Penobatan Raja Halvard III

 


Skandinavia, 1515

Orang-orang di Kerajaan Nordhavn masih mengingat hari ketika Raja Halvard II wafat, bukan karena gemuruh tangis atau kekacauan, melainkan karena kesunyian yang aneh. Raja ditemukan meninggal di ruang tidurnya saat fajar belum lama berlalu. Tidak ada tanda perlawanan. Tidak ada kata terakhir. Tubuhnya sudah dingin ketika tabib istana tiba.

Lonceng gereja dipukul tiga kali, sebagaimana adat lama. Rakyat keluar dari rumah mereka, berdiri di jalan batu, menundukkan kepala. Beberapa perempuan menangis. Beberapa lelaki membuat tanda salib. Di halaman istana, para pengawal berdiri tegak, menunggu perintah yang tidak segera datang.

Ratu Astrid Valborg muncul tidak lama kemudian. Ia mengenakan pakaian berkabung hitam, sederhana, tanpa perhiasan. Ia berdiri di ambang aula besar, menatap halaman penuh rakyat dan pengawal. Ia tidak menangis. Wajahnya tenang, seperti biasa. Ia hanya mengangguk singkat kepada kepala pengawal, lalu memerintahkan agar jenazah raja disemayamkan sesuai adat.

Sebagian rakyat memperhatikan itu dengan saksama. Mereka menunggu air mata. Mereka menunggu tubuhnya runtuh oleh duka. Namun Ratu Astrid berdiri tegak. Setelah memberi perintah, ia berbalik dan masuk kembali ke dalam istana.

“Belum satu jam,” kata seseorang di antara kerumunan.

“Dia sudah bangkit,” sahut yang lain.

Bisik-bisik itu menyebar cepat. Bagi sebagian orang, ketegaran Astrid bukan tanda kekuatan, melainkan tanda ketidaktulusan. Di kerajaan yang terbiasa melihat kesedihan dipertontonkan, ketenangan sering disalahartikan sebagai ketidakpedulian.

Jenazah Raja Halvard II disemayamkan selama tiga hari. Rakyat diizinkan datang memberi penghormatan terakhir. Pangeran Eirik berdiri di sisi peti mati hampir sepanjang waktu. Ia menunduk, bahunya sedikit membungkuk, wajahnya pucat. Beberapa kali ia terlihat menyeka mata. Orang-orang melihat itu dan mengangguk puas. Anak raja itu berduka sebagaimana mestinya.

Astrid jarang terlihat di aula selama masa itu. Ia hanya muncul pada jam-jam tertentu, berdiri sebentar, lalu pergi lagi. Ada yang mengatakan ia terlalu sibuk. Ada yang mengatakan ia menghindari rakyat. Tidak banyak yang mencoba memahami apa yang ia lakukan di balik pintu-pintu tertutup.

Pada hari keempat, penobatan diumumkan.

Wasiat Raja Halvard II dibacakan oleh penasihat kerajaan di hadapan bangsawan dan tetua gereja. Isinya singkat dan jelas. Demi stabilitas kerajaan, tahta diserahkan kepada Ratu Astrid Valborg hingga akhir hayatnya, dengan kewajiban melindungi Pangeran Eirik sebagai pewaris darah.

Beberapa bangsawan saling pandang. Tidak ada yang membantah secara terbuka. Hukum mendukung wasiat itu. Tradisi juga tidak melarangnya. Namun penerimaan tidak selalu berarti persetujuan.

Upacara penobatan berlangsung tanpa kemeriahan. Tidak ada arak-arakan besar. Tidak ada pesta. Ratu Astrid berdiri di depan altar batu, bersumpah di hadapan gereja dan kerajaan. Ia mengucapkan sumpahnya dengan suara datar, tidak meninggi, tidak gemetar.

“Aku bersumpah menjaga kerajaan ini,” katanya, “dan melindungi pangeran sebagaimana darahku sendiri.”

Kata-kata itu dicatat oleh penulis istana, tetapi tidak semua orang mendengarnya dengan baik. Sebagian rakyat lebih sibuk memperhatikan ekspresinya. Tetap tenang. Tetap terkendali.

“Seperti batu,” komentar seseorang setelah upacara.

“Batu tidak punya hati,” jawab yang lain.

Hari-hari setelah penobatan berjalan cepat. Ratu Astrid tidak menunda-nunda. Ia memanggil para pengelola lumbung, kepala pelabuhan, dan pemungut pajak. Ia meminta laporan persediaan gandum, ikan, dan kayu bakar. Ia memerintahkan penghitungan ulang cadangan musim dingin.

Tidak lama kemudian, keputusan diumumkan.

Semua perayaan istana dihentikan sampai waktu yang tidak ditentukan. Pajak hasil panen dinaikkan. Kapal-kapal dagang yang datang dari selatan diwajibkan menjual sebagian muatannya kepada kerajaan dengan harga tetap.

Reaksi rakyat segera muncul.

“Baru saja menjadi ratu,” kata mereka, “sudah menekan rakyat.”

“Belum kering tanah makam raja,” kata yang lain, “ia sudah memikirkan uang.”

Ratu Astrid tidak menjelaskan keputusannya di alun-alun. Ia tidak memanggil rakyat untuk berbicara. Pengumuman disampaikan lewat kepala desa dan gereja, sebagaimana lazimnya. Bagi sebagian orang, cara itu terasa dingin dan berjarak.

Di pasar, para pedagang mengeluh. Di desa-desa, orang-orang mulai menyebut nama Ratu Astrid dengan nada tidak ramah. Mereka membandingkannya dengan Raja Halvard II yang dikenal suka hadir di pesta panen dan jamuan umum.

Tidak banyak yang tahu bahwa pada tahun itu, kapal-kapal dari barat terlambat datang. Tidak banyak yang peduli bahwa laporan cuaca dari utara menyebutkan musim dingin akan lebih panjang. Ratu Astrid membaca laporan-laporan itu sendirian di ruang kerjanya, hingga larut malam.

Ia memerintahkan gandum disimpan dan tidak dijual keluar kerajaan. Ia memerintahkan pintu lumbung dijaga ketat. Ia menghitung, mencoret, dan menghitung ulang.

Sementara itu, Pangeran Eirik mulai sering terlihat di luar istana. Ia mengunjungi pasar, berbicara dengan pedagang, mendengarkan keluhan. Ia mengangguk dan menepuk bahu orang-orang yang mengeluh tentang pajak dan larangan pesta.

“Ibuku terlalu keras,” katanya suatu kali, dengan suara pelan tapi cukup terdengar. “Ia selalu seperti itu sejak dulu.”

Kalimat itu tidak ditujukan sebagai tuduhan, tetapi cukup untuk membentuk gambaran.

Rakyat menyukai Pangeran Eirik. Ia terlihat lelah, kehilangan ayah, dan kini hidup di bawah bayang-bayang ibu tiri yang dianggap tidak berperasaan. Setiap kali ia muncul, orang-orang merasa didengar. Setiap kali Ratu Astrid mengeluarkan keputusan, orang-orang merasa diatur.

Tidak ada yang melihat Ratu Astrid berdiri di lumbung, memeriksa karung gandum satu per satu. Tidak ada yang mencatat perintahnya agar gandum cadangan disisihkan khusus untuk desa-desa terpencil. Semua itu terjadi jauh dari mata rakyat, tanpa saksi yang bersuara.

Bagi rakyat, yang terlihat hanyalah satu hal: ratu yang menghentikan pesta dan menaikkan pajak.

Menjelang akhir bulan pertama pemerintahannya, seorang tetua desa memberanikan diri bertanya, mengapa semua ini perlu dilakukan secepat itu. Ratu Astrid menjawab singkat.

“Musim dingin tidak menunggu persetujuan.”

Jawaban itu dicatat, lalu diceritakan kembali dengan nada berbeda. Ada yang mengatakan ia berkata dengan dingin. Ada yang menambahkan kata-kata yang tidak pernah ia ucapkan. Cerita itu berubah dari mulut ke mulut.

Pada malam hari, ketika istana sudah sepi, Ratu Astrid duduk sendiri di ruang kerjanya. Di atas meja ada peta kerajaan, catatan persediaan, dan surat-surat dari pelabuhan. Ia membaca ulang semuanya. Tidak ada air mata. Tidak ada doa yang diucapkan dengan suara keras. Hanya pekerjaan yang harus diselesaikan.

Ia tahu bagaimana rakyat melihatnya. Ia juga tahu bahwa menjelaskan diri tidak selalu mengubah penilaian. Di kerajaan ini, orang lebih mudah percaya pada apa yang sesuai dengan perasaan mereka.

Di luar istana, cerita mulai terbentuk. Tentang ratu yang dingin. Tentang ibu tiri yang kejam. Tentang pangeran yang tersingkir secara halus.

Cerita itu belum lengkap, tetapi sudah cukup untuk dipercaya.

Dan seperti semua cerita yang dipercaya terlalu cepat, ia akan terus hidup, bahkan ketika kenyataan berjalan ke arah yang berbeda.

 

Setelah kematian raja dan naiknya Ratu Astrid ke tahta, Pangeran Eirik tidak mengurung diri di istana sebagaimana yang dilakukan banyak pewaris takhta pada masa duka. Ia justru sering terlihat di luar tembok, berjalan menyusuri pasar dan pelabuhan, tanpa pengumuman resmi dan tanpa iring-iringan besar.

Orang-orang mengenal wajahnya dengan cepat. Ia tidak berpakaian mencolok. Jubahnya sederhana, warnanya gelap, dan sering kali tampak usang di bagian lengan. Ia berjalan perlahan, berhenti di setiap kerumunan kecil, mendengarkan cerita yang sama berulang-ulang: pajak yang memberatkan, larangan pesta, harga gandum yang naik.

Eirik mendengarkan semua itu tanpa menyela. Ia menunduk, mengangguk, dan membiarkan orang-orang menyelesaikan keluhan mereka. Tidak ada janji yang diucapkan dengan lantang. Tidak ada perintah yang ia berikan. Namun kehadirannya sendiri sudah cukup untuk membuat orang merasa dihargai.

“Setidaknya dia datang,” kata seorang pedagang tua kepada yang lain.

“Ratu tidak pernah,” jawab temannya.

Cerita-cerita kecil seperti itu menyebar lebih cepat daripada pengumuman istana. Dalam hitungan minggu, Eirik dikenal sebagai pangeran yang dekat dengan rakyat. Ia tidak perlu mengatakan itu tentang dirinya. Orang-orang menyimpulkannya sendiri.

Kadang-kadang, ketika mendengar cerita tentang keluarga yang kesulitan membayar pajak, Eirik mengeluarkan beberapa keping perak dari sakunya dan memberikannya tanpa banyak bicara. Ia tidak mencatatnya. Ia tidak meminta saksi. Namun perbuatan itu hampir selalu disaksikan seseorang, dan selalu diceritakan kembali.

Ia menepuk bahu seorang nelayan yang mengeluh tentang cuaca. Ia memeluk seorang perempuan yang kehilangan suaminya di laut. Ia tersenyum kepada anak-anak yang mengenalinya. Semua itu dilakukan dengan gerak yang tampak wajar, seolah sudah menjadi kebiasaan lama.

Orang-orang menyukai sentuhan itu. Di kerajaan yang diatur dengan perintah tertulis dan pengumuman resmi, sentuhan terasa lebih nyata daripada keputusan.

Tidak semua bantuan Eirik berdampak besar. Beberapa keping perak tidak mengubah keadaan banyak keluarga. Namun rakyat tidak menilainya dari hasil, melainkan dari niat yang mereka lihat. Mereka melihat pangeran yang mau mendengar, dan itu sudah cukup.

Di antara kerumunan, ada yang mulai membandingkan.

“Ratu menghitung karung gandum,” kata seseorang.

“Pangeran menghitung orang,” kata yang lain.

Perbandingan itu terdengar adil di telinga banyak orang, meski tidak sepenuhnya benar.

Pangeran Eirik tidak pernah secara langsung menyalahkan ibunya di depan rakyat. Ia tidak perlu melakukannya. Cukup dengan mengatakan bahwa ia tidak dilibatkan dalam keputusan tertentu, atau bahwa ia sendiri kaget mendengar beberapa kebijakan. Kalimat-kalimat itu terdengar jujur dan polos.

“Aku juga baru tahu,” katanya suatu kali ketika ditanya tentang pajak tambahan. “Ibu tiriku mengambil keputusan sendiri.”

Kata “ibu tiri” diucapkan tanpa penekanan, tetapi cukup untuk mengingatkan orang-orang bahwa Ratu Astrid bukan ibu kandungnya. Kata itu melekat lebih kuat daripada kebijakan apa pun.

Di dalam istana, Eirik jarang terlihat di ruang rapat. Ia lebih sering berada di kamar mendiang raja, memeriksa barang-barang lama, atau berjalan sendirian di koridor. Para pelayan melihatnya sering duduk lama tanpa melakukan apa-apa, menatap dinding atau jendela tertutup.

Beberapa pelayan bersimpati. Beberapa lainnya melihat sesuatu yang berbeda: seorang pangeran yang belum menemukan tempatnya.

Tidak ada yang mendengar apa yang dipikirkan Eirik saat ia sendirian. Tidak ada yang tahu bahwa di balik wajah hangat yang ia tunjukkan di pasar, ada kekhawatiran yang terus berulang.

Ia takut dilupakan.

Ia tahu hukum kerajaan. Ia tahu wasiat ayahnya. Ia tahu bahwa secara tertulis, posisinya aman. Namun ia juga tahu bagaimana cerita bekerja di antara rakyat. Cerita bisa mengangkat, dan cerita bisa menghapus.

Ia melihat bagaimana nama Ratu Astrid disebut dengan nada yang semakin keras. Ia melihat bagaimana orang-orang memihak tanpa diminta. Ia merasakan bahwa ruang di sekelilingnya semakin sempit, meski ia berdiri di tengah sorak simpati.

Dalam pikirannya, ada ketakutan yang tidak pernah ia ucapkan: bahwa suatu hari, ia akan menjadi pangeran tanpa peran, nama tanpa makna, pewaris yang tidak pernah benar-benar berkuasa.

Ia juga takut pada ibunya, bukan karena kekejamannya, melainkan karena ketenangannya. Ratu Astrid tidak membutuhkan cinta rakyat untuk memerintah. Ia memiliki hukum, catatan, dan persiapan. Semua itu tidak bisa dilawan dengan senyum dan simpati.

Ketika Ratu Astrid memanggilnya untuk berbicara di ruang kerja, Eirik selalu datang dengan perasaan tertekan. Pembicaraan mereka singkat dan langsung pada tujuan. Ratu Astrid menanyakan ke mana ia pergi, dengan siapa ia berbicara, dan apa yang ia dengar dari rakyat.

Eirik menjawab seperlunya. Ia tidak berbohong, tetapi juga tidak sepenuhnya terbuka. Ia merasa setiap kalimatnya dicatat, ditimbang, dan mungkin digunakan suatu hari nanti.

Ia keluar dari ruangan itu dengan perasaan lebih kecil daripada saat masuk.

Di luar istana, cerita berkembang dengan cara yang berbeda. Rakyat mulai melihat Eirik sebagai harapan. Mereka berbicara tentang masa depan seolah ia sudah menjadi raja. Mereka membayangkan kerajaan yang lebih lunak, lebih dekat, lebih manusiawi.

Pangeran Eirik mendengar semua itu. Ia tidak menyangkal. Ia juga tidak mengiyakan. Ia membiarkan cerita itu tumbuh sendiri.

Dalam benaknya, ada dua dorongan yang berjalan bersamaan. Keinginan untuk benar-benar membantu rakyat, dan ketakutan untuk kehilangan segalanya jika ia berhenti terlihat baik. Kedua dorongan itu saling menguatkan, hingga sulit dibedakan mana yang lebih dulu muncul.

Tidak ada yang melihat ini sebagai masalah. Bagi rakyat, seorang pangeran yang peduli lebih mudah dicintai daripada ratu yang mempersiapkan masa depan dalam diam.

Dan seperti semua tokoh yang dicintai terlalu cepat, Eirik mulai percaya bahwa cintanya itu pantas ia pertahankan dengan cara apa pun.

Cerita tentang pangeran yang disayangi pun menguat, sementara cerita tentang ratu yang dingin terus berjalan di jalurnya sendiri. Keduanya hidup berdampingan, saling menguatkan, tanpa pernah benar-benar bertemu.

Di kerajaan Nordhavn, orang-orang mulai memilih cerita mana yang ingin mereka percaya.

 

Nama perempuan itu adalah Signe. Ia bukan bangsawan, bukan pula anak dari keluarga terpandang. Ia tinggal di luar tembok kota, di wilayah yang tidak tercatat dalam silsilah istana, tetapi dikenal oleh para pedagang dan nelayan. Ayahnya pernah bekerja di galangan kapal. Ibunya menjual kain di pasar kecil. Kehidupan mereka tidak mudah, tetapi cukup.

Signe dikenal karena caranya berbicara yang langsung dan caranya tertawa yang tidak ditahan. Ia tidak menunduk berlebihan ketika bertemu orang yang lebih tinggi kedudukannya. Ia juga tidak berusaha terlihat penting. Sikap itu membuat sebagian orang menganggapnya kurang ajar, tetapi lebih banyak yang menganggapnya jujur.

Ketika kabar tentang kedekatannya dengan Pangeran Eirik mulai beredar, reaksi rakyat beragam. Ada yang terkejut. Ada yang senang. Banyak yang melihatnya sebagai kisah yang pantas diceritakan ulang: pangeran yang jatuh cinta pada gadis rakyat biasa.

Signe sendiri tidak pernah berbicara tentang tahta. Ia tidak bertanya tentang urusan kerajaan. Dalam pertemuan-pertemuan mereka yang diketahui orang, ia lebih sering menanyakan hal-hal sederhana: cuaca laut, harga ikan, atau apakah Eirik sudah makan hari itu. Ia memperlakukan Eirik bukan sebagai pewaris, melainkan sebagai seorang lelaki muda yang sering tampak kelelahan.

Bagi Eirik, itu terasa berbeda. Di istana, setiap kata yang ia ucapkan memiliki arti politik. Di hadapan Signe, ia bisa berbicara tanpa memikirkan siapa yang mendengar. Ia bisa tertawa tanpa melihat sekeliling. Perbedaan itu cepat terasa seperti kebebasan.

Cerita tentang mereka menyebar cepat. Orang-orang mulai menyebut nama Signe dengan nada lembut. Mereka menyukai gagasan bahwa pangeran memilih perempuan yang tidak terikat pada kekuasaan. Cerita itu terasa lebih bersih dibandingkan cerita tentang istana.

Ratu Astrid mengetahui hubungan itu bukan dari gosip pasar, melainkan dari laporan pengawal. Ia membaca laporan itu dengan teliti, lalu memanggil orang yang sama untuk memastikan kebenarannya. Tidak ada kemarahan dalam perintahnya. Tidak ada larangan yang disampaikan dengan suara tinggi.

Ia meminta informasi tentang keluarga Signe, tempat tinggalnya, dan orang-orang yang sering berhubungan dengannya. Ia ingin tahu apakah gadis itu aman, dan apakah kedekatannya dengan pangeran akan menarik perhatian yang tidak diinginkan.

Setelah itu, Ratu Astrid memanggil Eirik.

Pertemuan mereka singkat. Ratu Astrid tidak menyebut nama Signe dengan nada merendahkan. Ia menyampaikan larangan dengan alasan yang terdengar kering.

“Hubungan itu harus dihentikan,” katanya. “Untuk sementara.”

Pangeran Eirik menunggu penjelasan lebih panjang, tetapi tidak datang.

Ratu Astrid menambahkan satu kalimat lagi.

“Ia tidak akan selamat jika terlalu dekat dengan istana.”

Kalimat itu diingat Eirik, tetapi tidak dipahami sebagaimana dimaksud. Baginya, itu terdengar seperti peringatan kosong, atau alasan yang dibuat-buat. Ia mendengar larangan, bukan perlindungan.

Larangan itu tidak diumumkan secara terbuka. Astrid tidak memanggil rakyat untuk menjelaskan. Ia tidak menegur Signe secara langsung. Namun keputusan itu cepat diketahui orang-orang, karena Eirik tidak lagi terlihat bersama Signe di tempat umum.

Rakyat segera menyimpulkan.

“Mereka tidak suka perempuan itu,” kata seseorang.

“Ratu tidak ingin ada yang dekat dengan pangeran,” kata yang lain.

Cerita itu berkembang dengan cepat, lebih cepat daripada penjelasan apa pun yang mungkin diberikan. Dalam cerita yang beredar, Ratu Astrid digambarkan cemburu dan curiga. Ia digambarkan sebagai ibu tiri yang takut kehilangan kendali atas pewaris.

Tidak banyak yang mempertanyakan mengapa larangan itu datang tanpa hukuman. Tidak ada penjagaan tambahan di rumah Signe. Tidak ada ancaman terbuka. Bagi rakyat, ketidakhadiran kekerasan tidak menghapus kesan niat buruk.

Signe sendiri mengetahui larangan itu dari Eirik. Ia mendengarkannya dengan wajah tenang. Ia tidak marah. Ia juga tidak menangis. Ia hanya bertanya satu hal.

“Apa yang ingin kamu lakukan?”

Eirik tidak menjawab dengan segera.

Hubungan mereka tidak berhenti pada hari itu. Mereka hanya berpindah tempat. Pertemuan dilakukan lebih jauh dari mata pengawal, lebih jauh dari pasar, di jalan-jalan yang jarang dilewati orang.

Rakyat tidak melihat pertemuan itu, tetapi mereka melihat akibatnya. Eirik terlihat lebih gelisah. Ia mulai berbicara lebih sering tentang pembatasan dan ketidakadilan. Ia menyebut larangan itu sebagai bukti bahwa ia tidak dipercaya.

Cerita pun berubah arah. Kini bukan hanya tentang cinta, tetapi tentang kebebasan yang dirampas.

Ketika kabar tentang pelarian mereka menyebar, sebagian besar rakyat tidak terkejut. Banyak yang menganggapnya langkah yang berani. Mereka mengatakan pangeran memilih cinta daripada kekuasaan. Mereka memuji keberanian itu.

Eirik dan Signe meninggalkan kota pada suatu malam tanpa pengumuman. Tidak ada lonceng yang dibunyikan. Tidak ada pengawal yang dikerahkan untuk mengejar. Keesokan paginya, istana baru mengetahui kepergian mereka.

Reaksi Ratu Astrid tidak seperti yang dibayangkan orang. Ia tidak memerintahkan pencarian besar-besaran. Ia tidak mengumumkan hukuman. Ia hanya memerintahkan agar pintu kota tetap dijaga, dan agar jalur perdagangan diawasi.

Keputusan itu ditafsirkan dengan cara yang sudah biasa.

“Dia membiarkan mereka pergi,” kata sebagian orang, “karena sudah menyingkirkan masalah.”

“Dia kejam,” kata yang lain, “bahkan tidak berusaha menahan.”

Rakyat bersimpati kepada Eirik dan Signe. Mereka membayangkan dua orang muda yang dikejar oleh kekuasaan, memilih jalan sulit demi cinta. Cerita itu terasa lebih masuk akal daripada penjelasan tentang bahaya yang tidak terlihat.

Tidak banyak yang tahu bahwa sebelum pelarian itu, Ratu Astrid telah memerintahkan beberapa jalur lama di utara untuk dipantau secara diam-diam. Tidak ada yang mencatat perintah kecil itu, karena tidak pernah diumumkan.

Seperti biasa, kebaikan yang tidak diperlihatkan tidak pernah masuk ke dalam cerita.

Yang diingat orang hanyalah satu hal: ratu melarang, pangeran pergi, dan seorang gadis rakyat biasa berdiri di tengahnya.

Cerita itu akan terus diceritakan seperti itu, setidaknya sampai kenyataan memaksa orang melihat bagian yang selama ini diabaikan.

 

Hutan tidak mengenal gelar.

Di bawah pepohonan yang rapat, tidak ada pangeran, tidak ada rakyat, tidak ada ratu. Yang ada hanya tubuh yang lelah, napas yang terengah, dan malam yang datang tanpa peduli siapa yang tersesat di dalamnya.

Eirik baru menyadari itu setelah beberapa hari berjalan. Tanpa pengawal, tanpa tanda istana, ia menjadi seseorang yang mudah hilang. Setiap suara ranting patah terdengar seperti ancaman. Setiap bayangan yang bergerak membuatnya menggenggam pisau kecil yang dibawanya—benda yang tidak pernah ia pakai sebelumnya.

Hidup tanpa kuasa ternyata bukan kebebasan yang ia bayangkan. Itu adalah ketidakpastian yang tidak bisa dinegosiasikan.

Signe melihat perubahan itu lebih cepat. Ia melihat cara Eirik berjalan yang semakin sering menoleh ke belakang. Ia mendengar diamnya yang semakin panjang. Ia menyadari bahwa keberanian yang dibicarakan orang-orang di kota tidak pernah disiapkan untuk dunia di luar tembok.

Mereka tinggal sementara di desa-desa kecil, berpindah sebelum orang mulai bertanya terlalu banyak. Di tempat-tempat itu, Eirik tidak dikenali. Tidak ada yang membungkuk. Tidak ada yang memberi jalan. Ia harus menunggu giliran seperti orang lain.

Signe menyesuaikan diri dengan mudah. Ia terbiasa hidup tanpa perlindungan. Eirik tidak.

Suatu malam, ketika mereka duduk di dekat api kecil yang hampir padam, Signe mengatakan apa yang selama ini ia simpan.

“Kita seharusnya kembali.”

Kalimat itu tidak diucapkan dengan ketakutan, melainkan kelelahan. Ia tidak menyebut istana. Ia tidak menyebut Ratu Astrid. Ia hanya menyebut kata kembali, seolah itu adalah arah, bukan pengakuan kalah.

Eirik menolak. Ia mengatakan mereka hanya butuh waktu. Ia mengatakan keadaan akan membaik. Kata-kata itu terdengar seperti pengulangan dari sesuatu yang pernah ia dengar di ruang-ruang besar, bukan sesuatu yang lahir dari keyakinan.

Hutan mendengarkan, lalu tetap diam.

Beberapa hari kemudian, mereka menyadari bahwa mereka tidak sendiri. Ada langkah kaki lain yang terlalu teratur untuk disebut kebetulan. Ada jejak yang muncul kembali meski jalur sudah diubah. Eirik mulai percaya bahwa pasukan kerajaan dikirim untuk mengejar mereka.

Ketakutan itu tumbuh cepat. Cerita yang kemudian menyebar akan mengatakan bahwa kerajaan tidak bisa menerima pelarian itu. Bahwa ratu mengirim orang-orangnya untuk mengambil kembali apa yang dianggap miliknya. Cerita itu terdengar masuk akal bagi siapa pun yang ingin mempercayainya.

Di tengah hutan, kebenaran dan dugaan sulit dibedakan.

Pada suatu pagi yang berkabut, mereka berpisah sejenak. Signe pergi mengambil air. Eirik menunggu dengan gelisah. Ketika suara langkah kaki terdengar lebih dari satu, ia berdiri terlalu cepat.

Ia melihat bayangan-bayangan di antara pohon. Ia mendengar teriakan. Ia yakin pengejaran telah dimulai.

Signe tidak kembali.

Eirik berlari mengikuti suara, tersandung akar, terjatuh, bangkit kembali dengan napas terputus-putus. Ia menemukan Signe di sebuah celah sempit di antara batu dan semak. Tangannya terikat kasar. Tubuhnya berlumur darah.

Orang-orang itu sudah pergi.

Tidak ada lambang yang bisa dikenali. Tidak ada seragam yang jelas. Tidak ada wajah yang bisa diingat dengan pasti. Hanya bekas sepatu dan bau besi di udara.

Signe masih bernapas ketika Eirik berlutut di sampingnya. Napasnya pendek, seperti tersisa sedikit saja. Ia membuka mata dan menatap Eirik tanpa kemarahan.

“Kita… seharusnya pulang,” katanya pelan.

Ia tidak sempat mengatakan lebih dari itu.

Pisau itu menembus tubuhnya lebih dari sekali. Luka-lukanya tidak rapi. Bukan tusukan cepat. Ada keraguan di dalamnya, atau kemarahan.

Eirik berteriak, tetapi hutan menyerap suaranya.

Ketika semuanya selesai, Eirik duduk lama di samping tubuh Signe. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Ia tidak tahu kepada siapa harus menyalahkan. Ia hanya tahu bahwa sesuatu yang tidak pernah ia pahami kini telah mengambil segalanya.

Ia membungkus tubuh Signe dengan kain seadanya. Perjalanan kembali ke desa terasa lebih panjang daripada pelarian mereka. Setiap langkah adalah pengingat bahwa ia tidak membawa siapa pun lagi bersamanya.

Penduduk desa melihatnya datang menjelang senja, membawa mayat perempuan yang mereka kenali. Mereka bertanya apa yang terjadi. Eirik tidak menjelaskan panjang. Ia hanya mengatakan bahwa mereka dikejar.

Cerita itu menyebar dengan cepat, dan segera menemukan bentuknya sendiri.

Pasukan kerajaan. Perintah ratu. Kejaran tanpa ampun.

Tidak ada yang mempertanyakan mengapa tidak ada satu pun saksi yang melihat pasukan itu. Tidak ada yang menanyakan mengapa jenazah Signe tidak menunjukkan tanda penangkapan resmi. Dalam cerita, detail seperti itu tidak penting.

Yang penting adalah siapa yang bisa disalahkan.

Eirik tidak membantah cerita itu. Ia tidak mengoreksi. Dalam kesedihannya, ia membiarkan narasi itu hidup. Mungkin karena narasi itu memberinya musuh yang jelas. Mungkin karena tanpa itu, ia harus menghadapi kemungkinan yang lebih sulit: bahwa dunia di luar istana lebih kejam daripada yang pernah ia bayangkan, dan bahwa ia telah membawa Signe ke dalamnya tanpa persiapan.

Jenazah Signe dimakamkan di desa asalnya. Tidak ada upacara besar. Tidak ada simbol kerajaan. Hanya tanah, doa singkat, dan tangis orang-orang yang mengenalnya.

Berita kematiannya sampai ke kota beberapa hari kemudian. Cara kematiannya dibicarakan dengan nada yang sama seperti kisah-kisah sebelumnya: dengan kemarahan yang terarah.

Nama Ratu Astrid disebut kembali, kali ini dengan kebencian yang lebih terang-terangan.

Tidak ada yang menanyakan apakah perintah pengejaran pernah dikeluarkan. Tidak ada yang menunggu jawaban. Dalam cerita rakyat, pertanyaan hanya memperlambat kemarahan.

Ratu Astrid menerima kabar itu tanpa saksi. Ia membaca laporan singkat, lalu meminta peta. Ia tidak berbicara lama. Ia hanya menunjuk satu wilayah dan bertanya siapa yang menguasainya.

Jawaban itu tidak pernah keluar dari ruang tertutup.

Seperti sebelumnya, tidak ada pernyataan resmi. Tidak ada klarifikasi. Keheningan itu kembali ditafsirkan sebagai pengakuan.

Kejahatan itu pun mendapatkan bentuknya yang paling rapi: sebuah kisah tentang cinta yang dihancurkan oleh kekuasaan.

Apa yang sebenarnya terjadi di hutan tidak pernah benar-benar diketahui. Yang tersisa hanyalah tubuh yang dikuburkan, pangeran yang kembali dengan luka yang tidak terlihat, dan seorang ratu yang sekali lagi diposisikan sebagai sumber segala keburukan.

Kejahatan yang tersembunyi tidak selalu yang paling kejam. Kadang, yang paling berbahaya adalah kejahatan yang berhasil menyamar sebagai cerita yang ingin dipercaya semua orang.

 

Cerita tentang kematian Signe tiba di ibu kota lebih cepat daripada Eirik sendiri.

Ia sampai beberapa hari kemudian, dengan pakaian yang kusam dan wajah yang tampak lebih dewasa daripada saat ia pergi. Orang-orang menyambutnya dengan simpati yang nyaris seragam. Tidak ada yang bertanya terlalu banyak. Mereka sudah mengetahui versi ceritanya.

Seorang pangeran kehilangan kekasihnya. Seorang ratu kejam mengirim pembunuh.

Ketika Eirik akhirnya berbicara di hadapan dewan kecil yang tersisa, ia tidak meninggikan suara. Ia tidak berteriak. Ia hanya menceritakan ulang apa yang telah lebih dulu dipercayai semua orang.

Ia mengatakan bahwa mereka dikejar. Bahwa orang-orang bersenjata muncul di hutan. Bahwa Signe ditangkap, lalu dibunuh. Ia tidak menyebutkan wajah. Ia tidak menyebutkan jumlah. Detail-detail itu tidak diminta.

Kemudian ia mengeluarkan pisau itu.

Pisau pendek dengan gagang kayu gelap, ukiran kecil di pangkalnya—tanda bengkel senjata kerajaan. Tidak jarang digunakan oleh prajurit yang bertugas di luar istana. Tidak ada nama, tidak ada tanda kepemilikan pribadi. Tapi cukup dikenal.

Pisau itu diletakkan di atas meja dengan tenang.

Tidak ada yang mempertanyakan bagaimana pisau itu bisa sampai ke tangan Eirik. Tidak ada yang menanyakan mengapa seorang pembunuh meninggalkan senjatanya. Dalam ruangan itu, bukti tidak perlu sempurna. Ia hanya perlu cocok.

Dan pisau itu cocok dengan prasangka yang sudah lama hidup.

Rakyat berkumpul di luar aula sebelum pengumuman resmi dibuat. Mereka datang membawa kemarahan yang tertunda sejak lama. Pajak, pembatasan, larangan pesta, perintah-perintah tanpa penjelasan—semuanya kini mendapatkan satu penyebab yang jelas.

Nama Ratu Astrid diteriakkan dengan nada yang sama seperti sebelumnya, hanya kali ini lebih keras.

Ketika Ratu Astrid dipanggil untuk menjawab tuduhan, ia datang sendiri. Tidak ada pengawal tambahan. Tidak ada jubah kebesaran. Ia berjalan seperti biasa, dengan langkah yang terukur, seolah hari itu tidak berbeda dari hari-hari lainnya.

Ia mendengarkan tuduhan itu tanpa menyela.

Ketika pisau itu ditunjukkan kepadanya, ia memandanginya cukup lama. Tidak ada perubahan di wajahnya. Tidak ada keterkejutan yang bisa ditafsirkan sebagai rasa bersalah, dan tidak ada kepanikan yang bisa disebut kepolosan.

Ia hanya mengangguk kecil.

“Ada banyak pisau seperti itu,” katanya. “Kerajaan ini luas.”

Kalimat itu dicatat, lalu diabaikan.

Ia ditanya apakah ia mengirim pasukan untuk mengejar Eirik. Ia menjawab tidak. Ia menjelaskan bahwa tidak pernah ada perintah seperti itu. Ia menyebutkan catatan logistik, rute patroli, dan jadwal yang bisa diperiksa.

Penjelasan itu panjang, dan terdengar seperti alasan.

Di hadapan rakyat yang sudah yakin, detail administratif tidak memiliki daya.

Ratu Astrid tidak memohon. Ia tidak menangis. Ia tidak menyebutkan jasanya. Ia tidak mengungkit keputusan-keputusan sulit yang ia ambil selama bertahun-tahun untuk menjaga kerajaan tetap hidup melewati musim dingin yang buruk.

Diamnya ditafsirkan sebagai kesombongan.

Beberapa orang mengatakan ia terlalu percaya diri. Yang lain mengatakan ia tidak peduli. Sedikit yang mempertimbangkan kemungkinan bahwa ia memang tidak terbiasa membela diri di hadapan orang banyak.

Ia telah memerintah dengan perintah, bukan dengan cerita.

Pangeran Eirik berdiri tidak jauh darinya. Ia menatap lantai hampir sepanjang waktu. Ketika ia berbicara, suaranya bergetar cukup untuk terdengar tulus.

Ia mengatakan bahwa ia tidak ingin membenci. Ia mengatakan bahwa ia berharap semua ini tidak benar. Kalimat-kalimat itu diterima dengan anggukan.

Tidak ada yang meminta ia menjelaskan lebih jauh.

Keputusan tidak pernah diumumkan secara resmi. Ia hanya terjadi.

Kerumunan di luar istana semakin padat. Teriakan berubah menjadi dorongan. Dorongan menjadi benturan. Gerbang yang selama ini dianggap kokoh mulai goyah di bawah tekanan banyak tangan.

Para penjaga ragu. Beberapa menurunkan senjata. Yang lain membuka jalan.

Pemberontakan jarang dimulai dengan rencana. Ia dimulai dengan keyakinan bahwa apa yang dilakukan adalah benar.

Ratu Astrid dibawa keluar ketika istana mulai dijarah. Tidak ada pengadilan terbuka. Tidak ada pembacaan hukuman. Dalam kisah yang kemudian diceritakan, hal-hal itu dianggap tidak perlu.

Ia dibawa ke alun-alun tempat raja-raja sebelumnya pernah berbicara. Tempat keputusan besar biasanya diumumkan. Hari itu, tidak ada pidato.

Wajah Ratu Astrid terlihat jelas oleh semua orang. Tidak ada ketakutan di sana. Jika ada sesuatu, itu kelelahan.

Seseorang berteriak menuntut pengakuan. Yang lain menuntut permohonan maaf. Ratu Astrid tidak memberikan keduanya.

Ia hanya berbicara sekali, ketika tali telah disiapkan dan tidak ada lagi yang perlu diperdebatkan.

“Aku melakukan semua ini untuk kalian.”

Kalimat itu terdengar datar. Tidak memohon simpati. Tidak mencari pembenaran. Ia seperti laporan, bukan pembelaan.

Sebagian orang menertawakan kalimat itu. Yang lain menganggapnya penghinaan terakhir dari seorang penguasa yang tidak pernah mau mengerti rakyatnya.

Tidak ada yang menanyakan apa yang ia maksud dengan semua ini.

Eksekusi berlangsung cepat. Tanpa upacara. Tanpa doa panjang. Tubuhnya dijatuhkan, lalu dibiarkan tergantung cukup lama agar semua orang bisa melihat bahwa kekuasaan memang bisa berakhir seperti itu.

Beberapa orang pulang dengan rasa puas. Yang lain dengan kelelahan. Ada juga yang tidak merasakan apa-apa, selain kekosongan yang sulit dijelaskan.

Pangeran Eirik tidak menyaksikan sampai akhir. Ia pergi sebelum semuanya selesai. Beberapa orang menganggap itu tanda bahwa ia terlalu berduka. Yang lain melihatnya sebagai kesopanan.

Tidak ada yang menghubungkannya dengan pisau yang kini telah disimpan sebagai barang bukti, lalu perlahan dilupakan.

Dalam beberapa hari, kerajaan mulai bergerak lagi. Jabatan-jabatan diisi. Perintah-perintah baru dikeluarkan. Rakyat menunggu perubahan yang dijanjikan oleh kemarahan mereka sendiri.

Namun musim dingin tetap datang seperti biasa.

Gandum yang disimpan tetap dibagikan sesuai rencana lama. Pajak tidak segera diturunkan. Logistik berjalan mengikuti catatan yang dibuat Ratu Astrid sebelum kematiannya.

Beberapa orang mulai bertanya pelan-pelan, tapi pertanyaan itu tidak pernah berkembang menjadi percakapan terbuka.

Cerita yang sudah berakhir tidak mudah dibuka kembali.

Dalam kisah rakyat yang beredar kemudian, Ratu Astrid dikenang sebagai ratu dingin yang menerima hukuman setimpal. Eirik dikenang sebagai pangeran yang kehilangan segalanya, namun tetap berdiri di sisi rakyat.

Kisah itu rapi. Mudah diingat. Tidak menyisakan ruang bagi keraguan.

Dan seperti semua kisah yang terlalu rapi, ia menyembunyikan sesuatu di bagian yang tidak pernah diceritakan.

Top of Form

Penobatan Eirik berlangsung pada hari yang cerah.

Langit terbuka tanpa salju, seolah kerajaan diberi jeda sebelum musim dingin kembali datang. Rakyat berkumpul di alun-alun yang sama tempat Ratu Astrid dieksekusi. Tidak ada yang menyebut kebetulan itu. Dalam cerita rakyat, tempat hanya latar, bukan pengingat.

Eirik berdiri mengenakan mahkota yang dulunya milik ayahnya. Jubahnya baru. Wajahnya terlihat lebih tenang daripada hari-hari sebelumnya. Ia menunduk pada sorak sorai rakyat, menerima pujian dengan sikap yang telah ia pelajari sejak kecil.

Mereka memanggilnya Raja Halvard III.

Sorakan itu panjang dan bulat. Tidak ada jeda. Tidak ada suara yang menyela. Mereka bersorak bukan hanya karena raja baru, tetapi karena keyakinan bahwa sesuatu yang salah telah diperbaiki.

Upacara berjalan singkat. Doa-doa diucapkan. Sumpah diulang. Tidak ada penyebutan tentang masa lalu. Tidak ada penyebutan tentang Ratu Astrid. Dalam hari penobatan, yang lama harus selesai sepenuhnya.

Raja berbicara sedikit. Ia berjanji mendengarkan rakyat. Ia berjanji membawa kehangatan. Ia berjanji tidak akan memerintah dengan jarak.

Janji-janji itu disambut dengan tepuk tangan.

Tidak ada yang bertanya bagaimana ia akan memenuhi semuanya.

Setelah kerumunan bubar, istana kembali sunyi. Lorong-lorongnya terasa lebih luas dari sebelumnya. Ruang-ruang yang dulu dipenuhi perintah kini menunggu arahan baru. Pelayan berjalan lebih pelan, seolah takut membuat suara yang salah.

Eirik duduk sendirian di ruang tahta untuk pertama kalinya. Tidak ada yang mengganggu. Tidak ada yang mengoreksi. Tidak ada yang memerintahkannya berdiri atau duduk.

Mahkota terasa lebih berat dari yang ia bayangkan.

Di tempat lain di istana, Bjørn membuka ruang arsip yang selama ini jarang disentuh. Ia bukan tokoh besar dalam cerita ini. Ia hanya seorang pencatat, orang yang bertugas menyusun laporan, menyimpan salinan perintah, dan memastikan angka-angka tetap cocok satu sama lain.

Ratu Astrid pernah mengatakan kepadanya bahwa kerajaan runtuh bukan karena pemberontakan, tetapi karena lupa mencatat.

Bjørn bekerja seperti biasa. Ia memeriksa catatan logistik musim dingin, memastikan distribusi gandum berjalan sesuai rencana. Ia membandingkan daftar lama dengan perintah baru. Dalam perbandingan itulah ia menemukan kejanggalan.

Ada perintah rahasia yang tidak pernah dibatalkan.

Perintah itu dikeluarkan sebelum Eirik melarikan diri. Isinya singkat. Tanpa emosi. Tanpa penjelasan panjang.

Melindungi perempuan bernama Signe.

Menjaga jarak.

Tidak melakukan penangkapan.

Jika perlu, bawa ke tempat aman.

Perintah itu ditandatangani oleh Ratu Astrid.

Tanggalnya jelas. Dikeluarkan sebelum cerita pengejaran menyebar. Sebelum kemarahan rakyat mencapai puncaknya. Perintah itu tidak disebarkan luas. Hanya diberikan kepada satu unit kecil yang biasa menangani perlindungan rahasia, bukan penindakan.

Bjørn membaca ulang perintah itu beberapa kali. Ia memeriksa catatan pergerakan pasukan. Unit itu memang bergerak ke wilayah hutan, tetapi tidak pernah kembali membawa laporan kontak atau kekerasan.

Ada catatan lain yang menyertainya. Sebuah surat tangan Astrid, tidak ditujukan kepada siapa pun secara spesifik. Mungkin hanya untuk dirinya sendiri.

Surat itu tidak panjang.

Di dalamnya, Astrid menulis tentang kekhawatirannya pada Eirik. Tentang ketidakmampuan pangeran itu hidup tanpa pengakuan. Tentang ketakutannya bahwa siapa pun yang dekat dengannya akan dijadikan alat, atau korban.

Ia menulis bahwa melarang hubungan itu adalah satu-satunya cara yang ia miliki untuk melindungi semua pihak. Ia menulis bahwa rakyat tidak akan memahami keputusan yang tidak disertai senyum.

Ia juga menulis bahwa jika ia gagal, ia berharap setidaknya catatan ini suatu hari dibaca oleh seseorang yang mau melihat lebih lambat.

Bjørn menutup surat itu dengan tangan yang gemetar.

Ia kemudian membuka catatan logistik musim dingin. Semua angka cocok. Semua persediaan yang dikumpulkan telah digunakan untuk melewati bulan-bulan terburuk. Tidak ada kelebihan. Tidak ada penggelapan.

Astrid telah mempersiapkan kerajaan untuk bertahan, bahkan setelah kematiannya.

Bjørn duduk lama di ruang arsip. Ia menyadari bahwa apa yang ia temukan tidak akan mengubah apa pun. Ratu sudah mati. Raja baru sudah dinobatkan. Rakyat sudah memilih cerita yang ingin mereka simpan.

Kebenaran ini datang terlambat, dan tanpa penonton.

Ia membawa dokumen-dokumen itu ke ruang pribadinya, lalu menyimpannya kembali. Tidak dibakar. Tidak diserahkan. Hanya disusun rapi, seperti hal-hal lain yang tidak pernah diminta.

Di aula tahta, Eirik duduk sendirian hingga malam. Tidak ada jamuan. Tidak ada perayaan lanjutan. Ia menolak semua usulan itu.

Ia memandang ruangan kosong dan mendengarkan langkah kakinya sendiri. Setiap gema terdengar seperti pengingat bahwa tidak ada lagi orang di atasnya untuk disalahkan.

Kemenangan terasa berbeda dari yang ia bayangkan.

Ia mendapatkan tahta, tetapi kehilangan cerita yang ia gunakan untuk membenarkan dirinya. Ratu telah mati. Musuh telah dihukum. Tidak ada lagi arah bagi kemarahannya.

Malamnya ketika Raja tidur, ia bermimpi pada kejadian sebenarnya di dalam hutan.

Dalam tidurnya, hutan kembali muncul tanpa jarak dan tanpa jalan. Pohon-pohon berdiri sama seperti hari itu—tidak lebih gelap, tidak lebih terang. Tanah lembap, bau besi masih tertinggal. Tidak ada pengejaran. Tidak ada teriakan dari kejauhan. Hanya mereka berdua.

Signe duduk di atas batu rendah, tangannya kosong. Wajahnya tidak terluka, tetapi matanya basah. Ia menatap Eirik seperti menatap seseorang yang telah lama dikenal, lalu tidak lagi.

“Kita pulang,” katanya. Bukan perintah. Bukan desakan. Hanya permintaan yang diulang karena tidak ada jawaban.

Eirik berdiri di depannya. Di tangannya ada pisau kerajaan yang ia curi dari bengkel kerajaan sebelum ia dan Signe memulai pelarian—cukup tajam, cukup dekat.

Ia mencoba berbicara, tetapi kata-kata tidak menemukan bentuk. Yang ada hanya ketakutan yang tertata rapi: tentang kembali tanpa apa-apa, tentang menjadi nama yang dilupakan, tentang hidup yang tidak lagi memandangnya.

Signe menggeleng pelan. Air matanya jatuh tanpa suara.

“Aku hanya ingin kembali ke desa,” katanya.

Eirik menangis, air mata mengalir seperti sesuatu yang telah diputuskan sebelumnya. Ia mendekat, berlutut, dan menundukkan kepala seolah memohon maaf pada sesuatu yang tidak bisa mengampuni.

Tangannya gemetar. Pisau itu tidak.

Ia mengatakan pada dirinya bahwa ini perlu. Bahwa tanpa ini, semuanya akan runtuh. Bahwa kisah yang akan lahir dari kematian ini akan menyelamatkannya dari kehampaan yang lebih kejam.

Signe melihat pisau itu. Ia memahami lebih cepat daripada yang ia harapkan.

“Jangan,” katanya. Bukan karena takut mati, tetapi karena ia tidak ingin Eirik menjadi seseorang yang tidak ia kenal di hutan itu.

Tusukan pertama tidak rapi. Yang kedua lebih cepat. Tidak ada teriakan panjang. Tidak ada perlawanan yang bisa dikenang. Hanya napas yang terputus, dan tangan yang kehilangan kekuatan.

Eirik memeluk tubuh Signe saat semuanya selesai. Ia menangis lebih keras sekarang, seperti orang yang baru sadar bahwa pilihannya tidak bisa dibatalkan. Ia membisikkan maaf yang tidak diminta. Ia menjanjikan hal-hal yang tidak akan pernah sampai.

Hutan tetap diam.

Tidak ada pasukan datang. Tidak ada bayangan lain. Tidak ada saksi. Yang ada hanya keputusan, dan akibatnya.

Eirik terbangun dengan napas pendek. Kamarnya gelap. Mahkota berada di meja, tidak bergerak. Tidak ada darah di tangannya. Tidak ada pisau. Tidak ada Signe.

Ia duduk lama tanpa memanggil siapa pun.

Mimpi itu tidak memberinya kelegaan. Ia tidak meminta pengampunan. Ia hanya mengingatkan.

Bahwa di hutan itu, sebelum cerita disepakati, sebelum kebohongan terasa nyata, kebenaran telah terjadi—tanpa penonton, tanpa pembenaran.

Dan bahwa kemenangan yang ia miliki sekarang berdiri di atas permohonan yang pernah ia abaikan.

Sesekali, bayangan Signe muncul tanpa diminta. Tidak sebagai korban, tetapi sebagai seseorang yang pernah berkata ingin kembali. Kalimat itu terus muncul, tidak pernah berubah.

Ia menepisnya.

Ia mengatakan pada dirinya bahwa semua ini perlu. Bahwa kerajaan membutuhkan simbol. Bahwa rakyat membutuhkan wajah yang bisa mereka cintai. Bahwa Astrid terlalu dingin untuk itu.

Ia tidak pernah mengakui bahwa kebaikannya sendiri selalu dilakukan di hadapan orang banyak.

Mahkota itu memang berat, tetapi yang lebih berat adalah keheningan setelah sorak sorai berhenti.

Beberapa minggu kemudian, kebijakan-kebijakan lama dilanjutkan tanpa banyak perubahan. Pajak tetap ada. Logistik tetap ketat. Musim dingin tidak bisa dinegosiasikan hanya dengan niat baik.

Rakyat mulai mengeluh pelan-pelan, seperti biasa. Mereka belum menyalahkan Eirik. Belum.

Cerita rakyat mulai berubah bentuk. Astrid menjadi ratu jahat dalam kisah anak-anak. Eirik menjadi raja yang kehilangan cinta dan bangkit dari penderitaan. Kisah itu sederhana. Mudah diingat. Mudah diceritakan ulang.

Tidak ada ruang di dalamnya untuk surat, perintah rahasia, atau catatan logistik.

Kebenaran tidak dibutuhkan untuk membuat kerajaan berjalan. Yang dibutuhkan hanyalah cerita yang disepakati bersama.

Pada suatu malam, Eirik berdiri di balkon istana, memandang kota yang tertidur. Ia memegang mahkota di tangannya, sejenak sebelum meletakkannya kembali.

Ia menang.

Dan di dalam kemenangan itu, ia menyadari bahwa tidak ada lagi tempat untuk bersembunyi.

Di kerajaan itu, kebaikan tidak pernah cukup lembut untuk dipercaya, dan keburukan terlalu rapi untuk dibenci.

Share:
Location: Scandinavia