Daegu, Korea Selatan 2017
Pagi itu sama seperti pagi-pagi
sebelumnya: cahaya matahari Daegu yang pucat merembes perlahan dari celah tirai
kain murah di rumah kecil keluarga itu. Tidak ada yang spesial. Tidak ada
firasat buruk. Tidak ada tanda bahwa hari itu akan mencuri seluruh hidup
mereka.
Dong-ho (34 Tahun), dengan rambut acak-acakan dan mata sembab akibat tidur hanya empat jam, sedang berdiri di belakang Eun-seo (7 Tahun) yang duduk di kursi plastik kecil berwarna kuning. Rambut anak itu—hitam, lembut, sedikit kusut karena tidur gelisah—jatuh sampai bahunya seperti tirai tipis.
“Appa… cepat,” rengek Eun-seo
sambil menggoyang-goyangkan kaki mungilnya.
“Appa sedang berusaha,” jawab
Dong-ho dengan nada sungguh-sungguh, seolah mengerjakan operasi rumit.
Tangannya bergerak pelan,
hati-hati, mencoba mengikat rambut putrinya menjadi ekor kuda seperti
permintaan. Namun hasilnya belepotan, miring, dan bahkan rambut bagian kiri ada
yang menonjol keluar seperti antena kecil.
Eun-seo menoleh dan melihat
hasilnya di cermin kecil di meja. Ia terdiam satu detik—lalu cekikikan, menutup
mulutnya dengan telapak tangan mungil.
“Appa tidak akan pernah bisa rapi,”
katanya sambil tertawa.
Dong-ho ikut tertawa, sedikit malu.
“Appa sudah rapiin. Rambut kamu yang nakal.”
“Bohong,” Eun-seo mencubit kecil
pipi ayahnya.
Jina, sang ibu, memasukkan nasi
putih, telur gulung, dan dua potong kimchi ke dalam kotak bekal plastik. Ia
menatap dua manusia kesayangannya itu sambil tersenyum kecil; senyum yang lebih
seperti napas lega setelah melalui banyak hari berat bersama.
“Kalian seperti dua anak kecil,”
katanya.
“Aku bukan anak kecil,” Eun-seo
protes.
Dong-ho menunjuk ikat rambut yang
miring. “Kalau bukan anak kecil, rambutnya tidak akan melawan Appa.”
Eun-seo menjulurkan lidah.
Mereka bertiga tertawa kecil. Tawa
itu ringan, ringkih, tapi hangat. Tawa yang seharusnya bisa terus mereka dengar
bertahun-tahun ke depan—namun justru menjadi gema yang menghantui.
Jina (32 Tahun) menutup kotak bekal. “Hari ini
pulangnya jangan telat, hm? Besok kita mau ke pasar pagi-pagi.”
Dong-ho mengangguk sambil mengambil
jaket kerjanya. “Iya. Aku pulang cepat.”
Ia mengucapkannya seperti janji
paling sederhana. Tidak ada yang tahu kalimat itu akan menjadi semacam ironi
yang menyayat.
Eun-seo mengambil tasnya,
memasangkan sepatu kecil warna putih kesayangannya, lalu berdiri tegak. “Appa!
Lihat! Rambutku sudah tidak miring, Omma benerin.” Ia menunjuk ibunya dengan
bangga.
Jina memeluknya sebentar.
Dong-ho menepuk kepala
putrinya—bagian yang tidak diikat rambut. “Ayo kita pergi.”
Keluarga kecil itu melangkah keluar
dari rumah mungil di ujung gang. Tidak ada dialog dramatik. Tidak ada salam
perpisahan yang berat. Hanya pagi biasa, dengan bau sup rumput laut dari rumah
tetangga dan suara anak-anak berjalan menuju sekolah.
Pagi yang terlalu biasa untuk
menyadari bahwa itu adalah hari terakhir yang normal.
Jalan menuju sekolah hanya
sepanjang lima menit jika berjalan cepat. Tapi Dong-ho selalu memperlambat
langkah ketika bersama Eun-seo, seolah waktu akan menunggu jika ia cukup
lambat.
Gang di sekitar rumah mereka
sempit, dindingnya dipenuhi poster-poster kampanye old-school, tanaman pot
tetangga yang ditata seadanya, dan jemuran pakaian anak-anak. Udara musim semi
masih dingin, membuat napas mereka terlihat seperti asap kecil.
“Appa, nanti kalau aku besar,
rambutku panjang sekali. Sampai lutut,” kata Eun-seo tiba-tiba.
“Nanti Appa makin susah ngiketnya,”
Dong-ho menjawab sambil mengusap rambut putrinya.
Eun-seo menggeleng cepat. “Nanti
aku yang ngiket sendiri. Appa tinggal lihat.”
Dong-ho tersenyum. Ada sesuatu
dalam senyum itu—kebanggaan sederhana, dan cinta yang begitu besar untuk anak
kecil yang memegang tangannya.
Ketika mereka mencapai ujung blok,
Dong-ho berlutut agar tingginya sejajar dengan Eun-seo. “Sampai sini saja ya,
sayang. Appa harus ke pasar pagi ini.”
Eun-seo mengangguk, sudah terbiasa.
Namun hari itu, entah kenapa, ia menoleh bukan sekali. Ia melangkah sambil
melambaikan tangan kecilnya.
Pertama kali ia menoleh, ia
tertawa.
Kedua kali ia menoleh, ia tersenyum
lebih lebar, seolah menghafal wajah ayahnya.
Dong-ho membalas lambaian itu
sampai bayangan kecil putrinya hilang di belokan. Ia berdiri lama, lebih lama
dari biasanya, meski ia tidak tahu alasan kenapa dadanya tiba-tiba terasa
berat.
Kadang sebuah tragedi tidak
memberikan firasat. Hanya keheningan kecil yang tidak bisa dijelaskan.
Waktu bergerak seperti biasa. Jina
mencuci pakaian pelanggan; ia menerima jasa laundry rumahan. Dong-ho bekerja
mengantar sayuran dari pasar ke restoran kecil.
Tidak ada perubahan apa pun.
Hingga hari mulai gelap
pelan-pelan, dan angin sore bertiup dingin.
Jina berdiri di halte sekolah
dengan tas kain di tangannya. Orang tua lain berangsur pergi menjemput
anak-anak mereka. Satu demi satu. Dua demi dua. Hingga tempat itu hampir
kosong.
Ia mulai gelisah. Tapi ia mencoba
tetap rasional—mungkin Eun-seo main sebentar dengan teman. Mungkin ia ke
toilet. Mungkin ia berjalan pelan.
Tapi ketika guru datang keluar,
merapikan papan absensi, Jina mendekat.
“Seonsaengnim… Eun-seo belum keluar
ya? Saya tidak melihatnya.”
Guru itu menatapnya bingung.
“Eun-seo sudah pulang lebih dulu. Dia keluar bersama rombongan pertama.”
Jina merasa tenggorokannya
mengering. “Tidak mungkin. Dia selalu menunggu saya.”
Guru itu terlihat cemas. “Tadi saya
lihat dia jalan ke arah gerbang. Apakah… apakah dia tidak pulang ke rumah?”
Jina mencoba menelan ketakutannya.
“Saya… saya cek rumah dulu.”
Ia mulai berjalan cepat. Lalu
berlari. Dunia di sekelilingnya seperti bergerak lebih lambat dari langkahnya.
Pandangan matanya bergetar, napasnya pecah.
Ketika sampai di gang rumah, Jina
terpaku.
Di tanah, di tengah aspal yang
sedikit retak, tergeletak sesuatu yang sangat ia kenal.
Satu sepatu kecil warna putih.
Sepatu yang pagi tadi dipakai
Eun-seo. Sepatu yang ia bersihkan malam sebelumnya. Sepatu yang selalu dipuji
anaknya, “Ini sepatu favoritku, Omma.”
Namun hanya ada satu sepatu terbalik. Satunya lagi entah dimana.
Jina merasakan dunia mencengkeram
dadanya, seolah waktu menolak bergerak. Tangannya gemetar ketika menyentuh
sepatu itu. Dingin. Sedingin tubuh yang tidak seharusnya ditinggalkan
sendirian.
“Eun-seo…?” suaranya pecah, lebih
seperti bisikan.
Tidak ada jawaban. Hanya suara
angin yang berdesir di antara jemuran tetangga.
Detik itu, sesuatu dalam dirinya
runtuh. Ia tahu. Ia tahu ada sesuatu yang tidak semestinya.
Sementara itu, jauh dari sana,
Dong-ho sedang mengemudi, pikirannya sibuk dengan tagihan listrik dan rencana
kecil untuk libur akhir pekan. Ia bahkan belum tahu bahwa hidupnya sedang
bergeser, perlahan tapi pasti, menuju kegelapan yang tidak pernah ia bayangkan.
Dan sepatu kecil yang terbalik itu
berdiri sebagai saksi bisu—bahwa keluarga itu baru saja melangkah melewati
batas yang tidak bisa kembali.
Ruang kantor polisi malam itu
terang oleh lampu neon yang dingin. Bau kopi basi dan kertas lembap memenuhi
udara. Dong-ho masuk sambil menggenggam sepatu kecil putih itu, sementara Jina
meremas lengan jaket suaminya, tubuhnya gemetar tak terkendali.
Meja laporan dikelilingi
orang-orang yang menunggu giliran mengurus masalah masing-masing. Beberapa
terlihat bosan; beberapa terlihat lelah. Tidak ada yang terlihat panik seperti
pasangan itu.
Seorang petugas muda di balik meja
menoleh tanpa banyak ekspresi. “Ada yang bisa dibantu?”
Dong-ho menarik foto kecil dari
saku. “Anak saya… hilang. Namanya Eun-seo. Tujuh tahun. Dia tidak pulang sejak
siang.”
Petugas itu melihat foto itu
sekilas, lalu mengetik lamban. “Sejak jam berapa?”
“Sejak jam tiga sore. Kami sudah
tanya sekolah. Kami sudah cari keliling blok. Kami—”
Petugas mengangkat tangan,
menghentikan Dong-ho. “Pak, sesuai prosedur, laporan anak hilang baru bisa
diproses setelah lewat 24 jam.”
Jina mengangkat wajahnya, pucat dan
basah air mata. “Dua puluh empat jam? Anak kami baru tujuh tahun. Dia tidak
pernah pergi jauh!”
“Maaf, Bu. Tapi banyak kasus anak
pulang sendiri. Mungkin dia main ke rumah temannya.”
Dong-ho meremas sepatu kecil itu
lebih keras. “Eun-seo tidak akan pergi tanpa bilang. Lihat sepatu yang hanya sebelah ini! Ditemukan di jalan.” Suaranya pecah, tapi petugas itu hanya melirik.
“Kalau begitu, laporannya tetap
kami terima, tapi pencarian aktif baru bisa dimulai besok pagi.”
Jina menggeleng pelan, hampir
seperti anak kecil yang menolak kenyataan. “Besok sudah terlambat…”
Petugas itu tidak melihat matanya.
“Maaf, Bu. Banyak kasus yang harus kami tangani hari ini.”
Dong-ho ingin berteriak, ingin
membalik meja itu, ingin memaksa seluruh kota berhenti dan mencari anaknya.
Tapi ia menahan amarah itu menekan jantungnya.
Ia menandatangani formulir dengan
tangan yang gemetar.
Saat mereka pergi, tidak ada satu
pun polisi yang ikut berdiri. Tidak ada yang menenangkan. Tidak ada yang
berkata, “Kami akan temukan anak Anda.”
Kota itu terasa terlalu besar,
terlalu keras, dan terlalu tidak peduli.
Satumalam pertama menjadi neraka
yang tidak memberi jeda bernapas.
Dong-ho tidak tidur. Tidak makan.
Tidak pulang kecuali sekadar mengganti jaket. Ia berkeliling dari gang ke gang,
membawa senter kecil dan foto Eun-seo yang sudah mulai lembap karena hujan.
“Permisi… apakah Anda melihat anak
kecil ini? Rambut sebahu… tas warna pink… namanya Eun-seo…”
Sebagian orang menatap foto itu
dengan kasihan, tapi menggeleng. Sebagian lain bahkan tidak mau repot melihat.
Di tengah kota, orang hilang bukan
hal langka. Tapi bagi Dong-ho, itu seluruh dunianya.
Malam kedua, hujan turun deras.
Payungnya patah karena angin, tapi ia tetap berjalan. Rambutnya menempel di
dahinya, bajunya basah menyatu dengan tubuh. Kakinya memar karena terus
berlari.
Ia berteriak hingga suara seraknya
pecah:
“Eun-seo! Appa di sini! Jawab kalau
kamu dengar!”
Hujan meredam suaranya seperti
tirai tebal, menelan jeritannya. Air mengalir di wajahnya entah mana yang
hujan, mana yang air mata.
Di depan sebuah warung tutup, ia
terduduk. Kedua tangannya menutupi wajah. Setiap kali ia menutup mata, ia
melihat Eun-seo menoleh untuk kedua kali saat berangkat sekolah.
Seolah minta diingat lebih lama.
Seolah itu salam perpisahan kecil
yang tidak ia mengerti.
Tetapi ia bangkit lagi. Dan lagi.
Dan lagi.
Karena ayah yang mencintai anaknya
tidak punya pilihan lain.
Sementara Dong-ho berkeliaran di
kota, rumah kecil mereka berubah menjadi kuburan tanpa batu nisan.
Tidak ada tawa kecil Eun-seo. Tidak
ada lagu anak-anak yang biasa ia putar saat menggambar. Tidak ada “Omma, aku
lapar,” yang memenuhi sore.
Hanya keheningan yang menekan dada.
Gelang karet warna kuning milik
Eun-seo—yang ia dapat dari lomba kecil di sekolah—masih ada di meja ruang tamu.
Jina memegangnya setiap beberapa jam, lalu meletakkannya lagi dengan hati-hati,
seperti benda itu bisa pecah oleh sentuhan.
Ia tidak bisa tidur di kamar utama.
Ia pindah ke kamar Eun-seo. Ia
menggulung selimut anaknya di lantai, membiarkan kepalanya menempel pada karpet
kecil yang masih menyimpan sedikit bau shampoo buah-buahan.
Setiap malam, tatapannya kosong
menatap langit-langit.
Terkadang ia meraih boneka kelinci
kecil yang selalu menemani Eun-seo tidur. Boneka itu sudah usang, telinganya
robek sedikit, tapi Jina memeluknya erat, seolah bisa menggantikan tubuh
anaknya.
Jam dinding berdetak seperti palu
yang memukul jantungnya.
Satu jam.
Dua jam.
Tiga hari.
Keheningan panjang yang memakan
sebagian jiwanya.
Ia sering berbisik pada ruang
kosong:
“Eun-seo sayang… kamu takut ya?
Kamu dingin? Kamu lapar? Kamu sendirian?”
Tidak ada jawaban.
Dan itu membuatnya lebih hancur.
Pada hari kelima, telepon rumah
berdering. Suara laki-laki dewasa di seberang berkata cepat:
“Saya lihat anak seperti di foto
Anda di stasiun Daegu. Dia sendirian.”
Hati Dong-ho langsung melonjak. Ia
berlari keluar tanpa jaket, padahal salju tipis turun.
Tapi saat ia sampai di stasiun dan
bertanya pada petugas, semua menggeleng. Tidak ada anak yang cocok.
Telepon itu ternyata salah. Hanya
asumsi. Atau sekadar orang yang iseng ingin ikut campur.
Malam berikutnya, ada pesan masuk di ponsel Dong-ho: “Saya menemukan anak Anda.”
Disertai foto seorang anak kecil berdiri di gang gelap.
Tapi setelah diperbesar, foto itu editan.
Kepala Eun-seo ditempel di tubuh
anak lain.
Pengirimnya tidak bisa dilacak.
Dong-ho menatap foto itu lama, rasa
muak bercampur marah dan putus asa memenuhi dadanya. “Kenapa… kenapa ada orang
seperti ini…?”
Jina melihatnya dan langsung
menangis, memukul dadanya sendiri. “Kenapa mereka jahat sekali… kita hanya
ingin anak kita kembali…”
Polisi tidak membantu banyak.
Mereka bilang, “Kami akan cek,” tapi tidak ada kabar lanjutan.
Ketika Dong-ho meminta rekaman CCTV
dari warung dekat gang, pemilik berkata:
“Ah… CCTV saya rusak sudah dua
minggu. Saya belum perbaiki.”
Saat Dong-ho meminta rekaman CCTV
kota, polisi berkata:
“Prioritas hari ini ada di kasus
penculikan anak pejabat. Kami masih koordinasi. Mohon bersabar.”
Dong-ho hampir tertawa—tertawa yang pahit dan menyakitkan.
Anak pejabat hilang beberapa jam, seluruh kota bergerak.
Anaknya hilang hampir seminggu, dan berita pun tidak menulis apa-apa.
Ia merasa kota ini tuli.
Tuli terhadap jeritan orang kecil.
Tuli terhadap keluarga seperti
mereka.
Pada malam kedelapan, ketika semua
petunjuk palsu menumpuk menjadi gunung frustrasi, Dong-ho pulang dan menemukan
Jina duduk di meja makan, memegang sepatu kecil itu.
Ia menatap suaminya dengan mata
merah yang kehilangan cahaya.
“Apa kita akan… kehilangan dia
selamanya…?”
Dong-ho meraih wajah istrinya.
Tangannya dingin, gemetar. “Tidak, Jina. Tidak. Aku akan cari terus. Sampai
Eun-seo pulang. Aku janji.”
Air mata Jina jatuh ke sepatu kecil
itu.
Dan untuk pertama kalinya, Dong-ho
menunduk, bahunya bergetar, dan ia menangis seperti anak kecil—di hadapan istri
yang sedang hancur, di rumah yang kehilangan kehangatan, di kota yang tidak
mendengar jeritan mereka.
Kota yang terus bergerak tanpa
menoleh.
Kota yang menelan satu anak kecil
tanpa jejak.
Kota yang, bagi Dong-ho dan Jina, menjadi tempat paling sunyi di dunia.
Jina memotong rambutnya pada bulan
kedua. Bukan karena ingin, tapi karena ia tidak tahan melihat rambut
panjangnya—yang dulu sering dipegang Eun-seo saat ingin digendong—jatuh di bahu
tanpa ada tangan kecil yang menyentuhnya lagi. Rambut pendek itu membuatnya
tampak lebih tua, garis lelah di bawah matanya lebih jelas, dan suaranya lebih
pelan seperti seseorang yang belajar bicara dari awal.
Dong-ho melihat perubahan itu, tapi
ia tidak berani mengomentarinya. Takut salah. Takut membuat istrinya semakin
pecah.
Meja makan mereka seperti panggung
yang kehilangan pemeran utama. Kursi kecil yang dulu disiapkan khusus untuk Eun-seo masih ada, tapi selalu
kosong. Jina awalnya mencoba menggesernya ke sudut rumah, namun Dong-ho
diam-diam memindahkannya kembali. Setiap pagi. Setiap malam.
Mereka jarang makan bersama.
Jina tidak nafsu makan.
Dong-ho makan hanya karena tubuhnya
memaksa.
Pada bulan ketiga, mereka berhenti
bercakap-cakap kecuali hal penting. Kalimat mereka pendek, kaku, seperti dua
orang asing yang kebetulan tinggal di rumah yang sama.
Dong-ho mulai mengambil lembur
banyak-banyak. Ia berkata pada Jina itu untuk bayar cicilan, tapi dalam hatinya
ia tahu itu hanya alasan. Ia takut pulang. Takut bertemu rumah yang dingin.
Takut menghadapi foto-foto yang semakin pudar.
Rumah itu tidak lagi menjadi tempat
kembali.
Rumah itu adalah monumen
kehilangan.
Meski Jina mulai pasrah, Dong-ho
tidak pernah melepaskan obsesi menemukan anaknya.
Obsesi itu yang membuatnya tetap hidup.
Setiap malam, sebelum tidur,
Dong-ho masuk ke kamar anaknya.
Ia memeriksa boneka kelinci di
tempatnya.
Ia membersihkan buku mewarnai yang
sudah berdebu tipis.
Ia mengecek jendela.
Ia menyalakan lampu tidur.
Orang lain tidur untuk
beristirahat.
Dong-ho tidur untuk bermimpi—karena
di dalam mimpi, Eun-seo selalu kembali.
Jam pulang sekolah adalah waktu
tersulit.
Pada bulan keempat, Dong-ho mulai
pergi ke halte sekolah setiap hari sepulang kerja. Ia duduk di bangku panjang,
mengenakan jaket abu-abu yang mulai lusuh. Ia memandang trotoar yang dipenuhi
anak-anak lain yang berlarian, memanggil orang tua mereka, menyapa teman.
Terkadang, seorang guru melihatnya
dan memberi anggukan simpati.
Namun simpati tidak mengembalikan anak.
Di halte itu, Dong-ho tidak mencari
hal besar.
Ia hanya berharap—sedikit
saja—bahwa suatu hari, dari tikungan jalan, rambut sebahu dengan pita merah itu
muncul sambil berlari ke arahnya.
Harapan kecil yang kejam.
Di laci meja kerjanya, ada pita
rambut hijau yang dulu selalu dipakaikan Dong-ho pada Eun-seo setiap pagi.
Ikatannya selalu miring, tidak rapi, tapi Eun-seo selalu tertawa sambil
berkata, “Appa ini kok selalu miring, ya?”
Dong-ho menyimpan pita itu seperti
benda suci.
Kadang saat lembur, ia mengambil
pita itu dan mengikatnya di jarinya sendiri.
Bukan karena itu masuk akal.
Tapi karena mengikat sesuatu
membuatnya merasa seperti ia masih melakukan tugas seorang ayah.
Itu hal-hal kecil yang tidak ia
ceritakan pada Jina.
Bukan karena rahasia—tapi karena ia
tahu istrinya akan menangis lagi, dan ia tidak sanggup melihat itu.
Tahun itu tidak sunyi karena tidak
ada kabar.
Justru sebaliknya—ada beberapa
kabar yang muncul lalu hilang, meninggalkan luka baru.
Pada bulan keenam, seseorang
mengirim foto ke telepon Dong-ho: seorang anak kecil dengan pakaian lusuh di
terminal bus Daejeon. Dari kejauhan, rambutnya mirip Eun-seo.
Dong-ho langsung mengambil cuti dan
menempuh dua jam perjalanan.
Setibanya di terminal, ia mencari
anak itu.
Ia berlari dari satu sudut ke sudut
lain, menahan napas setiap kali melihat anak perempuan sebaya.
Tapi ketika ia menemukan anak itu…
Anak itu bukan Eun-seo.
Hanya anak gelandangan yang
kebetulan mirip dari jauh.
Ia pulang dengan tangan kosong,
langkahnya limbung.
Malamnya, Jina berkata pelan:
“Mungkin… mungkin Eun-seo sudah
tidak ada, Dong-ho…”
Ia menggeleng keras.
“Kita belum tahu. Belum ada bukti…”
“Setahun, Dong-ho… sudah hampir
setahun…”
“Tapi dia bisa bertahan. Eun-seo
anak kuat—”
“Itu kau yang ingin percaya!” Jina
menjerit, lalu langsung menutup mulutnya sendiri. Seolah ia takut kata-katanya
membunuh sesuatu yang rapuh di antara mereka.
Setelah itu, mereka tidak bicara
selama tiga hari.
Pada bulan kesembilan, di pasar
malam distrik Geomdan, seorang pedagang berkata:
“Aku lihat anak persis foto ini
kemarin. Dia sama laki-laki tua.”
Dong-ho hampir pingsan
mendengarnya.
Tapi ketika ia meminta rekaman
CCTV, polisi hanya berkata:
“CCTV toko itu rusak.”
Seperti setahun sebelumnya, selalu
rusak.
Selalu tidak ada bukti.
Harapan selalu diberikan tanpa
dasar, lalu dirampas lagi.
Setiap petunjuk palsu menghancurkan
mereka sedikit demi sedikit.
Jina mulai pasrah.
Tetangga-tetangga mulai berhenti
bertanya.
Hanya Dong-ho yang tetap berjalan
setiap malam, menyusuri gang tempat sepatu Eun-seo ditemukan.
Ia berdiri lama di sana, mengingat detail yang sudah ia ulang seribu kali.
Kadang ia bertanya pada dirinya
sendiri:
“Apa aku ayah yang buruk? Apa aku
yang membuatnya hilang? Apa aku… penyebabnya?”
Tidak ada jawaban.
Hanya angin dingin yang melintas.
Ulang tahun Eun-seo jatuh pada
musim dingin, bulan ke dua belas setelah ia hilang.
Hari itu, rumah mereka lebih sunyi dari biasanya, seakan waktu sengaja
memperlambat diri untuk menyakiti mereka lebih lama.
Dong-ho membeli kue kecil
strawberry—favorit Eun-seo.
Ia menyalakan satu lilin kecil.
Ia duduk di meja makan seorang
diri.
Tidak ada nyanyian.
Tidak ada tawa bocah.
Tidak ada tangan kecil yang tepuk
tangan kegirangan.
Ia menulis surat pendek di selembar
kertas:
“Eun-seo sayang, Appa belum bisa
menemukamu. Tapi Appa akan terus mencari, berapa pun lamanya. Maaf jika kamu
menunggu sendirian. Appa masih di sini. Appa tidak pergi.”
Ia melipat surat itu dan
memasukkannya ke dalam kotak pensil mini milik Eun-seo di kamarnya.
Sementara itu, Jina berdiri di
dapur, menahan suara isaknya dengan menggigit bibir.
Ia tahu Dong-ho menulis surat.
Ia tahu suaminya masih percaya.
Dan itu membuat hatinya lebih
sakit—karena ia merasa keyakinan itu hanya akan menghancurkan
Dong-ho lebih keras suatu hari
nanti.
Jina menutup mulutnya dengan kedua
tangan ketika suara patah dalam dirinya mulai keluar. Air matanya jatuh ke lantai, menetes satu-satu seperti detik jam yang menua.
Ia tidak ingin Dong-ho melihatnya.
Ia tidak ingin menambah beban.
Tapi ia juga tidak bisa
menghentikan rasa sakit yang menggerogoti dari dalam.
Setahun telah lewat.
Foto Eun-seo di ruang tamu memudar terkena sinar matahari dari jendela. Kamar anak itu berdebu meski Dong-ho bersihkan setiap minggu. Buku gambarnya membengkok, warnanya kusam.
Pita rambut di laci masih ada, tapi baunya sudah hilang. Waktu tidak
menyembuhkan mereka. Waktu mengikis.
Hari demi hari, lingkar mata Jina
menggelap, pundaknya menunduk, langkahnya lambat. Hari demi hari, Dong-ho menua
lebih cepat dari seharusnya.
Setahun itu bukan masa penyembuhan.
Itu adalah masa kehilangan berkali-kali. Setiap hari, mereka kehilangan bagian
lain dari diri mereka.
Dan setahun itu mengantar mereka ke
ambang paling sunyi—ambang di mana sebagian orang akhirnya menyerah.
Tapi tidak bagi Dong-ho.
Tidak untuk ayah yang masih menyalakan
lampu kamar kecil setiap malam.
Tidak untuk ayah yang masih duduk di halte setiap sore.
Tidak untuk ayah yang masih memegang foto anaknya meski warnanya mulai pudar.
Ia tetap berdiri.
Sendirian.
Menantang kota yang tidak
mendengar.
Karena cinta ayah kadang bukan
tentang harapan.
Kadang itu tentang keras kepala.
Tentang tidak rela.
Tentang menolak menyerah meski
seluruh dunia sudah putus asa.
Hujan turun pada hari ke-372 sejak
Eun-seo hilang. Hujan yang sama yang turun malam pertama Dong-ho berlari di
gang-gang kota sambil membawa foto putrinya. Hujan yang sama yang, bagi Jina,
selalu terasa seperti pengingat bahwa langit pun ikut menangis.
Pukul 21.17, telepon rumah
berdering.
Tidak ada yang pernah menelpon jam
segitu. Semua orang sudah berhenti menanyakan kabar. Dunia sudah diam. Waktu
sudah mengubur harapan mereka setebal debu di atas bingkai foto Eun-seo.
Dong-ho mengangkat dengan suara
lelah, “Yoboseyo…?”
Suara dari seberang terdengar
formal tapi terguncang:
“Pak Lee Dong-ho? Kami dari
kepolisian… kami menemukan seorang anak… kami percaya itu Eun-seo.”
Waktu berhenti.
Darah berhenti mengalir.
Suara itu masuk tetapi tidak
diproses oleh otaknya.
“Pa—Pak? Anda masih di sana?”
Jina, yang sedang mencuci beras
untuk makan malam sederhana, menatap suaminya. Pipinya memucat. Tubuhnya mulai
gemetar.
“Eun-seo…?” bisik Jina. “Katakan
sesuatu, Dong-ho… apa mereka bilang… apa…?” Suaranya pecah.
Dong-ho menjawab dengan suara yang
tidak seperti miliknya sendiri. Terputus-putus. Retak.
“Di—di mana? Di mana anak saya?”
Polisi menjelaskan: rumah kosong di
pinggiran kota, laporan warga karena mendengar suara lirih dari loteng. Anak
perempuan, kurus, kotor, tampak ketakutan. Tidak ada orang dewasa di lokasi.
“Kami membawa dia ke Daegu Fatima Hospital…
tolong datang sekarang.”
Jina jatuh berlutut. Tubuhnya tidak
kuat menopang kabar yang seharusnya menjadi kebahagiaan tetapi malah terdengar
seperti kalimat asing, seperti keajaiban yang terasa tidak nyata.
Dong-ho meraih jaketnya, namun
tangannya gemetar hebat. Ia tidak pernah siap untuk sebuah keajaiban setelah
setahun tenggelam dalam kegelapan.
Saat mereka berlari keluar rumah,
lampu kamar Eun-seo — lampu yang Dong-ho NYALAKAN setiap malam — masih menyala.
Seperti menunggu pemiliknya
kembali.
Koridor rumah sakit selalu memiliki
bau antiseptik yang menusuk. Tapi malam itu, bagi Dong-ho, aroma itu lebih
seperti bau ketakutan.
Dokter mengantar mereka ke sebuah
ruangan kecil dengan cahaya lampu yang lembut. Ketika pintu terbuka, dunia
Dong-ho langsung hancur untuk kedua kalinya.
Di sudut ruangan, duduklah seorang
anak kecil.
Kurus. Rambutnya kusut panjang dan
kotor. Pipi kirinya memar kekuningan. Bibir pecah. Lututnya lecet. Ia memeluk
bantal rumah sakit seolah itu satu-satunya perisai dari dunia.
Eun-seo.
Tapi bukan Eun-seo yang ia kenal.
Jina menutup mulut, menahan jeritan
yang hampir keluar.
Dong-ho melangkah perlahan. Langkah
pertamanya terasa seperti menginjak pecahan kaca. Ia tidak berani berlari. Ia
tidak berani bersuara keras. Takut anak itu akan hilang lagi… atau retak
berkeping-keping.
“E…Eun-seo?” suaranya bergetar.
Anak itu mengangkat wajahnya.
Mata itu… mata besar yang dulu
selalu berkilau ketika melihatnya… kini terlihat kosong. Tidak fokus. Seperti
mata seseorang yang hanya bisa melihat bahaya, bukan cinta.
Ketika Dong-ho mendekat lagi,
Eun-seo refleks mundur ke pojok. Tubuhnya kaku. Ia memeluk bantal lebih kuat,
wajahnya pucat ketakutan.
“Appa…” suara Dong-ho patah. “Ini
Appa, sayang.”
Tidak ada reaksi.
Tidak ada pengakuan.
Tidak ada cahaya yang kembali di
mata itu.
Jina mencoba mendekat sambil
menangis, tapi Eun-seo langsung menjerit lirih—suara yang tidak seperti anak
kecil normal, lebih seperti suara hewan kecil yang takut dipukul. Ia menutupi
kepala dengan kedua tangan.
Perawat menghentikan Jina dengan
lembut.
“Dia… sensitif terhadap sentuhan.
Trauma berat.”
Jina mundur sambil terisak. “Tapi…
aku ibunya… aku hanya—aku hanya ingin memeluk dia…”
Dong-ho menahan pundaknya, meski
dirinya sendiri hampir roboh.
Pada titik itu, mereka menyadari sesuatu yang menyayat hati:
Eun-seo yang kembali bukanlah Eun-seo yang pergi.
Malam itu mereka berada bersama
Eun-seo selama beberapa jam di rumah sakit. Tidak banyak yang bisa dilakukan
selain menatap dari jarak aman.
Suatu kali, suara mobil dari luar
jendela terdengar keras.
Eun-seo membeku.
Matanya melebar.
Ia langsung menutup telinga dengan
kedua tangan dan merunduk di sudut. Tubuhnya bergetar hebat.
Dong-ho berdiri, ingin memeluknya,
ingin menjadi perisai… tetapi takut menyakiti.
“Tidak apa, Nak… tidak apa…”
katanya lirih, mencoba menenangkan sambil menahan air mata.
Tapi Eun-seo tidak melihat. Ia
tidak mendengar. Ia tersesat di dunianya sendiri.
Dokter menjelaskan perlahan,
“Sepertinya ia mengalami complex trauma. Suara tertentu memicu ingatan
buruk.”
Dong-ho menggenggam rambutnya
sendiri, frustrasi, marah, benci pada dunia, benci pada dirinya yang gagal.
Eun-seo bicara sedikit, hanya
dengan bisikan. Kata-kata tidak jelas. Kadang ia hanya membuka mulut tanpa
suara, seolah kata-katanya hilang entah ke mana.
Ketika Jina mencoba memberi minum,
tangan kecil Eun-seo menepis gelas itu. Ia menatap Jina seperti menatap orang
asing yang berbahaya.
Jina jatuh terduduk sambil
menangis, “Dia tidak kenal aku, Dong-ho… dia tidak kenal aku…”
Dong-ho tidak bisa berkata apa pun.
Satu-satunya hal yang ia lakukan
malam itu adalah duduk di lantai, perlahan mendekat, dan mencoba melakukan hal
yang ia lakukan setiap pagi setahun lalu.
Ia mengeluarkan pita rambut kecil
yang selalu ia bawa di saku—pita merah muda dengan pola bunga yang Eun-seo
suka.
Pita itu kusut dan warnanya
memudar.
Dong-ho mengangkatnya sedikit,
menunjukkan dari jarak aman.
“Hari ini Appa tidak akan mengikat
rambutmu,” katanya, suara pecah, “Tapi Appa… Appa tetap simpan ini, Nak. Appa
tetap tunggu kamu.”
Eun-seo menatap pita itu beberapa
detik.
Tidak mengambilnya.
Tidak mengenali.
Tidak tersenyum.
Ia hanya menatap… lalu memalingkan
wajah perlahan seolah cahaya itu terlalu menyilaukan.
Dong-ho tersenyum tipis, senyum
paling menyakitkan dalam hidupnya.
“Tidak apa… Appa tunggu sampai kamu
siap.”
Dan di saat itulah dunia—menyadari betapa besar cinta seorang ayah yang hampir tidak tersisa apa
pun kecuali kesetiaan buta kepada putrinya.
Beberapa jam setelahnya, Eun-seo
tertidur di ranjang rumah sakit. Bahkan dalam tidur, ia menggenggam bantal
keras-keras, seperti seseorang yang pernah kehilangan segalanya dan takut
kehilangan satu benda terakhir yang ia pegang.
Dong-ho mengamati wajah anaknya.
Luka kecil di pipinya.
Bekas lecet lama di lengan.
Kuku yang patah.
Bibir yang pecah.
Kulit yang pucat karena kurang
makan.
Mata panda di bawah mata kecil itu.
Jina menyibak rambut anaknya
perlahan, tapi gerakan sekecil itu pun membuat Eun-seo meringis dan menggeliat
dalam tidur, seolah disentuh berarti disakiti.
“Dia… menderita selama ini…” Jina
menahan isak.
Dong-ho tidak menjawab. Ia tidak
bisa.
Setahun penuh ia menangis karena
ketiadaan.
Kini ia menangis karena kehadiran
yang berubah menjadi luka.
Setahun ia mencari suara tawa
anaknya.
Kini yang ia dapat hanya keheningan
yang lebih menyakitkan.
Setahun ia berharap anaknya pulang.
Kini ia sadar sesuatu yang lebih
buruk:
Anak itu pulang… tetapi sebagian
jiwanya tertinggal di tempat yang tidak pernah mereka ketahui.
Dong-ho menaruh pita kecil itu di
ujung ranjang, tidak memaksakan apa pun.
Ia tahu.
Ia paham.
Ia siap.
Ia akan menunggu selama apa pun.
Ketika perawat mematikan lampu
ruangan, kamar hanya diterangi cahaya remang biru.
Dong-ho menggenggam tangan Jina
yang gemetar, dan untuk pertama kalinya dalam setahun, ia biarkan air matanya
jatuh tanpa ditahan.
Bukan karena kehilangan.
Bukan karena putus asa.
Tapi karena sesuatu yang jauh lebih
perih:
Keajaiban itu datang terlambat, dan
pulang dalam keadaan hancur.
Dan kini ia harus belajar mencintai
putrinya sekali lagi—dengan cara yang jauh lebih sunyi, lebih sabar, dan lebih
menyayat hati.
Hari itu, udara di Daegu terasa
berat dan dingin, meski kalender menunjukkan awal musim semi. Langit berawan,
seolah-olah cuaca ikut menahan napas, menunggu sesuatu yang tidak ingin
terjadi.
Polisi mendatangi rumah sakit pagi-pagi sekali. Dua detektif berdiri di depan pintu kamar Eun-seo dirawat, wajah mereka datar tapi mata mereka tampak “menghindar” setiap kali
bertemu pandang dengan Dong-ho dan Jina. Dong-ho langsung tahu sesuatu yang buruk—atau mungkin sesuatu
yang baik—telah terjadi. Tapi ia tidak tahu mana.
“Pak Lee Dong-ho,” ucap Detektif
Han Min-woo dengan suara yang hati-hati, “kami telah menangkap seorang pria…
kemungkinan besar pelaku penculikan Eun-seo.”
Jina langsung menutup mulutnya
dengan kedua tangan. Tubuhnya bergetar.
Dong-ho hanya membeku.
Detektif itu melanjutkan, “Dia
mengaku… bahwa dia hanya ingin ‘menjaga’ Eun-seo. Ia mengatakan… anak Anda
mengingatkannya pada adiknya yang meninggal saat kecil.”
Jina terisak. “Itu… alasan apa? Itu
apa…?” suaranya patah.
Detektif Han melanjutkan, ada nada
malu dalam intonasinya.
“Pelaku, Jang Seung-mo, 41 tahun.
Tidak punya riwayat kriminal. Tinggal sendirian di rumah ayahnya yang sudah
kosong. Ia pernah menjalani perawatan psikologis ringan karena depresi setelah
kematian adiknya lima belas tahun lalu. Ia… mengatakan ia tidak bermaksud
melukai. Hanya… tidak mampu melepaskan.”
Dong-ho menutup mata. Rahangnya mengeras.
“Dia mengatakan begitu.”
Detektif Han menunduk. “Secara
hukum… motif itu tidak membuat hukuman berat otomatis.”
Jina berjalan mundur hingga
punggungnya menabrak dinding.
“Jadi… orang seperti itu boleh
menyekap anak kami setahun… hanya karena trauma masa lalu?!”
Detektif Han menarik napas. “Itu
akan diputuskan di pengadilan. Tapi… ada kemungkinan ia mendapat keringanan
hukuman karena kondisi psikologisnya.”
Langkah kecil dari kamar
terdengar—Eun-seo terbangun oleh suara keras, lalu menutup telinga rapat-rapat
sambil menggigil. Ayahnya refleks ingin menggendongnya, tapi Eun-seo mundur
ketakutan. Dong-ho berhenti di tempat, menelan luka yang seperti tulang patah
di dada.
Dan pagi itu, ketika pelaku ditahan
dan dibawa untuk diperiksa, tidak ada satu pun dari keluarga itu yang merasa
lega.
Karena tidak ada hukuman yang
mungkin cukup.
Tidak ada alasan yang mungkin masuk
akal.
Tidak ada dunia yang tampak adil.
Pengadilan diadakan tiga minggu
setelah penangkapan. Gedung pengadilan distrik itu dingin dan berbau kertas
lembap, neon, dan birokrasi.
Dong-ho duduk diam di bangku
panjang, memegang sepatu kecil Eun-seo—sepatu yang ditemukan terbalik di
jalan setahun silam. Sepatu itu kini kusam, solnya kotor, sudah tidak muat lagi
untuk kaki kecil putrinya yang tumbuh selama setahun tanpa mereka.
Tapi sepatu itu simbol.
Satu-satunya hal yang ia pegang
ketika dunia berhenti peduli.
Eun-seo tidak dibawa hadir. Dokter
bilang kondisi psikisnya belum stabil. Jina berada di sebelah suaminya, tangan
gemetar namun berusaha menahan diri agar tidak pecah sebelum waktunya.
Pelaku, Jang Seung-mo, masuk ruang
sidang dengan wajah pucat dan mata kosong. Bukan karena menyesal. Lebih seperti
seseorang yang tidak benar-benar memahami betapa besar kerusakan yang telah ia
timbulkan.
Pengacaranya berbicara panjang
lebar:
“Klien kami tidak berniat
menyakiti. Ia mengalami episode psikologis karena trauma masa lalu. Ia hanya
ingin melindungi anak itu. Tidak ada kekerasan fisik berat, tidak ada
pelecehan. Hanya penyekapan. Klien kami merasa anak itu adalah adiknya yang
dulu ia gagal lindungi.”
Hanya penyekapan.
Kata itu membuat Jina menutup
wajahnya. Dong-ho menunduk, seolah kata itu seperti tangan yang memukul
dadanya.
Jaksa mencoba memperjuangkan
hukuman lebih berat, tetapi terus dipotong:
“Tidak ada bukti kekerasan
seksual.”
“Tidak ada luka permanen pada
tubuh.”
“Korban masih hidup.”
“Pelaku memiliki gangguan mental
ringan.”
“Perbuatan terjadi tanpa motif
kejahatan seksual atau finansial.”
“Pelaku kooperatif dan mengaku.”
Setiap kalimat itu seperti memotong
sedikit demi sedikit harapan keluarga itu untuk keadilan.
Dan saat hakim membacakan putusan,
ruang itu menjadi lebih dingin daripada luar:
“Terdakwa dijatuhi hukuman dua
tahun penjara, dengan masa percobaan empat tahun, mengingat kondisi mental dan
penyesalan terdakwa.”
Jina menegang.
Dong-ho berhenti bernapas beberapa
detik.
Dua tahun.
Dengan masa percobaan.
Artinya… pelaku hanya perlu
menjalani sebagian kecil lalu bisa
kembali ke kehidupan normal.
Sementara Eun-seo… bahkan belum
bisa duduk tanpa ketakutan.
Belum bisa mengenali suara ayahnya.
Belum bisa tidur tanpa mimpi buruk.
Belum bisa hidup seperti anak-anak
lain.
Ketika persidangan usai, para
pengunjung keluar seperti biasa—seperti ini hanyalah kasus yang lewat, file
yang ditutup. Sementara dunia keluarga kecil itu hampir roboh.
Dong-ho duduk di lorong yang sunyi, di bangku kayu yang keras.
Ia menunduk, memegang sepatu kecil itu erat-erat di dada.
Sepatu itu dingin.
Terasa lebih nyata daripada suara
hakim tadi.
Lebih nyata daripada rasa sakit
yang tidak bisa ia keluarkan.
Ia menatap sepatu itu lama sekali,
seolah-olah dengan cukup menatap, ia bisa memindahkan penderitaan Eun-seo ke
dirinya. Seolah dengan memeluk sepatu itu, ia bisa mengembalikan waktu ke pagi
terakhir ketika ia mengikat rambut anaknya dengan jelek dan miring.
Detektif Han berdiri jauh beberapa
meter, memandangnya dari ujung lorong. Ada rasa bersalah yang berat di
wajahnya, tapi ia tahu tidak ada kata-kata manusia yang cukup dalam untuk
menolong hari itu.
Dong-ho tidak berteriak.
Tidak marah.
Tidak memaki.
Kesedihan ayah itu terlalu sunyi
untuk suara apa pun.
Ia hanya duduk, memeluk sepatu
anaknya, tatapannya kosong seperti seseorang yang baru saja kehilangan cahaya
kedua kalinya.
Karena keadilan yang ia harapkan…
ternyata tidak ada.
Dan di dalam hatinya, sesuatu yang
rapuh patah hening-hening.
Jina awalnya berusaha berdiri
tegar. Berusaha bernapas. Berusaha menerima kenyataan. Tapi ketika hakim keluar
ruangan dan pintu pengadilan ditutup, ia tidak bisa lagi menahan semuanya.
Ia menampar meja kayu persidangan
sekuat tenaga.
“Anak saya! Setahun! SETAHUN! Dia…
dia dikurung seolah bukan manusia!”
Hakim berhenti sebentar di pintu,
namun tidak menoleh.
Petugas pengadilan menghampiri,
tapi Jina tak bisa dihentikan.
“Apa kalian tahu dia menangis
setiap malam? Apa kalian tahu… dia tidak mengenali ayahnya sendiri?! Apa kalian
tahu… dia menutup telinganya kalau ada suara sepeda motor lewat? Apa kalian
tahu… dia tidak mau disentuh karena takut… takut…?!!”
Suara Jina pecah berkeping-keping.
“Dua tahun? Dua tahun? Lalu dia
keluar… dan hidup normal? Sementara anak saya… bagaimana? Bagaimana anak saya
hidup?!”
Petugas mencoba menenangkan, tapi
Dong-ho akhirnya bangkit, memeluk istrinya dari belakang.
Jina merosot, menangis dalam
pelukan suaminya, tubuhnya seperti kain basah yang tidak punya kekuatan lagi.
Dalam tangisannya, ia berbisik
dengan suara paling patah yang pernah keluar dari dirinya:
“Kenapa dunia jahat sekali pada
anak kita, Dong-ho…? Kenapa dunia jahat sekali…?”
Dong-ho menunduk, memeluk istrinya
lebih erat.
Ia tidak menjawab.
Karena ia tahu, apa pun yang ia
katakan, tidak akan mengubah kenyataan bahwa dunia memang kejam.
Bahwa ada orang yang membiarkan
keadilan berlubang.
Bahwa anak mereka mungkin selamat,
tapi tidak kembali utuh.
Bahwa cinta mereka sebagai orang
tua harus lebih besar daripada luka yang terus disodorkan.
Lorong pengadilan itu sunyi.
Dan sunyi itulah yang terasa paling
menyakitkan.
Hari-hari setelah Eun-seo
dipulangkan adalah hari-hari yang seperti berjalan miring; tidak pernah lurus,
tidak pernah stabil. Matahari terbit, tetapi rumah itu tetap gelap — bukan
karena lampu dimatikan, melainkan karena cahaya sudah tidak lagi berani masuk.
Eun-seo tidak mau keluar rumah.
Tidak mau keluar kamar.
Kata “keluar” baginya berarti
“hilang lagi”, dan tubuhnya menolak itu.
Setiap pagi, ayah mendengar bunyi
kecil gesrek… gesrek… dari dalam kamar Eun-seo. Ia tahu suara itu: kursi
kayu yang diseret pelan, disandarkan tepat di balik pintu. Penghalang darurat.
Cara seorang anak lima tahun
bertahan hidup.
Saat pertama kali melihatnya, ayah ingin menyingkirkan kursi itu, mengatakan, “Nak, rumah kita aman.”
Tapi ia tidak punya keberanian untuk merampas satu-satunya cara anaknya merasa
selamat.
Jadi ia biarkan.
Setiap malam, tepat pukul sembilan,
setelah memastikan jendela terkunci dan tirai tertutup rapat, ayah mengambil
bantal tipis dan selimut kecil, lalu duduk bersandar di depan pintu kamar itu.
Ia tidak lagi tidur di kamar utama. Bahkan sofa ruang tamu sudah lama tidak
disentuh.
Tempat tidur favoritnya saat ini adalah lantai
dingin depan pintu kamar Eun-seo.
Suara napas Eun-seo yang sangat
pelan dari balik pintu itulah satu-satunya bukti bahwa dunia tidak benar-benar
runtuh.
Kadang, tengah malam, gadis kecil
itu menangis dalam mimpi—tapi tangisnya tidak pernah bersuara. Hanya cegukan
tercekik, seperti seseorang yang ditutup mulutnya terlalu lama sehingga
tubuhnya belajar menangis tanpa bunyi.
Ayah mendengar semuanya.
Dan setiap kali itu terjadi, ia
menempelkan telapak tangannya perlahan ke permukaan pintu.
“Nak… Appa di sini,” bisiknya.
Bukan keras—hanya napas tipis, seperti angin lewat.
Seringkali Eun-seo terdiam.
Kadang, ada satu ketukan kecil… tok…
tok…
Seolah ia menjawab: “Jangan
pergi.”
Dan ayah tidak pernah pergi.
Ia tetap di sana, sampai matahari
pagi mengintip.
Di dalam rumah yang tidak lagi
sama, hanya satu hal berubah menjadi rutinitas yang tak tergoyahkan: Ayah menjaga pintu seperti menjaga jantungnya sendiri.
Cinta ayah tidak pernah bising.
Sejak Eun-seo pulang, ia memastikan
setiap hari dipenuhi dengan kebaikan kecil—meski tidak satu pun dibalas.
Pagi-pagi, sebelum ibu bangun, ia
menyiapkan susu hangat.
Ditaruh di depan pintu kamar. Tidak
pernah memaksa.
Hanya menunggu sampai suhu susu
berubah dari hangat, menjadi suam, lalu dingin, lalu tidak tersentuh.
Kadang Eun-seo meminumnya dua
teguk. Kadang tidak sama sekali.
Ayah selalu membawa kembali gelas
itu dengan senyum kecil, seolah dua teguk itu adalah mukjizat.
Setiap malam sebelum tidur, ia
duduk di lantai depan pintu, membuka sebuah buku dongeng. Ia tahu Eun-seo tidak suka suara keras, jadi ia membacanya pelan, sangat pelan,
hampir seperti gumaman.
“Pada suatu hari… seekor kelinci
kecil kehilangan jalannya…”
“Ada seorang gadis pemberani yang
mencari cahaya…”
“Seekor burung kecil takut terbang
lagi…”
Kadang Eun-seo tidak memberi
reaksi.
Kadang, ayah mendengar bunyi napas
sedikit lebih lembut, seperti anak itu mendengar tanpa mendengarkan.
Itu cukup.
Ketika buku ditutup, ia berkata,
“Selamat tidur, Nak,” dengan suara paling lembut yang pernah ia gunakan seumur
hidupnya.
Pernah suatu sore, Eun-seo keluar
dari kamar sebentar. Rambutnya berantakan, kusut, seolah hanya pernah disentuh
rasa takut.
Ayah mendekat, membawa sisir kecil
berwarna biru muda, sisir kesukaan Eun-seo sebelum ia hilang.
“Nak… Appa sisir, ya?”
Anak itu menoleh sebentar—lalu
menepis tangan ayah dengan spontan, panik.
Gerakannya kecil, tapi penuh
ketakutan mentah.
Sisir jatuh ke lantai.
Ibu terisak.
Ayah hanya tersenyum.
Ia menunduk, mengambil sisir itu,
dan berkata, “Tidak apa, Nak. Appa tidak akan memaksa.”
Sejak itu, setiap beberapa hari, ia
tetap mencoba. Menyisir perlahan, hanya ujung rambut, atau kadang tidak
menyentuh sama sekali—hanya gerakan udara.
Menunggu keajaiban kecil yang
mungkin butuh bertahun-tahun.
Cinta ayah bukanlah usaha untuk
disadari.
Cinta itu adalah memilih tetap
tinggal, meski ditolak ribuan kali dengan alasan ketakutan yang tidak pernah ia
pahami sepenuhnya.
Sore itu, langit Daegu berwarna
jingga pudar. Ibu sedang mencuci baju, ayah membereskan mainan lama yang mereka
keluarkan dari gudang, berharap salah satunya dapat membuat Eun-seo merasa
aman.
Tiba-tiba pintu kamar terbuka
sedikit.
Eun-seo keluar pelan, membawa
kertas putih dan kotak crayon kecil.
Ia duduk di ruang tamu tanpa
berkata apa-apa.
Hanya menggambar.
Ayah tidak berani mendekat.
Ia hanya menonton dari jauh,
jantungnya berdebar tidak karuan, seperti menyaksikan sesuatu yang suci.
Eun-seo menggambar
lingkaran-lingkaran kecil, garis tipis, warna-warna lembut.
Setelah selesai, ia bangkit,
berjalan perlahan ke arah ayah, lalu meletakkan gambar itu di meja kecil.
Ia tidak mengatakan sepatah kata
pun.
Kemudian kembali ke kamar. Kursi
diseret lagi, menutup pintunya.
Ayah menunggu suara itu berhenti, baru kemudian ia menyentuh kertasnya.
Tangannya bergetar.
Gambar itu menunjukkan empat hal:
Ibu — dengan senyum kecil.
Eun-seo — dengan rambut pendek sebahu.
Seekor kelinci — mungkin boneka
lamanya.
Dan Ayah — tubuhnya digambar utuh,
tetapi wajahnya kosong, hanya lingkaran putih.
Tidak ada mata.
Tidak ada hidung.
Tidak ada mulut.
Bagian yang seharusnya menjadi
wajah hanyalah ruang kosong tanpa identitas.
Ayah menatapnya lama, lama sekali.
Jantungnya terasa diremas dari
dalam.
Tetapi kemudian… ia tersenyum.
Senyum yang patah.
Senyum yang lebih mirip luka.
Ia memeluk kertas itu ke dadanya.
Sangat hati-hati, seolah memeluk Eun-seo.
Pelan ia berkata,
“Tidak apa, Nak… Tidak apa. Appa
akan buat kamu mengenal wajah Appa lagi. Pelan-pelan. Semampumu.”
Katanya dengan suara yang hampir
tidak terdengar.
Tidak ada air mata.
Hanya getaran kecil di ujung
bibirnya.
Ibu melihat itu dari dapur, lalu
mendekap mulutnya sendiri agar tidak menangis.
Karena ia tahu: Anaknya masih
mengingat tubuh ayahnya, tapi tidak mengingat cintanya.
Dan itu lebih menyakitkan daripada
apa pun.
Malam itu sunyi seperti kota sedang
menahan napas.
Daegu bergerak seperti
biasa—lampu-lampu toko, suara bus jauh di luar jendela, orang-orang yang
tertawa di jalan seolah dunia tidak sedang patah di rumah kecil itu.
Di dalam rumah, lampu kamar Eun-seo
menyala seperti biasa.
Ia tidak bisa tidur dalam gelap.
Gelap baginya sama dengan
penyekapan.
Ayah duduk bersandar pada pintu
kamar, selimut tipis di pangkuannya, dan di tangannya — sepatu kecil warna
merah muda milik Eun-seo.
Sepatu itu sudah kekecilan, sudah
tidak layak dipakai.
Tapi itu satu-satunya benda yang
menyatukan masa lalu dan masa kini tanpa memaksa.
Ia mengusap sepatu itu perlahan,
seperti mengusap kepala anaknya yang sekarang tidak berani disentuh.
Ibu tidur lebih awal; kelelahan
emosional membuat tubuhnya rapuh.
Jadi hanya ayah di lorong itu,
ditemani lampu kamar yang menyembur cahaya tipis dari bawah pintu.
“Kau tahu, Nak…” Suara ayah
pecah—bukan menangis, hanya goyah. “Apa pun yang kamu butuhkan… Appa ada di
sini.”
Tidak ada jawaban.
Hanya bunyi napas lembut dari balik
pintu.
Ayah melanjutkan,
“Walau kamu tidak memanggil Appa
lagi…” Ia menunduk, memegang sepatu itu lebih erat. “… Appa tetap di sini.
Sampai kamu tidak takut lagi.”
Kalimat itu menggantung di udara,
lalu jatuh dengan pelan.
Tidak ada dramatisasi.
Tidak ada keajaiban tiba-tiba.
Hanya seorang ayah, duduk
sendirian, menjaga pintu yang memisahkannya dari anak yang sangat ia cintai.
Di luar rumah, angin malam
bergerak.
Rumah-rumah tetangga memadamkan
lampu.
Kota perlahan tidur.
Tapi lampu kamar Eun-seo tidak
pernah padam.
Dan tidak akan padam untuk waktu
yang lama.
Karena selama cahaya itu menyala,
ada satu hal yang terus bertahan:
Harapan kecil, rapuh, dan
menyakitkan — bahwa suatu hari, anak itu akan membuka pintu tanpa rasa takut.
Sampai hari itu datang, ayah akan
tetap di sana.
Menjaga.
Menunggu.
Mencintai dalam diam.
