Pagi di rumah ini selalu datang
dengan cara yang sama. Tidak tergesa, tidak pula berisik. Matahari muncul dari
balik pepohonan di ujung halaman, menyelinap perlahan, seolah tahu bahwa rumah
tua ini tidak suka kejutan. Aku sudah duduk di teras bahkan sebelum cahaya itu
benar-benar hangat. Usia membuatku bangun lebih awal, atau mungkin kebiasaan
yang tidak pernah berubah sejak lama.
Hal pertama yang kulakukan setiap
pagi adalah menyiram bunga matahari di sudut teras. Potnya tidak besar, catnya
sudah mengelupas di sana-sini. Tanahnya sering mengering lebih cepat dari yang
seharusnya, tapi bunganya tetap tumbuh tegak. Aku tidak pernah menanam banyak.
Satu saja cukup. Dari dulu, aku memang tidak pandai membagi perhatian.
Air mengalir pelan dari gembor
plastik biru. Daunnya bergerak sedikit, seperti orang yang terbangun tapi belum
sepenuhnya sadar. Aku menunggu sampai tanahnya benar-benar basah, baru
berhenti. Tidak terburu-buru.
Setelah itu aku masuk ke dapur.
Kompor tua masih setia menyala, meski kadang harus diputar dua kali. Aku
menyiapkan teh. Bukan kopi. Sejak dulu kami memang lebih sering minum teh. Dua
cangkir, selalu dua. Ukurannya sama, motifnya juga sama—bunga kecil berwarna
hijau yang mulai pudar. Aku menuang air panas, aroma daun teh mengisi udara
dapur yang sempit.
Dua cangkir itu kubawa ke teras dan
kutaruh di meja kayu kecil di antara dua kursi. Satu kursi kududuki. Kursi
satunya tetap kosong.
Aku menyesap tehnya perlahan. Tidak
pernah langsung habis. Aku suka membiarkannya hangat cukup lama, lalu dingin
dengan sendirinya. Cangkir di seberangku tidak tersentuh sama sekali. Uapnya
perlahan menghilang.
Aku duduk menghadap matahari. Bukan
karena ingin berjemur, tapi karena dari arah itulah pagi selalu datang. Dari
sanalah cahaya masuk pertama kali ke rumah ini. Aku tidak pernah memindahkan
posisi kursi, meski bayangan kadang terasa menyilaukan. Arah ini terasa benar.
Suara langkah kecil terdengar dari
dalam rumah. Tidak lama kemudian, Nala muncul dengan rambut yang masih sedikit
berantakan. Usianya baru lima tahun, tapi pertanyaannya sering kali lebih besar
dari tubuhnya. Ia berdiri di ambang pintu, mengucek matanya, lalu langsung
menatap meja.
“Kakek,” katanya sambil menunjuk
cangkir yang masih utuh. “Itu tehnya kenapa nggak diminum?”
Aku tersenyum. Pertanyaan pagi
selalu datang dari arah yang sama juga. “Nanti,” jawabku singkat.
Nala mendekat, berdiri di samping
kursi kosong, lalu mengintip ke dalam cangkir. “Udah dingin nanti.”
“Iya,” kataku. “Memang begitu.”
Ia mengerutkan dahi, tidak puas,
tapi belum cukup berani membantah. Anak kecil sering kali tahu ada sesuatu yang
ganjil, tapi belum bisa menamainya.
Tak lama kemudian Aruna muncul.
Cucuku yang satu ini sudah sepuluh tahun. Ia tidak langsung bertanya. Ia
memperhatikan dulu. Dari pintu, dari jarak aman, seperti sedang mengumpulkan
potongan gambar. Ia melihat bunga matahari, dua cangkir, dua kursi, lalu
kembali padaku.
“Kakek selalu bikin dua, ya?”
katanya akhirnya.
Aku mengangguk. “Dari dulu.”
“Dari dulu itu sejak kapan?”
Aku tertawa kecil. “Sejak sebelum
kamu lahir.”
Aruna mendekat dan duduk di lantai
teras, menyandarkan punggungnya ke tiang kayu. Matanya tidak lepas dari kursi
kosong. Anak seusianya mulai menyadari pola, dan pola yang berulang tanpa
penjelasan selalu membuat penasaran.
“Kakek nunggu siapa?” tanyanya
pelan.
Pertanyaan itu melayang di udara
beberapa detik. Aku mengangkat cangkirku, menyesap teh yang sudah tidak sepanas
tadi. Rasanya masih sama. Tidak pernah berubah.
“Nggak nunggu,” jawabku akhirnya.
“Tapi kursinya kosong.”
“Iya.”
“Tehnya dua.”
“Iya.”
Aruna menghela napas kecil, seperti
orang dewasa yang sedang mencoba bersabar. “Kalau nggak nunggu, kenapa selalu
begitu?”
Aku menoleh ke arah bunga matahari.
Kelopaknya menghadap ke arah yang sama denganku. Aku tidak menanamnya di situ
tanpa alasan. Ada hal-hal yang lebih mudah dijelaskan lewat kebiasaan daripada
kata-kata.
Nala kembali menyela. “Kakek
ngobrol sama hantu ya?” tanyanya polos.
Aku tertawa. Kali ini lebih lepas.
“Bukan.”
“Terus sama siapa?”
Aku menatap mereka berdua. Dua anak
kecil dengan cara bertanya yang berbeda, tapi rasa ingin tahu yang sama. Aku
tahu, suatu hari nanti mereka akan mengerti. Tapi pagi itu, aku hanya ingin
mereka tahu secukupnya.
“Ada orang,” kataku pelan, “yang
tidak pergi, hanya tidak kelihatan.”
Aruna mengernyit. Ia mengulang
kalimat itu dalam kepalanya, jelas terlihat dari caranya menatap lantai. Nala
tidak terlalu memikirkan. Ia lebih tertarik pada bunga.
“Itu bunganya kenapa cuma satu?”
tanya Nala.
“Karena satu sudah cukup,” jawabku.
Aku kembali menghadap matahari.
Cahaya pagi kini sudah lebih hangat, menyentuh wajahku dengan lembut. Angin
kecil lewat, membuat daun bunga matahari bergoyang pelan. Cangkir di seberangku
sudah benar-benar berhenti mengepul.
Aku tidak merasa sendirian. Tidak
pagi itu, tidak juga pagi-pagi sebelumnya. Kursi itu memang kosong, tapi tidak
pernah terasa benar-benar kosong. Ada kebiasaan yang tinggal, ada arah yang
tidak berubah.
Anak-anak akhirnya masuk ke dalam
rumah, dipanggil oleh suara ibunya. Aku tetap duduk di sana beberapa menit
lagi, menghabiskan tehku sampai tetes terakhir. Seperti biasa, aku membiarkan
satu cangkir tetap utuh, dingin, dan tenang.
Pagi selalu berakhir dengan cara
yang sama. Dan aku tidak pernah ingin mengubahnya.
Aruna dan Nala kembali ke tempatku
berada, lalu duduk di lantai teras. Nala bersila seadanya, kakinya belum
benar-benar tenang. Aruna duduk lebih rapi, punggungnya kembali bersandar ke
tiang kayu. Mata mereka berdua mengarah kepadaku, menunggu.
Aku tahu tatapan itu. Tatapan yang
tidak ingin jawaban cepat. Mereka ingin cerita.
Aku menarik napas panjang. Bukan
napas orang yang lelah, tapi napas orang yang sedang membuka lemari lama di
kepalanya. Lemari yang jarang dibuka, bukan karena takut, tapi karena isinya
terlalu penuh.
“Kalian mau dengar cerita tentang nenek?”
tanyaku akhirnya.
Nala mengangguk cepat. Aruna tidak
langsung menjawab, tapi senyumnya muncul pelan, seperti orang yang merasa
mendapat sesuatu yang sudah lama dicari.
Aku menatap meja kecil di depan
kami. Dua cangkir masih di sana. Satu kosong, satu penuh tapi dingin. Aku
menggeser cangkir itu sedikit ke tengah, seolah memberi ruang.
“Nenek kalian,” kataku pelan,
“namanya Sekar.”
Aku jarang menyebut namanya
keras-keras. Bukan karena berat, hanya terasa lebih tepat disimpan di dalam.
Tapi pagi itu, menyebutnya terasa benar. Angin lewat bersamaan dengan namanya,
menyentuh wajahku, membawa aroma tanah basah dari halaman.
“Sekar Ayu,” lanjutku. “Orangnya…
cerewet.”
Nala tertawa kecil. “Cerewet
gimana?”
“Kalau diam, itu justru aneh,”
jawabku. “Kalau rumah sepi, biasanya karena dia lagi mikir.”
Aku berhenti sejenak. Ada bayangan
di kepalaku—teras ini, tapi puluhan tahun lalu. Kayunya masih lebih terang, cat
dinding belum mengelupas. Sekar duduk di kursi yang sekarang kosong itu,
kakinya diangkat satu, memegang cangkir teh sambil mengomel soal hal-hal kecil.
Aku tidak langsung menceritakan
semuanya. Ingatan datangnya tidak berbaris. Ia datang seperti angin pagi:
pelan, acak, tapi terasa.
“Kakek kenal nenek waktu masih
muda?” tanya Aruna.
Aku tersenyum. “Waktu kakek belum
jadi kakek. Bahkan belum jadi apa-apa.”
Aku memejamkan mata sebentar. Suara
anak-anak di sekitarku pelan-pelan menjauh, bukan hilang, hanya berubah jadi
latar. Yang muncul justru suara lain. Suara yang lebih lama.
Aku ingat pertama kali melihat
Sekar. Bukan momen yang besar. Tidak ada hujan, tidak ada lagu, tidak ada
kejadian istimewa. Ia hanya lewat, tertawa bersama temannya, rambutnya terikat
asal. Aku sedang duduk di bangku panjang, menunggu sesuatu yang bahkan aku
tidak ingat apa.
Yang kuingat justru perasaan aneh
di dada. Bukan degup keras, hanya rasa ingin melihat lagi.
Aku membuka mata. Aruna dan Nala
masih di sana, menunggu.
“Nenek kalian,” kataku, “bukan
orang yang langsung jatuh cinta.”
“Maksudnya?” Aruna bertanya.
“Maksudnya,” aku tersenyum, “dia
punya banyak hal di kepalanya. Banyak orang di sekitarnya.”
Aku tidak bilang bahwa Sekar punya
lebih dari satu pacar waktu itu. Belum. Aku hanya bilang ia sibuk. Sibuk hidup.
Sibuk menjadi dirinya sendiri. Dan aku… ada di pinggir. Tidak selalu terlihat,
tapi selalu ada.
Angin kembali berembus. Daun bunga
matahari bergoyang pelan. Aku menatapnya, lalu kembali ke masa lalu tanpa
benar-benar meninggalkan pagi ini.
Aku ingat menunggu. Banyak
menunggu. Menunggu Sekar selesai bicara dengan orang lain. Menunggu dia punya
waktu. Menunggu dia menoleh. Tidak pernah aku merasa itu menyiksa. Menunggu
waktu itu rasanya seperti bagian dari hari.
“Kakek nggak capek nunggu?” tanya
Nala tiba-tiba, seolah membaca pikiranku.
Aku tersenyum. “Kalau nunggu
sesuatu yang kita mau, capeknya beda.”
Aku tidak menjelaskan lebih jauh.
Anak lima tahun tidak perlu semua jawaban. Cukup tahu bahwa menunggu tidak
selalu buruk.
Ingatan lain muncul. Sekar duduk di
bangku kayu, memarahiku karena aku terlambat. Aku hanya diam, mendengarkan. Aku
memang sering diam. Bukan karena tidak punya kata, tapi karena lebih suka
menyimpan.
Aku ingat pertama kali dia marah
besar. Aku juga ingat pertama kali dia tertawa karena leluconku yang tidak
lucu. Hal-hal kecil itu menumpuk pelan, membentuk sesuatu yang baru kusadari
bertahun-tahun kemudian: aku mencintainya bahkan sebelum aku tahu namanya akan
menjadi rumah.
“Kakek,” kata Aruna pelan, “nenek
orangnya baik, ya?”
Aku mengangguk. “Baik, tapi bukan
tanpa salah.”
Aku tidak ingin menjadikan Sekar
tokoh yang sempurna. Dia bukan itu. Dia manusia. Pernah ragu, pernah salah
arah, pernah ingin pergi. Tapi justru itu yang membuatku tetap memilihnya.
Angin pagi bertiup sedikit lebih
kencang. Aku merasakan dinginnya di kulit, seperti sentuhan dari waktu lain.
Aku tahu, setelah ini, ceritaku akan semakin jauh masuk ke masa lalu. Ke masa
ketika aku belum tahu bagaimana akhirnya.
Aku menarik napas lagi. Kali ini
lebih dalam.
“Cerita nenek panjang,” kataku.
“Dan nggak semuanya manis.”
Aruna mengangguk, serius. Nala
mendekat sedikit, bersandar ke kakaknya.
Aku tersenyum kecil. “Tapi kalau
kalian mau dengar, kakek ceritakan pelan-pelan.”
Aku menatap kursi kosong di
depanku, lalu kembali menghadap matahari. Cahaya pagi sudah naik sedikit lebih
tinggi. Teras ini masih sama. Tapi di kepalaku, aku sudah berdiri puluhan tahun
yang lalu, menunggu seseorang yang belum tahu akan memilihku atau tidak.
Dan dari situlah ceritanya
benar-benar dimulai.
Kalau dipikir-pikir sekarang,
pertemuan pertama kami tidak layak disebut peristiwa penting. Tidak ada yang
berhenti, tidak ada yang berubah arah. Dunia tetap berjalan seperti biasa.
Hanya aku yang pulang hari itu dengan kepala sedikit lebih ramai dari biasanya.
Waktu itu aku masih muda. Rambutku
masih hitam semua, punggung belum sering pegal, dan masa depan masih terasa
seperti sesuatu yang jauh, bukan sesuatu yang harus dikejar. Kami hidup di masa
ketika hidup tidak terlalu cepat. Surat masih ditunggu berhari-hari. Janji
bertemu dipegang seperti utang. Dan kabar sering datang dari mulut ke mulut,
bukan dari layar kecil di tangan.
Aku bertemu Sekar di sebuah acara
kecil. Bukan pesta besar. Hanya kumpul sederhana anak-anak muda di kampung,
dengan kursi kayu disusun seadanya dan musik diputar dari radio tua. Lagu-lagu
mengalun pelan, kadang terputus karena sinyal yang naik turun. Semua orang
bercakap, tertawa, saling menyapa.
Sekar datang tidak sendirian. Ia
selalu begitu. Dikelilingi teman-temannya, laki-laki dan perempuan. Rambutnya
diikat rapi, pakaiannya sederhana tapi bersih. Ia tertawa lepas, seperti tidak
punya beban apa pun. Aku melihatnya dari jauh. Tidak berani mendekat. Tidak
karena takut, hanya karena aku tidak merasa perlu terburu-buru.
Di antara banyak orang di ruangan
itu, aku bukan siapa-siapa. Tidak paling pintar, tidak paling tampan, tidak
paling pandai bicara. Aku hanya duduk di pinggir, membantu apa yang bisa
dibantu. Kadang mengangkat kursi, kadang menuang minum. Aku lebih sering
mendengar daripada bicara.
Sekar memperhatikanku bukan karena
aku menarik perhatian. Ia memperhatikanku karena aku selalu ada di tempat yang
sama. Saat orang lain sibuk menonjolkan diri, aku tetap duduk, tetap tenang.
Katanya kemudian, itu yang membuatnya penasaran.
Kami berbicara pertama kali bukan
tentang hal besar. Hanya soal cuaca yang terlalu panas dan radio yang terlalu
sering mati sendiri. Obrolan biasa. Tapi sejak itu, kami sering saling menyapa.
Tidak selalu lama, tidak selalu berdua. Kadang hanya senyum, kadang hanya
anggukan.
Sekar punya banyak teman laki-laki.
Itu bukan rahasia. Semua orang tahu. Di masa itu, perempuan yang berani tertawa
keras dan bicara lugas sering dianggap “terlalu bebas”. Tapi Sekar tidak
peduli. Ia tetap berjalan dengan caranya sendiri.
Aku tahu sejak awal, aku bukan
satu-satunya. Aku tahu ia punya pacar. Bahkan lebih dari satu dalam rentang
waktu yang berbeda. Aku mendengarnya dari orang lain, bukan dari Sekar sendiri.
Dan anehnya, aku tidak pernah merasa perlu menanyakannya langsung.
Aku sempat menjauh. Ada masa ketika
aku merasa kehadiranku tidak diperlukan. Aku berhenti muncul di tempat-tempat
yang biasa ia datangi. Berhenti menunggu di sudut yang sama. Aku pikir, mungkin
itu yang paling bijak. Menghilang sebelum berharap terlalu jauh.
Tapi menjauh tidak membuat perasaan
itu pergi. Ia hanya diam, menunggu di tempat yang sama di dalam dada.
Beberapa bulan kemudian, aku
kembali. Bukan dengan niat besar. Aku hanya kembali menjadi diriku sendiri.
Hadir tanpa membawa tuntutan. Duduk di tempat biasa. Menyapa seperti biasa.
Sekar memperhatikan perubahan itu.
Suatu sore, kami duduk di bangku panjang dekat lapangan. Anak-anak kecil
bermain kelereng di tanah. Matahari hampir tenggelam. Sekar menatapku lama,
lalu bertanya, “Kamu kemarin ke mana saja?”
“Ke rumah,” jawabku jujur.
“Kok jarang kelihatan?”
Aku mengangkat bahu. “Nggak ke
mana-mana.”
Ia tertawa kecil. “Kamu aneh.”
Aku tersenyum. “Katanya juga
begitu.”
Sekar menatap ke depan, lalu
berkata pelan, “Kamu tahu kan, aku nggak suka diatur.”
Aku mengangguk. “Aku tahu.”
“Kamu juga tahu aku nggak janji
apa-apa.”
“Iya.”
Ia menoleh padaku, sedikit heran.
“Kamu nggak keberatan?”
Aku diam sejenak. Kata-kata itu
kupikirkan lama sebelum keluar. Bukan karena aku ingin terdengar bijak, tapi
karena aku ingin jujur.
“Aku ingin kamu memilihku,” kataku
akhirnya, “bukan karena kamu tidak punya pilihan.”
Sekar tidak langsung menjawab. Ia
hanya tersenyum kecil. Senyum yang tidak menjanjikan apa pun, tapi juga tidak
menutup pintu. Di masa itu, senyum seperti itu sudah cukup.
Setelah hari itu, tidak banyak yang
berubah di permukaan. Sekar tetap menjadi dirinya. Aku tetap menjadi diriku.
Kami tidak resmi. Tidak ada status yang bisa disebutkan dengan jelas. Tapi kami
sering berbagi waktu. Jalan sore. Duduk berdua di teras rumahnya sambil
mendengarkan radio. Bicara tentang hal-hal kecil: tentang kerja, tentang
keluarga, tentang mimpi yang masih kabur bentuknya.
Aku tidak pernah melarang Sekar
bertemu siapa pun. Tidak pernah menuntut kabar setiap saat. Bukan karena aku
tidak peduli, tapi karena aku percaya: cinta yang dipaksa tidak pernah bertahan
lama.
Ada malam-malam ketika aku pulang
dengan perasaan kosong. Ada hari-hari ketika aku mendengar kabar Sekar dekat
dengan orang lain. Aku merasakannya, tentu saja. Tapi aku memilih untuk tetap
hadir. Hadir bukan sebagai penjaga, tapi sebagai tempat pulang jika ia ingin.
Waktu berjalan pelan di masa itu.
Tidak ada yang terasa dikejar. Kami hidup dari hari ke hari, dari percakapan ke
percakapan. Dan tanpa kusadari, kebiasaan itulah yang akhirnya menumbuhkan
sesuatu yang lebih kuat dari janji.
Sekar mulai lebih sering mencari
aku. Bertanya pendapatku. Duduk lebih lama. Tertawa lebih lepas saat bersamaku.
Aku tidak merayakannya. Aku hanya menerimanya.
Cinta kami tidak lahir dari momen
besar. Ia tumbuh dari hal-hal kecil yang dilakukan berulang. Dari kehadiran
yang tidak memaksa. Dari kesabaran yang tidak banyak bicara.
Di teras rumahku sekarang, aku
kembali membuka mata. Aruna dan Nala masih duduk di depanku. Angin pagi masih
sama. Tapi ceritaku sudah berjalan jauh.
“Terus?” tanya Aruna pelan.
Aku tersenyum. “Terus… suatu hari,
nenek kalian berhenti melihat sekeliling.”
Aku menoleh ke kursi kosong itu
lagi. Di sanalah dulu Sekar duduk, sebelum akhirnya memilih tinggal.
Sekar memilihku tanpa pengumuman.
Tidak ada kalimat resmi, tidak ada tanda besar yang bisa ditunjuk dan dikenang.
Ia hanya berhenti berjalan ke banyak arah, lalu duduk di sampingku lebih lama
dari biasanya. Dan dari situlah aku tahu.
Waktu itu sore. Kami duduk di
bangku kayu dekat rumah orang tuanya. Udara hangat, suara radio dari rumah
tetangga samar-samar terdengar. Sekar memutar-mutar ujung bajunya, kebiasaan
kecil yang sering ia lakukan saat sedang berpikir.
“Rak,” katanya tiba-tiba, memanggil
namaku dengan nada yang tidak biasa.
Aku menoleh. “Iya?”
“Kamu capek nggak sih?” tanyanya.
Aku tertawa kecil. “Capek kenapa?”
“Jadi orang yang selalu ada,”
katanya, lalu menatapku lurus. “Aku sering mikir… kamu itu bodoh atau sabar.”
Aku mengangkat bahu. “Mungkin
dua-duanya.”
Sekar tersenyum. Senyum yang lama.
Tidak terburu-buru. “Kalau aku berhenti muter-muter,” katanya pelan, “kamu
masih mau duduk di sini?”
Aku tidak langsung menjawab. Bukan
karena ragu, tapi karena aku tahu jawaban itu akan mengubah arah hidupku. Aku
menatap jalan kecil di depan kami, debu yang berpendar kena cahaya sore.
“Aku dari dulu duduk di sini,”
kataku akhirnya. “Kalau kamu mau duduk juga, kursinya masih muat.”
Sekar tertawa pelan. “Kamu ini…
nggak pernah minta apa-apa, ya.”
“Aku cuma minta kamu memilih.”
Ia mengangguk. Tidak ada pelukan.
Tidak ada air mata. Tapi sejak hari itu, Sekar tidak lagi pergi ke banyak arah.
Ia tetap menjadi dirinya—ceria, mandiri, kadang keras kepala—tapi langkahnya
kini selalu kembali ke tempat yang sama.
Kami tidak langsung menikah. Di
masa itu, menikah bukan perkara ringan. Ada keluarga yang harus diberi tahu,
ada pembicaraan panjang di ruang tamu, ada kopi yang diseduh berkali-kali. Aku
datang ke rumah orang tuanya dengan kemeja terbaik yang kupunya. Tangan dingin,
tapi niatku hangat.
Ayah Sekar menatapku lama. “Kamu
yakin?” tanyanya.
Aku mengangguk. “Yakin.”
“Sekar itu bukan perempuan yang
mudah.”
Aku tersenyum. “Saya tahu.”
Ibunya hanya tersenyum kecil.
“Kalau begitu, jaga dia.”
Aku mengangguk lagi. Itu janji
pertama yang kuucapkan tanpa kata-kata besar.
Pernikahan kami sederhana. Tidak
ada gedung besar, tidak ada pesta mewah. Hanya rumah, keluarga, tetangga, dan
hidangan yang dimasak ramai-ramai. Sekar duduk di sampingku dengan kebaya
sederhana. Tangannya gemetar sedikit saat aku menggenggamnya.
“Kamu gugup?” bisikku.
“Sedikit,” jawabnya. “Takut nanti
kamu bosan.”
Aku menoleh padanya. “Aku dari dulu
nggak pernah bosan.”
Ia mendengus pelan. “Jangan
bohong.”
“Aku nggak pintar bohong.”
Ia tertawa, lalu menunduk. Dan
sejak hari itu, tawanya menjadi bagian dari rumah kami.
Tahun-tahun awal pernikahan kami
dipenuhi hal-hal kecil. Kami belajar hidup bersama. Belajar berbagi ruang,
waktu, dan kebiasaan. Sekar tidak suka bangun pagi, aku tidak suka tidur
terlalu malam. Kami sering berdebat soal hal sepele.
“Kamu taruh sendok sembarangan,”
katanya suatu pagi.
“Kamu juga,” balasku.
“Tapi ini rumah kita,” katanya
sambil menunjuk dapur.
“Iya, makanya kita berantakan
bareng,” jawabku.
Sekar tertawa, lalu melempar lap ke
arahku.
Kami sering tertawa. Tidak selalu
karena lucu, kadang karena lelah. Kami membuat rencana-rencana kecil: menabung
sedikit demi sedikit, memperbaiki atap bocor, membeli kursi baru untuk teras.
Anak pertama lahir tidak lama
kemudian. Sekar menangis saat pertama kali menggendongnya. Aku berdiri di
samping, tidak tahu harus berbuat apa selain memegang bahunya.
“Rak,” katanya pelan, “aku takut.”
“Aku juga,” jawabku jujur.
Ia menatapku, lalu tersenyum.
“Bagus. Berarti kita sama-sama.”
Anak kedua dan ketiga menyusul di
tahun-tahun berikutnya. Rumah kami semakin ramai. Suara tangis, tawa, langkah
kecil berlarian di lantai. Sekar sering mengeluh lelah, tapi matanya selalu
berbinar saat melihat anak-anak tidur.
“Kita berhasil, ya?” katanya suatu
malam.
“Kita masih di tengah jalan,”
jawabku.
Ia mendengus. “Kamu ini nggak
pernah puas.”
“Cukup itu bukan berhenti,” kataku.
“Cukup itu bertahan.”
Cinta kami tidak pernah sempurna.
Ada hari-hari ketika kami diam satu sama lain. Ada malam-malam ketika Sekar
merasa aku terlalu pendiam, dan aku merasa ia terlalu keras. Tapi kami selalu
kembali ke meja yang sama, ke teh yang sama, ke kursi yang sama.
Di teras rumah kami, kami sering
duduk berdua setelah anak-anak tidur. Tidak selalu bicara. Kadang hanya
mendengarkan malam.
“Rak,” kata Sekar suatu kali,
“kalau suatu hari aku berubah…”
Aku menoleh. “Kamu memang akan
berubah.”
“Kalau aku bikin kamu capek?”
Aku tersenyum. “Kamu bukan beban.”
Ia diam, lalu menyandarkan
kepalanya di bahuku. “Aku senang kamu nggak pernah nyuruh aku jadi orang lain.”
Aku menatap ke depan. “Aku jatuh
cinta sama kamu yang seperti ini.”
Sekarang, di teras yang sama, aku
kembali sendirian. Tapi cerita itu masih hidup. Aruna dan Nala mendengarkan
dengan mata lebar.
“Jadi nenek milih kakek karena
kakek baik?” tanya Nala.
Aku tersenyum. “Nenek milih karena
kakek tinggal.”
Angin pagi kembali berembus. Aku
menatap kursi kosong itu, lalu menyesap teh yang sudah dingin. Pilihan yang
tenang, ternyata bisa bertahan seumur hidup.
Tidak ada yang memperingatkanku
bahwa kebahagiaan yang tenang bisa berubah arah tanpa suara. Tidak ada tanda
besar, tidak ada pertengkaran hebat. Perubahannya datang pelan, seperti debu
yang menumpuk di sudut rumah—tidak terlihat dari jauh, tapi terasa ketika
disentuh.
Sekar mulai sering diam. Bukan diam
yang biasa. Bukan diam setelah lelah seharian mengurus rumah dan anak-anak.
Diamnya seperti orang yang sedang mendengar suara lain di dalam kepalanya.
Kadang ia duduk lama di depan cermin, kadang memandangi halaman tanpa
benar-benar melihat apa pun.
“Kamu kenapa?” tanyaku suatu sore.
Ia mengangkat bahu. “Nggak
apa-apa.”
Jawaban itu sering muncul
belakangan. Terlalu sering untuk sesuatu yang katanya tidak apa-apa.
Sekar mulai mengeluh tentang
hal-hal yang dulu tidak pernah ia persoalkan. Tentang hidup yang terasa
berulang. Tentang dirinya yang hanya dikenal sebagai istri dan ibu. Tentang
mimpi-mimpi kecil yang entah kapan ditinggalkan.
“Aku capek,” katanya suatu malam
sambil melipat pakaian.
“Kamu kurang istirahat,” jawabku.
“Bukan itu,” katanya pelan. “Aku
capek jadi aku yang sekarang.”
Aku terdiam. Kata-kata itu tidak
marah, tapi tajam. Aku ingin menjawab banyak hal, tapi tidak ada yang terasa
tepat. Jadi aku memilih diam, berharap waktu akan mengurai sendiri.
Jarak mulai tumbuh. Tidak besar,
tapi cukup untuk membuat kami harus berbicara lebih keras agar saling
mendengar. Sekar sering pulang lebih larut. Alasannya selalu masuk akal.
Kegiatan ini, pertemuan itu. Aku tidak pernah melarang. Tidak pernah menanyai berlebihan.
Sampai suatu hari, nama itu muncul.
Bukan dari Sekar, tapi dari orang lain. Seorang pria yang kembali ke hidupnya
seperti cerita lama yang belum selesai. Datangnya tiba-tiba, seperti masa muda
yang mengetuk pintu tanpa sopan.
Aku tidak marah. Bukan karena aku
tidak peduli, tapi karena marah tidak akan menyelesaikan apa pun. Aku menunggu
Sekar bercerita sendiri. Dan suatu malam, ia melakukannya.
“Kita perlu bicara,” katanya.
Suaranya gemetar sedikit.
Aku duduk di kursi teras. Kursi
yang sekarang kosong di depanku dulu selalu terisi olehnya. Ia berdiri, tidak
duduk. Seperti orang yang siap pergi.
“Aku ketemu seseorang,” katanya
akhirnya.
Aku mengangguk. “Aku tahu.”
Ia terkejut. “Kamu tahu?”
“Orang-orang cerita,” jawabku. “Dan
aku kenal kamu.”
Sekar menunduk. “Aku nggak niat
menyakiti.”
“Aku tahu,” kataku. Dan itu benar.
Ia mengusap wajahnya. “Aku bingung,
Rak. Aku merasa… hilang. Dan waktu aku ketemu dia, aku merasa jadi aku yang
dulu.”
Aku menarik napas panjang.
Kata-kata itu berat, tapi aku tidak ingin memotongnya.
“Aku nggak minta izin,” katanya.
“Aku cuma jujur.”
Kejujuran memang tidak selalu
lembut.
Malam itu, Sekar mengemas
barangnya. Tidak banyak. Beberapa baju, tas kecil. Anak-anak sudah tidur. Aku
berdiri di ambang pintu kamar, memperhatikannya.
“Kamu mau ke mana?” tanyaku, meski
aku tahu jawabannya.
“Aku perlu pergi,” katanya. “Aku
perlu tahu siapa aku tanpa semua ini.”
Aku mengangguk. Tanganku dingin,
tapi suaraku tetap tenang. “Anak-anak?”
Ia berhenti. Air matanya jatuh
tanpa suara. “Aku… aku nggak tahu.”
Aku tidak menangis. Bukan karena
aku kuat, tapi karena aku tahu, kalau aku runtuh malam itu, tidak akan ada yang
tersisa untuk ditinggali.
Saat Sekar melangkah keluar, aku
tidak mengejarnya. Aku berdiri di pintu, melihat punggungnya menjauh.
Langkahnya ragu, tapi tetap melangkah.
“Sekar,” panggilku.
Ia berhenti, menoleh.
Aku menatapnya lama. Wajah yang
sama yang kucintai sejak muda. Wajah yang kini penuh luka dan kebingungan.
“Kalau kamu pulang,” kataku pelan,
“aku masih di sini.”
Ia tidak menjawab. Hanya menatapku
beberapa detik, lalu pergi.
Malam itu panjang. Rumah terasa
terlalu besar, terlalu sunyi. Aku duduk di ruang tamu sampai pagi, mendengarkan
jam berdetak, suara napasku sendiri. Aku menyiapkan sarapan.
Anak-anak bertanya. Aku menjawab
sejujurnya yang bisa kutanggung.
“Ibu lagi pergi sebentar,” kataku.
“Pergi ke mana?” tanya yang paling
kecil.
“Cari dirinya,” jawabku.
Hari-hari berikutnya berjalan
lambat. Aku menjalani rutinitas seperti biasa. Bekerja, mengurus anak-anak,
membersihkan rumah. Tidak ada yang berhenti. Hidup tidak menunggu orang yang
hatinya tertinggal.
Ada malam-malam ketika aku duduk
sendirian di teras, memandang kursi kosong itu. Ada amarah yang datang, tapi
aku biarkan lewat. Ada sedih yang menekan, tapi aku duduk tegak. Aku tidak
ingin anak-anakku melihat ayahnya hancur.
Aku tidak pernah mencari Sekar.
Tidak menanyakan kabarnya. Bukan karena aku tidak peduli, tapi karena aku ingin
ia benar-benar memilih. Bukan karena kasihan. Bukan karena terpaksa.
Kupikir saat itu, bukan tentang
menahan orang agar tidak pergi. Tapi tentang tetap menjadi tempat pulang jika
ia tersesat.
Sekarang, saat aku menceritakan ini
pada Aruna dan Nala, suaraku tetap tenang. Tapi dadaku mengingat semuanya.
“Kakek sedih nggak?” tanya Nala
pelan.
Aku tersenyum kecil. “Sedih.”
“Marah?”
Aku menggeleng. “Aku lebih takut
kehilangan diriku sendiri kalau marah.”
Aruna menunduk. Ia mulai mengerti
bahwa cinta tidak selalu indah.
Angin pagi bertiup lembut. Aku
menatap kursi kosong itu lagi. Malam itu adalah titik terendah kami. Tapi juga
titik di mana aku belajar: mencintai bukan berarti menggenggam lebih erat.
Kadang, mencintai berarti membuka tangan—dan tetap berdiri, meski gemetar.
Beberapa bulan kemudian Sekar
pulang pada suatu sore yang tidak istimewa. Tidak ada hujan, tidak ada petir,
tidak ada firasat apa pun sejak pagi. Aku sedang duduk di ruang tengah,
menambal sandal anakku yang talinya lepas, ketika pintu depan diketuk pelan.
Bukan ketukan orang yang yakin, lebih seperti orang yang ragu apakah masih
boleh masuk.
Aku berdiri perlahan. Kakiku sempat
gemetar sedikit, tapi aku tetap berjalan. Saat kubuka pintu, Sekar berdiri di
sana.
Tubuhnya lebih kurus. Matanya
sembab. Rambutnya tidak lagi rapi seperti dulu. Tangannya gemetar memegang tali
tas kecil yang dulu sering ia pakai. Ia menatapku seperti orang yang baru
kembali dari perjalanan panjang dan tidak tahu apakah rumahnya masih ada.
Aku tidak berkata apa-apa.
Sekar melangkah masuk satu langkah,
lalu berhenti. Air matanya jatuh sebelum ia sempat bicara. Ia menutup mulutnya,
mencoba menahan isak, tapi gagal. Tangisnya pecah, bukan tangis keras, tapi
tangis orang yang kehabisan tenaga untuk berpura-pura kuat.
“Rak…” suaranya serak. “Aku salah.”
Aku tetap diam.
Ia melangkah lebih dekat,
lalu—tanpa aba-aba—berlutut di hadapanku. Tangannya gemetar memegang kakiku.
Tubuhnya membungkuk, dahinya hampir menyentuh lantai.
“Maafin aku,” katanya terisak. “Aku
bodoh. Aku pulang karena aku tahu… aku nggak punya rumah selain ini.”
Aku terkejut. Bukan oleh
kepulangannya, tapi oleh caranya kembali. Aku segera berlutut juga, mengangkat
bahunya.
“Sekar,” kataku pelan, “jangan
begitu.”
“Tolong,” katanya sambil menangis.
“Aku akan lakukan apa saja. Aku nggak minta dimengerti. Aku cuma minta
diizinkan pulang.”
Aku menatap wajahnya. Wajah yang
dulu sering tertawa. Wajah yang pernah pergi dengan ragu. Wajah yang kini
hancur oleh penyesalan.
Aku tidak bertanya ke mana ia pergi.
Tidak bertanya apa yang ia lakukan. Semua pertanyaan itu tidak akan membuat apa
pun lebih baik.
Aku hanya berkata satu hal, dengan
suara setenang yang aku punya.
“Masuk dulu.”
Sekar terdiam. Ia menatapku, seolah
tidak yakin ia mendengar dengan benar. Aku membantunya berdiri, lalu
mengantarnya masuk. Anak-anak sedang tidur di kamar. Rumah ini masih sama. Bau
kayu tua, jam dinding yang berdetak pelan, meja makan dengan taplak yang mulai
pudar.
Sekar duduk di kursi. Tangisnya
belum berhenti, tapi lebih pelan. Aku mengambilkan air minum, menaruhnya di
depan.
Ia menatapku, matanya merah. “Kamu
nggak mau tanya apa-apa?”
Aku menggeleng. “Kalau kamu mau
cerita, aku dengar. Kalau tidak, juga tidak apa-apa.”
Ia menutup wajahnya dengan kedua
tangan. Tangisnya pecah lagi. Kali ini lebih keras. Aku duduk di depannya,
menunggu. Tidak menyentuh, tidak mendesak. Hanya ada.
Setelah lama, ia berkata pelan,
“Aku kira aku akan menemukan diriku di sana.”
Aku mengangguk. “Terus?”
“Aku cuma menemukan sepi,” katanya.
“Dan rasa bersalah yang nggak berhenti.”
Aku tidak menjawab. Aku hanya
mengulurkan tanganku. Ia menggenggamnya erat, seperti orang yang takut
kehilangan pegangan.
Malam itu, Sekar tidur di rumah. Di
kamar kami. Tidak ada pembicaraan panjang. Tidak ada kesepakatan tertulis.
Hanya kehadiran dua orang yang sama-sama lelah.
Pagi berikutnya, kami sarapan
bersama. Anak-anak terkejut melihat ibunya. Ada tangis, ada pelukan, ada tanya
yang tidak semua dijawab. Sekar meminta maaf pada mereka satu per satu. Aku
melihatnya dari jauh, dadaku terasa penuh, tapi tenang.
Sejak hari itu, hubungan kami
berubah. Bukan menjadi lebih manis, tapi lebih jujur. Kami tidak lagi
berpura-pura kuat. Kami bicara lebih pelan, lebih hati-hati.
Sekar tidak pernah meminta maaf
lagi dengan kata-kata besar. Ia menebusnya dengan hadir. Dengan pulang tepat
waktu. Dengan mendengarkan. Dengan duduk di teras bersamaku tanpa berkata
apa-apa.
“Aku takut kamu suatu hari berubah
pikiran,” katanya suatu malam.
Aku menatap bunga matahari di sudut
teras. “Aku sudah memilih.”
Ia mengangguk. “Aku juga.”
Kami menua bersama dengan cara yang
sederhana. Rambut kami memutih sedikit demi sedikit. Langkah kami melambat.
Anak-anak tumbuh, lalu pergi satu per satu. Rumah kembali sepi, tapi tidak
kosong.
Anak pertama menikah, disusul yang
lain. Rumah kami ramai lagi oleh suara cucu. Sekar sering duduk di kursi yang
kini kosong di depanku, menggendong cucu sambil mengomel kecil.
“Kamu jangan kasih permen terus,”
katanya padaku.
“Kamu juga jangan terus belain
mereka,” balasku.
Ia tertawa. Tawa yang lebih tenang
dari dulu, tapi lebih dalam.
Kami sering mengenang masa lalu
tanpa menyalahkan. Sekar tidak pernah lagi membicarakan masa perginya kecuali
satu kali.
“Aku bersyukur kamu nggak ngejar
aku,” katanya.
Aku menoleh. “Kalau aku ngejar,
mungkin kamu pulang karena kasihan.”
Ia tersenyum kecil. “Dan aku nggak
mau pulang karena itu.”
Sekar menua dengan damai. Tidak
lagi gelisah. Ia menemukan dirinya bukan di luar rumah, tapi di dalam kejujuran
kami.
Sekarang, saat aku menceritakan ini
pada Aruna dan Nala, mereka duduk lebih dekat. Tidak banyak bertanya.
“Jadi kakek maafin nenek?” tanya
Nala.
Aku mengangguk. “Aku tidak pernah
berhenti mencintai.”
Aruna menunduk. “Kalau kakek nggak
maafin?”
Aku tersenyum tipis. “Mungkin kakek
hidup lebih tenang. Tapi tidak lebih utuh.”
Angin pagi berembus lembut. Aku
menatap kursi kosong itu. Sekar pernah duduk di sana, kembali tanpa syarat. Dan
aku memilih menerima, tanpa menanyakan apa pun—karena cinta, pada akhirnya,
bukan soal siapa yang paling benar, tapi siapa yang tetap tinggal.
Sekar mulai melemah dengan cara
yang nyaris tak terasa. Bukan sakit yang datang tiba-tiba lalu merenggut,
melainkan kelelahan yang menetap, duduk diam di tubuhnya, dan menunggu hari
demi hari untuk mengambil sedikit demi sedikit.
Awalnya hanya lupa kecil. Ia lupa
menaruh kacamata, lupa mematikan kompor, lupa hari. “Ah, umur,” katanya ringan,
sambil tersenyum. Aku mengangguk, pura-pura percaya. Tapi aku mulai menghitung
napasnya ketika ia tertidur, mulai memperhatikan langkahnya yang tak lagi
seimbang.
Dokter menyebut usia, menyebut
penyakit yang terdengar panjang dan asing. Tidak ada satu kata yang benar-benar
menakutkan—yang menakutkan adalah cara dokter mengatakannya dengan tenang.
“Pelan-pelan saja, Pak,” katanya.
“Kita jaga kualitas hidup.”
Sekar menatapku di ruang praktik,
lalu tersenyum kecil. “Kita ini memang hidupnya pelan,” katanya, seperti sedang
bercanda. Aku menggenggam tangannya, mengangguk, menelan apa pun yang ingin
kutanyakan.
Hari-hari berikutnya kami jalani
seperti biasa, hanya lebih lambat. Sekar tak lagi bangun paling pagi. Ia duduk
lebih lama di kursi. Aku yang kini membuatkan teh, memotongkan buah, menyisir
rambutnya.
“Rambutku makin putih,” katanya
suatu pagi.
“Cocok,” jawabku. “Bikin kamu
kelihatan bijak.”
Ia tertawa pelan, cepat lelah.
Tawanya berhenti di tengah, diganti napas panjang.
“Aku nggak sakit parah, kan?”
tanyanya hati-hati.
Aku menatapnya. “Kamu sedang
menua,” kataku jujur. “Seperti kita semua.”
Ia mengangguk. Tidak bertanya lagi.
Sekar tidak pernah mengeluh. Ia
hanya semakin sering diam. Matanya menatap halaman, bunga matahari yang kini
tumbuh lebih pendek. Ia suka menggenggam tanganku tanpa alasan.
“Kamu capek?” tanyaku.
“Enggak,” katanya. “Aku cuma lagi
ingat-ingat.”
“Mau cerita?”
Ia menggeleng. “Nanti.”
Nanti itu tidak pernah benar-benar
datang. Yang datang justru malam-malam panjang, ketika napasnya terdengar
berat, dan aku terjaga, mendengarkan hidup yang sedang bersiap pergi.
Hari itu cerah. Terlalu cerah untuk
hari perpisahan. Sekar terbaring di tempat tidur, matanya setengah terpejam.
Aku duduk di sampingnya, menggenggam tangannya yang kini jauh lebih ringan.
“Rak,” katanya pelan.
“Aku di sini.”
“Kamu capek?” tanyanya.
Aku tersenyum. “Enggak.”
Ia menatapku lama. Matanya masih
jernih, meski tubuhnya tidak lagi patuh. “Aku takut,” katanya jujur.
Aku menggenggam tangannya lebih
erat. “Aku juga.”
Ia tersenyum kecil. “Syukurlah.”
Kami terdiam. Tidak ada doa
panjang, tidak ada kata-kata besar. Hanya napas yang saling menyusul.
“Aku sering mikir,” katanya pelan,
“kalau dulu aku nggak pulang.”
Aku menggeleng. “Kamu pulang.”
“Dan kamu nerima.”
Aku mengangguk.
Ia menarik napas panjang, lalu
menghembuskannya perlahan. Tangannya sedikit bergetar di genggamanku.
“Terima kasih,” katanya hampir tak
terdengar.
Aku menunduk, mendekatkan kening ke
punggung tangannya. Suaraku keluar pelan, tanpa gemetar yang berlebihan. Tidak
ada tangis keras. Tidak ada jeritan kehilangan.
“Terima kasih sudah pulang,”
kataku, “dulu dan sekarang.”
Sekar tersenyum. Senyum kecil yang
utuh. Lalu napasnya berhenti, seolah ia hanya tertidur lebih dalam dari
biasanya.
Aku duduk lama setelah itu. Tidak
bergerak. Tidak menangis. Aku hanya memegang tangannya, memastikan kehangatan
itu benar-benar pergi, dan tidak akan kembali.
Anak-anak datang. Tangis pecah di
tempat lain, bukan di dadaku. Aku berdiri ketika mereka memelukku. Aku
mengatakan hal-hal yang perlu dikatakan. Bahwa nenek mereka tenang. Bahwa ia
tidak kesakitan. Bahwa ia pulang dengan lembut.
Malam itu, rumah terasa sunyi
dengan cara yang berbeda. Bukan kosong, tapi selesai. Aku duduk di kursi yang
biasa ia duduki. Tanganku masih refleks mencari tangannya.
“Sekar,” gumamku pelan, “kita
berhasil.”
Tidak ada jawaban. Tapi ada damai.
Kini, ketika Aruna dan Nala duduk
di depanku, aku melihat mata mereka berkaca-kaca.
“Kakek sedih?” tanya Nala.
Aku mengangguk. “Sedih itu tetap
ada.”
“Tapi kakek kelihatan tenang.”
Aku tersenyum kecil. “Karena kakek
tidak kehilangan. Kakek hanya mengantar.”
Angin sore berembus pelan. Bunga
matahari di halaman bergerak perlahan. Aku menatapnya lama, lalu menutup mata
sejenak—mengingat seorang perempuan yang pernah pergi, lalu memilih pulang, dan
akhirnya berpamitan dengan cara yang paling lembut.
Aruna dan Nala diam.
Tidak seperti diam anak-anak yang
sedang bosan, tapi diam yang sedang mencoba memahami sesuatu yang lebih besar
dari umur mereka. Aruna menatap lantai teras, jarinya menggeser-geser garis
kayu. Nala memeluk lututnya, sesekali melirik cangkir teh yang mulai dingin.
Angin pagi kembali lewat. Sama
seperti tadi. Sama seperti kemarin. Sama seperti lima belas tahun terakhir.
Aku berdiri, mengambil cangkir yang
tak diminum, lalu meletakkannya kembali di tempat semula. Uapnya sudah hilang.
“Jadi… nenek nggak akan balik
lagi?” tanya Aruna pelan.
Aku menggeleng. “Enggak dengan cara
yang kalian kenal.”
“Tapi kakek masih bikinin teh,”
katanya.
Aku tersenyum kecil. “Iya.”
Ia tidak bertanya lagi. Anak
sepuluh tahun sudah cukup tahu kapan pertanyaan tidak butuh jawaban tambahan.
Nala menatap bunga matahari di
sudut teras. Kepalanya miring, seperti sedang menghitung sesuatu.
“Kenapa bunganya ngadep ke situ
terus, Kek?” tanyanya polos.
“Karena mataharinya di sana.”
“Kalau mataharinya pindah?”
“Bunganya ikut.”
Ia terdiam sebentar, lalu menunjuk
cangkir teh. “Kalau neneknya nggak ada, kenapa tehnya masih dua?”
Aku duduk kembali di kursiku.
Menarik napas panjang—bukan berat, hanya penuh.
“Karena cinta tidak selalu selesai
ketika orangnya pergi,” kataku pelan.
Nala mengerutkan dahi. “Maksudnya?”
Aku menatap halaman, lalu langit
yang mulai naik. “Ada cinta yang tugasnya menemani. Ada juga cinta yang
tugasnya mengingat.”
“Terus kakek sekarang yang mana?”
“Kakek sedang mengingat.”
Aruna menoleh. “Apa nggak capek,
Kek?”
Aku menggeleng. “Tidak. Ini seperti
duduk menghadap matahari. Hangat. Tidak menuntut apa-apa.”
Nala turun dari pangkuan kakaknya
dan menghampiriku. Ia memegang tanganku, menggenggam dengan dua tangannya yang
kecil.
“Nanti kalau kakek pergi, kakek
masih cinta nenek?”
Aku tersenyum. Pertanyaan yang
sederhana, tapi sangat jauh.
“Kalau kakek pergi,” kataku pelan,
“kakek tidak membawa apa-apa kecuali cinta itu.”
Ia mengangguk, seolah jawabannya
cukup.
Aku berdiri, menyiram bunga
matahari seperti biasa. Air jatuh perlahan ke tanah. Tidak tergesa. Tidak
berlebihan.
“Kakek,” kata Aruna lagi, “kalau
cinta itu nggak berhenti, berarti kakek sama nenek masih bersama?”
Aku berpikir sejenak. Lalu
mengangguk. “Dengan cara yang tenang.”
Kami duduk lagi. Matahari naik
sedikit lebih tinggi. Teras tidak pernah benar-benar kosong. Ada kenangan yang
duduk diam di kursi seberang, tidak bicara, tidak meminta.
Aku mengangkat cangkir tehku,
menyesap pelan.
Untuk Sekar.
Untuk cinta yang tidak pernah perlu
dibuktikan dengan kehadiran, karena ia sudah menetap—di teras, di pagi hari,
dan di hidup yang pernah kami jalani bersama.
Pagi itu datang seperti pagi-pagi
sebelumnya. Tidak ada yang istimewa, dan mungkin memang tidak perlu. Matahari
muncul perlahan dari balik atap rumah tetangga, cahayanya jatuh miring ke
teras, menyentuh ujung pot bunga matahari yang sudah mulai tua.
Aku berdiri dengan selang air di
tangan. Aruna dan Nala duduk di anak tangga, diam-diam memperhatikan. Mereka
tidak lagi banyak bertanya seperti kemarin. Anak-anak, rupanya, tahu kapan
harus menyimpan pertanyaan untuk nanti.
Air mengalir pelan, membasahi
tanah. Tidak berlebihan. Aku selalu takut menyiram terlalu banyak—takut akar
bunga itu membusuk, takut sesuatu yang terlalu dijaga justru mati.
“Kenapa bunganya selalu disiram
pagi, Kek?” tanya Aruna akhirnya.
“Supaya dia siap,” jawabku singkat.
“Siap apa?”
“Siap menghadap matahari.”
Bunga matahari itu tidak lagi
setinggi dulu. Batangnya tidak sekuat waktu pertama kutanam, beberapa daunnya
mulai menguning. Tapi kepalanya masih setia mengarah ke timur, ke arah yang
sama setiap pagi.
Nala memperhatikan lama. “Dia nggak
pernah bosen, ya?”
Aku tersenyum kecil. “Bukan soal
bosen atau tidak. Dia tahu ke mana harus menghadap.”
Aku mematikan selang dan
meletakkannya di sudut teras. Lalu aku mengambil dua cangkir teh, menuang air
panas seperti biasa. Satu kuminum, satu kualihkan ke meja kecil di depan kursi
kosong.
Aruna tidak lagi bertanya tentang
cangkir itu. Ia hanya menatapnya, lalu menatapku.
“Kakek,” katanya pelan, “nenek dulu
suka pagi-pagi?”
Aku mengangguk. “Suka. Katanya pagi
itu jujur. Kalau kita masih bisa duduk tenang di pagi hari, berarti hidup belum
terlalu buruk.”
Nala tersenyum mendengarnya, meski
mungkin belum sepenuhnya paham. Ia berdiri dan mendekat ke pot bunga matahari.
Jarinya menyentuh daun yang kasar.
“Kalau bunganya mati gimana?”
tanyanya lirih.
Aku tidak langsung menjawab. Aku
menatap bunga itu, lalu halaman, lalu langit yang kini lebih terang.
“Kalau dia mati,” kataku akhirnya,
“kita tanam lagi. Tapi arah mataharinya tetap sama.”
Mereka terdiam. Bukan karena sedih,
tapi karena kata-kata itu butuh waktu untuk duduk di kepala.
Aku kembali ke kursiku. Duduk
menghadap matahari. Seperti yang selalu kulakukan. Kursi di seberang tetap
kosong, tapi tidak terasa menunggu. Ia hanya ada.
Angin pagi berembus pelan. Tidak
membawa apa-apa, hanya bergerak, seperti ingatan yang datang tanpa diminta.
Aku teringat Sekar—bukan wajahnya
saat terakhir, tapi caranya mengaduk teh, caranya menatap bunga matahari sambil
berkata, “Dia keras kepala, ya, Rak.” Aku dulu hanya tertawa. Sekarang
aku mengerti. Itu bukan keras kepala. Itu kesetiaan.
Aruna berdiri di sampingku.
“Kakek,” katanya, “nanti kalau aku gede, aku mau punya rumah yang ada
terasnya.”
Aku menoleh. “Kenapa?”
“Biar bisa duduk pagi-pagi.”
Aku mengangguk. “Itu keputusan yang
baik.”
Nala ikut berdiri, menggenggam
tangan Aruna. Mereka menatap bunga matahari itu bersama-sama. Kepala bunga itu
masih menghadap matahari, tidak peduli siapa yang melihat atau tidak.
Aku menyadari sesuatu yang
sederhana: cinta tidak selalu harus disimpan dalam cerita panjang atau kenangan
yang rumit. Kadang ia cukup menjadi arah. Sesuatu yang membuat kita tahu ke
mana harus duduk, ke mana harus menoleh, dan ke mana harus kembali setiap pagi.
Aku mengangkat cangkir tehku.
Menyesap pelan. Rasanya sama seperti kemarin. Sama seperti tahun-tahun
sebelumnya.
Tidak ada yang berubah. Dan justru
di situlah ketenangannya.
Lima belas tahun bukan waktu untuk
melupakan.
Itu hanya cukup untuk
membuktikan bahwa arahku tidak pernah berubah.

