Bogor, 2001
Pagi
hari di Rumah Sakit Azra, hujan tipis turun seperti abu yang jatuh perlahan
dari langit. Kabut menggantung rendah di luar jendela kaca lobi, membuat
semuanya terlihat buram—seolah dunia ikut menahan napas untuk sesuatu yang
buruk. Hana Maheswari duduk di bangku merah yang dingin, kedua tangan meremas
ujung jaket cardigannya. Di pangkuannya, Aira, bocah perempuan berusia tiga
tahun, tertidur dengan kepala tergeletak di bahu ibunya. Wajahnya begitu
tenang, seolah ia belum pernah mengenal apa itu guncangan hidup.
Hana
mengusap rambut pendek Aira, membenarkan poni kecil yang selalu jatuh menutupi
matanya.
“Sebentar lagi ya, Nak,” gumam Hana dengan suara setipis kertas. Ia tahu Aira
tidak mendengar, tapi kebiasaan berbicara tetap bertahan dari ketakutan seorang
ibu.
Di
depan mereka, Dimas Maheswara berjalan mondar-mandir. Sepatunya mengetuk lantai
berulang-ulang, ritme gelisah yang menusuk telinga. Wajahnya pucat, dagu
bergetar. Ia tak pernah kuat menunggu di rumah sakit—tapi kali ini, ada sesuatu
yang lebih besar dari sekadar kecemasan seorang ayah.
Pintu
ruangan dokter THT terbuka.
“Pak
dan Bu Maheswara,” panggil sang dokter, pria paruh baya dengan kacamata minus
tebal.
Hana
berdiri cepat, memeluk Aira yang masih terlelap. Dimas menyusul dengan langkah
berat.
Mereka
masuk ke ruangan kecil yang dindingnya dipenuhi poster anatomi telinga. Aroma
obat antiseptik menusuk hidung.
Dokter
membuka map hasil pemeriksaan. Suaranya datar, tapi matanya menyiratkan empati
yang tidak cukup untuk meredam badai yang akan datang.
“Setelah
serangkaian tes… kami bisa memastikan bahwa fungsi pendengaran Aira sudah
hilang sejak lahir. Ia mengalami tunarungu total.”
Hana
menunduk, memeluk Aira lebih erat.
Meski
ia sudah menduga, mendengar kata-kata itu secara langsung tetap seperti ditikam
dari belakang.
Sementara
itu, Dimas terpaku. Mata membesar, mulut menganga, dan hembusan napas panjang
lolos begitu saja.
“Total?
Maksud dokter… dia nggak bisa dengar sama sekali?”
Dokter
mengangguk.
“Tidak
sama sekali. Bahkan suara keras pun tidak.”
“Terapi?”
tanya Hana pelan, suara bergetar.
“Ada,
tapi… karena ini bawaan lahir, kemungkinan membaiknya sangat kecil. Kita harus
fokus pada komunikasi alternatif—bahasa isyarat, terapi wicara, atau sekolah
khusus.”
Dimas
tiba-tiba terduduk. Kursi plastik itu berderit keras.
Seandainya
Aira bisa mendengar… ia pasti akan terbangun oleh suara itu.
Tapi
ia hanya tidur. Tenang. Tidak terpengaruh.
Seakan
dunia sudah menutup telinganya sejak lahir.
Setelah
selesai, mereka keluar ruangan dalam kesunyian berat.
Hana
menggendong Aira menuju area parkir yang licin oleh hujan. Di bawah langit
kelabu itu, Dimas akhirnya bicara.
“Aku…
aku nggak siap, Han.”
Hana
berhenti berjalan.
“Apa
maksudmu?”
“Susah!
Hidup kita bakal susah!” Dimas menekankan setiap katanya seperti sedang
menghajar udara dengan kemarahan yang tidak punya arah.
“Aira…
dia… dia beda. Dia nggak akan bisa sekolah normal. Nggak bisa bergaul. Nggak
bisa hidup kayak anak lain!”
“Dia
anak kita, Dim,” jawab Hana lembut sambil menatap wajah suaminya. “Anak kita.”
Tapi
Dimas tidak melihatnya. Tatapannya kosong jauh ke arah hujan.
Beberapa
hari kemudian di rumah keluarga Mahardika. Rumah besar bercat krem itu terletak
di kawasan Pajajaran, dengan pagar tinggi dan taman luas di depannya. Tempat
yang sunyi, tapi bukan sunyi yang menenangkan.
Lebih
seperti sunyi yang menyembunyikan banyak luka tak terucap.
Saraswati
Mahardika, ibu Dimas, duduk di ruang tamu dengan daster batik dan rambut
disanggul rapi. Tatapannya tajam, seolah setiap kalimat yang keluar darinya
siap menjadi pisau.
“Jadi
benar?” suaranya meninggi. “Cucu saya itu… cacat?”
Hana
mengepal tangannya yang gemetar.
“Bu,
tolong jangan bilang begitu. Aira—”
“Cacat!”
Saraswati menekankan lagi, kali ini menatap Hana seolah ia virus mematikan.
“Ini
pasti karena kamu! Waktu hamil kamu keras kepala sekali, masih kerja, masih
naik motor! Sudah saya bilang berhenti!”
“Ini
bukan salah Hana.” Dimas mencoba menengahi. Suaranya lemah.
“Lalu
salah siapa? Langit?” bentak Saraswati. “Dengarkan baik-baik, Dim. Anak seperti
itu… masa depannya gelap. Kalian tidak akan sanggup merawatnya.”
Dimas
menunduk.
Hana
ingin memeluk Aira yang sedang duduk di sofa, menggenggam boneka kelinci lusuh.
Sedikit pun Aira tidak mengerti drama yang terjadi di sekelilingnya.
“Pokoknya,
saya tidak mau cucu saya menjadi beban keluarga ini,” ujar Saraswati. “Kalau
kamu terus dengan Hana dan anak itu, kamu akan terlilit masalah seumur hidup.
Sekolah khusus mahal, terapi mahal. Hidup kamu akan hancur.”
Hana
meresapi setiap kata.
Beban.
Kata itu menggema, tapi tidak terdengar. Hanya terasa—tajam, seperti jarum
menusuk dada.
“Bu,
jangan begitu…” suaranya pecah.
“Kalau
Dim mau hidup tenang, ceraikan dia.”
Hana
terdiam. Wajahnya memucat, tapi Aira tiba-tiba menatapnya—mata polos berwarna
cokelat gelap itu seakan bertanya kenapa Mama gemetar?
Hana
tersenyum lirih ke Aira, agar gadis kecil itu tidak menangkap ketakutan yang
menggerogoti ibunya.
Malam
itu di rumah kecil Hana & Dimas, Ciluar, Bogor Utara. Jam dinding berdetak
keras dalam kesunyian rumah. Hujan turun lagi, lebih deras. Aira duduk di
lantai bermain dengan balok kayu berwarna, tersenyum tanpa suara.
Dimas
berdiri di ruang tengah sambil memegang map perceraian. Tangannya dingin, tapi
kata-katanya lebih dingin.
“Hana…
maaf.”
Hana
menatapnya dengan mata memerah.
“Kamu
serius?”
“Aku
nggak sanggup, Han.”
Dimas
mengusap wajahnya. “Aku masih muda… aku belum siap jadi ayah dari anak
seperti—”
“LANJUTKAN,”
Hana menantang dengan suara rendah.
Dimas
menggigit bibir.
“—anak
seperti Aira.”
Sebuah
hening panjang.
Aira
memandang mereka berdua dengan senyum, tidak mengetahui apa yang sedang runtuh.
“Dimas,”
suara Hana pecah, “jangan tinggalkan kami…”
Tapi
Dimas menggeleng. “Aku minta cerai. Mulai besok… aku tinggal di rumah Ibu.”
Ia
mengambil jaket, tas, lalu berjalan menuju pintu.
Saat
pintu itu terbuka, udara malam yang lembab masuk, membuat tubuh Hana bergidik.
Aira bangkit dan berjalan terpincang kecil ke arah ayahnya.
Ia
memegang ujung celana Dimas.
Tangan
kecilnya menepuk-nepuk tanpa suara, memohon agar ayahnya memberi perhatian.
Tapi
Dimas tidak melihatnya.
Ia
melepaskan tangan Aira dan berkata lirih, “Maafkan Ayah.”
Lalu
ia keluar.
Dan
pintu itu—pintu yang menjadi batas antara keluarga dan kehancuran—tertutup
keras.
Aira
tertegun. Ia menoleh, kaget oleh getaran yang dirasakan dari lantai, walau ia
tidak mendengar bunyinya.
Ia
tidak mengerti.
Tidak
ada suara.
Tidak
ada kata-kata.
Hanya
getaran pintu yang berakhir begitu cepat.
Aira
meraba-raba udara ke arah pintu seakan mencari sesuatu yang tak bisa ia lihat,
lalu menatap Hana dengan mata kebingungan.
Hana
berlari memeluknya.
“Aira…
Mama di sini, Sayang… Mama di sini.”
Aira
menyentuh pipi ibunya yang penuh air mata. Ia tersenyum kecil, mengira Hana
sedang bercanda atau bermain.
Ia
tidak tahu bahwa malam itu, dunia yang seharusnya melindunginya malah
membiarkan ia tumbuh tanpa ayah.
Beberapa
jam kemudian, Hana duduk di pinggir tempat tidur, lampu kamar redup menyinari
wajah lesunya. Di pangkuannya, Aira tertidur dengan tangan menggenggam baju
ibunya.
Hana
mengusap rambut Aira berulang kali, seperti ritual untuk menenangkan diri.
Ketika ia menunduk mencium dahi Aira, air matanya jatuh di kulit anaknya yang
lembut.
“Mama janji…” bisiknya lirih, suara pecah, “…mama nggak akan ninggalin kamu. Meski
dunia menolak, Mama tetap di sini.”
Aira
meringkuk, tidak menyadari sumpah besar yang baru saja ditanamkan ibunya ke
dalam takdir mereka.
Hana
menarik napas panjang, menatap jendela di mana hujan masih turun.
Lampu-lampu
kota Bogor terlihat samar di balik tirai air.
Malam
itu, Bogor seperti ikut menangis.
Ia
memeluk Aira lebih erat, seakan dunia bisa merampas anaknya kapan saja.
Lalu
ia menutup mata dan berbisik, meski tahu Aira tak akan mendengar:
“Mulai
hari itu, hanya ada aku dan kamu. Dalam dunia yang tidak mendengar kita.”
Hujan
selalu datang lebih cepat di Bogor. Pagi itu, langit masih setengah biru ketika
titik-titik air tiba-tiba mulai menodai trotoar depan rumah kontrakan Hana dan
Aira di kawasan Bantarjati. Aroma tanah basah merembes ke jendela kecil kamar
Aira—kamar sempit dengan dinding hijau pucat yang mengelupas di beberapa sudut.
Di dalamnya, Aira duduk memeluk ransel birunya, menatap gerimis yang turun
perlahan, seperti mengikuti ritme denyut jantungnya yang gelisah.
Hari
ini pertama kalinya ia masuk sekolah di SDN Bantarjati 5—sekolah umum, bukan
sekolah khusus seperti saran dokter-dokter yang dulu memeriksanya. Hana
berlutut di depannya, membenarkan kancing baju seragam putih yang terlalu
longgar di tubuh kecil Aira.
“Aku
tahu kamu takut,” bibir Hana bergerak lambat sambil menggunakan tangannya untuk
mengartikan kalimat yang keluar dari bibirnya, memastikan Aira bisa memahami.
“Tapi kamu harus mencoba, sayang. Kamu harus punya dunia.”
Aira
mengangguk, walau ia tak sepenuhnya mengerti apa itu “punya dunia”. Dunia
baginya hanyalah gerak tangan, getaran langkah, dan tatapan orang-orang yang ia
tak bisa artikan.
SDN Bantarjati 5 berdiri di antara ruko-ruko kecil dan pohon-pohon besar yang
menaungi jalanan. Anak-anak berlari di halaman, berteriak, saling memanggil
nama. Suara-suara itu tidak pernah sampai pada Aira, hanya tampak seperti mulut
yang bergerak tanpa suara, seperti film bisu yang pecah-pecah.
Dalam hati Aira berbicara :
Kenapa
mereka membuka mulut begitu lebar?
Kenapa
wajah mereka berubah-ubah cepat? Apakah mereka marah? Senang? Mengolokku?
Ah… aku tidak tahu… aku tidak tahu apa pun.
Genggaman
Hana di tangannya sedikit bergetar—bukan karena takut melepaskan Aira, tapi
karena perasaan bersalah yang semakin lama menumbuk jantungnya sendiri.
Bu
Ratna, wali kelas Aira, menyambut mereka di depan kelas 1B. Wanita sekitar
empat puluhan itu tersenyum ramah, memegang papan tulis kecil tempat ia
menulis:
“Selamat
datang, Aira.”
Aira
membalas dengan tulisan gemetar di buku catatannya:
“Terima
kasih. Saya Aira.”
Hana
memandangnya sebentar, lalu pergi. Aira melihat punggung ibunya menghilang di
balik gerimis yang mulai deras. Dan entah kenapa, dadanya terasa sesak—bukan
takut, tapi terlalu sunyi di tempat yang terlalu ramai.
Hari-hari
pertama berjalan kaku. Aira duduk di bangku paling depan, di samping seorang
anak perempuan yang rambutnya diikat dua—Kaila Prameswari.
Kaila
selalu penasaran dengan dunia Aira.
Hari
pertama duduk bersisian, Kaila menepuk pundaknya pelan dan menuliskan sesuatu di buku catatan Aira :
“Kamu
beneran nggak bisa dengar apa-apa?”
Aira
menulis balik:
“Tidak.”
Kaila
kembali menulis:
“Terus
kamu sedih?”
Aira
sempat menatap lama halaman kosong buku itu sebelum akhirnya menulis:
“Aku
tidak tahu. Rasanya… diam.”
Kaila
mengangguk, seolah mengerti sesuatu yang bahkan Aira sendiri tidak mengerti.
Dari
hari ke hari, Kaila mulai belajar membaca mulut Aira meski sering salah. Setiap
kali salah menebak, Kaila tertawa kecil. Aira ikut tersenyum—tanpa suara, tanpa
getaran—tapi dari mata yang berbinar.
Namun
tidak semua teman sekelas sehangat itu.
Awalnya
mereka memandang Aira dengan tatapan kasihan. Nadya sering membawa bekal lebih,
memberikan sepotong roti sobek kepada Aira tanpa berkata apa-apa. Raka dan Bima
kadang membantu membawakan bukunya.
Tapi
semua itu berubah perlahan.
Ketika
pelajaran matematika berjalan lambat karena Bu Ratna harus menuliskan instruksi
dua kali—satu di papan, satu di buku Aira—Nadya mulai menghela napas keras.
Raka
bergumam pada Bima sambil melirik ke arah Aira.
Mulut
mereka bergerak cepat.
Apa
yang mereka bicarakan? Kenapa wajah mereka terlihat kesal?
Aku
duduk di sini saja. Aku tidak bicara. Aku hanya menulis.
Apakah
aku salah? Kenapa semua terasa salah?
Karena
tak bisa mendengar suara apa pun, Aira hanya melihat ekspresi. Dan ekspresi itu
sedikit demi sedikit berubah dari iba menjadi jengkel.
Hari-hari
berikutnya, mereka sering menarik bangku menjauh. Raka pernah sengaja menutup
mulutnya rapat-rapat saat berbicara, membuat Aira tidak bisa membaca gerak
bibirnya. Nadya pernah menepuk meja keras—Aira tidak bereaksi.
Nadya
tertawa.
Raka
mengikutinya.
Bima
hanya menunduk, tapi tidak menghentikan.
Suatu
siang setelah istirahat, Aira kembali ke kelas dan mendapati buku catatannya
hilang. Buku kecil itu adalah suaranya, dunia kecil tempat ia menulis semua hal
yang tidak bisa ia ucapkan.
Ia
mencarinya panik, memeriksa tas, laci meja, kolong bangku.
Matanya
panas. Jari-jarinya gemetaran.
Siapa
yang ambil? Kenapa? Itu… suaraku…
Di
halaman belakang sekolah, ia menemukan Nadya, Raka, dan Bima melingkar.
Mereka
membuka buku itu.
Menertawakan
sesuatu.
Menunjuk-nunjuk
tulisan Aira.
Mulut
mereka bergerak cepat, seperti ombak yang menghantam batu karang.
Aira
tidak mendengar apa pun. Tetapi wajah Nadya yang disorot sinar matahari sore
terlihat jelas—senyum sinis yang menusuk.
Ada
halaman yang mereka sobek.
Entah
apa isinya.
Entah
kenapa itu lucu bagi mereka.
Aira
berjalan perlahan ke arah mereka. Tidak marah. Tidak berteriak. Tidak bisa.
Ia
hanya mengulurkan tangan kecilnya, meminta buku itu kembali.
Bima
tampak ragu, tapi Raka langsung menyodorkan buku itu dengan keras sampai nyaris
mengenai dada Aira.
Aira
memeluk buku itu.
Menunduk.
Pergi tanpa suara.
Yang
tertinggal hanyalah halaman sobek yang berkibar ditiup angin.
Bu
Ratna sering mengajak Aira duduk di perpustakaan kecil sekolah—ruangan dengan
jendela besar yang menghadap pohon mangga tua. Ia menulis pesan panjang di
papan kecil:
“Aira
pintar. Kamu hanya butuh cara lain untuk belajar.”
Aira
menulis:
“Aku
lambat.”
Bu
Ratna menggeleng.
“Bukan
lambat. Dunia belum siap.”
Meski
berusaha, Bu Ratna tetap terikat aturan. Kurikulum tidak menyediakan pendamping
bagi anak disabilitas. Ruang kelas terlalu padat. Guru lain tidak sabar. Bahkan
kepala sekolah sempat berkata:
“Anak
seperti dia lebih cocok di sekolah khusus. Kita tidak punya fasilitas.”
Hana
mendengar itu.
Pulang-pulang
ia menangis di dapur.
Aira
memeluk ibunya dari belakang, meski ia tak paham alasan tangis itu.
Aku
membuat Mama sedih?
Karena
aku tidak bisa mendengar?
Andai
aku bisa… hanya sebentar saja… mendengar suara Mama…
Suatu
sore di kelas 4, Aira duduk sendirian di bangku paling belakang karena ia minta
pindah—tidak ingin menghambat siapa pun.
Hujan
turun deras di luar, membuat jendela berembun. Aira menggambar bentuk telinga
besar di buku catatannya. Telinga itu begitu besar, memenuhi satu halaman
penuh.
Lalu
ia menarik garis silang melintang—keras.
Ini
tidak bekerja.
Aku
tidak bekerja.
Kenapa
aku harus punya tubuh seperti ini?
Ia
menatap lama gambar itu, sebelum menulis kecil di sudut halaman:
“Aku
ingin mendengar. Bukan karena ingin seperti mereka… tapi karena aku ingin tahu
suara diriku sendiri.”
Malamnya,
Aira duduk di kamar kecilnya di rumah kontrakan. Hujan mengetuk atap seng
seperti drum lembut—ia tak mendengarnya, tapi ia merasakan getarannya dari kaki
yang menempel lantai.
Ia
membuka bukunya lagi.
Menatap
gambar telinga besar yang disilang.
Jari-jarinya
menyentuh garis itu perlahan, seperti mengusap luka.
Kemudian
ia menutup buku itu, memeluknya ke dada.
Dalam
dunia yang tak memberi suara, ia hanya berharap satu hal:
“Semoga
suatu hari… ada seseorang yang mau mendengar tanpa suara.”
SMPN
5 Kota Bogor berdiri tidak jauh dari Jl. Dadali, bangunannya agak tua dengan
cat kuning pudar dan pagar yang berkarat di beberapa sisi. Koridor lantainya
licin, penuh jejak sepatu basah karena hujan Bogor yang tak kenal musim. Bagi
Aira, sekolah ini seperti labirin ramai yang menjerit tanpa suara—mulut-mulut
bergerak tanpa henti, tetapi dunianya tetap sunyi.
Hari
pertama kelas 7, Aira duduk di bangku belakang, dekat jendela. Ia membuka buku
catatan kecilnya—suara kedua yang selalu ia jaga seperti nyawa.
Tapi
sejak minggu kedua, buku-bukunya mulai sering hilang.
Pertama,
saat pulang sekolah.
Semua
barang sudah di tas—kecuali catatan kecilnya.
Ia
panik, mencari di bawah bangku, di laci, bahkan di tempat sampah kelas.
Akhirnya
ia menemukannya di toilet belakang, tergeletak di lantai basah.
Halaman tengahnya penuh coretan:
“BISA
DENGER DONG!!!”
“JANGAN
SOK KASIHAN.”
“BISU!”
Huruf-huruf
kapital itu seperti menampar jantungnya berulang kali.
Aira
memeluk buku itu erat, bahunya gemetar.
Kenapa
mereka menulis seperti itu?
Apa
aku salah?
Apa
aku membuat mereka marah hanya dengan… ada?
Ia
tidak menangis. Ia hanya menggigit bibir sampai terasa asin, meski ia tak
mendengar suara sobek di hatinya sendiri.
Ironisnya,
Nadya dan Bima—anak yang dulu sekadar “tidak suka”—kini menjadikannya target.
Bima
sering menepuk pundaknya dari belakang keras-keras agar ia kaget. Kadang
menirukan gerakan tangan seolah sedang mengucap bahasa isyarat tetapi dengan
gerakan yang dibuat-buat, seperti mengejek.
Nadya
lebih halus, tapi lebih menyakitkan.
Ia
sering pura-pura mengajak bicara Aira, lalu saat Aira berusaha membaca gerak
bibirnya, Nadya menutup mulut dengan tangan dan tertawa.
Lain
kali, Nadya menulis pesan di kertas:
“Aira
kamu cantik.”
Aira
tersenyum kecil, polos.
Tapi
di balik kertas itu ada tulisan lain:
“…kalau
kamu bisa denger.”
Lalu
tawa meledak di sekitar mereka.
Bima
bahkan pernah menulis pesan di buku Aira, bertanya dengan nada ejekan:
“Hey
Aira, aku menebak kenapa kamu tidak bisa mendengar, pasti kamu tidak pernah
mengorek kotoran telingamu...”
Semua
melihat Aira.
Aira
hanya melihat mulut bergerak—gerakan cepat, mulut terbuka, mata mengecil.
Ia
tahu itu tawa, tapi mengapa terasa seperti suara pecahan kaca?
Aku
tidak mengerti kenapa lucu.
Apa
aku benar-benar berbeda sampai orang bisa bahagia dengan membuatku hancur?
Apa
aku hanya bahan lelucon di sini?
Hal
yang paling menyakitkan bukan tawa itu—tapi kenyataan bahwa ia tak bisa protes.
Tidak dengan suara, tidak dengan kata.
Hanya
diam.
Selalu
diam.
Di
antara semua gelapnya hari-hari Aira, ada Kaila—teman yang sudah bersamanya
sejak SD. Kaila memilih masuk SMP yang sama demi memantau Aira, meski Aira tak
pernah memintanya.
Sementara
siswa lain sibuk mencari jati diri, Kaila sibuk mempelajari bahasa isyarat dari
internet. Ia membawa kertas kecil berisi catatan gerakan tangan:
“Nama
aku Kaila”
“Apa
kabar?”
“Kamu
mau cerita?”
Kaila
mempraktikannya di depan Aira, sering kali salah. Gerak tangannya kaku,
jari-jarinya bingung. Tapi Aira tersenyum melihat usahanya.
Namun
semakin Kaila membelanya, semakin keras bullying yang Aira terima.
Suatu
hari di kantin, Bima berseru sambil menggerakkan tangan aneh:
“Eh
lihat! Si Kaila, sahabat Bisu!”
Nadya
tertawa sambil menepuk-nepuk meja.
Kaila
memukul mereka dengan tatapan marah—tanpa berkata apa-apa.
Dan
Aira hanya berdiri di belakangnya, menunduk.
Dalam
hati:
Maaf.
Maaf ya, Kaila.
Karena
aku… jadi bebanmu lagi.
Kenapa
aku selalu membuat orang yang peduli menjadi sasaran juga?
Kail…
kamu bisa berhenti peduli kalau mau. Aku bisa sendiri… aku pasti bisa sendiri.
Tapi
Kaila tidak pernah berhenti.
Bahkan
ketika Aira menghindarinya karena merasa bersalah, Kaila tetap mencari. Tetap
duduk di sampingnya. Tetap membawa bekal untuk dibagi dua.
Seperti
seseorang yang memegang lilin kecil dalam lorong paling gelap.
SMAN
7 Bogor lebih besar, lebih modern, dengan halaman luas dan bangunan dua lantai
berwarna krem. Namun bagi Aira, sekolah ini tetap bagai pasar besar: ramai,
berisik, penuh interaksi sosial yang tidak bisa ia dengar.
Hari-hari
pertama ia mencoba lebih berani.
Ia
duduk di tengah kelas.
Berusaha
membaca bibir guru lebih cepat.
Berusaha
ikut tertawa saat teman-temannya tertawa, meski tak tahu apa leluconnya.
Tapi
selalu ada jeda.
Selalu
ada momen ketika tawa orang lain telat ia pahami, membuatnya terlihat seperti
sedang menirukan.
Selalu
ada ekspresi kasihan yang ia lihat dari sudut mata.
Selalu
ada wajah yang bergumam tanpa suara:
“Kasihan,
dia nggak ngerti.”
Kadang
seseorang membuka mulut, bicara panjang. Ketika Aira bertanya lewat catatan
menanyakan apa yang dibicarakan, orang itu memutar bola mata.
Mulutnya
bergerak cepat—Aira membaca:
“Nggak
usah deh, ribet.”
Ribet.
Kata
yang menghantam jantung lebih keras dari apa pun.
Apakah
keberadaanku… menyusahkan?
Apakah
aku memang ribet untuk diajak bicara?
Kalau
begitu… mungkin aku harus diam selamanya saja.
Ia
perlahan kembali menjauh dari kerumunan.
Menjadi
bayangan di kelas.
Tatapan
yang terselip di sudut.
Lalu
hadir dua sosok baru.
Davin:
anak laki-laki tinggi berkacamata, aktif di OSIS, sering membawa kamera DSLR.
Nara:
gadis pendiam tapi cerdas, pecinta buku dan seni.
Keduanya
mengambil jurusan IPS seperti Aira.
Yang
tidak biasa adalah: mereka tidak melihat Aira sebagai beban.
Mereka
tertarik.
Davin
pertama kali mendekati Aira saat tugas kelompok sejarah.
Ia
menulis di buku:
“Kalau
kamu nggak nyaman ngomong, gapapa. Kita pakai tulisan aja.”
Aira
terpaku.
Tidak
banyak orang yang langsung paham begitu.
Nara
lebih ekstrem.
Ia
mulai belajar bahasa isyarat… dengan cepat.
Bahkan
lebih cepat dari Kaila dulu.
Minggu
pertama: ia bisa huruf.
Minggu
kedua: ia bisa kalimat pendek.
Minggu
ketiga: ia bisa bercanda.
Nara
pernah berkata lewat tulisan:
“Aku
belajar ini bukan buat kasihan. Aku cuma mau ngerti kamu.”
Aira
membacanya berkali-kali. Air matanya keluar begitu saja, bahagia karena ada
yang mau memahaminya. Seakan tak percaya seseorang akan mengucapkan itu
padanya.
Dengan
Davin dan Nara, Aira mulai tertawa.
Bukan
tertawa bersuara—tapi dengan mata yang memicing bahagia, pundak yang naik turun
kecil. Davin sering memotret Aira saat ia “tertawa hening”.
Nara
sering menulis:
“Lucu
banget kamu ketawa tanpa suara.”
Aira
menunduk, wajahnya memanas.
Apa
benar… aku bisa membuat seseorang bahagia?
Apa
benar ada yang mau memahami dunia tanpa suara ini?
Apa
aku boleh… sedikit saja… percaya?
Namun
meski ada cahaya, bayang-bayang tetap mengintai.
Suatu
sore, saat pelajaran olahraga.
Guru
memberi instruksi cepat—Aira tidak bisa mengikuti.
Teman-teman
berlarian ke arah lapangan, dan Aira ketinggalan sendirian.
Dari
jauh ia melihat sekelompok siswa menunjuk ke arahnya, tertawa.
Ia
bisa membaca mulut salah satunya:
“Tuh
kan, telat. Kasihan.”
Kasihan.
Kata
itu lagi.
Kata
yang menusuk lebih dari pisau.
Ia
pulang naik angkot 03, duduk di pojok dekat jendela.
Air
mata turun tanpa suara—bahkan ia tak sadar kapan mulai menangis.
Ia
menggigit bibir, menahan isak yang tak pernah keluar.
Saat
tiba di rumah, Hana memeluknya.
Aira
memeluk balik, bahunya bergetar.
Aku
capek, Ma.
Capek
jadi beda.
Capek
jadi kasihan.
Capek
harus berusaha keras hanya untuk… mengerti sedikit saja.
Kenapa
aku nggak bisa jadi remaja biasa?
Hana
menangis tanpa Aira tahu suara tangis itu seperti apa.
Rooftop
SMAN 7 adalah tempat tersembunyi favorit siswa yang ingin kabur sebentar dari keramaian.
Aira sering naik ke sana diam-diam saat jam istirahat. Pemandangan Kota Bogor
dari atas begitu luas—atap merah, pepohonan besar, awan kelabu yang menggantung
rendah.
Hari
itu angin bertiup kencang.
Rambut
Aira terangkat, seragamnya bergetar.
Ia
berdiri di tepi pagar, menutup mata.
Membiarkan
angin menyentuh wajah, pipi, kelopak matanya.
Getarannya
seperti musik—musik yang tidak bisa ia dengar, tapi bisa ia rasakan.
Untuk
pertama kalinya setelah lama, bibirnya melengkung sangat kecil.
Senyum
yang hampir tidak terlihat.
Kalau
angin punya suara… bagaimana ya bentuknya?
Jika
dunia ini memang tidak ingin aku mendengarnya… biarlah aku merasakannya.
Mungkin
ini… cukup.
Pohon-pohon
besar di sekitar kampus Universitas Pakuan terlihat seperti bayangan patah yang
berdiri dalam genangan hujan semalam. Trotoarnya licin, dan udara pagi membawa
dingin yang merayap diam-diam ke sela-sela tulang.
Aira
berdiri di depan gerbang kampus, menatap barisan motor yang berdesakan.
Ranselnya terasa berat, bukan karena buku—namun karena perasaan yang sejak lama
tak ia mengerti.
“Mungkin aku akan berubah di sini,” begitu ia menulis di catatan kecilnya pada
hari pertama masuk.
“Mungkin di sini aku bisa… bertemu dunia.”
Tapi
dunia tidak menyambutnya.
Ruang
kelas Psikologi Dasar penuh. Suara kursi bergeser, tawa, dan obrolan cepat yang
tak pernah bisa Aira tangkap. Semua bercampur dalam satu hal yang ia tidak
punya: bunyi. Ia duduk di barisan kedua dari depan—posisi aman untuk membaca
gerak bibir dosen.
Dosen
hari itu, seorang laki-laki berusia sekitar empat puluhan, memulai kuliah
dengan kecepatan bicara seperti kereta ekspres. Mulutnya bergerak cepat—“psiko…
sistem… dinamika… motivasi”—tapi bentuk kata-kata itu pecah di mata Aira
seperti kaca retak.
Ia
tak mengerti apa pun.
Mahasiswa
lain mulai gelisah setiap kali dosen berhenti untuk memberi Aira waktu membaca
slide lebih lama.
Seseorang
di belakang berbisik:
“Ya
ampun, jadi lama banget.”
“Kalo
gak bisa denger, ngapain masuk psikologi?”
“Beban
banget, sumpah.”
Aira
tidak mendengar kalimat-kalimat itu, tapi ia melihat wajah-wajah yang menunduk
sambil mengobrol, bahu-bahu yang saling senggol, mata yang melirik ke arahnya.
Apakah mereka bicara buruk?
Mungkin
tidak.
Mungkin
iya.
Kenapa
aku berharap mereka baik?
Kenapa
aku selalu berusaha menebak apa yang aku tak akan pernah dengar?
Tapi
dari sekian banyak wajah, ada satu yang sering mencuri pandang—seorang
laki-laki berjaket hitam, rambut berantakan, kacamata bulat tipis. Ia selalu
duduk jauh di belakang. Tidak pernah bicara. Tidak pernah ikut tertawa. Hanya
sesekali melihat ke arah Aira, lalu buru-buru menghindar ketika Aira
memergokinya.
Aira
tidak tahu namanya. Ia hanya tahu: laki-laki itu tidak menertawakannya.
Suatu
sore hujan, Bu Karina Sasmita mengajak Aira duduk di ruang dosen yang penuh
buku-buku tua dan aroma teh panas.
“Aira,”
ujar Bu Karina perlahan sambil menulis di kertas. “Kamu tidak perlu memaksa
mengikuti ritme kelas. Kamu boleh kirim catatan pertanyaan ke saya kapan pun.”
Aira
mengangguk. Pipinya memanas.
Ia
menulis di buku kecilnya, Terima kasih. Maaf menyulitkan.
Bu
Karina membaca cepat lalu menggeleng lembut. “Kamu tidak menyulitkan siapa pun.
Itu cuma pikiranmu sendiri.”
Kalau
begitu… kenapa semua orang terlihat lelah karena aku?
Kenapa
dunia selalu tampak berjalan lebih cepat dari langkahku?
Kenapa
aku selalu menjadi penundaan bagi orang lain?
Bu
Karina menyentuh punggung tangannya. Sentuhan sederhana itu membuat Aira ingin
menangis.
Semester
berjalan seperti kabut yang tak pernah terangkat. Aira terus berusaha, tapi
setiap hari terasa seperti memecahkan kaca dengan tangan kosong.
Ia
duduk sendirian di kantin. Semua meja penuh suara. Ia tidak mendengar, hanya
melihat: tawa yang berguncang, mulut bergerak cepat, gestur spontan yang tak
pernah bisa ia artikan.
Beberapa
teman sekelas kadang menyapanya, tapi sapaan itu lebih seperti kewajiban sosial
daripada niat tulus.
“Kamu
bisa… ngerti?”
“Kamu
bisa baca bibir aku nggak?”
“Kamu
bisa ngomong?”
Setiap
pertanyaan itu menusuk.
Kadang
aku ingin menjawab dengan suara—suara sungguhan—tapi tidak ada yang keluar.
Bahkan
kalau aku berteriak, mereka tetap tidak akan mendengarnya.
Karena
orang seperti aku bukan hanya tidak bisa mendengar—kami tidak didengar.
Di
kamar kos kecilnya, Aira menulis jurnal.
“Aku
lelah. Aku ingin berhenti berusaha. Dunia seperti pintu kaca: aku bisa melihat
semua orang, tapi tidak bisa masuk.”
Ia
menutup jurnal itu dengan tangan gemetar.
Hujan
turun lagi malam itu, tipis tapi dingin. Di jalan ardio lampu-lampu jalan
memantul samar di genangan air. Aira berjalan tanpa tujuan, tanpa jaket, tanpa
payung.
Ia
hanya ingin diam.
Ia
hanya ingin dunia berhenti menuntut.
Ketika
ia sampai di dekat rel kereta, tanah becek menempel pada sepatunya. Suara
kereta… tentu saja ia tak bisa mendengarnya. Tapi ia bisa merasakan getaran
halus di tanah—getaran yang anehnya terasa seperti… panggilan.
Jika
aku berdiri di sini dan menutup mata… dunia mungkin akan akhirnya berhenti.
Aku
tidak lagi menjadi penundaan.
Aku
tidak lagi menjadi beban.
Aku
tidak lagi menjadi yang berbeda.
Gerimis
menggulung, dingin menusuk tulang. Aira melangkah ke rel.
Ia
menutup mata.
Getaran
semakin kuat.
Riku
Adinata sedang berjalan pulang dari stasiun ketika ia melihat sosok
itu—Aira—berjalan sendirian menuju rel. Hujan menipis membuat siluet Aira
tampak seperti bayangan yang hendak menghilang.
Riku
bukan tipe orang yang suka ikut campur. Ia introvert—lebih sering menatap buku
daripada manusia. Tapi ia mengenali Aira.
Ia
sudah lama memperhatikannya dari jauh.
Cara
Aira membaca bibir.
Cara
ia menunduk sambil menulis cepat di buku kecil.
Cara
ia tampak berusaha masuk ke dunia yang menolaknya setiap hari.
Riku
tidak tahu kenapa ia peduli.
Ia
hanya tahu: ada sesuatu pada gadis itu yang membuatnya tidak bisa mengalihkan
pandangan.
Ketika
melihat Aira berdiri di rel, tubuhnya langsung bergerak—tanpa logika, tanpa
mikir, hanya dorongan murni.
“AIRA!”
teriaknya.
Ia
tahu Aira tidak akan mendengar.
Tapi
ia tetap berteriak.
Riku
berlari. Kakinya terpeleset dua kali di lumpur. Nafasnya membakar dada. Getaran
rel makin keras, membuatnya panik.
Aira
tidak bergerak.
Riku
mengulurkan tangan dari jauh. “JANGAN!”
Kereta
muncul sebagai bayangan besar dari kabut. Cahaya lampunya memotong malam.
Riku
melompat.
Ia
meraih bahu Aira dan menariknya sekuat tenaga. Tubuh mereka jatuh berguling ke
samping, menghantam batu-batu kecil di pinggir rel. Kereta melintas dengan
kecepatan yang membuat angin tajam menghantam wajah mereka.
Aira
membuka mata tepat saat tubuhnya berhenti berguling. Pandangannya kabur. Ia
melihat sosok lelaki di atasnya—napas terengah, rambut basah, mata membelalak
ketakutan.
Riku
memegang wajahnya, memastikan Aira sadar.
Bibirnya
bergerak sangat jelas, perlahan, agar Aira bisa membaca.
“Kamu
penting. Kamu ada.”
Kata-kata
itu—meski tanpa suara—menerobos masuk ke dalam dirinya seperti cahaya pertama
setelah malam panjang.
Aira
menangis. Tapi seperti biasa, tanpa suara. Tubuhnya bergetar hebat, lebih
karena syok dan rasa hancur, bukan karena dingin.
Riku
memeluknya. Kaku, canggung, seperti seseorang yang tidak pernah memeluk siapa
pun sebelumnya. Tapi pelukan itu hangat.
Aira
memejamkan mata.
Untuk
pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa dilihat.
Dan
ia pingsan.
Ia
bangun di kamar kos yang tak ia kenal. Selimut menutup tubuhnya. Di meja kecil
ada secangkir teh yang masih hangat, dan catatan kecil:
Aku
Riku. Kamu pingsan. Aku cuma mau pastikan kamu aman.
Ini
adalah kamar kos ku, Aku di depan kos kalau kamu butuh apa pun.
Tenang
aku tidak melakukan apapun.
Tulisan
tangannya rapi tapi tampak gugup.
Aira
memegang catatan itu lama sekali.
Dadanya
terasa penuh, tapi kali ini bukan dengan rasa sakit—melainkan sesuatu yang tak
ia percaya masih ada: harapan.
Beberapa
hari setelahnya, Riku menemani Aira jalan ke kelas.
Canggung.
Diam.
Sesekali
Riku mencoba menyesuaikan posisi bicara agar bibirnya mudah terbaca.
Kadang gagal dan salah arah, lalu tersipu dan meminta maaf dengan tulisan di
HP.
Aira
menahan tawa—tawa kecil tanpa suara.
Riku
makin gugup kalau Aira tersenyum.
Ketika
Aira menunduk untuk menulis sesuatu, ia sadar: Hidupnya tidak berubah seketika.
Tapi seseorang baru telah masuk. Seseorang yang melihatnya bukan sebagai beban,
bukan sebagai gangguan, tapi sebagai manusia penuh.
Suatu
sore, Aira berdiri di balkon rumahnya, melihat langit Bogor yang kelabu. Ia
memejamkan mata. Tidak ada musik. Tidak ada suara.
Tapi
ia merasakan detak jantungnya.
Dan
untuk pertama kalinya… itu cukup.
Seseorang
mengetuk pintu rumahnya.
Aira
turun dan membuka, kebetulan ibunya sedang
bekerja, tidak ada dirumah.
Riku
berdiri di sana—dengan kantong plastik berisi roti, wajah canggung, dan pipi
agak merah.
Ia
mengangkat tangan kecil, memberi salam singkat, lalu menulis di ponselnya dan
menunjukkan pada Aira:
Aku
cuma… mau lihat kamu hari ini.
Aira
menunduk. Senyumnya muncul.
Hening.
Tapi bukan sepi.
Bogor
telah memasuki musim penghujan yang lain. Gerimis menjadi bagian sehari-hari,
seperti detak jantung kota ini. Langit kelabu, pepohonan selalu basah, dan
udara membawa aroma tanah setelah hujan—aroma yang Aira suka diam-diam.
Beberapa
bulan telah berlalu sejak malam di rel itu. Aira hidup dengan ritme yang
berbeda sekarang: masih sunyi, masih rapuh, tapi tak lagi sendirian. Ada
seseorang yang terus muncul di sisinya—sedikit canggung, sedikit kikuk, tapi
selalu datang.
Di
depan gedung Fakultas Psikologi, Aira melihat figur yang sekarang hampir selalu
ada: Riku Adinata berdiri dengan payung hitam yang dikenalnya, jaket tebal, dan
tas selempang penuh buku.
Aira
menghampirinya.
Riku
tersenyum kecil—senyum yang jarang ia berikan pada siapa pun.
Riku
mengetik di ponselnya lalu menunjukkan layar:
Pagi.
Hujan deras. Aku tunggu biar kamu gak basah.
Aira
mengangguk. Ia ingin menjawab dengan suara, ingin bilang “terima kasih”, tapi
kalimat itu hanya datang lewat gerakan bibir yang tidak pernah benar-benar
bersuara.
Mereka
berjalan berdampingan ke kelas. Langkah Riku selalu sedikit melambat agar Aira
bisa melihat bibirnya jika ia bicara. Beberapa teman mulai memperhatikan
mereka—terutama karena Riku bukan tipe orang yang dekat dengan siapa pun.
“Seriusan
Riku sekarang sama cewek itu?” bisik seseorang.
Aira
tidak mendengar. Tapi ia melihat mulut yang bergerak. Dan meski ia tidak tahu
apa yang diucapkan, hatinya tetap menegang.
Riku
melihat ekspresinya berubah, lalu ia menulis cepat:
Kalau
ada yang bikin kamu gak nyaman, bilang.
Aku
di sini.
Aira
menatapnya lama. Lalu tersenyum kecil. Senyum yang membuat wajah Riku memerah.
Riku
mulai belajar bahasa isyarat secara diam-diam. Aira tahu karena ia sering
melihat gerakan tangan Riku yang aneh—terlalu kaku, terlalu lambat, seperti
robot yang baru diprogram.
Suatu
sore di taman kampus, Riku duduk di sampingnya sambil menatap buku kecil berisi
gambar-gambar isyarat dasar. Ia mencoba mengeja namanya:
“R-i-k-u”
Gerakannya
salah semua.
Aira
nyaris tertawa—tanpa suara, tapi terlihat jelas di matanya.
Riku
merona makin hebat.
Ia
lalu melakukan isyarat yang jauh lebih penting: “Aira.”
Ini
pun salah. Dua kali.
Aira
memegang tangannya, lalu mengulang gerakannya dengan lembut. Riku terdiam,
menatap jari-jarinya yang disentuh Aira. Sementara Aira menggerakkan tangan
Riku perlahan agar membentuk isyarat yang benar.
Untuk
pertama kalinya, Aira menyadari sesuatu: Ia ingin mempercayai seseorang lagi.
Dan orang itu Riku.
Hubungan
mereka berkembang perlahan, seperti tunas yang tumbuh di musim hujan. Namun,
ketakutan lama Aira tidak hilang begitu saja.
Suatu
malam, ketika mereka belajar bersama di kos Riku, listrik padam. Aira langsung
tegang—tatapannya kosong.
Riku
menyalakan flashlight ponselnya.
Ia
duduk di samping Aira dan menulis:
Kamu
takut gelap?
Aira
menggeleng. Lalu menulis di buku kecilnya:
“Aku
takut kehilangan arah.
Dalam
gelap aku tidak tahu siapa bilang apa.
Aku
tidak bisa melihat bibir orang.
Aku
sendirian lagi.”
Riku
berhenti sejenak, lalu mematikan flashlight-nya. Ruangan tenggelam dalam
kegelapan total.
Aira
panik, hampir berdiri.
Tapi
Riku memegang tangannya.
Ia
menyalakan lampu kecil di belakang, cukup untuk membuat bayangan.
Lalu
ia menulis di layar ponsel:
Kalau
kamu tak bisa melihat bibirku, aku akan menyentuh tanganmu.
Aku
tidak akan pergi.
Aira
menunduk, bahunya bergetar. Tidak ada suara. Tapi Riku tahu ia menangis.
Itu
momen ketika hubungan mereka masuk ke kedalaman baru—bukan sekadar kasihan,
bukan sekadar kedekatan, tapi tempat di mana ketakutan bisa dibuka perlahan dan
tidak dihakimi.
Pada
suatu senja yang basah, mereka duduk di bangku kayu dekat perpustakaan,
memandangi gerimis yang turun tipis. Riku mengetik lama di ponselnya—Aira
melihat jarinya gemetar sedikit.
Riku
lalu menunjukkan layar itu:
“Aku
ingin mendengar duniamu, meski tanpa suara.”
Aira
terdiam.
Riku
tidak memaksa.
Ia
hanya menunduk, menunggu.
Aira
tidak tahu bagaimana membalasnya dengan bahasa isyarat yang masih ia pelajari.
Jadi ia menulis di buku kecilnya:
Duniaku
sunyi. Gelap. Tidak ada musik.
Apa
kamu yakin mau masuk ke dunia itu?
Riku
mengambil bukunya dan menulis perlahan:
Kalau
duniamu sunyi, aku belajar diam.
Kalau
duniamu gelap, aku akan jadi lampunya.
Aku
tidak ingin mengubahmu. Hanya ingin menyertaimu.
Kata-kata
itu membuat seluruh tubuh Aira terasa ringan, seperti beban yang terangkat.
Ia
menutup buku, memeluknya erat—pelukan kaku, canggung, tapi jujur.
Hubungan
mereka semakin jelas, tapi masalah pun muncul.
Ibu
Riku, Larasati Adinata, perempuan yang keras dan penuh tuntutan, menolak
hubungan mereka secara terang-terangan.
“Apa
yang bisa ia berikan? Ia bahkan tidak bisa bicara!”
“Akan
sulit hidup dengan orang seperti itu, Riku.”
“Kamu
berhak dapat seseorang yang normal!”
Riku
menutup pintu kamar dengan keras, tapi kata-kata ibunya tetap menghantam
seperti badai.
Aira
tidak tahu apapun—sampai suatu hari Riku datang dengan mata merah, tapi tetap
berkata semuanya baik. Aira tahu itu bohong. Tapi ia menunggu Riku siap
bercerita.
Aira
mulai khawatir:
Bisakah
ia bekerja?
Bisakah
ia berdiri sejajar dengan Riku?
Apakah
ia akan menghambat masa depan Riku?
Ia
menulis di jurnal:
“Cinta
tidak cukup. Dunia tidak mengampuni orang sepertiku.”
Namun,
cinta yang Riku berikan bukan yang terburu-buru. Ia tetap di sana. Tetap
belajar. Tetap sabar.
Hingga
suatu hari, sesuatu berubah sepenuhnya.
Setelah
mereka lulus dari kuliah. Hujan baru saja berhenti ketika Riku mengajak Aira ke
Kebun Raya Bogor. Jalanan basah, daun-daun jatuh di sepanjang jalur setapak.
Udara dipenuhi aroma lumut dan tanah.
Di
depan kolam besar dekat Griya Anggrek, Riku berdiri gugup.
Ia
mengambil napas panjang.
Lalu…
Ia mulai menggunakan bahasa isyarat.
“Me-ni-kah…
deng-an… ku.”
Gerakannya
salah. Sangat salah.
Bahkan
Aira harus menahan tawa—tawa yang keluar dalam bentuk ekspresi wajah dan bahu
yang ikut bergerak.
Riku
makin panik dan mengulang.
Salah
lagi.
Aira
tertawa lebih keras—tanpa suara, namun dengan cahaya yang membuat seluruh
wajahnya hidup.
Riku
akhirnya menyerah dan mengangkat dua tangan:
“Aku…
gagal,” katanya pelan, tapi bibirnya cukup jelas untuk Aira baca.
Aira
menggeleng.
Ia
mendekat, mengambil tangan Riku, dan membetulkan gerakannya satu per satu.
Lalu
ia membalas:
“Ya.”
Tidak
dengan suara.
Tidak
dengan isyarat sempurna.
Hanya
dengan senyum yang membuat seluruh Kebun Raya terasa lebih hangat dari
matahari.
Riku
hampir menangis.
Pernikahan
mereka sederhana—di rumah kayu kecil milik Hana di Ciluar. Hanya beberapa
sahabat dekat, tetangga, dan Bu Karina yang hadir.
Hana
menangis saat memasangkan bunga di rambut Aira.
Bu
Karina memeluk Aira lama sekali.
“Kamu
berhak bahagia,” katanya perlahan, bibirnya jelas.
Aira
mengangguk sambil menahan air mata.
Ibu
Riku tidak hadir.
Ia
tidak memberi kabar.
Tidak
memberi restu.
Aira
melihat kursi kosong itu dan dadanya terasa sesak—bukan karena benci, tapi
karena kecewa bahwa ia masih dianggap kurang layak.
Namun
saat ia menatap Riku, ia tahu: cukup satu orang yang menganggapnya dunia.
Malam
pernikahan mereka. Hujan kembali turun. Lampu kamar redup, aroma kayu basah
menyelimuti udara.
Aira
berbaring di dada Riku.
Ia
menutup mata.
Untuk
pertama kalinya, ia merasakan getaran yang ia sebut sebagai “lagu”.
Getaran
dari dada Riku—detak jantung pelan namun kuat.
Ia
tidak pernah mendengar musik.
Tapi
ini…
Ini
mungkin adalah musik paling indah dalam hidupnya.
Aira
menggenggam tangan Riku.
Riku
mencium keningnya perlahan.
Dalam
gelap yang damai itu, Aira sadar:
Cinta
tidak butuh suara.
Cinta
adalah getaran yang dipahami dua hati yang memilih saling menunggu.
Aira
berusia dua puluh lima tahun ketika ia mulai memahami bahwa pernikahan bukan
bab penutup yang rapi dari sebuah kisah cinta. Ia menikah dengan Riku setahun
setelah mereka berhasil melewati badai masa lalu—badai yang seharusnya
merenggut hidupnya di rel kereta itu. Namun justru badai itulah yang
mempertemukan mereka kembali sebagai dua manusia yang tak sempurna, tetapi
saling menguatkan.
Tahun-tahun
pertama setelah menikah, semuanya tampak mudah. Mereka menata apartemen kecil
di Sentul, membeli meja lipat untuk tempat Aira menggambar, dan memelihara
seekor kucing abu-abu yang selalu tidur di pangkuan Riku setiap malam. Hidup
terasa lembut, seperti berjalan di atas karpet tebal.
Namun
dunia tak bisa terus-menerus lunak.
Konflik
pertama datang bukan dari pertengkaran besar, melainkan dari hal-hal kecil yang
tumpukannya seperti debu di sudut ruangan—tidak terlihat, tapi tetap membuat
sesak.
Riku
sering pulang terlambat dari pekerjaannya sebagai teknisi di sebuah perusahaan
alat kesehatan. Ia lelah, dan kadang lupa memberi kabar. Aira menunggu sambil
memandangi jam, tetapi ketika ia mengirim pesan, Riku tak sempat membalas.
Komunikasi
mereka yang awalnya lancar tiba-tiba tersendat, seperti jalanan malam hari yang
dihentikan lampu merah terlalu lama.
Suatu
malam, saat Riku akhirnya pulang pukul sebelas, Aira berdiri di pintu dengan
wajah murung.
“Kenapa
tidak balas pesanku?” menggunakan gerakan tangannya.
Riku
menghela napas, melepas sepatu dengan gerakan tangan yang letih. “Maaf. Aku
benar-benar sibuk. Ada alat yang error dan—”
Aira
memotong penjelasan itu dengan menggerakan tangan lebih cepat, “Aku
menunggu. Aku khawatir.”
Riku
mengangguk, tapi Aira tahu ia tidak sungguh-sungguh mengerti. Bagi Aira, sunyi
adalah dunia yang terus berubah wujud. Ketika seseorang tidak hadir, tidak
memberi kabar, semuanya berubah menjadi ruang kosong yang mengancam. Ketika
seseorang tidak menatapnya, tidak memberi tanda, ia benar-benar tidak tahu apa
yang terjadi.
Terkadang,
Riku lupa bahwa menunggu dalam sunyi rasanya seperti menggantung di tepi tebing
tanpa pijakan.
Mereka
tidak bertengkar. Tidak ada suara keras. Tetapi ada kesedihan yang menggumpal,
membuat keduanya saling mencintai sambil sama-sama bingung caranya.
Keluarga
Riku—terutama ibunya—tidak pernah sepenuhnya menerima Aira. Bukan karena Aira
tuli, tetapi karena hubungan mereka yang terlalu cepat menurut standar keluarga
itu.
“Kenapa
tidak menikah dengan orang yang bisa… berbicara normal?” tanya sang ibu suatu
kali ketika mereka makan bersama. Bibirnya tersungging tipis, seolah berusaha
tidak kasar, tetapi justru terdengar lebih menyakitkan.
Aira
hanya menunduk. Ia berpura-pura sibuk menata sendok. Ia tersenyum kaku, tetapi
matanya merasakan sesuatu yang retak.
Riku
memegang tangannya di bawah meja. “Ma… tolong jangan begitu. Aira sama sekali
tidak kurang dari siapa pun.”
Ibunya
tidak menjawab. Namun keheningan itulah yang membuat Aira terlempar ke masa
lalu—ke tempat di mana ia selalu merasa mengganggu, merepotkan, tidak cukup.
Luka
lama itu ternyata masih ada. Ia memikulnya diam-diam.
Ketika
kecemasan Aira makin sering muncul—kadang ia menangis tanpa suara ketika Riku
tertidur—ia kembali menemui Bu Karina, dosen yang dulu menolongnya melewati
masa kelam.
Ruangan
kecil itu tidak berubah. Aromanya seperti teh chamomile dan buku-buku lama.
“Aira,”
tulis Bu Karina di selembar kertas sambil tersenyum hangat, “kau datang di
waktu yang tepat.”
Aira
menceritakan semuanya lewat tulisan. Tentang rasa tidak aman, tentang mertua
yang dingin, tentang perasaan tidak terlihat, dan tentang Riku yang ia cintai,
tapi kadang sulit ia jangkau.
Bu
Karina menatapnya dengan penuh empati. “Trauma itu bukan hilang. Ia berubah
bentuk. Kau sedang belajar hidup bersamanya, bukan memusnahkannya.”
Aira
menunduk, air mata mengalir. Ia tidak mengeluarkan suara, tapi bahunya
bergetar.
“Jangan
keras pada diri sendiri,”
tulis Bu Karina lagi. “Sunyi bukan musuhmu. Kau hanya perlu belajar membuat
rumah yang aman di dalamnya.”
Kalimat
itu melekat lama dalam hati Aira.
Setahun
kemudian, sesuatu berubah. Aira menemukan pekerjaan paruh waktu sebagai
ilustrator untuk buku anak tunarungu, meskipun backgroundnya adalah psikologi.
Penerbit kecil di Jakarta itu melihat portofolionya di Instagram dan langsung
menghubunginya.
Aira
bekerja di meja kecil yang sama, dengan kucingnya tidur sebagai penonton setia.
Ia menggambar anak-anak yang belajar bahasa isyarat, menggambar dunia yang
cerah dan mudah dimengerti, menggambar hal-hal yang dulu ia harapkan seseorang
gambar untuknya ketika ia kecil.
Untuk
pertama kalinya, Aira merasa suaranya—atau ketidakhadiran suaranya—adalah
bagian dari hal berharga.
Ketika
ia menunjukkan ilustrasi pertama pada Riku, lelaki itu tertegun. “Ini… luar
biasa,” ucapnya menggunakan bahasa isyarat sambil menatap gambar itu
dalam-dalam. “Aku bangga sama kamu.”
Aira
tersenyum kecil, dan untuk pertama kalinya sejak lama, dadanya terasa lapang.
Pada
suatu siang cerah, ketika Aira sedang menjemur pakaian di balkon apartemen,
ponselnya bergetar. Pesan itu dari Kaila—teman lamanya dari masa sekolah.
“Aira,
aku dapat kesempatan besar! Aku mau bikin program bahasa isyarat untuk
anak-anak tunarungu di Bogor. Aku butuh kamu. Mau ikut?”
Aira
menghentikan gerakan tangannya. Angin menyibakkan rambutnya. Dunia terdiam
sesaat, tidak menakutkan—hanya menunggu jawabannya.
Selama
ini, ia merasa hidupnya berputar-putar di tempat yang sama. Sekolah, rel, rumah
sakit, pernikahan, apartemen kecil. Semua berulang, semua aman, tapi juga
mencekik.
Tawaran
itu seperti pintu baru.
Ketika
ia menunjukkan pesan itu pada Riku, pria itu membaca pelan-lahan, lalu menatap
Aira lama.
“Aku
tahu kamu mau ke sana,” katanya akhirnya.
Aira
mengangguk pelan. “Takut,” tulisnya.
“Aku
juga,” jawab Riku.
Lalu
ia meraih tangan Aira. “Tapi aku percaya kamu.”
Aira
menangis—kali ini bukan karena luka, tapi karena diberi ruang untuk tumbuh.
Setiap
tahun berlalu dengan ritme yang berbeda. Riku belajar menulis pesan lebih
sering. Aira belajar memberi jeda sebelum tenggelam dalam kecemasan. Mertua
Aira perlahan melunak. Mereka tidak berubah drastis, tetapi mulai menyapa,
mulai bertanya, mulai mencoba memahami.
Penyembuhan
mereka berdua bukan perjalanan lurus. Ada hari-hari mereka saling kesal. Ada
hari-hari Riku merasa tidak cukup. Ada hari-hari Aira merasa terasing dalam
dunia yang tak bisa ia dengar.
Namun
ada juga banyak hari ketika mereka saling tertawa, saling mengejek, saling
merawat tanpa banyak kata.
Pada
usia tiga puluh, Aira berhenti memandang sunyi sebagai lubang hitam yang
menelan segalanya. Ia mulai melihatnya sebagai ruang tempat ia bisa mengenali
dirinya sendiri.
Sunyi
bukan kutukan. Sunyi hanyalah cara lain untuk ada.
Sore
itu, langit Bogor sedang cerah setelah hujan. Aira dan Riku mengunjungi rel
kereta yang dulu hampir mengakhiri hidupnya.
Aira
memandangi rel dari atas jembatan sipatlung Jl. Ardio yang memanjang jauh ke
arah matahari tenggelam. Tidak ada rasa takut. Hanya ada rasa akrab—seperti
melihat foto lama dirinya yang pernah begitu rapuh.
Riku
berdiri di sampingnya, diam, menunggu.
Sebuah
kereta datang dari kejauhan. Cahaya mataharinya memantul di jendela-jendela
panjang itu. Rel mulai bergetar. Gemuruhnya mengisi udara.
Aira
tidak mendengar apa pun.
Tetapi
ia merasakan getaran itu menembus sepatu, menelusuri tulang kakinya, naik ke
dada—sebuah ritme dunia yang selama ini ingin ia pahami.
Ia
menggenggam tangan Riku.
Pria
itu menoleh, tersenyum.
Ketika
kereta lewat di bawah mereka, angin di jembatan menerpa wajah Aira, mengibaskan
rambutnya ke belakang. Ia menutup mata. Tidak ada suara. Tidak ada teriakan.
Tidak ada gemuruh.
Yang
ada hanyalah getar.
Getar
yang terasa seperti jantungnya sendiri.
Aira
mengambil buku kecil dari tasnya. Tangannya bergetar sedikit, bukan karena
takut, tapi karena ada banyak hal yang ingin ia tulis. Ia membuka halaman
kosong dan menorehkan kalimat yang sudah lama berputar-putar di kepalanya.
“Aku
tidak punya suara. Tapi hidupku… akhirnya bisa bergema.”
Ia
menunjukkan tulisan itu kepada Riku.
Riku
tersenyum. Matanya berkaca-kaca. Ia meraih wajah Aira dan menempelkannya pada
dadanya, seolah ingin mengatakan bahwa suaranya—atau ketidakhadiran
suaranya—sudah cukup untuk dunia ini.
Kereta
menjauh, hanya ada angin sore, bau tanah basah, dan dua manusia yang saling
menguatkan tanpa perlu banyak kata.
Aira
menatap rel itu sekali lagi. Kali ini, ia merasa seperti sedang menatap jalan
panjang yang menanti di depan. Sunyi bukan lagi musuh. Sunyi adalah rumah. Dan
di rumah itu, hidupnya terus menggaung.
Perlahan,
ia meraih tangan Riku dan mengangguk.
Saat
mereka berjalan menjauh, langkah Aira terasa ringan—seperti hidupnya baru saja
dimulai kembali, tanpa suara, tanpa bising, tapi penuh gema yang hanya bisa ia
rasakan dari dalam.
Epilog
Aku
sering bertanya-tanya… sejak kapan hidup mulai terasa berat? Mungkin sejak hari
ketika dunia berhenti bersuara untukku. Aku masih kecil—terlalu kecil untuk
mengerti apa itu kehilangan. Tapi aku tahu rasanya berbeda. Rasanya seperti
seluruh dunia menjauh beberapa langkah dariku, dan aku tidak tahu cara
menyusulnya.
Aku
tumbuh dalam ruang-ruang yang sunyi. Di sekolah, aku duduk di pojok kelas,
membaca bibir guru seperti menebak gerakan daun. Aku belajar tersenyum agar
orang tidak bertanya terlalu banyak. Aku belajar menunduk agar tidak terlihat
mencolok. Aku belajar menelan semua pertanyaan yang tidak bisa kuucapkan.
Aku
mengira aku harus ringan supaya dunia mau menerima keberadaanku.
Lalu
remaja datang seperti badai. Aku mencari tempat untuk pulang, tapi yang ada
hanya lorong panjang yang tidak pernah menjawab. Sunyi berubah menjadi dinding
yang tinggi. Dan suatu hari, di rel itu, aku pernah berpikir… mungkin hidupku
akan lebih sederhana jika aku berhenti mencoba.
Tapi
seseorang memanggilku—bukan dengan suara, melainkan dengan keberanian yang tak
sengaja. Riku. Ia tidak tahu bahwa tatapan canggungnya dari jauh sudah menjadi
benang kecil yang menahan aku dari jatuh.
Hidupku
tidak langsung membaik. Aku masih harus belajar mencintai diriku yang retak.
Aku masih harus belajar menerima bahwa sunyi bukan kekurangan, hanya cara lain
untuk mendengar dunia.
Kini,
ketika aku menggambar anak-anak tunarungu, ketika aku melihat Riku tertawa atas
lelucon yang kutulis, ketika aku berdiri di rel yang sama tanpa rasa takut… aku
tahu satu hal:
Aku
tidak pernah hilang.
Aku
hanya sedang mencari tempat di mana gema hidupku bisa kembali padaku.
Dan
sekarang—akhirnya—aku diterima.
Bukan
karena suaraku, tetapi karena aku.
