Pinggiran Jakarta, 2019
Tidak ada jawaban.
Rizky menatap layar dengan rahang
mengeras. Nama “Nadya” masih terpampang di sana, disertai tanda panggilan tak
terjawab yang semakin panjang. Ia menghela napas pelan, lalu menjatuhkan
tubuhnya ke sandaran kursi.
Sudah sejak kemarin siang chat
terakhirnya masih terbaca jelas.
“Kalau memang kamu capek, ya sudah.
Gak usah dipaksakan.”
Pesan itu tidak pernah dibalas. Pesan
setelahnya hanya ceklis 1, seolah ponsel Nadya dalam keadaan mati.
Biasanya Nadya tidak seperti ini.
Sekesal apa pun, ia tetap akan merespons, meski hanya satu kata. Tapi kali ini
tidak ada apa-apa. Sejak percakapan mereka berakhir dengan nada dingin, Nadya
benar-benar menghilang.
Rizky mengusap wajahnya kasar. Ada
perasaan tidak enak yang sejak tadi mengganggu, seperti sesuatu yang salah tapi
tidak bisa dijelaskan.
Ia kembali mencoba menelepon, terlihat dilayar “Memanggil” namun tidak muncul “Berdering”. Coba satu kali lagi, lagi, dan lagi.
Rizky menurunkan ponselnya
perlahan.
“Ayolah, Nad…” gumamnya, hampir tak terdengar.
Ia menatap jam di dinding. Hampir
pukul dua siang.
Kalau Nadya pulang sekolah,
seharusnya ia sudah di rumah. Tidak mungkin selama ini tidak menyentuh
ponselnya sama sekali.
Atau… sengaja?
Pikiran itu sempat muncul, tapi langsung ditepis. Ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang lebih dari sekadar marah. Rizky berdiri tiba-tiba. Ia meraih kunci motor di atas meja, lalu berjalan cepat keluar rumah.
Perjalanan ke rumah Nadya biasanya
terasa biasa saja. Tapi hari itu, setiap lampu merah terasa lebih lama dari
biasanya. Jalanan terasa padat, suara kendaraan terdengar seperti bising yang
menekan kepala.
Ia memacu motor sedikit lebih
cepat.
Angin siang terasa panas, tapi
tidak cukup untuk menghilangkan perasaan dingin di dalam dadanya.
Beberapa kali ia mencoba menelepon lagi. Tetap sama.
Perumahan itu terlihat seperti biasa saat ia tiba. Gerbang terbuka, penjaga duduk di pos dengan santai. Tidak ada tanda-tanda sesuatu yang aneh. Rizky memperlambat laju motornya.
“Siang, Pak,” sapa satpam saat ia
lewat.
Rizky hanya mengangguk singkat.
Rumah Nadya berada di ujung jalan. Rumah besar dua lantai dengan pagar tinggi, biasanya terlihat rapi dan hidup. Tapi dari kejauhan, ada sesuatu yang terasa berbeda. Ia belum tahu apa.
Sampai akhirnya ia berhenti tepat di depan rumah itu. Pintu gerbang terbuka sedikit. Tidak lebar, hanya cukup untuk memberi celah.
Rizky mengerutkan kening. Aneh, biasanya pagar itu selalu tertutup rapat. Ia turun dari motor perlahan. Suara mesin yang dimatikan terasa terlalu keras di tengah suasana yang tiba-tiba sunyi. Tidak ada suara televisi. Tidak ada suara orang.
Ia melangkah mendekat.
“Assalamu’alaikum…” panggilnya
pelan.
Tidak ada jawaban.
Ia mendorong pagar itu sedikit. Engselnya berdecit pelan. Halaman rumah kosong. Mobil tidak ada. Pintu utama… tidak tertutup rapat.
Rizky menelan ludah. Perasaan tidak enak itu kini berubah menjadi sesuatu yang lebih jelas. Ia melangkah masuk.
Di dalam rumah, udara terasa berbeda, pengap dan gelap. Semua lampu mati. Tirai jendela tertutup sebagian, membuat cahaya siang hanya masuk tipis-tipis. Bayangan-bayangan panjang jatuh di lantai.
“Nad…?” panggil Rizky lagi, sedikit
lebih keras.
Tidak ada jawaban.
Ia melangkah pelan, mencoba mendengar sesuatu. Apa saja.
Tapi yang ia dapat hanya… sunyi. Sunyi yang terlalu dalam untuk rumah sebesar ini. Ia merogoh ponsel dan menyalakan senter.
Cahaya putih itu memotong gelap, menyorot ruang tamu yang berantakan. Laci terbuka. Beberapa barang berserakan. Jantung Rizky mulai berdegup lebih cepat.
“Pak… Bu…?” suaranya kini terdengar
lebih kaku.
Langkahnya semakin hati-hati saat
menuju bagian dalam rumah.
Setiap langkah terasa berat. Ia
tidak tahu apa yang ia cari. Tapi instingnya mengatakan ada sesuatu di dalam. Sesuatu
yang salah.
Di dekat tangga, ia berhenti. Ada suara. Pelan. Seperti… sesuatu yang jatuh.
Rizky menahan napas. Ia mengarahkan senter ke arah suara itu. Tidak ada apa-apa.
Tapi di sisi kiri, ada sebuah pintu kecil yang tertutup. Sebuah toilet kecil bawah tangga yang digunakan hanya untuk buang air kecil. Pintu itu tidak mencolok. Warnanya sama dengan dinding di sekitarnya. Kalau tidak diperhatikan, mungkin akan terlewat.
Rizky mendekat. Perasaan di dadanya semakin berat. Tangannya sedikit gemetar saat menyentuh gagang pintu itu. Dingin.
Ia ragu sejenak. Lalu mendorongnya
perlahan. Pintu itu tidak terbuka. Terkunci.
Rizky mengetuk. “Na?… Nadya?” Tidak
ada jawaban.
Tapi… Ada sesuatu di dalam seperti napas yang lemah. Atau mungkin… hanya perasaannya. Rizky mundur satu langkah, pikirannya mulai kacau. Ia keluar rumah, berlari menuju pos satpam, lalu menghampiri satpam yang sedang berjaga.
“Pak… tolong ke rumah Nadya…
sekarang… kayaknya ada yang gak beres…”
Lalu mereka pergi ke rumah Nadya,
bersama dua orang warga yang mereka temui dijalan.
Satpam dan dua orang warga itu
keheranan dengan rumah Pak Arman yang gelap. Rizky mengajak mereka masuk dengan
terburu-buru lalu ia berdiri di depan pintu kecil itu, menunggu dengan napas
pendek.
“Kenapa, Mas?” tanya salah satu
satpam.
Rizky menunjuk pintu itu. “Di
dalam… kayaknya ada orang…”
Satpam itu mencoba membuka.
Terkunci.
“Ambil alat,” katanya singkat.
Beberapa menit kemudian, mereka mencoba mendobrak. Sekali. Dua kali. Sampai akhirnya pintu itu terbuka dengan suara keras. Dan saat itu juga—Semua berhenti. Bau itu langsung keluar, pengap, asam, berat.
Rizky mundur refleks, menutup hidungnya. Senter diarahkan ke dalam dan yang terlihat… bukan sesuatu yang bisa langsung dipahami. Banyak tubuh saling bertumpuk hingga tidak ada ruang untuk bergerak.
Dalam ruang yang terlalu kecil. Ada yang terduduk, ada yang terjatuh, ada yang seperti menahan tubuh lainnya. Wajah-wajah itu… Pucat. Beberapa dengan noda darah di hidung. Mata sebagian terbuka. Sebagian tertutup.
“Ya Allah…” bisik seseorang di
belakang.
Rizky tidak bisa bergerak. Matanya terpaku pada satu wajah. Nadya, di antara tubuh-tubuh itu. Ia tidak tahu. Ia tidak bisa tahu.
“Cepat! Angkat!” teriak satpam.
Semuanya bergerak cepat. Satu per
satu tubuh ditarik keluar. Ada yang tidak bereaksi sama sekali. Ada yang… masih
bergerak.
“Napas! Yang ini masih napas!” Suara
itu seperti memecah semuanya.
Rizky tersentak. Ia maju tanpa
sadar. “Nadya! Nadya!”
Tangannya gemetar saat mencoba meraih gadis itu. Kulitnya dingin. Tapi—Masih ada napas. Tipis. Sangat tipis.
Suara sirine ambulan mulai terdengar.
Kabar itu menyebar dengan cepat. Dalam hitungan jam, rumah itu dipenuhi polisi, garis pembatas, dan kerumunan orang. Rumah yang tadi sunyi kini penuh dengan orang, teriakan, langkah kaki, instruksi. Semua bercampur jadi satu.
Tubuh-tubuh itu diangkat, dibawa keluar. Sebagian ditutup kain. Sebagian langsung ditangani. Rizky berdiri di pinggir, tidak tahu harus melakukan apa. Tangannya masih bergetar. Matanya tidak lepas dari Nadya yang dibawa ke ambulan.
“Selamatkan dia…” gumamnya pelan, seolah ada yang bisa mendengar.
Spekulasi perampokan, pembunuhan, penyiksaan muncul. Darah yang terlihat di wajah korban membuat semua orang berpikir
hal yang sama. Mereka dibunuh dengan cara yang kejam.
Namun beberapa hari kemudian, kabar
itu datang. Bukan dari saksi. Bukan dari pelaku. Tapi dari meja dingin ruang
otopsi.
“Tidak ditemukan luka tusuk atau
kekerasan berat. Darah berasal dari pecahnya pembuluh darah akibat tekanan. Sebagian
korban mengalami sesak napas berat dalam ruang tertutup.”
Penjelasan itu mengubah segalanya.
Mereka tidak dibunuh secara
langsung. Mereka kehabisan udara. Terjebak dalam ruang kecil tanpa cahaya selama
1 hari lebih.
Dari sembilan orang di dalam
ruangan itu—Lima dinyatakan meninggal di tempat. Satu meninggal dalam
perjalanan ke rumah sakit. Satu lagi menyusul beberapa waktu kemudian.
Dua orang yang selamat. Nadya dan
Ahmad.
Beberapa hari berlalu.
Rumah sakit masih dipenuhi penjagaan. Nadya terbaring lemah, dengan selang oksigen terpasang. Wajahnya pucat, tapi hidup. Ahmad berada di ruang lain. Kondisinya tidak jauh berbeda. Mereka belum banyak bicara. Belum bisa.
Tapi semua orang tahu—Jawaban dari
semua ini… Ada pada mereka.
Dan akhirnya Nadya membuka mata lebih lama dari sebelumnya, menatap kosong ke langit-langit kamar rawat inap, satu hal yang pertama kali ia rasakan bukanlah lega. Bukan juga syukur. Tapi—Sesak. Seolah ruangan itu masih belum benar-benar ia tinggalkan.
Beberapa hari kemudian, Nadya akhirnya benar-benar terbangun. Bukan sekadar membuka mata—tetapi sadar.
Lampu kamar terasa terlalu terang. Suara langkah perawat di luar terdengar bergaung, seperti datang dari tempat yang jauh. Dadanya masih terasa berat, seolah setiap napas harus dipaksa keluar. Sesekali, tanpa alasan yang jelas, jantungnya berdegup cepat.
Setiap potongan ingatan datang seperti pecahan kaca. Gelap dan sempit. Suara orang-orang yang mulai panik. Napas yang saling bertabrakan. Dan setiap kali itu muncul, Nadya refleks menarik napas dalam-dalam—lalu tersedak oleh rasa sesak yang sama.
Sampai akhirnya Rizky datang lagi. Ialah
yang menjaga Nadya di rumah sakit namun kehadirannya baru dirasakan Nadya
ketika benar-benar tersadar.
Ia berdiri di ambang pintu, tidak
langsung masuk. Wajahnya lelah, matanya sembab, seperti seseorang yang sudah
terlalu lama tidak tidur dengan tenang. Untuk beberapa detik, mereka hanya
saling menatap.
Dan di momen itu, sesuatu di dalam
diri Nadya runtuh.
Air matanya jatuh tanpa peringatan.
Awalnya pelan—lalu berubah menjadi tangis yang pecah, berantakan, tidak bisa
ditahan lagi. Tubuhnya bergetar, napasnya terputus-putus. Ia bahkan tidak tahu
harus mulai dari mana. Yang ia ingat hanya satu hal—pertengkaran mereka.
Pesan yang tidak ia balas. Nada dingin di telepon terakhir mereka. Hal-hal kecil yang tiba-tiba terasa begitu besar… karena bisa saja itu menjadi yang terakhir. Dengan suara yang nyaris tidak keluar, Nadya mencoba bicara. Kata-katanya tersendat, patah, berulang kali hilang di tengah tangis.
Ia tidak sedang bercerita. Ia
sedang… mengeluarkan semuanya.
Tentang hari itu.
Tentang bagaimana semuanya terasa
biasa—terlalu biasa.
Tentang gelap yang datang
tiba-tiba.
Tentang ruang sempit yang perlahan
berubah jadi sesuatu yang menakutkan.
Rizky tidak menyela. Tidak
bertanya. Ia hanya duduk di samping tempat tidur, memeluknya dalam diam, sambil
mendengarkan—seperti saat ia pertama kali menemukan rumah itu dalam keadaan
sunyi yang tidak wajar.
Karena ia tahu, jika ia datang hari itu… Nadya tidak akan ada di sana sekarang begitu juga dengan Ahmad. Dan Nadya pun tahu hal itulah yang membuat semuanya terasa semakin berat.
Ia selamat, tapi hampir semua yang ia kenal di dalam rumah itu… tidak. Tangisnya kembali pecah, kali ini lebih pelan, lebih dalam. Bukan lagi panik—tapi kehilangan. Di sela napasnya yang masih tersisa sesak, Nadya akhirnya memejamkan mata sejenak. Lalu, dengan suara yang jauh lebih pelan, hampir seperti bisikan—
Ia mulai dari awal.
Udara siang terasa lebih ringan
dari biasanya.
Nadya menuruni tangga sekolah
dengan langkah santai, tasnya hanya disampirkan di satu bahu. Di halaman,
beberapa siswa masih berkumpul, sebagian membahas soal latihan, sebagian lagi
hanya duduk tanpa arah, menikmati waktu yang terasa lebih longgar dari biasanya.
Masa-masa menjelang ujian memang
selalu aneh. Jadwal jadi tidak menentu. Jam pelajaran sering dipersingkat.
Kadang terasa melelahkan, tapi di sisi lain… ada jeda yang tidak biasa.
Hari itu, Nadya pulang lebih cepat.
Ia sempat menatap layar ponselnya
saat berjalan menuju gerbang. Ada pesan baru. Nama Rizky masih ada di daftar
chat terakhir, tapi ia tidak membukanya lagi.
Ia menghela napas pelan, lalu
memasukkan ponselnya ke dalam tas.
“Udahlah…” gumamnya, lebih ke diri
sendiri.
Di luar gerbang, jalanan tampak
lengang. Matahari tepat di atas kepala, memantulkan panas dari aspal. Nadya
memesan ojek seperti biasa, lalu berdiri di bawah bayangan pohon sambil
menunggu.
Perjalanan pulang hanya memakan
waktu sekitar dua puluh menit. Perumahan tempat tinggalnya terlihat tenang
seperti biasa. Pagar-pagar tinggi, rumah-rumah besar dengan desain yang hampir
seragam, dan jalan yang bersih tanpa banyak aktivitas.
Ia turun di depan rumahnya.
Nadya melangkah masuk sambil
melepas sepatu. Suara pintu yang didorong terdengar pelan, disambut udara dalam
rumah yang sejuk.
“Assalamu’alaikum…” ucapnya.
“Wa’alaikum salam!” suara Siti terdengar
dari dalam.
Nadya tersenyum tipis.
Rumah.
Tempat yang selalu terasa sama.
Di ruang tamu, ayahnya duduk
berhadapan dengan seorang pria yang Nadya kenal sebagai rekan bisnisnya. Om Bram.
Wajahnya familiar, sering datang untuk urusan kerja.
“Eh, pulang, Nad?” sapa ayahnya.
“Iya, Yah. Pulang cepat,” jawab
Nadya sambil meletakkan tas di kursi.
Om Bram mengangguk ramah. “Gimana
sekolah?”
“Ya… gitu, Om. Lagi banyak latihan
ujian.”
“Bagus. Anak muda harus semangat.”
Nadya hanya tersenyum tipis. Ia
tidak terlalu suka basa-basi panjang, apalagi dengan orang dewasa yang selalu
membicarakan hal yang sama.
“Raka di mana, Yah?”
“Di kamar. Sama temennya.”
Nadya mengangguk, lalu berjalan
melewati ruang tamu menuju bagian dalam rumah.
Percakapan ayahnya kembali
berlanjut, suara mereka perlahan memudar saat ia menjauh.
Iia naik ke lantai atas menuju kamarnya.
suara tawa kecil terdengar.
Pintu kamar Raka terbuka sedikit.
Nadya mendorongnya perlahan.
Di dalam, Raka dan Dika duduk di
depan televisi, memegang stik PlayStation dengan serius. Layar menampilkan
permainan balapan, mobil-mobil kecil melaju cepat di lintasan warna-warni.
“Woy, jangan nyerempet!” seru Raka.
“Lu duluan!” balas Dika, tidak
kalah keras.
Nadya tersenyum tanpa sadar.
“Main terus, ya?” katanya sambil
bersandar di kusen pintu.
Raka menoleh sebentar. “Kakak udah
pulang?”
“Iya.”
“Mau ikut?”
Nadya menggeleng. “Enggak, lagi
males.”
Dika hanya melirik sekilas, lalu
kembali fokus ke layar.
“Jangan lupa makan siang,” tambah
Nadya sebelum menutup pintu kembali.
“Iya kak!” jawab Raka, meski
matanya tidak lepas dari permainan.
Setelah Nadya berganti pakaian ia
turun menuju dapur untuk mengambil minum.
Dari dapur, aroma masakan tercium
hangat.
Siti berdiri di depan kompor,
mengaduk sesuatu di dalam panci. Suara minyak mendesis pelan. Meja dapur sudah
tertata dengan beberapa piring.
“Mbak…” sapa Nadya.
Siti menoleh, wajahnya langsung
tersenyum. “Eh, Non udah pulang.”
“Iya, Mbak. Lagi masak apa?”
“Sup sama ayam goreng. Tadi pagi
Ibu bilang Nadya bakal pulang cepat, jadi langsung disiapin.”
Nadya mendekat, melihat ke dalam
panci. Uap hangat naik perlahan.
“Wangi banget.”
“Makan dulu, ya, Non. Jangan
telat.”
Nadya mengangguk. “Iya, Mbak.”
Ia mengambil segelas air dari meja,
lalu duduk sebentar di kursi dapur. Suasana di sana terasa nyaman. Suara
peralatan dapur, aroma makanan, dan kehadiran Siti yang sudah seperti bagian
dari rumah itu sendiri.
Semua terasa seperti hari-hari
biasa.
Di kamar bawah, pintu sedikit
terbuka.
Nadya mengetuk pelan sebelum masuk.
“Nek…”
Halimah duduk di atas ranjang,
kacamata bertengger di hidungnya, membaca buku kecil. Ia menoleh perlahan.
“Nadya sudah pulang?” suaranya
lembut.
“Iya, Nek.”
Nadya duduk di sampingnya. “Lagi
baca apa?”
“Biasa… doa-doa.”
Nadya mengangguk. Ia selalu melihat
neneknya seperti itu—tenang, tidak pernah terburu-buru, seolah waktu berjalan
lebih lambat di sekitarnya.
“Capek sekolah?” tanya Halimah.
“Lumayan.”
“Jangan terlalu dipikirkan. Yang
penting dijalani saja.”
Nadya tersenyum tipis. Nasihat
sederhana, tapi entah kenapa selalu terasa cukup.
Ia bersandar sebentar, menikmati
keheningan di kamar itu.
Siang itu berjalan pelan.
Nadya akhirnya kembali ke kamarnya
di lantai atas. Ia menjatuhkan diri ke tempat tidur, menatap langit-langit.
Ponselnya diambil lagi, dibuka, lalu ditatap cukup lama.
Nama Rizky masih di sana dengan
pesan terakhirnya, “Kalau memang kamu capek, ya sudah. Gak usah dipaksakan.”
Jarinya sempat bergerak, seolah
ingin mengetik sesuatu.
Tapi berhenti.
Ia mengunci layar.
“Males…” gumamnya.
Ia memejamkan mata sebentar.
Di luar, suara tawa Raka masih
terdengar samar. Dari bawah, suara piring beradu pelan. Rumah itu hidup dengan
ritmenya sendiri.
Hangat.
Tenang.
Satu jam kemudian, Nadya turun lagi
ke bawah. Meja makan sudah siap.
“Ibu belum pulang, Mbak?” tanyanya.
“Belum non, mungkin sebentar lagi,”
jawab Siti.
Nadya mengangguk.
Ia duduk di kursi, mengambil nasi,
lalu mulai makan perlahan. Raka dan Dika masih belum keluar dari kamar.
“Raka! Makan dulu!” teriak Nadya.
“Iyaaa!” sahut suara dari dalam,
tapi tidak ada tanda-tanda mereka akan segera keluar.
Nadya hanya menggeleng.
Di ruang tamu, ayahnya masih
bersama om Bram.
Suara mereka lebih pelan sekarang.
Pembicaraan tampaknya sudah hampir selesai. Nadya melirik sebentar.
Pintu pagar masih terbuka ketika
mobil itu berhenti pelan di depannya.
Tidak ada suara mesin yang meraung.
Tidak ada gerakan mencolok. Hanya kendaraan berwarna gelap yang berhenti
seperti tamu biasa, seolah-olah memang sudah diharapkan.
Dua pria turun.
Langkah mereka tenang. Tidak
terburu-buru, tapi juga tidak ragu.
Salah satu dari mereka menekan bel.
Satu kali. Tidak lebih.
Di dalam, Siti yang sedang
merapikan meja makan menoleh.
“Siapa ya…” gumamnya pelan.
Ia mengeringkan tangan dengan lap,
lalu berjalan menuju pintu depan. Dari balik kaca, ia melihat dua pria berdiri
dengan sikap sopan. Salah satunya memegang map tipis.
Bukan pemandangan yang
mencurigakan. Setidaknya… tidak pada pandangan pertama.
Siti membuka pintu sedikit. “Cari
siapa, Pak?”
Pria di depan tersenyum tipis. “Selamat
sore, Mbak. Kami dari jasa pengiriman. Ada dokumen untuk Pak Arman Pratama.”
Siti ragu sejenak. “Dokumen?”
“Iya, penting. Diminta tanda tangan
langsung.” Nada bicaranya tenang. Tidak memaksa. Tidak meninggikan suara.
Siti membuka pintu lebih lebar. “Masuk
dulu, Pak. Saya panggilkan.”
Itu kesalahan pertama.
Begitu kaki mereka melewati ambang
pintu, suasana berubah. Tidak ada aba-aba. Tidak ada hitungan. Gerakan itu
terjadi begitu cepat hingga hampir tidak terlihat sebagai sesuatu yang
disengaja. Tangan pria kedua langsung menutup pintu dari belakang. Klik. Suara
kecil.
Siti baru sempat menoleh ketika
sesuatu menekan bagian lehernya. Bukan pukulan keras. Lebih seperti tekanan
yang tepat. Terlalu tepat. Tubuhnya langsung melemah sebelum sempat
mengeluarkan suara. Pria itu menahannya agar tidak jatuh dengan keras, lalu
menurunkannya perlahan ke lantai.
Senyap.
Bersih.
Di ruang tamu, Arman masih duduk
bersama Bram.
Mereka tidak mendengar apa pun.
Atau mungkin… tidak menyadari bahwa
suara kecil tadi adalah sesuatu yang seharusnya mereka perhatikan.
“Jadi kesepakatannya kita lanjut
minggu depan,” kata Bram.
Arman mengangguk. “Iya. Saya
siapkan dulu semuanya.”
Kalimat itu belum selesai ketika
langkah kaki terdengar dari belakang. Arman menoleh. Dua pria berdiri di sana. Tidak
ada senyum kali ini. Tidak ada basa-basi. Hanya tatapan datar yang terlalu
tenang.
“Ada apa?” tanya Arman, alisnya
mengernyit.
Tidak ada jawaban.
Yang ada hanya gerakan cepat. Bram
berdiri refleks namun terlambat.
Salah satu pria langsung menahannya
dari belakang, tangannya mengunci leher dengan posisi yang presisi. Bukan
cekikan kasar, tapi tekanan yang cukup untuk melumpuhkan tanpa suara.
Arman bangkit dari kursinya. “Apa
ini—” Kalimatnya terpotong.
Pria kedua sudah berada di
depannya. Satu gerakan mengenai satu titik. Tubuh Arman kehilangan
keseimbangan.
Ia tidak jatuh dengan keras. Tidak
ada suara benda terbanting. Semuanya dikendalikan, diarahkan, diturunkan
perlahan seperti benda yang memang harus tetap utuh.
Dalam hitungan detik, ruang tamu
kembali sunyi.
Di lantai atas, Nadya membuka mata.
Ia tidak yakin apa yang membangunkannya. Tidak ada suara keras. Tidak ada
teriakan. Hanya… sesuatu yang terasa berbeda. Seperti rumah tiba-tiba
kehilangan ritmenya. Ia duduk perlahan. Mengernyit. Lalu berdiri.
Di kamar Raka, suara permainan
masih terdengar. Tawa kecil. Suara tombol ditekan cepat. Dunia mereka masih
normal. Belum tersentuh.
Di bawah, dua pria itu bergerak
tanpa banyak bicara. Setiap langkah terukur. Setiap sudut diperhatikan.
Siti diangkat dan dipindahkan ke toilet
kecil di bawah tangga. Arman dan Bram pun dimasukan ke dalam toilet itu, mereka
dipastikan tidak akan bangun dalam waktu dekat. Tidak ada barang yang
dijatuhkan. Tidak ada benda yang dipindahkan sembarangan. Rumah itu tetap
terlihat… biasa.
Pintu kamar bawah terbuka pelan.
Halimah mengangkat kepala. “Siapa?”
Langkah kaki mendekat. Tenang dan tidak
tergesa-gesa.
Ia menyipitkan mata, mencoba
melihat lebih jelas.
“Bukan Nadya…” Kalimat itu tidak
sempat selesai.
Raka dan Dika masih tertawa
dikamarnya. “Gila, lu kalah lagi!”
Dika melempar bantal kecil ke
arahnya. “Ulang, ulang!”
Pintu kamar terbuka. Mereka menoleh
bersamaan.
“Apaan sih—” Kalimat Dika terhenti.
Dua sosok berdiri di ambang pintu. Tidak
dikenal. Tidak diundang.
“Om siapa ya?” tanya Raka, bingung.
Tidak ada jawaban.
Yang ada hanya langkah mendekat perlahan.
Seperti waktu yang sengaja diperlambat. Raka berdiri. Dika ikut berdiri.
Suasana berubah dalam satu detik
yang terasa panjang.
“Ada apa, om?” suara Raka mulai
tidak stabil.
Salah satu pria itu mengangkat
tangan sedikit seperti memberi isyarat diam.
Nadya mendengar sesuatu. Bukan
suara keras tapi… cukup terdengar. Ia mempercepat langkah.
“Raka?”
Tidak ada jawaban.
Ia turun lebih cepat. Jantungnya
mulai berdetak tidak wajar.
Di kamar itu, dunia menyusut. Raka
mundur selangkah. Dika menelan ludah. Mereka tidak mengerti apa yang sedang
terjadi. Tapi tubuh mereka tahu. Ini bukan situasi yang aman.
Dan di rumah yang masih terlihat
tenang dari luar itu—Satu per satu, suara mulai hilang. Digantikan oleh
keheningan yang terlalu rapi. Terlalu… disengaja. Seolah semuanya sudah
direncanakan sejak awal.
Kesadaran datang perlahan.
Bukan seperti bangun dari tidur
yang nyenyak, tapi seperti ditarik paksa dari kedalaman yang gelap. Kepala
terasa berat. Napas sedikit tertahan. Tubuh kaku. Nadya membuka mata. Gelap.
Bukan gelap total, tapi cukup untuk
membuat semuanya terasa asing.
Ia mencoba bergerak namun ruangan
ini sangat sempit. Itu hal pertama yang ia sadari.
Ruang di sekelilingnya terlalu
dekat. Lututnya hampir menyentuh sesuatu di depan. Bahunya menempel pada
permukaan dingin di samping.
Dan… ada orang lain. Banyak.
Suara napas terdengar berbeda-beda.
Cepat. Pendek. Ada yang bergetar.
Nadya menahan napasnya sendiri,
mencoba memahami.
“Ada yang bangun?” suara pelan
terdengar dari sisi kiri. Raka.
Nadya langsung mengenali.
“Kak…” suaranya serak.
“Nadya?”
“Iya…”
Ada jeda.
Seperti semua orang di dalam ruang
itu baru menyadari satu hal yang sama—
Mereka tidak sendiri.
“Ini… kita di mana?” suara lain
masuk. Dika.
“Gak tahu…Kayaknya toilet, tapi
yang sempit ini di bawah tangga!” jawab Nadya.
Ia mencoba menggerakkan tangan,
tapi ruangnya terlalu terbatas. Ia hanya bisa meraba sedikit—dinding kasar di
belakang, lantai dingin di bawah, dan… kaki seseorang di depannya.
Tubuh-tubuh mereka berhimpitan. Dipaksa
dekat. Tanpa pilihan.
“Pak…” suara berat terdengar pelan.
Arman.
Nadya langsung menoleh ke arah
suara itu, meski ia tidak benar-benar bisa melihat.
“Ayah…”
“Ayah di sini,” jawab Arman,
suaranya lebih rendah dari biasanya. Tidak panik. Tapi jelas menahan sesuatu.
“Semua… ada di sini?” tanyanya
lagi.
Tidak langsung ada jawaban.
Satu per satu suara mulai muncul.
“Saya…” itu om Bram.
“Ada, Pak…” Siti, hampir berbisik.
“Nenek juga di sini…” suara Halimah
pelan, tapi stabil.
Raka menarik napas dalam. “Semua…”
7 orang dalam satu ruangan.
Nadya menelan ludah.
“Kok bisa kita semua ada disini?”
Dika langsung menyela, suaranya naik sedikit.
“Aku ingat, tadi ada dua orang
asing datang kesini.” Bram berhenti sejenak, “Sepertinya… mereka adalah
orang-orang jahat.”
Nadya menarik napas pelan. Udara
terasa lebih berat setelah menyadarinya.
“Apa yang mereka mau?” tanya Siti.
Tidak ada yang menjawab.
Pertanyaan itu menggantung di udara
yang sudah sempit.
Nadya mencoba mengingat.
Potongan-potongan terakhir sebelum
semuanya gelap.
Tangga. Suara dari kamar Raka dan dua
orang asing yang tiba-tiba muncul dari pintu kamarnya. Ia langsung merinding.
Semua terjadi terlalu cepat untuk
dipahami.
Sunyi, tapi bukan sunyi yang
tenang. Sunyi yang penuh pikiran.
“Dengerin saya,” suara Arman
tiba-tiba lebih tegas.
Semua langsung diam.
“Kita jangan panik dulu. Kita harus
tetap tenang.”
Kata-kata itu terdengar seperti
sesuatu yang benar. Tapi sulit dipercaya sepenuhnya dalam kondisi seperti itu.
“Pintu…” lanjutnya. “Ada yang bisa
ngeraba pintu?”
Beberapa orang mencoba bergerak. Tapi
ruangnya terlalu sempit.
“Ada…” kata Bram setelah beberapa
detik. “Di depan saya.”
“Bisa dibuka?” Bram mencoba. Ada
suara kecil. Terkunci.
“Gak bisa,” jawabnya.
Raka menghela napas panjang,
terlalu keras untuk ruang sekecil itu.
“Gila…” gumamnya.
“Napas pelan,” tiba-tiba Halimah
berkata.
Semua terdiam lagi.
“Napas pelan. Jangan buru-buru.” Suaranya
lembut.
Tapi ada sesuatu di dalamnya yang
membuat semua orang tanpa sadar menurut.
Satu per satu, napas mulai
melambat.
Sedikit.
Waktu berjalan aneh di dalam ruang
itu. Tidak ada cahaya yang jelas. Tidak ada jam. Hanya napas. Dan kehadiran
orang lain yang terlalu dekat.
Nadya merasakan lututnya mulai
pegal. Punggungnya sakit karena harus bersandar pada dinding yang keras. Ia
tidak bisa meregangkan kaki. Tidak bisa bergerak bebas.
“Kalau mereka mau uang…” Dika mulai
bicara, suaranya ragu. “Harusnya… mereka udah bilang, kan?”
“Belum tentu,” jawab Bram.
“Atau…” Dika berhenti.
“Atau apa?” tanya Raka.
Dika tidak langsung menjawab.
“Gak tahu…”
Tapi semua orang di sana tahu arah
pikirannya.
Dan itu membuat udara terasa lebih
dingin.
“Jangan mikir yang aneh-aneh,”
potong Arman.
“Tapi, Pak—”
“Saya bilang jangan.”
Nada suaranya lebih keras sedikit. Cukup
untuk menghentikan percakapan. Di sudut, Siti mulai menangis pelan. Tidak
keras. Tapi cukup untuk terdengar.
Nadya menoleh sedikit. “Mbak…”
“Maaf, Non…” jawab Siti cepat.
“Saya… takut…”
Nadya tidak tahu harus menjawab
apa. Ia sendiri juga takut.
Beberapa menit berlalu. Atau
mungkin lebih lama. Sulit membedakan.
Tiba-tiba—Suara dari luar seperti
kepanikan. Langkah-langkah kaki pelan-pelan mendekat. Semua langsung diam. Napas
ditahan. Tidak ada yang berani bergerak.
Klik.
Suara kunci diputar, lalu pintu
terbuka sedikit. Seberkas cahaya tipis menyusup masuk—menusuk mata yang sudah
terlalu lama terbiasa dengan gelap.
Di ambang pintu, hanya terlihat
siluet.
Nadya menyipitkan mata, mencoba
mengenali.
Lalu—ia melihat ibunya.
Maya.
Wajahnya basah oleh air mata.
Tangannya gemetar. Di belakangnya, Ahmad—sopir keluarga—didorong masuk dengan
langkah tergesa. Sontak, ruangan itu pecah oleh teriakan.
“Keluarin kami!”
“Tolong!”
Suara-suara saling bertabrakan,
panik, tidak terkendali.
“Diam.” Satu kata itu tidak
keras—bahkan cenderung datar. Tapi cukup untuk memotong semuanya.
Nadya menoleh.
Bukan dua. Ada empat orang di depan
pintu.
Wajah-wajah asing.
“Kalo kalian gak bisa diam…” suara
itu kembali terdengar, kali ini lebih dingin, “saya tembak semua yang ada di
sini.”
Salah satu dari mereka mengangkat
pistol. Ujung larasnya berhenti tepat di arah Maya. Ruangan itu langsung sunyi.
“Cepat. Masuk.”
Maya dan Ahmad didorong lebih
dalam. Tubuh mereka nyaris tersandung, terhimpit oleh yang lain.
Ruang kecil itu—yang sebelumnya
sudah terasa sempit—sekarang berubah menjadi sesak. Napas terasa lebih pendek. Udara
terasa lebih panas. Pintu ditarik kembali.
Klik.
Gelap.
Pintu tertutup.
Klik.
Gelap kembali menelan semuanya.
Beberapa detik pertama, tidak ada
yang bergerak. Tidak ada yang berbicara. Seolah semua orang di ruangan itu
sedang menahan napas karena ruang itu memang tidak lagi memberi cukup udara
untuk dibagi.
Pak Arman, Om Bram, Nenek Halimah, Mbak
Siti, Raka, Dika dan Nadya berada dalam 1 ruang toilet kecil dibawah tangga.
Mereka semua tak sadarkan diri setelah dilumpuhkan dua orang asing.
Lalu suara dari luar mulai
terdengar langkah kaki, cepat, terarah.
“Cepetan. Waktunya mepet.” Suara
Rudi. Tegas, tanpa emosi.
Di luar, rumah yang tadi terasa
hangat kini berubah menjadi tempat yang asing. Setiap sudut seperti kehilangan
maknanya.
Laci dibuka.
Lemari digeser.
Barang-barang dipindahkan tanpa
ragu.
Om Bram mulai sadar perlahan berdiri
kaku di dalam ruang sempit yang gelap itu, punggungnya menempel dinding. Ia
mencoba mengatur napasnya, tapi udara di dalam terasa semakin berat. Logikanya
berputar cepat, menyimpulkan satu kenyataan pahit ini adalah perampokan.
“Brankas di mana?”
“Di kamar utama…” jawab Arman pelan
yang juga tersadar perlahan-lahan, suaranya hampir tidak terdengar.
Seketika suara langkah menjauh,
menuju arah kamar.
Beberapa detik kemudian—
“Ketemu.”
Bunyi logam. Gesekan. Benturan
kecil.
Mereka tahu, tanpa harus melihat,
apa yang sedang terjadi di luar.
Perhiasan. Uang. Barang berharga
yang selama ini Pak Arman kumpulkan—berpindah tangan dalam hitungan menit.
Di dalam ruang itu, waktu berjalan
berbeda. Setiap detik terasa lebih panjang. Setiap napas terasa lebih mahal. Perlahan-lahan
yang lain mulai tersadar dan memicu kepanikan.
Raka mulai gelisah.
“Ayah…” suaranya kecil, bergetar.
Arman tidak menjawab. Ia hanya
meraih tangan anaknya, menggenggamnya erat dalam gelap. Di sudut lain, Siti
terdengar berdoa pelan. Kata-katanya tidak jelas, hanya gumaman yang
terputus-putus.
Nadya belum sadar, sementara
Neneknya Halimah mencoba berpikir rasional.
Ini akan selesai. Mereka hanya
ingin barang. Setelah itu… mereka akan pergi. Ia mengulang kalimat itu dalam
pikirannya, berkali-kali, seperti doa.
Di luar, suara langkah kembali
mendekat.
“Udah. Semua masuk.”
“Cek lagi bawah.”
“Gak ada siapa-siapa lagi.”
Ada jeda.
Lalu suara lain—lebih pelan, tapi
jelas: “Mobilnya diambil juga?”
“Ya iyalah, Pake nanya, Bego lo. Mobil
mahal itu.”
Mereka benar-benar akan pergi.
Harapan itu muncul—tipis,
rapuh—tapi cukup untuk membuat jantung berdetak sedikit lebih cepat. Mereka
akan pergi. Langkah kaki menjauh lagi. Kali ini lebih cepat.
Suara pintu depan terbuka.
Lalu—Suara lain. Mesin mobil.
Di luar rumah, Ahmad memegang setir
dengan satu tangan. Jalanan menuju rumah terasa lebih lengang dari biasanya. Ia
melirik kaca spion.
“Bu, tadi Bapak bilang pulang
cepat?”
Maya mengangguk pelan. Wajahnya
terlihat lelah. “Iya. Katanya ada urusan sebentar, tapi udah selesai.”
Ahmad tidak langsung menjawab.
Ada sesuatu yang mengganjal. Sejak
tadi, ia merasa tidak nyaman.
Ketika mobil mereka mendekati
gerbang rumah, Ahmad memperlambat laju kendaraan.
Gerbang terbuka sedikit. Tidak
seperti biasanya.
Ia mengernyit. “Bu… gerbangnya kok
kebuka ya?”
Maya menatap ke depan. Wajahnya
berubah.
“Pak Arman gak pernah buka gerbang
setengah.”
Ahmad menghentikan mobil tepat di
depan rumah. Mesin masih menyala.
Sunyi. Tidak ada suara televisi. Tidak
ada suara anak-anak. Tidak ada aktivitas yang biasanya terdengar dari dalam
rumah.
Ujang yang daritadi memperhatikan
sudah memberitahu kawan-kawannya terlebih dahulu lewat telepon.
Ahmad menarik napas pelan. “Bu,
saya cek dulu ya.”
Maya mengangguk, meski keraguan
terlihat jelas di wajahnya.
Ahmad membuka pintu mobil. Kakinya
menapak pelan di lantai garasi. Satu langkah. Dua langkah. Ia belum sempat
memanggil—
“Berhenti.” Suara itu muncul dari
samping.
Dingin. Seketika, sesuatu yang
keras menempel di pelipisnya.
Pistol.
Ahmad membeku. Matanya bergerak
perlahan ke samping.
Seorang pria berdiri di sana.
Wajahnya asing. Tatapannya kosong.
“Angkat tangan.”
Ahmad menurut.
Dari arah lain, dua orang lagi
muncul. Maya yang masih di dalam mobil menutup mulutnya, menahan suara.
“Turun.”
Salah satu dari mereka membuka
pintu mobil dan menarik Maya keluar.
“Jangan teriak.”
Nada suaranya tidak tinggi, tapi
cukup untuk membuat Maya mengangguk cepat.
Ahmad menelan ludah. Sekarang ia
mengerti. Ini bukan sekadar firasat. Rumah ini… sudah diambil alih.
“Masuk.”
Mereka didorong masuk ke dalam
rumah. Ahmad sempat melirik ke sekeliling.
Ruang tamu berantakan. Laci
terbuka. Barang-barang tidak pada tempatnya. Tapi tidak ada siapa-siapa.
“Yang lain di mana?” tanyanya
refleks.
Pukulan keras menghantam perutnya. Udara
langsung keluar dari paru-parunya.
“Jangan banyak tanya.”
Ahmad terbungkuk, menahan sakit. Maya
menangis pelan di sampingnya. Mereka tidak diberi waktu untuk berpikir. Langsung
didorong menuju bagian dalam rumah.
Gelap. Sepi.
Dan di bawah tangga itu—Pintu
kecil.
Salah satu dari mereka membuka
kunci.
Klik.
Pintu terbuka.
Maya dan Ahmad didorong masuk
kemudian pintu dikunci kembali.
Di luar, waktu bergerak cepat.
“Cepetan.”
Rudi melihat sekeliling sekali
lagi. Tidak ada yang tertinggal. Rumah itu sudah kosong—secara fungsi. Yang
tersisa hanya… isi. Ia menarik napas pendek.
“Listrik.”
Salah satu dari mereka mengangguk. Beberapa
detik kemudian—Semua listrik diputus.
Rumah itu benar-benar gelap. Bukan
hanya lampu yang mati.
Tapi juga kipas. AC. Semua yang
selama ini membuat rumah itu “hidup”. Sekarang… tidak ada apa-apa.
“Gas.” Mereka bergerak cepat menuju
luar.
Satu masuk ke mobil di garasi. Satu
lagi ke mobil di depan.
Mesin menyala hampir bersamaan.
Suara itu menggema di halaman yang
kosong. Lalu—Mereka pergi.
Tanpa menoleh.
Tanpa ragu.
Gerbang yang tadi terbuka setengah,
kini dibiarkan begitu saja.
Di dalam rumah—Sunyi kecuali di dalam
toilet kecil itu.
Cahaya masuk lagi, lebih tajam dari
sebelumnya. Mata yang sudah lama berada dalam gelap terasa perih. Beberapa
orang refleks memejamkan mata.
Dua sosok berdiri di luar. Kali
ini… mereka mambawa korban lain.
“Masuk.” Satu kata datar tanpa
emosi.
Dua orang didorong ke dalam.
Tubuh mereka tersandung, hampir
jatuh karena ruang yang sudah terlalu penuh. Yang lain terpaksa bergeser, meski
sebenarnya tidak ada ruang untuk bergeser.
“Eh— pelan—” suara perempuan itu
terputus.
Pintu langsung ditutup lagi.
Klik.
Gelap kembali.
“Siapa?” tanya Raka cepat, napasnya
langsung berubah.
“Ini Ibu” jawab Maya mengenali
suara Raka, suara itu gemetar.
“Ahmad…” suara lain menyusul, lebih
berat, tapi jelas menahan panik.
“Kenapa kalian—” Pak Arman mulai
bicara, tapi berhenti sendiri.
Tidak ada yang benar-benar perlu
dijelaskan. Semua sudah jelas.
“Siapa saja yang ada disini?” tanya
Maya dengan isak tangis.
Nadya memberitahu semua hal yang ia
ketahui. Toilet kecil itu berubah dari yang sebelumnya sudah sempit… sekarang
menjadi hampir tidak bisa ditoleransi. Tubuh saling menekan. Lutut bertemu
lutut. Bahu Nadya kini benar-benar tidak punya ruang. Napas mulai terasa
berbeda. Lebih pendek namun lebih cepat.
“Mereka… bakal keluarin kita kan?”
suara Maya kecil. Harapan yang masih utuh. Masih polos.
“Pasti,” jawab Om Bram cepat. Terlalu
cepat. Seperti ingin meyakinkan dirinya sendiri. “Iya… paling nunggu…”
tambahnya, meski kalimatnya menggantung.
Arman tidak langsung bicara. Ia
hanya menarik napas dalam seolah mencoba mengukur sesuatu yang tidak bisa
diukur.
Menit-menit pertama setelah Maya
dan Ahmad masuk… terasa seperti awal lagi.
Percakapan kembali muncul. Masih
ada struktur. Masih ada logika. Masih ada harapan.
Tapi itu tidak bertahan lama.
Panas mulai terasa perlahan. Udara
di dalam ruang itu berubah menjadi berat. Setiap tarikan napas terasa lebih
sulit. Seperti ada sesuatu yang menghalangi, meski tidak terlihat.
“Gerah…” gumam Dika.
Tidak ada yang menanggapi.
Karena semua merasakan hal yang
sama.
Keringat mulai muncul. Di dahi. Di
leher. Di punggung. Dan karena tubuh mereka saling menempel… rasa itu menyebar.
Lengket. Tidak nyaman.
“Napas…” Maya mulai panik. “Aku…
susah napas…”
“Pelan-pelan saja bu,” kata Ahmad
cepat. Ia mencoba tetap tenang, meski suaranya sendiri mulai berat. “Tarik
pelan… pelan…”
“Ini gak normal…” Siti tiba-tiba
bicara lebih keras. “Udah berapa lama kita di sini?”
Tidak ada yang menjawab.
“Serius… ini udah lama banget…”
lanjutnya.
“Baru juga…” Raka mencoba
menyangkal.
“Tapi rasanya—”
“Udah,” potong Arman.
Nada suaranya tegas. Tapi kali ini…
tidak sekuat sebelumnya.
Waktu mulai kehilangan bentuk. Tidak
ada siang. Tidak ada malam. Tidak ada penanda.
Yang ada hanya—napas, keringat dan
rasa lapar semua yang ada disini. Rasa tidak nyaman yang terus meningkat.
“Apa mereka sengaja?” suara Nenek
Halimah tiba-tiba muncul.
Pelan. Tapi jelas.
“Maksudnya gimana Nek?” tanya
Nadya.
“Masukin kita ke sini…
banyak-banyak…” Ia berhenti. Tidak melanjutkan.
“Biar apa Nek?” Dika langsung
menimpali.
Nada suaranya mulai tajam. Tidak
ada jawaban.
“Jangan mulai…” kata Raka.
“Mulai apa?” Dika langsung
tersulut. “Kita ini dikurung di ruang segini, Rak!”
“Gue tahu!”
“Terus? Lo santai aja?”
“Gue gak santai!”
Suara mereka mulai meninggi.
Ruang itu terlalu kecil untuk
konflik. Setiap emosi langsung terasa. Membesar. Menular.
“Berhenti!” Arman membentak. Kali
ini lebih keras.
Cukup untuk membuat semua diam.
Tapi diam itu tidak menenangkan. Justru…
menekan.
“Kalau kita diem aja, kita mati di
sini,” kata Dika, lebih pelan sekarang.
Kalimat itu… jatuh seperti sesuatu
yang tidak bisa ditarik kembali.
Siti mulai menangis lagi. Kali ini
lebih jelas.
“Coba pintunya lagi…” kata Arman.
Ia meraba ke depan, mencoba mencari
celah. Om Bram ikut membantu.Beberapa tangan ikut bergerak, meski terbatas. Dorongan kecil. Lalu
lebih kuat. Tidak bergerak.
“Bareng…” kata Ahmad.
Mereka mencoba lagi. Lebih kuat. Tetap
tidak bergerak. Keringat semakin banyak. Napas semakin berat.
“Gak bisa…” akhirnya Ahmad
berhenti.
Nada suaranya berubah. Sedikit. Hanya
sedikit. Tapi cukup untuk membuat Nadya menyadari—bahkan dia pun mulai
kehilangan kendali.
Berapa lama?Tidak ada yang tahu. Mungkin
berjam-jam. Mungkin lebih.
Kepala mulai terasa ringan. Aneh. Seperti
melayang.
Nadya menutup mata sebentar. Ia
mendengar sesuatu. Suara. Seperti langkah kaki. Di luar. Ia membuka mata. Tidak
ada perubahan. Tetap gelap.
“Denger gak?” bisiknya.
“Apaan?” Raka menjawab.
Nadya ragu. “Kayak… ada orang…”
“Gak ada,” jawab Dika cepat. Terlalu
cepat.
Tapi beberapa detik kemudian—
Maya juga bicara. “Ibu juga
denger…”
Sunyi.
Atau mungkin… mereka mulai
mendengar sesuatu yang tidak ada.
“Nadya…” Suara itu pelan. Sangat
pelan.
Ia menoleh. “Nek?”
Tidak ada jawaban.
Tapi suara itu terasa nyata. Dekat.
“Air…” tiba-tiba Siti berkata. Lemah.
“Air…”
Tidak ada. Tidak ada apa pun. Tubuh
mulai bereaksi.
Pusing. Mual. Napas yang semakin
pendek.
“Pak…” suara Bram berubah.
“Ada yang… gak beres…”
Belum selesai kalimat itu—suara
jatuh terdengar. Tubuh.
Semua langsung bergerak, sejauh
ruang memungkinkan.
“Siapa?!”
“Om Bram!”
Ia tidak menjawab. Tubuhnya lemas.
“Om! Om!” Raka mencoba mengguncang.
Tidak ada respon.
“Dia… pingsan…” kata Ahmad. Tapi
nadanya ragu.
“Bangunin!” Dika panik.
“Pak… denger saya…” suara Arman
lebih pelan sekarang.
Tidak ada jawaban. Sunyi.
Untuk pertama kalinya—kematian
terasa dekat. Meski belum pasti. Dan itu cukup.
Sesuatu runtuh. Maya mulai menangis
keras. Dika memukul dinding. Raka terdiam.
“Ini salah!” Dika berteriak. “Ini
semua salah!”
“Diam!” Arman mencoba.
“Gak! Kita bakal mati di sini!”
Kalimat itu sekarang tidak bisa
dibantah.
Satu orang jatuh. Dan semua yang
lain… ikut jatuh. Di dalam.
Nadya merasa tubuhnya ringan. Terlalu
ringan. Ia bersandar pada sesuatu. Atau seseorang. Ia tidak tahu.
“Pak Ahmad…” suaranya hampir tidak
terdengar.
“Iya…” jawab Ahmad.
“Kita… udah berapa lama?”
Ahmad diam. Lama.
“Gak tahu…” akhirnya ia menjawab.
Dan itu adalah jawaban yang paling
jujur.
Nadya menutup mata. Gelap, lebih
gelap dari sebelumnya.
Suara-suara mulai menjauh. Atau
mungkin…ia yang menjauh.
“Jangan tidur…” suara Ahmad
terdengar lagi.
Jauh.
Nadya mencoba membuka mata sedikit.
Tidak banyak yang tersisa. Hanya napas yang semakin pelan.
Di antara sadar dan tidak—ia
menyadari satu hal terakhir: Ruang itu tidak berubah.
Tapi mereka yang berubah. Dan
waktu—sudah tidak berarti apa-apa lagi.
Sehari sebelum semuanya terjadi—langit
sore terlihat biasa saja. Rizky duduk di atas motor, mesin belum dinyalakan. Ia
masih memegang ponsel di tangan, layar chat terbuka. Nama itu masih sama, Nadya.
Pesan terakhirnya belum dibalas. Ia mengetik lagi. Lalu menghapus. Mengetik
lagi. Menghapus lagi.
“Ya udah…” gumamnya pelan.
Akhirnya ia mengirim satu kalimat
sederhana: Besok ketemu ya.
Pesan itu terkirim tapi tidak
pernah dibalas. Keesokan harinya, Rizky mencoba menghubungi lagi namun tetap tidak
aktif. Chat ceklis satu telepon hanya “Memanggil”. Ia mulai merasa aneh karena tidak
ada kabar dari Nadya. Semarah-marahnya Nadya pasti akan memberi kabar
kepadanya.
Sampai akhirnya di sore itu—ia
berdiri di depan rumah itu. Rumah besar dengan pagar tinggi yang terlihat sama
seperti biasanya. Tenang. Terlalu tenang. Lalu ia mengambil langkah masuk
kedalam rumah itu...
Penyelidikan dimulai tidak lama
setelah laporan warga diterima.
Rumah itu langsung diamankan. Garis
polisi dipasang, membatasi siapa saja yang boleh masuk. Tidak ada lagi kesan
hangat seperti sebelumnya—yang tersisa hanya bangunan besar yang sunyi, dengan
sesuatu yang sudah berubah di dalamnya.
Tim forensik bekerja perlahan, tapi
pasti.
Mereka memeriksa bagian luar
terlebih dahulu—pagar, halaman, dan pintu utama. Tidak ada tanda-tanda
pembobolan. Tidak ada bekas paksa. Semua terlihat normal, seolah rumah itu
memang dibuka dari dalam.
Temuan itu menjadi petunjuk
pertama. Bahwa pelaku… tidak masuk dengan cara kasar.
Pemeriksaan berlanjut ke dalam
rumah. Ruang tamu, tempat terakhir Arman dan Bram terlihat, kondisinya
berantakan. Dapur juga sama. Di lantai atas, kamar-kamar diperiksa satu per
satu. Laci dan lemari terbuka, mengindikasikan bahwa ini memang kasus
perampokan.
Tim forensik masuk dengan
hati-hati. Setiap detail diperhatikan. Ruang itu diukur. Sekitar dua kali tiga
meter, sempit untuk sembilan orang. Tidak ditemukan luka kekerasan yang
berarti. Tidak ada tanda serangan brutal.
Dari hasil pemeriksaan awal,
penyebab kematian mengarah pada kombinasi beberapa hal: kekurangan oksigen,
dehidrasi, serta tekanan fisik akibat kepadatan tubuh di ruang tertutup. Sederhana,
tapi tidak terhindarkan.
Sementara itu, penyelidikan tidak
berhenti di dalam rumah. Rekaman kamera pengawas di sekitar perumahan mulai
dikumpulkan. Potongan demi potongan. Waktu demi waktu.
Sebuah mobil terlihat memasuki area
rumah pada siang hari. Dua orang turun dan berjalan mendekati rumah itu namun
mobil tersebut meninggalkan mereka. Beberapa menit kemudian dua orang berbeda
turun dari mobil yang sama, mobil tersebut kembali ke jalan rumah itu. Dari
potongan nomor kendaraan, arah pergerakan, dan rekaman tambahan di titik
lain—penyidik mulai menyusun pola. Nama pertama akhirnya muncul. Rudi.
Pencarian meluas. Dan satu per
satu, keterkaitan mulai terlihat. Para pelaku tidak tinggal bersama setelah
kejadian. Mereka berpencar dan berusaha menghilang dalam kehidupan yang kembali
terlihat biasa.
Penangkapan pertama terjadi tanpa
perlawanan. Rudi ditemukan di sebuah tempat sederhana, jauh dari lokasi
kejadian. Saat ditangkap Rudi tidak mencoba melarikan diri. Bahkan ia tidak membantah saat dibawa, wajahnya datar. Seolah
apa yang terjadi… sudah selesai baginya.
Interogasi berlangsung lama
berhari-hari secara perlahan. Dan akhirnya—ia bicara.
“Kami… gak niat bunuh.” Kalimat itu
keluar pelan tanpa emosi yang jelas.
Ia menjelaskan semuanya mulai dari masuk
ke rumah dengan menyamar. Melumpuhkan para korban dengan cepat dan mengumpulkan
mereka di satu tempat.
“Biar gak ribut,” katanya.
Ruang toilet kecil itu dipilih
karena mudah dikunci dan tidak mencolok.
“Kami pikir… nanti juga ada yang
cari dan membebaskan mereka.”
Kalimat itu terdengar ringan untuk
sesuatu yang terjadi. Mereka tidak tinggal lama. Mengambil apa yang bisa
diambil lalu pergi. Tidak ada yang kembali. Tidak ada yang memastikan. Dan
waktu—melakukan sisanya.
Keterangan Rudi diperkuat oleh
hasil forensik. Semua mengarah pada satu kesimpulan yang sama: mereka mungkin
tidak berniat membunuh, tapi mereka menciptakan kondisi yang membuat kematian
tidak terhindarkan.
Sembilan orang. Dalam ruang sempit
tanpa udara cukup tanpa jalan keluar.
Proses hukum berjalan. Para pelaku
lain ditangkap. Satu per satu. Andra, Fikri, Joko dan Ujang ditangkap dilokasi
yang berbeda dengan waktu yang berbeda pula. Joko dan Ujang sempat mencoba
melawan dan kabur, namun berakhir peluru yang melukai kaki mereka
Persidangan dimulai. Ruang sidang
penuh bukan hanya dihadiri oleh aparat dan keluarga korban—tapi juga oleh orang-orang
yang berempati. Kasus ini berbeda. Tidak ada kekerasan brutal. Tidak ada darah
yang mencolok. Tapi justru itu—yang membuatnya terasa lebih berat.
Fakta-fakta dibacakan. Ukuran
ruangan. Jumlah korban. Durasi dan perkiraan waktu bertahan. Semua dijelaskan
dengan rinci dan terukur.
Rudi dan yang lainnya duduk di
kursi terdakwa. Tenang namun dihantui perasaan bersalah.
Saat ditanya, mereka menjawab. Saat
diam, mereka benar-benar diam.
“Kami gak tahu bakal kayak gitu…” Ia
mengulang kalimat itu lebih dari sekali.
Tapi itu tidak pernah cukup. Karena
yang terjadi—tidak bisa dibatalkan oleh penyesalan.
Majelis hakim mempertimbangkan
semuanya. Niat, tindakan dan dampak.
Dan satu hal yang tidak bisa
diabaikan—hasil akhirnya. Tujuh nyawa hilang.
Putusan akhirnya dibacakan. Para
pelaku dijatuhi hukuman mati. Tidak ada reaksi besar di ruang sidang. Tidak ada
sorak. Tidak ada kelegaan yang benar-benar terasa. Hanya diam. Seperti ada
sesuatu yang tetap tertinggal.
Hukum telah berjalan. Prosesnya pun
telah selesai. Namun tidak semua hal bisa benar-benar diselesaikan.
Rumah itu kini kosong
sepenuhnya—tidak ada lagi aktivitas, tidak ada lagi suara yang tersisa. Nadya
tidak pernah kembali untuk tinggal di sana. Ia memilih melanjutkan hidupnya di
tempat lain, menjalani terapi untuk perlahan menghadapi trauma yang tertinggal.
Ia tidak ingin rumah itu kembali dihuni, tidak ingin orang-orang datang hanya
untuk membicarakan luka yang belum benar-benar sembuh.
Ahmad pun memilih pergi. Ia
mengundurkan diri dan kembali ke kampung halamannya. Bukan karena melupakan,
tetapi justru karena terlalu mengingat. Ia telah terlalu lama menjadi bagian
dari rumah itu, mengenal setiap penghuninya, dan menyayangi mereka seperti
keluarga sendiri. Tinggal lebih lama hanya akan membuat luka itu semakin
dalam—bagi Nadya, dan juga bagi dirinya.
Ruang kecil di bawah tangga itu
tetap ada. Tertutup. Bukan untuk menyembunyikan sesuatu, melainkan karena tidak
ada lagi yang sanggup mengingatnya terlalu dalam.
Dan di luar semua itu, hidup tetap
berjalan.
Namun bagi sebagian orang, waktu
seakan berhenti di satu titik—di ruang sempit itu, di antara napas yang semakin
berat, dan harapan yang perlahan menghilang.
Keadilan memang telah dijatuhkan.
Tetapi apa yang mereka alami… tidak
pernah benar-benar berakhir.
