam tiga sore. Kami sudah tanya sekolah. Kami sudah cari keliling blok. Kami—”

Petugas mengangkat tangan, menghentikan Dong-ho. “Pak, sesuai prosedur, laporan anak hilang baru bisa diproses setelah lewat 24 jam.”

Jina mengangkat wajahnya, pucat dan basah air mata. “Dua puluh empat jam? Anak kami baru tujuh tahun. Dia tidak pernah pergi jauh!”

“Maaf, Bu. Tapi banyak kasus anak pulang sendiri. Mungkin dia main ke rumah temannya.”

Dong-ho meremas sepatu kecil itu lebih keras. “Eun-seo tidak akan pergi tanpa bilang. Lihat sepatu yang hanya sebelah ini! Ditemukan di jalan.” Suaranya pecah, tapi petugas itu hanya melirik.

“Kalau begitu, laporannya tetap kami terima, tapi pencarian aktif baru bisa dimulai besok pagi.”

Jina menggeleng pelan, hampir seperti anak kecil yang menolak kenyataan. “Besok sudah terlambat…”

Petugas itu tidak melihat matanya. “Maaf, Bu. Banyak kasus yang harus kami tangani hari ini.”

Dong-ho ingin berteriak, ingin membalik meja itu, ingin memaksa seluruh kota berhenti dan mencari anaknya. Tapi ia menahan amarah itu menekan jantungnya.

Ia menandatangani formulir dengan tangan yang gemetar.

Saat mereka pergi, tidak ada satu pun polisi yang ikut berdiri. Tidak ada yang menenangkan. Tidak ada yang berkata, “Kami akan temukan anak Anda.”

Kota itu terasa terlalu besar, terlalu keras, dan terlalu tidak peduli.

Satumalam pertama menjadi neraka yang tidak memberi jeda bernapas.

Dong-ho tidak tidur. Tidak makan. Tidak pulang kecuali sekadar mengganti jaket. Ia berkeliling dari gang ke gang, membawa senter kecil dan foto Eun-seo yang sudah mulai lembap karena hujan.

“Permisi… apakah Anda melihat anak kecil ini? Rambut sebahu… tas warna pink… namanya Eun-seo…”

Sebagian orang menatap foto itu dengan kasihan, tapi menggeleng. Sebagian lain bahkan tidak mau repot melihat.

Di tengah kota, orang hilang bukan hal langka. Tapi bagi Dong-ho, itu seluruh dunianya.

Malam kedua, hujan turun deras. Payungnya patah karena angin, tapi ia tetap berjalan. Rambutnya menempel di dahinya, bajunya basah menyatu dengan tubuh. Kakinya memar karena terus berlari.

Ia berteriak hingga suara seraknya pecah:

“Eun-seo! Appa di sini! Jawab kalau kamu dengar!”

Hujan meredam suaranya seperti tirai tebal, menelan jeritannya. Air mengalir di wajahnya entah mana yang hujan, mana yang air mata.

Di depan sebuah warung tutup, ia terduduk. Kedua tangannya menutupi wajah. Setiap kali ia menutup mata, ia melihat Eun-seo menoleh untuk kedua kali saat berangkat sekolah.

Seolah minta diingat lebih lama.

Seolah itu salam perpisahan kecil yang tidak ia mengerti.

Tetapi ia bangkit lagi. Dan lagi. Dan lagi.

Karena ayah yang mencintai anaknya tidak punya pilihan lain.

Sementara Dong-ho berkeliaran di kota, rumah kecil mereka berubah menjadi kuburan tanpa batu nisan.

Tidak ada tawa kecil Eun-seo. Tidak ada lagu anak-anak yang biasa ia putar saat menggambar. Tidak ada “Omma, aku lapar,” yang memenuhi sore.

Hanya keheningan yang menekan dada.

Gelang karet warna kuning milik Eun-seo—yang ia dapat dari lomba kecil di sekolah—masih ada di meja ruang tamu. Jina memegangnya setiap beberapa jam, lalu meletakkannya lagi dengan hati-hati, seperti benda itu bisa pecah oleh sentuhan.

Ia tidak bisa tidur di kamar utama.

Ia pindah ke kamar Eun-seo. Ia menggulung selimut anaknya di lantai, membiarkan kepalanya menempel pada karpet kecil yang masih menyimpan sedikit bau shampoo buah-buahan.

Setiap malam, tatapannya kosong menatap langit-langit.

Terkadang ia meraih boneka kelinci kecil yang selalu menemani Eun-seo tidur. Boneka itu sudah usang, telinganya robek sedikit, tapi Jina memeluknya erat, seolah bisa menggantikan tubuh anaknya.

Jam dinding berdetak seperti palu yang memukul jantungnya.

Satu jam.

Dua jam.

Tiga hari.

Keheningan panjang yang memakan sebagian jiwanya.

Ia sering berbisik pada ruang kosong:

“Eun-seo sayang… kamu takut ya? Kamu dingin? Kamu lapar? Kamu sendirian?”

Tidak ada jawaban.

Dan itu membuatnya lebih hancur.

Pada hari kelima, telepon rumah berdering. Suara laki-laki dewasa di seberang berkata cepat:

“Saya lihat anak seperti di foto Anda di stasiun Daegu. Dia sendirian.”

Hati Dong-ho langsung melonjak. Ia berlari keluar tanpa jaket, padahal salju tipis turun.

Tapi saat ia sampai di stasiun dan bertanya pada petugas, semua menggeleng. Tidak ada anak yang cocok.

Telepon itu ternyata salah. Hanya asumsi. Atau sekadar orang yang iseng ingin ikut campur.

Malam berikutnya, ada pesan masuk di ponsel Dong-ho: “Saya menemukan anak Anda.”

Disertai foto seorang anak kecil berdiri di gang gelap.

Tapi setelah diperbesar, foto itu editan.

Kepala Eun-seo ditempel di tubuh anak lain.

Pengirimnya tidak bisa dilacak.

Dong-ho menatap foto itu lama, rasa muak bercampur marah dan putus asa memenuhi dadanya. “Kenapa… kenapa ada orang seperti ini…?”

Jina melihatnya dan langsung menangis, memukul dadanya sendiri. “Kenapa mereka jahat sekali… kita hanya ingin anak kita kembali…”

Polisi tidak membantu banyak. Mereka bilang, “Kami akan cek,” tapi tidak ada kabar lanjutan.

Ketika Dong-ho meminta rekaman CCTV dari warung dekat gang, pemilik berkata:

“Ah… CCTV saya rusak sudah dua minggu. Saya belum perbaiki.”

Saat Dong-ho meminta rekaman CCTV kota, polisi berkata:

“Prioritas hari ini ada di kasus penculikan anak pejabat. Kami masih koordinasi. Mohon bersabar.”

Dong-ho hampir tertawa—tertawa yang pahit dan menyakitkan.

Anak pejabat hilang beberapa jam, seluruh kota bergerak.

Anaknya hilang hampir seminggu, dan berita pun tidak menulis apa-apa.

Ia merasa kota ini tuli.

Tuli terhadap jeritan orang kecil.

Tuli terhadap keluarga seperti mereka.

Pada malam kedelapan, ketika semua petunjuk palsu menumpuk menjadi gunung frustrasi, Dong-ho pulang dan menemukan Jina duduk di meja makan, memegang sepatu kecil itu.

Ia menatap suaminya dengan mata merah yang kehilangan cahaya.

“Apa kita akan… kehilangan dia selamanya…?”

Dong-ho meraih wajah istrinya. Tangannya dingin, gemetar. “Tidak, Jina. Tidak. Aku akan cari terus. Sampai Eun-seo pulang. Aku janji.”

Air mata Jina jatuh ke sepatu kecil itu.

Dan untuk pertama kalinya, Dong-ho menunduk, bahunya bergetar, dan ia menangis seperti anak kecil—di hadapan istri yang sedang hancur, di rumah yang kehilangan kehangatan, di kota yang tidak mendengar jeritan mereka.

Kota yang terus bergerak tanpa menoleh.

Kota yang menelan satu anak kecil tanpa jejak.

Kota yang, bagi Dong-ho dan Jina, menjadi tempat paling sunyi di dunia.

Jina memotong rambutnya pada bulan kedua. Bukan karena ingin, tapi karena ia tidak tahan melihat rambut panjangnya—yang dulu sering dipegang Eun-seo saat ingin digendong—jatuh di bahu tanpa ada tangan kecil yang menyentuhnya lagi. Rambut pendek itu membuatnya tampak lebih tua, garis lelah di bawah matanya lebih jelas, dan suaranya lebih pelan seperti seseorang yang belajar bicara dari awal.

Dong-ho melihat perubahan itu, tapi ia tidak berani mengomentarinya. Takut salah. Takut membuat istrinya semakin pecah.

Meja makan mereka seperti panggung yang kehilangan pemeran utama. Kursi kecil yang dulu disiapkan khusus untuk Eun-seo masih ada, tapi selalu kosong. Jina awalnya mencoba menggesernya ke sudut rumah, namun Dong-ho diam-diam memindahkannya kembali. Setiap pagi. Setiap malam.

Mereka jarang makan bersama.

Jina tidak nafsu makan.

Dong-ho makan hanya karena tubuhnya memaksa.

Pada bulan ketiga, mereka berhenti bercakap-cakap kecuali hal penting. Kalimat mereka pendek, kaku, seperti dua orang asing yang kebetulan tinggal di rumah yang sama.

Dong-ho mulai mengambil lembur banyak-banyak. Ia berkata pada Jina itu untuk bayar cicilan, tapi dalam hatinya ia tahu itu hanya alasan. Ia takut pulang. Takut bertemu rumah yang dingin. Takut menghadapi foto-foto yang semakin pudar.

Rumah itu tidak lagi menjadi tempat kembali.

Rumah itu adalah monumen kehilangan.

Meski Jina mulai pasrah, Dong-ho tidak pernah melepaskan obsesi menemukan anaknya.
Obsesi itu yang membuatnya tetap hidup.

Setiap malam, sebelum tidur, Dong-ho masuk ke kamar anaknya.

Ia memeriksa boneka kelinci di tempatnya.

Ia membersihkan buku mewarnai yang sudah berdebu tipis.

Ia mengecek jendela.

Ia menyalakan lampu tidur.

Orang lain tidur untuk beristirahat.

Dong-ho tidur untuk bermimpi—karena di dalam mimpi, Eun-seo selalu kembali.

Jam pulang sekolah adalah waktu tersulit.

Pada bulan keempat, Dong-ho mulai pergi ke halte sekolah setiap hari sepulang kerja. Ia duduk di bangku panjang, mengenakan jaket abu-abu yang mulai lusuh. Ia memandang trotoar yang dipenuhi anak-anak lain yang berlarian, memanggil orang tua mereka, menyapa teman.

Terkadang, seorang guru melihatnya dan memberi anggukan simpati.
Namun simpati tidak mengembalikan anak.

Di halte itu, Dong-ho tidak mencari hal besar.

Ia hanya berharap—sedikit saja—bahwa suatu hari, dari tikungan jalan, rambut sebahu dengan pita merah itu muncul sambil berlari ke arahnya.

Harapan kecil yang kejam.

Di laci meja kerjanya, ada pita rambut hijau yang dulu selalu dipakaikan Dong-ho pada Eun-seo setiap pagi. Ikatannya selalu miring, tidak rapi, tapi Eun-seo selalu tertawa sambil berkata, “Appa ini kok selalu miring, ya?”

Dong-ho menyimpan pita itu seperti benda suci.

Kadang saat lembur, ia mengambil pita itu dan mengikatnya di jarinya sendiri.
Bukan karena itu masuk akal.

Tapi karena mengikat sesuatu membuatnya merasa seperti ia masih melakukan tugas seorang ayah.

Itu hal-hal kecil yang tidak ia ceritakan pada Jina.

Bukan karena rahasia—tapi karena ia tahu istrinya akan menangis lagi, dan ia tidak sanggup melihat itu.

Tahun itu tidak sunyi karena tidak ada kabar.

Justru sebaliknya—ada beberapa kabar yang muncul lalu hilang, meninggalkan luka baru.

Pada bulan keenam, seseorang mengirim foto ke telepon Dong-ho: seorang anak kecil dengan pakaian lusuh di terminal bus Daejeon. Dari kejauhan, rambutnya mirip Eun-seo.

Dong-ho langsung mengambil cuti dan menempuh dua jam perjalanan.

Setibanya di terminal, ia mencari anak itu.

Ia berlari dari satu sudut ke sudut lain, menahan napas setiap kali melihat anak perempuan sebaya.

Tapi ketika ia menemukan anak itu…

Anak itu bukan Eun-seo.

Hanya anak gelandangan yang kebetulan mirip dari jauh.

Ia pulang dengan tangan kosong, langkahnya limbung.

Malamnya, Jina berkata pelan:

“Mungkin… mungkin Eun-seo sudah tidak ada, Dong-ho…”

Ia menggeleng keras.

“Kita belum tahu. Belum ada bukti…”

“Setahun, Dong-ho… sudah hampir setahun…”

“Tapi dia bisa bertahan. Eun-seo anak kuat—”

“Itu kau yang ingin percaya!” Jina menjerit, lalu langsung menutup mulutnya sendiri. Seolah ia takut kata-katanya membunuh sesuatu yang rapuh di antara mereka.

Setelah itu, mereka tidak bicara selama tiga hari.

Pada bulan kesembilan, di pasar malam distrik Geomdan, seorang pedagang berkata:

“Aku lihat anak persis foto ini kemarin. Dia sama laki-laki tua.”

Dong-ho hampir pingsan mendengarnya.

Tapi ketika ia meminta rekaman CCTV, polisi hanya berkata:

“CCTV toko itu rusak.”

Seperti setahun sebelumnya, selalu rusak.

Selalu tidak ada bukti.

Harapan selalu diberikan tanpa dasar, lalu dirampas lagi.

Setiap petunjuk palsu menghancurkan mereka sedikit demi sedikit.

Jina mulai pasrah.

Tetangga-tetangga mulai berhenti bertanya.

Hanya Dong-ho yang tetap berjalan setiap malam, menyusuri gang tempat sepatu Eun-seo ditemukan.
Ia berdiri lama di sana, mengingat detail yang sudah ia ulang seribu kali.

Kadang ia bertanya pada dirinya sendiri:

“Apa aku ayah yang buruk? Apa aku yang membuatnya hilang? Apa aku… penyebabnya?”

Tidak ada jawaban.

Hanya angin dingin yang melintas.

Ulang tahun Eun-seo jatuh pada musim dingin, bulan ke dua belas setelah ia hilang.
Hari itu, rumah mereka lebih sunyi dari biasanya, seakan waktu sengaja memperlambat diri untuk menyakiti mereka lebih lama.

Dong-ho membeli kue kecil strawberry—favorit Eun-seo.

Ia menyalakan satu lilin kecil.

Ia duduk di meja makan seorang diri.

Tidak ada nyanyian.

Tidak ada tawa bocah.

Tidak ada tangan kecil yang tepuk tangan kegirangan.

Ia menulis surat pendek di selembar kertas:

“Eun-seo sayang, Appa belum bisa menemukamu. Tapi Appa akan terus mencari, berapa pun lamanya. Maaf jika kamu menunggu sendirian. Appa masih di sini. Appa tidak pergi.”

Ia melipat surat itu dan memasukkannya ke dalam kotak pensil mini milik Eun-seo di kamarnya.

Sementara itu, Jina berdiri di dapur, menahan suara isaknya dengan menggigit bibir.

Ia tahu Dong-ho menulis surat.

Ia tahu suaminya masih percaya.

Dan itu membuat hatinya lebih sakit—karena ia merasa keyakinan itu hanya akan menghancurkan

Dong-ho lebih keras suatu hari nanti.

Jina menutup mulutnya dengan kedua tangan ketika suara patah dalam dirinya mulai keluar. Air matanya jatuh ke lantai, menetes satu-satu seperti detik jam yang menua.

Ia tidak ingin Dong-ho melihatnya.

Ia tidak ingin menambah beban.

Tapi ia juga tidak bisa menghentikan rasa sakit yang menggerogoti dari dalam.

Setahun telah lewat.

Foto Eun-seo di ruang tamu memudar terkena sinar matahari dari jendela. Kamar anak itu berdebu meski Dong-ho bersihkan setiap minggu. Buku gambarnya membengkok, warnanya kusam.

Pita rambut di laci masih ada, tapi baunya sudah hilang. Waktu tidak menyembuhkan mereka. Waktu mengikis.

Hari demi hari, lingkar mata Jina menggelap, pundaknya menunduk, langkahnya lambat. Hari demi hari, Dong-ho menua lebih cepat dari seharusnya.

Setahun itu bukan masa penyembuhan. Itu adalah masa kehilangan berkali-kali. Setiap hari, mereka kehilangan bagian lain dari diri mereka.

Dan setahun itu mengantar mereka ke ambang paling sunyi—ambang di mana sebagian orang akhirnya menyerah.

Tapi tidak bagi Dong-ho.

Tidak untuk ayah yang masih menyalakan lampu kamar kecil setiap malam.

Tidak untuk ayah yang masih duduk di halte setiap sore.

Tidak untuk ayah yang masih memegang foto anaknya meski warnanya mulai pudar.

Ia tetap berdiri.

Sendirian.

Menantang kota yang tidak mendengar.

Karena cinta ayah kadang bukan tentang harapan.

Kadang itu tentang keras kepala.

Tentang tidak rela.

Tentang menolak menyerah meski seluruh dunia sudah putus asa.

 

Hujan turun pada hari ke-372 sejak Eun-seo hilang. Hujan yang sama yang turun malam pertama Dong-ho berlari di gang-gang kota sambil membawa foto putrinya. Hujan yang sama yang, bagi Jina, selalu terasa seperti pengingat bahwa langit pun ikut menangis.

Pukul 21.17, telepon rumah berdering.

Tidak ada yang pernah menelpon jam segitu. Semua orang sudah berhenti menanyakan kabar. Dunia sudah diam. Waktu sudah mengubur harapan mereka setebal debu di atas bingkai foto Eun-seo.

Dong-ho mengangkat dengan suara lelah, “Yoboseyo…?”

Suara dari seberang terdengar formal tapi terguncang:

“Pak Lee Dong-ho? Kami dari kepolisian… kami menemukan seorang anak… kami percaya itu Eun-seo.”

Waktu berhenti.

Darah berhenti mengalir.

Suara itu masuk tetapi tidak diproses oleh otaknya.

“Pa—Pak? Anda masih di sana?”

Jina, yang sedang mencuci beras untuk makan malam sederhana, menatap suaminya. Pipinya memucat. Tubuhnya mulai gemetar.

“Eun-seo…?” bisik Jina. “Katakan sesuatu, Dong-ho… apa mereka bilang… apa…?” Suaranya pecah.

Dong-ho menjawab dengan suara yang tidak seperti miliknya sendiri. Terputus-putus. Retak.

“Di—di mana? Di mana anak saya?”

Polisi menjelaskan: rumah kosong di pinggiran kota, laporan warga karena mendengar suara lirih dari loteng. Anak perempuan, kurus, kotor, tampak ketakutan. Tidak ada orang dewasa di lokasi.

“Kami membawa dia ke Daegu Fatima Hospital… tolong datang sekarang.”

Jina jatuh berlutut. Tubuhnya tidak kuat menopang kabar yang seharusnya menjadi kebahagiaan tetapi malah terdengar seperti kalimat asing, seperti keajaiban yang terasa tidak nyata.

Dong-ho meraih jaketnya, namun tangannya gemetar hebat. Ia tidak pernah siap untuk sebuah keajaiban setelah setahun tenggelam dalam kegelapan.

Saat mereka berlari keluar rumah, lampu kamar Eun-seo — lampu yang Dong-ho NYALAKAN setiap malam — masih menyala.

Seperti menunggu pemiliknya kembali.

Koridor rumah sakit selalu memiliki bau antiseptik yang menusuk. Tapi malam itu, bagi Dong-ho, aroma itu lebih seperti bau ketakutan.

Dokter mengantar mereka ke sebuah ruangan kecil dengan cahaya lampu yang lembut. Ketika pintu terbuka, dunia Dong-ho langsung hancur untuk kedua kalinya.

Di sudut ruangan, duduklah seorang anak kecil.

Kurus. Rambutnya kusut panjang dan kotor. Pipi kirinya memar kekuningan. Bibir pecah. Lututnya lecet. Ia memeluk bantal rumah sakit seolah itu satu-satunya perisai dari dunia.

Eun-seo.

Tapi bukan Eun-seo yang ia kenal.

Jina menutup mulut, menahan jeritan yang hampir keluar.

Dong-ho melangkah perlahan. Langkah pertamanya terasa seperti menginjak pecahan kaca. Ia tidak berani berlari. Ia tidak berani bersuara keras. Takut anak itu akan hilang lagi… atau retak berkeping-keping.

“E…Eun-seo?” suaranya bergetar.

Anak itu mengangkat wajahnya.

Mata itu… mata besar yang dulu selalu berkilau ketika melihatnya… kini terlihat kosong. Tidak fokus. Seperti mata seseorang yang hanya bisa melihat bahaya, bukan cinta.

Ketika Dong-ho mendekat lagi, Eun-seo refleks mundur ke pojok. Tubuhnya kaku. Ia memeluk bantal lebih kuat, wajahnya pucat ketakutan.

“Appa…” suara Dong-ho patah. “Ini Appa, sayang.”

Tidak ada reaksi.

Tidak ada pengakuan.

Tidak ada cahaya yang kembali di mata itu.

Jina mencoba mendekat sambil menangis, tapi Eun-seo langsung menjerit lirih—suara yang tidak seperti anak kecil normal, lebih seperti suara hewan kecil yang takut dipukul. Ia menutupi kepala dengan kedua tangan.

Perawat menghentikan Jina dengan lembut.

“Dia… sensitif terhadap sentuhan. Trauma berat.”

Jina mundur sambil terisak. “Tapi… aku ibunya… aku hanya—aku hanya ingin memeluk dia…”

Dong-ho menahan pundaknya, meski dirinya sendiri hampir roboh.

Pada titik itu, mereka menyadari sesuatu yang menyayat hati:

Eun-seo yang kembali bukanlah Eun-seo yang pergi.

Malam itu mereka berada bersama Eun-seo selama beberapa jam di rumah sakit. Tidak banyak yang bisa dilakukan selain menatap dari jarak aman.

Suatu kali, suara mobil dari luar jendela terdengar keras.

Eun-seo membeku.

Matanya melebar.

Ia langsung menutup telinga dengan kedua tangan dan merunduk di sudut. Tubuhnya bergetar hebat.

Dong-ho berdiri, ingin memeluknya, ingin menjadi perisai… tetapi takut menyakiti.

“Tidak apa, Nak… tidak apa…” katanya lirih, mencoba menenangkan sambil menahan air mata.

Tapi Eun-seo tidak melihat. Ia tidak mendengar. Ia tersesat di dunianya sendiri.

Dokter menjelaskan perlahan, “Sepertinya ia mengalami complex trauma. Suara tertentu memicu ingatan buruk.”

Dong-ho menggenggam rambutnya sendiri, frustrasi, marah, benci pada dunia, benci pada dirinya yang gagal.

Eun-seo bicara sedikit, hanya dengan bisikan. Kata-kata tidak jelas. Kadang ia hanya membuka mulut tanpa suara, seolah kata-katanya hilang entah ke mana.

Ketika Jina mencoba memberi minum, tangan kecil Eun-seo menepis gelas itu. Ia menatap Jina seperti menatap orang asing yang berbahaya.

Jina jatuh terduduk sambil menangis, “Dia tidak kenal aku, Dong-ho… dia tidak kenal aku…”

Dong-ho tidak bisa berkata apa pun.

Satu-satunya hal yang ia lakukan malam itu adalah duduk di lantai, perlahan mendekat, dan mencoba melakukan hal yang ia lakukan setiap pagi setahun lalu.

Ia mengeluarkan pita rambut kecil yang selalu ia bawa di saku—pita merah muda dengan pola bunga yang Eun-seo suka.

Pita itu kusut dan warnanya memudar.

Dong-ho mengangkatnya sedikit, menunjukkan dari jarak aman.

“Hari ini Appa tidak akan mengikat rambutmu,” katanya, suara pecah, “Tapi Appa… Appa tetap simpan ini, Nak. Appa tetap tunggu kamu.”

Eun-seo menatap pita itu beberapa detik.

Tidak mengambilnya.

Tidak mengenali.

Tidak tersenyum.

Ia hanya menatap… lalu memalingkan wajah perlahan seolah cahaya itu terlalu menyilaukan.

Dong-ho tersenyum tipis, senyum paling menyakitkan dalam hidupnya.

“Tidak apa… Appa tunggu sampai kamu siap.”

Dan di saat itulah dunia—menyadari betapa besar cinta seorang ayah yang hampir tidak tersisa apa pun kecuali kesetiaan buta kepada putrinya.

Beberapa jam setelahnya, Eun-seo tertidur di ranjang rumah sakit. Bahkan dalam tidur, ia menggenggam bantal keras-keras, seperti seseorang yang pernah kehilangan segalanya dan takut kehilangan satu benda terakhir yang ia pegang.

Dong-ho mengamati wajah anaknya.

Luka kecil di pipinya.

Bekas lecet lama di lengan.

Kuku yang patah.

Bibir yang pecah.

Kulit yang pucat karena kurang makan.

Mata panda di bawah mata kecil itu.

Jina menyibak rambut anaknya perlahan, tapi gerakan sekecil itu pun membuat Eun-seo meringis dan menggeliat dalam tidur, seolah disentuh berarti disakiti.

“Dia… menderita selama ini…” Jina menahan isak.

Dong-ho tidak menjawab. Ia tidak bisa.

Setahun penuh ia menangis karena ketiadaan.

Kini ia menangis karena kehadiran yang berubah menjadi luka.

Setahun ia mencari suara tawa anaknya.

Kini yang ia dapat hanya keheningan yang lebih menyakitkan.

Setahun ia berharap anaknya pulang.

Kini ia sadar sesuatu yang lebih buruk:

Anak itu pulang… tetapi sebagian jiwanya tertinggal di tempat yang tidak pernah mereka ketahui.

Dong-ho menaruh pita kecil itu di ujung ranjang, tidak memaksakan apa pun.

Ia tahu.

Ia paham.

Ia siap.

Ia akan menunggu selama apa pun.

Ketika perawat mematikan lampu ruangan, kamar hanya diterangi cahaya remang biru.

Dong-ho menggenggam tangan Jina yang gemetar, dan untuk pertama kalinya dalam setahun, ia biarkan air matanya jatuh tanpa ditahan.

Bukan karena kehilangan.

Bukan karena putus asa.

Tapi karena sesuatu yang jauh lebih perih:

Keajaiban itu datang terlambat, dan pulang dalam keadaan hancur.

Dan kini ia harus belajar mencintai putrinya sekali lagi—dengan cara yang jauh lebih sunyi, lebih sabar, dan lebih menyayat hati.

 

Hari itu, udara di Daegu terasa berat dan dingin, meski kalender menunjukkan awal musim semi. Langit berawan, seolah-olah cuaca ikut menahan napas, menunggu sesuatu yang tidak ingin terjadi.

Polisi mendatangi rumah sakit pagi-pagi sekali. Dua detektif berdiri di depan pintu kamar Eun-seo dirawat, wajah mereka datar tapi mata mereka tampak “menghindar” setiap kali bertemu pandang dengan Dong-ho dan Jina. Dong-ho langsung tahu sesuatu yang buruk—atau mungkin sesuatu yang baik—telah terjadi. Tapi ia tidak tahu mana.

“Pak Lee Dong-ho,” ucap Detektif Han Min-woo dengan suara yang hati-hati, “kami telah menangkap seorang pria… kemungkinan besar pelaku penculikan Eun-seo.”

Jina langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan. Tubuhnya bergetar.

Dong-ho hanya membeku.

Detektif itu melanjutkan, “Dia mengaku… bahwa dia hanya ingin ‘menjaga’ Eun-seo. Ia mengatakan… anak Anda mengingatkannya pada adiknya yang meninggal saat kecil.”

Jina terisak. “Itu… alasan apa? Itu apa…?” suaranya patah.

Detektif Han melanjutkan, ada nada malu dalam intonasinya.

“Pelaku, Jang Seung-mo, 41 tahun. Tidak punya riwayat kriminal. Tinggal sendirian di rumah ayahnya yang sudah kosong. Ia pernah menjalani perawatan psikologis ringan karena depresi setelah kematian adiknya lima belas tahun lalu. Ia… mengatakan ia tidak bermaksud melukai. Hanya… tidak mampu melepaskan.”

Dong-ho menutup mata. Rahangnya mengeras.

“Dia mengatakan begitu.”

Detektif Han menunduk. “Secara hukum… motif itu tidak membuat hukuman berat otomatis.”

Jina berjalan mundur hingga punggungnya menabrak dinding.

“Jadi… orang seperti itu boleh menyekap anak kami setahun… hanya karena trauma masa lalu?!”

Detektif Han menarik napas. “Itu akan diputuskan di pengadilan. Tapi… ada kemungkinan ia mendapat keringanan hukuman karena kondisi psikologisnya.”

Langkah kecil dari kamar terdengar—Eun-seo terbangun oleh suara keras, lalu menutup telinga rapat-rapat sambil menggigil. Ayahnya refleks ingin menggendongnya, tapi Eun-seo mundur ketakutan. Dong-ho berhenti di tempat, menelan luka yang seperti tulang patah di dada.

Dan pagi itu, ketika pelaku ditahan dan dibawa untuk diperiksa, tidak ada satu pun dari keluarga itu yang merasa lega.

Karena tidak ada hukuman yang mungkin cukup.

Tidak ada alasan yang mungkin masuk akal.

Tidak ada dunia yang tampak adil.

Pengadilan diadakan tiga minggu setelah penangkapan. Gedung pengadilan distrik itu dingin dan berbau kertas lembap, neon, dan birokrasi.

Dong-ho duduk diam di bangku panjang, memegang sepatu kecil Eun-seo—sepatu yang ditemukan terbalik di jalan setahun silam. Sepatu itu kini kusam, solnya kotor, sudah tidak muat lagi untuk kaki kecil putrinya yang tumbuh selama setahun tanpa mereka.

Tapi sepatu itu simbol.

Satu-satunya hal yang ia pegang ketika dunia berhenti peduli.

Eun-seo tidak dibawa hadir. Dokter bilang kondisi psikisnya belum stabil. Jina berada di sebelah suaminya, tangan gemetar namun berusaha menahan diri agar tidak pecah sebelum waktunya.

Pelaku, Jang Seung-mo, masuk ruang sidang dengan wajah pucat dan mata kosong. Bukan karena menyesal. Lebih seperti seseorang yang tidak benar-benar memahami betapa besar kerusakan yang telah ia timbulkan.

Pengacaranya berbicara panjang lebar:

“Klien kami tidak berniat menyakiti. Ia mengalami episode psikologis karena trauma masa lalu. Ia hanya ingin melindungi anak itu. Tidak ada kekerasan fisik berat, tidak ada pelecehan. Hanya penyekapan. Klien kami merasa anak itu adalah adiknya yang dulu ia gagal lindungi.”

Hanya penyekapan.

Kata itu membuat Jina menutup wajahnya. Dong-ho menunduk, seolah kata itu seperti tangan yang memukul dadanya.

Jaksa mencoba memperjuangkan hukuman lebih berat, tetapi terus dipotong:

“Tidak ada bukti kekerasan seksual.”

“Tidak ada luka permanen pada tubuh.”

“Korban masih hidup.”

“Pelaku memiliki gangguan mental ringan.”

“Perbuatan terjadi tanpa motif kejahatan seksual atau finansial.”

“Pelaku kooperatif dan mengaku.”

Setiap kalimat itu seperti memotong sedikit demi sedikit harapan keluarga itu untuk keadilan.

Dan saat hakim membacakan putusan, ruang itu menjadi lebih dingin daripada luar:

“Terdakwa dijatuhi hukuman dua tahun penjara, dengan masa percobaan empat tahun, mengingat kondisi mental dan penyesalan terdakwa.”

Jina menegang.

Dong-ho berhenti bernapas beberapa detik.

Dua tahun.

Dengan masa percobaan.

Artinya… pelaku hanya perlu menjalani sebagian kecil lalu bisa kembali ke kehidupan normal.

Sementara Eun-seo… bahkan belum bisa duduk tanpa ketakutan.

Belum bisa mengenali suara ayahnya.

Belum bisa tidur tanpa mimpi buruk.

Belum bisa hidup seperti anak-anak lain.

Ketika persidangan usai, para pengunjung keluar seperti biasa—seperti ini hanyalah kasus yang lewat, file yang ditutup. Sementara dunia keluarga kecil itu hampir roboh.

Dong-ho duduk di lorong yang sunyi, di bangku kayu yang keras.

Ia menunduk, memegang sepatu kecil itu erat-erat di dada.

Sepatu itu dingin.

Terasa lebih nyata daripada suara hakim tadi.

Lebih nyata daripada rasa sakit yang tidak bisa ia keluarkan.

Ia menatap sepatu itu lama sekali, seolah-olah dengan cukup menatap, ia bisa memindahkan penderitaan Eun-seo ke dirinya. Seolah dengan memeluk sepatu itu, ia bisa mengembalikan waktu ke pagi terakhir ketika ia mengikat rambut anaknya dengan jelek dan miring.

Detektif Han berdiri jauh beberapa meter, memandangnya dari ujung lorong. Ada rasa bersalah yang berat di wajahnya, tapi ia tahu tidak ada kata-kata manusia yang cukup dalam untuk menolong hari itu.

Dong-ho tidak berteriak.

Tidak marah.

Tidak memaki.

Kesedihan ayah itu terlalu sunyi untuk suara apa pun.

Ia hanya duduk, memeluk sepatu anaknya, tatapannya kosong seperti seseorang yang baru saja kehilangan cahaya kedua kalinya.

Karena keadilan yang ia harapkan… ternyata tidak ada.

Dan di dalam hatinya, sesuatu yang rapuh patah hening-hening.

Jina awalnya berusaha berdiri tegar. Berusaha bernapas. Berusaha menerima kenyataan. Tapi ketika hakim keluar ruangan dan pintu pengadilan ditutup, ia tidak bisa lagi menahan semuanya.

Ia menampar meja kayu persidangan sekuat tenaga.

“Anak saya! Setahun! SETAHUN! Dia… dia dikurung seolah bukan manusia!”

Hakim berhenti sebentar di pintu, namun tidak menoleh.

Petugas pengadilan menghampiri, tapi Jina tak bisa dihentikan.

“Apa kalian tahu dia menangis setiap malam? Apa kalian tahu… dia tidak mengenali ayahnya sendiri?! Apa kalian tahu… dia menutup telinganya kalau ada suara sepeda motor lewat? Apa kalian tahu… dia tidak mau disentuh karena takut… takut…?!!”

Suara Jina pecah berkeping-keping.

“Dua tahun? Dua tahun? Lalu dia keluar… dan hidup normal? Sementara anak saya… bagaimana? Bagaimana anak saya hidup?!”

Petugas mencoba menenangkan, tapi Dong-ho akhirnya bangkit, memeluk istrinya dari belakang.

Jina merosot, menangis dalam pelukan suaminya, tubuhnya seperti kain basah yang tidak punya kekuatan lagi.

Dalam tangisannya, ia berbisik dengan suara paling patah yang pernah keluar dari dirinya:

“Kenapa dunia jahat sekali pada anak kita, Dong-ho…? Kenapa dunia jahat sekali…?”

Dong-ho menunduk, memeluk istrinya lebih erat.

Ia tidak menjawab.

Karena ia tahu, apa pun yang ia katakan, tidak akan mengubah kenyataan bahwa dunia memang kejam.

Bahwa ada orang yang membiarkan keadilan berlubang.

Bahwa anak mereka mungkin selamat, tapi tidak kembali utuh.

Bahwa cinta mereka sebagai orang tua harus lebih besar daripada luka yang terus disodorkan.

Lorong pengadilan itu sunyi.

Dan sunyi itulah yang terasa paling menyakitkan.

 

Hari-hari setelah Eun-seo dipulangkan adalah hari-hari yang seperti berjalan miring; tidak pernah lurus, tidak pernah stabil. Matahari terbit, tetapi rumah itu tetap gelap — bukan karena lampu dimatikan, melainkan karena cahaya sudah tidak lagi berani masuk.

Eun-seo tidak mau keluar rumah. Tidak mau keluar kamar.

Kata “keluar” baginya berarti “hilang lagi”, dan tubuhnya menolak itu.

Setiap pagi, ayah mendengar bunyi kecil gesrek… gesrek… dari dalam kamar Eun-seo. Ia tahu suara itu: kursi kayu yang diseret pelan, disandarkan tepat di balik pintu. Penghalang darurat.

Cara seorang anak lima tahun bertahan hidup.

Saat pertama kali melihatnya, ayah ingin menyingkirkan kursi itu, mengatakan, “Nak, rumah kita aman.”

Tapi ia tidak punya keberanian untuk merampas satu-satunya cara anaknya merasa selamat.

Jadi ia biarkan.

Setiap malam, tepat pukul sembilan, setelah memastikan jendela terkunci dan tirai tertutup rapat, ayah mengambil bantal tipis dan selimut kecil, lalu duduk bersandar di depan pintu kamar itu. Ia tidak lagi tidur di kamar utama. Bahkan sofa ruang tamu sudah lama tidak disentuh.

Tempat tidur favoritnya saat ini adalah lantai dingin depan pintu kamar Eun-seo.

Suara napas Eun-seo yang sangat pelan dari balik pintu itulah satu-satunya bukti bahwa dunia tidak benar-benar runtuh.

Kadang, tengah malam, gadis kecil itu menangis dalam mimpi—tapi tangisnya tidak pernah bersuara. Hanya cegukan tercekik, seperti seseorang yang ditutup mulutnya terlalu lama sehingga tubuhnya belajar menangis tanpa bunyi.

Ayah mendengar semuanya.

Dan setiap kali itu terjadi, ia menempelkan telapak tangannya perlahan ke permukaan pintu.

“Nak… Appa di sini,” bisiknya. Bukan keras—hanya napas tipis, seperti angin lewat.

Seringkali Eun-seo terdiam.

Kadang, ada satu ketukan kecil… tok… tok…

Seolah ia menjawab: “Jangan pergi.”

Dan ayah tidak pernah pergi.

Ia tetap di sana, sampai matahari pagi mengintip.

Di dalam rumah yang tidak lagi sama, hanya satu hal berubah menjadi rutinitas yang tak tergoyahkan: Ayah menjaga pintu seperti menjaga jantungnya sendiri.

Cinta ayah tidak pernah bising.

Sejak Eun-seo pulang, ia memastikan setiap hari dipenuhi dengan kebaikan kecil—meski tidak satu pun dibalas.

Pagi-pagi, sebelum ibu bangun, ia menyiapkan susu hangat.

Ditaruh di depan pintu kamar. Tidak pernah memaksa.

Hanya menunggu sampai suhu susu berubah dari hangat, menjadi suam, lalu dingin, lalu tidak tersentuh.

Kadang Eun-seo meminumnya dua teguk. Kadang tidak sama sekali.

Ayah selalu membawa kembali gelas itu dengan senyum kecil, seolah dua teguk itu adalah mukjizat.

Setiap malam sebelum tidur, ia duduk di lantai depan pintu, membuka sebuah buku dongeng. Ia tahu Eun-seo tidak suka suara keras, jadi ia membacanya pelan, sangat pelan, hampir seperti gumaman.

“Pada suatu hari… seekor kelinci kecil kehilangan jalannya…”

“Ada seorang gadis pemberani yang mencari cahaya…”

“Seekor burung kecil takut terbang lagi…”

Kadang Eun-seo tidak memberi reaksi.

Kadang, ayah mendengar bunyi napas sedikit lebih lembut, seperti anak itu mendengar tanpa mendengarkan.

Itu cukup.

Ketika buku ditutup, ia berkata, “Selamat tidur, Nak,” dengan suara paling lembut yang pernah ia gunakan seumur hidupnya.

Pernah suatu sore, Eun-seo keluar dari kamar sebentar. Rambutnya berantakan, kusut, seolah hanya pernah disentuh rasa takut.

Ayah mendekat, membawa sisir kecil berwarna biru muda, sisir kesukaan Eun-seo sebelum ia hilang.

“Nak… Appa sisir, ya?”

Anak itu menoleh sebentar—lalu menepis tangan ayah dengan spontan, panik.

Gerakannya kecil, tapi penuh ketakutan mentah.

Sisir jatuh ke lantai.

Ibu terisak.

Ayah hanya tersenyum.

Ia menunduk, mengambil sisir itu, dan berkata, “Tidak apa, Nak. Appa tidak akan memaksa.”

Sejak itu, setiap beberapa hari, ia tetap mencoba. Menyisir perlahan, hanya ujung rambut, atau kadang tidak menyentuh sama sekali—hanya gerakan udara.

Menunggu keajaiban kecil yang mungkin butuh bertahun-tahun.

Cinta ayah bukanlah usaha untuk disadari.

Cinta itu adalah memilih tetap tinggal, meski ditolak ribuan kali dengan alasan ketakutan yang tidak pernah ia pahami sepenuhnya.

Sore itu, langit Daegu berwarna jingga pudar. Ibu sedang mencuci baju, ayah membereskan mainan lama yang mereka keluarkan dari gudang, berharap salah satunya dapat membuat Eun-seo merasa aman.

Tiba-tiba pintu kamar terbuka sedikit.

Eun-seo keluar pelan, membawa kertas putih dan kotak crayon kecil.

Ia duduk di ruang tamu tanpa berkata apa-apa.

Hanya menggambar.

Ayah tidak berani mendekat.

Ia hanya menonton dari jauh, jantungnya berdebar tidak karuan, seperti menyaksikan sesuatu yang suci.

Eun-seo menggambar lingkaran-lingkaran kecil, garis tipis, warna-warna lembut.

Setelah selesai, ia bangkit, berjalan perlahan ke arah ayah, lalu meletakkan gambar itu di meja kecil.

Ia tidak mengatakan sepatah kata pun.

Kemudian kembali ke kamar. Kursi diseret lagi, menutup pintunya.

Ayah menunggu suara itu berhenti, baru kemudian ia menyentuh kertasnya.

Tangannya bergetar.

Gambar itu menunjukkan empat hal:

Ibu — dengan senyum kecil.

Eun-seo — dengan rambut pendek sebahu.

Seekor kelinci — mungkin boneka lamanya.

Dan Ayah — tubuhnya digambar utuh, tetapi wajahnya kosong, hanya lingkaran putih.

Tidak ada mata.

Tidak ada hidung.

Tidak ada mulut.

Bagian yang seharusnya menjadi wajah hanyalah ruang kosong tanpa identitas.

Ayah menatapnya lama, lama sekali.

Jantungnya terasa diremas dari dalam.

Tetapi kemudian… ia tersenyum.

Senyum yang patah.

Senyum yang lebih mirip luka.

Ia memeluk kertas itu ke dadanya. Sangat hati-hati, seolah memeluk Eun-seo.

Pelan ia berkata,

“Tidak apa, Nak… Tidak apa. Appa akan buat kamu mengenal wajah Appa lagi. Pelan-pelan. Semampumu.”

Katanya dengan suara yang hampir tidak terdengar.

Tidak ada air mata.

Hanya getaran kecil di ujung bibirnya.

Ibu melihat itu dari dapur, lalu mendekap mulutnya sendiri agar tidak menangis.

Karena ia tahu: Anaknya masih mengingat tubuh ayahnya, tapi tidak mengingat cintanya.

Dan itu lebih menyakitkan daripada apa pun.

Malam itu sunyi seperti kota sedang menahan napas.

Daegu bergerak seperti biasa—lampu-lampu toko, suara bus jauh di luar jendela, orang-orang yang tertawa di jalan seolah dunia tidak sedang patah di rumah kecil itu.

Di dalam rumah, lampu kamar Eun-seo menyala seperti biasa.

Ia tidak bisa tidur dalam gelap.

Gelap baginya sama dengan penyekapan.

Ayah duduk bersandar pada pintu kamar, selimut tipis di pangkuannya, dan di tangannya — sepatu kecil warna merah muda milik Eun-seo.

Sepatu itu sudah kekecilan, sudah tidak layak dipakai.

Tapi itu satu-satunya benda yang menyatukan masa lalu dan masa kini tanpa memaksa.

Ia mengusap sepatu itu perlahan, seperti mengusap kepala anaknya yang sekarang tidak berani disentuh.

Ibu tidur lebih awal; kelelahan emosional membuat tubuhnya rapuh.

Jadi hanya ayah di lorong itu, ditemani lampu kamar yang menyembur cahaya tipis dari bawah pintu.

“Kau tahu, Nak…” Suara ayah pecah—bukan menangis, hanya goyah. “Apa pun yang kamu butuhkan… Appa ada di sini.”

Tidak ada jawaban.

Hanya bunyi napas lembut dari balik pintu.

Ayah melanjutkan,

“Walau kamu tidak memanggil Appa lagi…” Ia menunduk, memegang sepatu itu lebih erat. “… Appa tetap di sini. Sampai kamu tidak takut lagi.”

Kalimat itu menggantung di udara, lalu jatuh dengan pelan.

Tidak ada dramatisasi.

Tidak ada keajaiban tiba-tiba.

Hanya seorang ayah, duduk sendirian, menjaga pintu yang memisahkannya dari anak yang sangat ia cintai.

Di luar rumah, angin malam bergerak.

Rumah-rumah tetangga memadamkan lampu.

Kota perlahan tidur.

Tapi lampu kamar Eun-seo tidak pernah padam.

Dan tidak akan padam untuk waktu yang lama.

Karena selama cahaya itu menyala, ada satu hal yang terus bertahan:

Harapan kecil, rapuh, dan menyakitkan — bahwa suatu hari, anak itu akan membuka pintu tanpa rasa takut.

Sampai hari itu datang, ayah akan tetap di sana.

Menjaga.

Menunggu.

Mencintai dalam diam.

Share: