Jakarta, 1998.
Aku adalah murid sekolah kelas dua SMU yang sering malas bangun pagi, punya adik laki-laki berumur sembilan tahun yang selalu ribut mencari kelerengnya, dan orang tua kami yang sibuk. Rumah kami ada di lantai dua ruko kecil di Glodok. Toko bahan kue milik keluarga—“Toko Manis Makmur”—ada di bawah, buka dari jam delapan pagi sampai sore.
Setiap pagi, sebelum aku berangkat sekolah, aku turun dulu ke toko untuk bantu sedikit. Kadang cuma merapikan rak atau mengecek stok gula. Papaku, Hendrik Tan Kian-Hock, selalu sudah berdiri di balik meja kasir sambil menghitung sesuatu dengan kalkulator kecil. Rambutnya mulai beruban tapi tubuhnya tetap tegap. Mamaku, Susy Lie Yun-Xia, sibuk menata pesanan pelanggan. Dari dulu mereka memang mendidik aku dan Liem Tan Wei-Jie supaya ikut “turun tangan,” katanya supaya kami tidak manja. Oh ya namaku Lydia Tan Mei-Lin.
Di toko, kami punya tiga karyawan: Bang Darma, Ujang, dan Nisa. Mereka sudah bekerja lama di keluarga kami. Kadang Bang Darma suka menggodaku dengan panggilan “Non Lydia mau jadi bos besar nih, cek stok melulu.” Ujang yang paling muda suka iseng ngajarin aku main gitar, sementara Nisa sering bantu Mama bikin kemasan parcel menjelang Imlek.
Aku
nggak pernah merasa ada jarak di antara kami. Rasanya kayak keluarga besar—ya,
keluarga yang berisik, saling negur kalau kerjaannya salah, tapi hangat.
Selesai
sekolah, aku biasanya langsung pulang untuk jaga toko sebentar sampai jam
tujuh. Malam hari, Papa suka ngajak kami makan bakso di gang belakang. Adikku
selalu minta tambah mie, padahal tubuhnya kurus begitu. Mama sering memarahinya
tapi tetap saja akhirnya mangkoknya ditambah sedikit.
Hari
Sabtu sore, Papa suka memancing di Ancol. Kadang dia ngajakku dan Liem. Kami
duduk lama di pinggir beton sambil makan roti sobek isi cokelat. Papa cerita
soal masa kecilnya di Semarang, soal bagaimana dulu dia juga bantu jaga toko
orang tuanya sejak kecil. Katanya, “Hidup itu keras, tapi kalau kita rajin,
kita kuat.” Aku cuma mengangguk, karena belum paham apa maksud “keras” itu pada
waktu itu.
Di
rumah lantai dua, hidup kami sederhana. Mama menempelkan foto keluarga besar di
papan dekat ruang makan. Banyak foto sepupu-sepupuku yang tinggal di luar
negeri. Mereka sering menanyakan kapan kami menyusul pindah, tapi Papa selalu
jawab, “Nanti.” Aku pikir itu cuma urusan orang dewasa.
Yang
aku tahu, aku suka hidupku apa adanya. Aku suka dengar radio sambil belajar,
suka lihat mama tertawa waktu melihat nilai ujianku lumayan, suka lihat Papa mencium kepala Liem sebelum tidur. Kadang aku merasa hidup kami akan terus
begini.
Sampai
suatu hari, sepertinya sekitar akhir Maret 1998, Papa pulang dengan wajah lebih
tegang dari biasanya. Saat makan malam, ia membaca koran sambil mengernyit. Di
sampingnya, radio kecil memutar berita politik yang suaranya terdengar makin
gaduh belakangan ini.
Aku
lihat headline besar:
“DEMO
MAHASISWA MELUAS. SITUASI EKONOMI KIAN RUSUH.”
Mama bertanya pelan, “Ada apa lagi, Hock?”
Papa hanya menggeleng, “Harga naik terus. Rupiah makin jatuh.”
Mama ikut menghela napas. “Semoga cepat selesai…”
Papa menutup koran, tapi aku melihat dari sudut matanya: ada rasa takut.
Besoknya
di sekolah, teman-temanku mulai membicarakan hal sama. Orang tua mereka katanya
sudah siap-siap simpan uang dan bahan makanan. Ada juga yang bilang ada
kerusuhan kecil di beberapa daerah. Waktu aku pulang, Papa sedang menurunkan
papan kecil bertuliskan nama Tionghoa toko kami.
“Kenapa
diturunin?” tanyaku.
Papa hanya menjawab, “Buat jaga-jaga.”
Di
toko, Nisa terlihat lebih pendiam. Ujang bilang keluarganya di kampung mengeluh
harga beras naik. Bang Darma ada yang bilang, “Hati-hati ya, Non. Situasi nggak
enak.”
Aku
bingung. Semua terasa aneh tapi belum benar-benar mengerikan. Yang jelas, mulai
hari itu, malam terasa lebih sunyi. Radio tidak pernah dimatikan. Papa dan Mama sering berbisik di kamar. Dan entah kenapa, aku mulai bangun dengan perasaan
tidak nyaman, seperti ada sesuatu yang besar dan gelap sedang bergerak menuju
kami pelan-pelan.
Aku
belum tahu apa itu.
Aku
selalu mengira luka akan mengecil seiring usia. Bahwa jarak dan waktu akan
meredam sesuatu yang dulu menggelegar seperti bom yang diledakkan terlalu dekat
dengan dada. Tapi suara—ya, suara—rupanya punya cara yang lebih setia daripada
ingatan. Ia bersembunyi, mengendap, menunggu. Dan ketika kondisi kota berubah,
ketika udara kembali mengandung ketegangan yang sama seperti dua puluh tujuh tahun
lalu, ia muncul. Utuh. Tanpa ampun.
Hari
ini, awal September 2025, aku kembali mendengar teriakan massa di ujung Jalan
Kramat Kwitang Raya. Bunyinya bukan baru; ritme itu terlalu familiar, seperti
pola napas yang pernah nyaris merenggut hidupku. Aku sedang berjalan pulang
dari pusat rehabilitasi kecil tempatku menjadi relawan—sebuah ruangan apartemen
sederhana yang kami sulap menjadi pos konseling trauma kekerasan. Tempat yang,
anehnya, seringkali lebih tenang dibandingkan dunia di luar pintunya. Klien
terakhirkku barusan menangis sepanjang sesi, menceritakan bagaimana suaminya
memecahkan piring tepat di samping telinganya. “Saya takut suara keras, Bu
Lydia,” katanya. Aku hanya mengangguk dan menuliskan catatan. Kalau ia tahu,
aku juga takut.
Di
trotoar depan Stasiun Gambir, kerumunan orang mulai mempercepat langkah.
Sebagian merekam dengan ponsel, sebagian buru-buru mencari jalur memutar. Aku
tidak mencari tahu sumber keributan itu. Tidak perlu. Tubuhku bereaksi lebih
cepat dari akal: napas terhenti, ujung jari mulai dingin, telinga berusaha
menangkap suara lain—suara yang bukan berasal dari hari ini.
Tiga
detik kemudian, aku mendengar letupan kecil. Entah petasan, entah ban pecah.
Tapi bagiku, suaranya identik dengan sesuatu yang pernah membelah malam di
tahun 1998. Lalu dunia retak.
Aku
menepi, duduk di sebuah bangku dekat halte TransJakarta, menunduk, menarik
napas panjang. Metode grounding. Fokus pada indera. “Sebutkan tiga hal yang
bisa kamu lihat… tiga hal yang bisa kamu sentuh… tiga hal yang bisa kamu
dengar…” Kalimat yang sering kuucapkan kepada klien-klienku seperti kembali
menuntut agar kujalankan sendiri. Jari-jariku meraba tekstur bangku besi yang
kasar; sepatu kulit seorang pegawai negeri lewat tergesa; klakson motor
bersahut-sahutan. Suara keributan demonstrasi semakin jauh, atau mungkin aku
yang menyingkir menjauhi pusat bunyinya.
Begitu
tenang, begitu pelan, aku membuka tas dan menarik buku catatan bersampul
cokelat—benda yang selalu kubawa sejak tiga tahun lalu. Di halaman paling
belakang, ada sejumlah catatan lama yang masih kusimpan: laporan investigatif
mini tentang diriku sendiri. Sebuah kebiasaan yang berawal saat aku membaca
kembali transkrip wawancara para penyintas kekerasan massal.
Ada
bagian diriku yang masih menyangkal bahwa seseorang bisa hilang begitu saja,
tanpa jejak, tanpa jenazah, tanpa penjelasan. Hilang seperti asap, tapi
meninggalkan bau yang tidak pernah pergi. Adikku, Liem Tan Wei-Jie, aku langsung
menekan dadaku seperti batu basah.
Seorang
ibu yang lewat sempat bertanya apakah aku baik-baik saja. Ia mungkin melihat
wajahku lebih pucat daripada biasanya. Aku tersenyum tipis dan berkata sedang
menunggu transportasi. Ia mengangguk, lalu berjalan pergi sambil menggandeng
anaknya. Memandangi punggung mereka membuat dada kiriku berdenyut pelan.
Normal, menurut terapis yang dulu menanganiku, bahwa tubuh akan bereaksi pada
pemandangan tertentu.
Aku
menutup buku catatan, bangkit, dan memutuskan berjalan kaki menuju halte
berikutnya. Setiap beberapa meter, suara jauh dari kerumunan masih terdengar
samar—orator lewat megafon dan hentakan sepatu bot petugas keamanan. Aku
menarik napas dalam-dalam. Telingaku mengaduk semuanya menjadi campuran yang
bukan dari tahun ini.
Jakarta
selalu menjadi kota yang membingungkan bagiku. Kota ini tidak pernah
benar-benar tidur, tapi juga tidak pernah benar-benar terjaga. Ada jam-jam
tertentu ketika seluruh ambisi, amarah, dan mimpi warganya menumpuk menjadi
suara latar yang sulit didefinisikan. Di tengahnya, aku berjalan seperti
seseorang yang tersesat dalam masa lalu yang masih memiliki napas.
Sebuah
motor melintas cepat, knalpotnya meledak keras. Aku spontan menunduk. Tubuhku
membungkuk refleks, seakan kembali berumur enam belas tahun, menutupi kepala
sambil merasakan panas api dari kejauhan. Bau ban terbakar tiba-tiba muncul di
hidungku—padahal tidak ada apa pun terbakar di sekitar sini. Sensasi phantom.
Flashback klasik.
Aku
menghentikan langkah, memejamkan mata. Di balik kelopak, muncul potongan lain:
bayangan merah-oranye, kerumunan yang berlari, suara seseorang memanggil “Liem!
Liem!”—suara itu milikku, retak dan putus. Lalu gambaran adikku, tubuh
kecilnya yang mengenakan kaus garis-garis hijau, berlari menembus orang-orang
sebelum hilang di balik kepulan asap.
Aku
membuka mata cepat-cepat. Dunia kembali normal, tapi tidak sepenuhnya. Seperti
layar kaca yang sempat bergoyang karena gangguan sinyal.
Aku
bersandar di tiang halte. Jakarta tahun 2025 tidak sama dengan Jakarta yang
merebut adikku dua puluh tujuh tahun lalu. Tapi gema dari masa lalu itu tidak
pernah benar-benar berhenti. Ia hanya berganti bentuk.
Sore
menjelang. Langit di atas Monas tampak seperti kertas gosong di tepinya. Dalam
pekerjaanku sebagai relawan konseling, aku selalu mendorong para penyintas
untuk menghadapi ingatan mereka sebagai data, bukan sebagai mimpi buruk. Bukan
untuk menghapusnya, tapi untuk memberi struktur. Agar mereka tahu apa yang
harus dilakukan ketika gelombang itu kembali.
Satu
hal yang sering kulupa: aku pun penyintas.
Beberapa
klien pernah bertanya, bagaimana aku bisa tetap tenang mendengar cerita-cerita
kekerasan mereka. Jawabannya sederhana: aku tidak tenang. Aku hanya sangat
terbiasa mengatur ulang napasku.
Ketenanganku
adalah bentuk lain dari bertahan hidup.
Sore
itu, aku memutuskan pulang lebih cepat daripada biasanya menggunakan
transportasi umum. Jalanan mulai kembali normal, meski sisa-sisa energi
demonstrasi masih terasa seperti getaran kecil di udara. Aku berjalan melewati
para pedagang kaki lima, deretan ojek online, dan pos keamanan yang baru saja
ditutup kembali. Tidak ada lagi suara letupan, tapi tubuhku belum sepenuhnya
percaya.
Sesampainya
di apartemen kecilku di daerah Setiabudi, aku menyalakan lampu ruang tamu dan
langsung duduk di sofa. Kelelahan datang terlambat, menghantamku seluruhnya.
Aku membuka jendela sedikit, berharap angin malam membawa bau yang lebih
netral.
Tapi
ketika angin itu masuk, ia justru membawa sesuatu yang lain—satu ingatan yang
sangat spesifik: bau kertas terbakar, seperti selebaran demonstrasi yang dulu
dilemparkan ke udara sebelum ditarik oleh api.
Aku
memejamkan mata.
“Liem
berdiri hanya beberapa langkah di depanku,” kenangan itu mengalir tanpa izin. “Ia tersenyum
kecil sebelum berlari mengikuti arus massa, menghilang seperti seseorang yang
dilarikan waktu.”
Itu
potongan terakhir yang benar-benar kuingat. Setelah itu, dunia hanya suara,
suhu panas, dan gerakan kacau yang dicampur menjadi satu.
Lalu
aku bangkit, menuju dapur, menuangkan segelas air dingin—minuman yang biasanya
menurunkan ketegangan saraf cukup cepat.
Di
luar jendela, sirene polisi terdengar jauh, seperti sayup-sayup dari mimpi
buruk yang tidak pernah selesai. Jakarta tetap hidup, tetap bergerak, tetap
berisik.
Tapi
di dalam apartemen kecil ini, aku berdiri sendirian, mendengarkan satu-satunya
suara yang selalu kupahami: gema masa lalu yang menolak hilang.
Dan
malam pun turun perlahan, menutup hari yang terasa seperti serpihan sejarah
yang ikut terulang.
Aku
masih bisa mengingat detail suara itu: statis radio AM yang kadang lebih keras
daripada berita yang ingin disampaikannya. Papa selalu menyalakan radio setiap
pagi, menaruhnya di meja makan seperti anggota keluarga yang ikut sarapan. Tapi
awal Mei tahun 1998 itu, suara radio bukan lagi pengisi keheningan—melainkan tanda
peringatan kecil yang terus menggedor dinding rumah kami.
“…telah
terjadi kerusuhan kecil di wilayah Senen… polisi masih menyelidiki provokator…
harga bahan bakar kembali naik…”
Mama menghentikan gerakan tangannya mengoles selai ke roti. Tatapannya melirik Papa
dengan cepat, seperti memeriksa apakah ia juga mendengar nada genting di balik
siaran itu. Papa pura-pura tidak peduli. Ia mengambil koran, membukanya
lebar-lebar, seakan berita cetak lebih aman daripada yang disiarkan langsung.
Aku,
enam belas tahun, hanya diam. Tubuh belajar cepat ketika sedang takut: jangan
bergerak, jangan membuat suara, dengarkan. Liem, yang baru berusia sembilan
tahun, merangkak naik ke pangkuan Mama, kepalanya menempel pada lengan sang
mama, seolah bisa bersembunyi dari suara radio.
Radio
itu melanjutkan laporannya:
“…sejumlah
toko di daerah Pecenongan dan Harmoni tutup lebih awal… warga diminta tetap
tenang dan tidak melakukan tindakan yang memperkeruh keadaan…”
Kata
tenang selalu menjadi tanda bahwa tidak ada yang benar-benar tenang.
Sore
itu keluarga besar datang: Paman Eddie Tan Kian
Seng dan istrinya Evelyn, lalu Paman Tony Lie Chong Wei. Mereka membawa tas
belanja berisi roti, susu, dan beberapa kaleng sarden—bukan oleh-oleh, tapi
bekal. Wajah mereka menunjukkan rasa panik yang ingin disembunyikan namun gagal
total.
“Ko
Hock, kita harus pikirkan ini serius,” kata Paman Eddie begitu masuk ruang tamu. “Di
luar sudah tidak aman.”
Papa
hanya mengangguk tipis, menggeser cangkir kopinya dan mempersilakan mereka
duduk. Aku dan Liem duduk di tangga, berpura-pura tidak mendengarkan. Liem
menggoyang-goyangkan kakinya, tapi aku melihat kedua tangannya saling
menggenggam terlalu erat.
Bibi Evelyn
berbicara paling hati-hati, namun nadanya tetap tajam. “Kami sudah urus dokumen
sementara. Kalian semua ikut kami ke Singapura. Sementara saja. Sampai keadaan
stabil.”
Mama menatap Papa, seolah meminta satu kata saja. Papa menghela napas panjang,
memijit pelipisnya, kemudian berkata:
“Kalian
ini panik terlalu cepat. Indonesia tanah lahir kita. Kita tidak kabur dari
rumah sendiri.”
Suaranya
tenang, berat, dan tegas seperti biasanya. Tapi aku bisa melihat sedikit
gemetar di ujung jarinya. Ia tidak sedang marah—ia sedang memaksakan keyakinan
pada dunia yang sudah berubah arah.
Paman Tony
mencondongkan tubuh. “Ko, ini bukan soal kabur. Ini soal keselamatan. Lihat
Glodok sekarang. Toko-toko tutup sebelum jam tiga. Papan tulisan Mandarin
dilepas. Orang-orang sudah takut.”
Mama menatap lantai. Aku tahu ia setuju, tapi ia selalu mengikuti Papa dalam segala
hal. Mereka sering bertengkar soal hal kecil, tapi soal keselamatan
keluarga—itu medan perang yang berbeda.
Bibi Evelyn
menambahkan, suaranya lembut namun menekan, “Anak-anak kalian masih kecil.
Lydia belum lulus SMU. Liem masih SD. Kita tidak bisa ambil risiko.”
Papa
menatap kami di tangga. Tatapannya lama, penuh sesuatu yang tidak sanggup
kuartikan pada saat itu. Sekarang aku tahu: itu tatapan seseorang yang mencoba
menghitung berapa besar dunia yang mampu ia lindungi sebelum semuanya runtuh.
Ia
menggeleng pelan. “Kita tinggal. Ini rumah kita.”
Keluarga
besar saling pandang. Tidak ada yang berani memaksa. Tapi ketakutan mereka
menggantung di ruangan seperti asap tak terlihat.
Hari-hari
berikutnya bergerak seperti rekaman yang dipercepat namun dalam suasana yang
semakin redup. Glodok, tempat kami tinggal dan membuka toko, berubah
lebih cepat daripada yang bisa kuikuti. Jalanan yang biasanya ramai pedagang
kini tampak seperti kota yang menahan napas.
Toko
kami mulai tutup lebih awal. Papa memasang gembok tambahan di pintu. Mama meminta agar lampu papan nama dimatikan saja. “Supaya tidak menarik perhatian,”
katanya lirih.
Aku
menyusuri gang-gang menuju sekolah dengan perasaan aneh: seakan setiap orang di
jalan sedang memikirkan hal yang sama, tapi tidak ada yang ingin mengatakannya
keras-keras. Aku melihat papan tulisan Mandarin diturunkan satu per satu. Aku
juga melihat beberapa toko memasang tanda “Milik Pribumi”—entah benar, entah
untuk menghindari sesuatu.
Rumor
penjarahan menyebar cepat seperti angin panas. Ada yang bilang sudah mulai di
Pasar Baru. Ada yang bilang di dekat Sawah Besar. Ada yang bilang ada truk-truk
orang tak dikenal berkumpul di luar kota. Tidak ada bukti, tapi tidak ada yang
membantah.
Aku
mulai sulit tidur. Setiap suara di luar membuatku duduk, menunggu sesuatu
terjadi. Mama sering masuk ke kamar memeriksa kami. Liem tidur memeluk bantal,
menempel terus pada Mama seperti anak kecil yang takut gelap.
Suatu
malam, Papa duduk sendirian di meja makan. Cahaya lampu kuning membuat wajahnya
tampak lebih tua dari umur sebenarnya. Aku turun dan duduk di seberang.
“Pa,”
kataku. “Kalau semua orang pergi, kenapa kita tetap tinggal?”
Papa
menatapku lama. “Karena meninggalkan rumah bukan solusi. Kita tidak salah
apa-apa.”
“Tapi
kalau orang-orang marah…?”
Ia
memotongku pelan. “Orang marah karena banyak hal, Lydia. Politik. Ekonomi.
Harga yang naik. Tapi rumah kita ini… kita bangun dari awal. Kita kerja di
sini. Ini hidup kita.”
Aku
ingin mengatakan bahwa amarah massa tidak peduli pada alasan yang masuk akal,
tidak peduli siapa yang benar atau salah. Tapi aku hanya anak enam belas tahun.
Dan Papa tidak butuh kuliah tentang ketakutan dari seseorang yang bahkan belum
mengerti dunia.
Mama muncul dari dapur, membawa dua gelas air hangat. Wajahnya memerah kelihatan
lelah. Mereka saling memandang, seperti dua orang dewasa yang sedang
menyembunyikan sesuatu dari anak-anak mereka.
Kemudian
Mama duduk, menatap Papa dengan mata yang nyaris pecah. Suaranya kecil, namun
tegang.
“Hock…
kalau keadaan makin parah… kita gimana?”
Papa
menjawab dengan suara rendah, serak, “Kita hadapi. Kita keluarga. Kita tetap
bareng.”
Jawabannya
indah. Tapi kosong. Karena tidak ada yang tahu apa yang akan datang.
Di
sekolah, orang-orang mulai berbicara dengan nada yang berbeda. Bukan lagi
tentang ulangan atau tugas kelompok, tapi tentang siaran radio. Tentang
panasnya situasi politik. Tentang siapa yang salah. Tentang isu rasial yang
dilempar seperti bensin ke api.
Ada
teman sekelasku yang berbisik terlalu keras: “Katanya yang bikin kacau itu
orang-orang tertentu… ya, kamu tahu lah.”
Aku
tahu maksudnya. Aku juga tahu ia ingin aku mendengar. Tapi aku tidak mengangkat
kepala. Rumor, amarah, gosip,
provokasi—semua bercampur menjadi satu. Psikologi massa mulai terasa, bahkan
sebelum massa itu benar-benar berkumpul. Seakan semua orang sedang mencari
alasan untuk meledak.
Liem
pulang sekolah dengan cerita yang membuat Mama hampir menjatuhkan piring.
“Teman
Liem bilang… katanya nanti orang-orang bakal marah sama orang keturunan…”
Mama langsung memeluknya. “Tidak apa-apa. Jangan dengarkan itu.”
Tapi
matanya memohon pada Papa, seolah meminta jawaban yang lebih kuat daripada
pelukan.
Papa
diam.
Malam
menjelang lagi. Dan malam adalah waktu ketika kota benar-benar berubah. Suara
semakin jelas karena jalanan semakin kosong. Aku duduk dekat jendela,
memandangi jalan kecil di depan rumah kami.
Lampu
toko-toko padam lebih awal. Pintu-pintu digembok. Namun suara tetap
ada—sayup-sayup percakapan orang yang jalan terburu-buru, suara radio dari
rumah tetangga, dan sesekali suara motor yang melaju cepat.
Mama tidur di kamar Liem malam itu. Katanya untuk menenangkan anak bungsunya itu.
Sebenarnya, aku tahu: Mama sendiri juga takut tidur sendirian.
Aku
mendengar sesuatu. Suara samar, sangat jauh, seperti detak yang berulang-ulang.
Aku menahan napas.
Langkah
kaki. Banyak.
Aku
membuka jendela sedikit. Angin membawa suara yang lebih jelas.
Ratusan kaki.
Bukan
langkah biasa. Bukan orang pulang kerja. Ini suara massa—ritmenya,
kekompakannya, gaungnya yang dalam. Seperti gelombang yang mendekat.
Dari
ujung jalan, suara itu semakin keras. Degamannya terasa di lantai rumah. Aku
memanggil Papa dengan suara gemetar. Ia datang, memandang ke luar jendela, dan
air mukanya berubah pucat untuk pertama kalinya.
“Masuk
kamar,” katanya pelan.
Langkah
kaki itu semakin dekat. Semakin penuh. Semakin menyatu menjadi satu suara:
suara sejarah yang sebentar lagi menabrak kami.
Dan
di ruang tamu yang gelap itu, aku tahu—retakan yang kami dengar selama
berminggu-minggu akhirnya akan berubah menjadi robohan. Yang tidak bisa
dihentikan siapa pun.
Aku
tidak pernah lupa suara pertama yang menandai awal semuanya: gedebuk—suara
benda keras menghantam rolling door toko kami. Bukan sekali, tapi berulang,
cepat, seperti palu raksasa menghajar logam tipis.
Papa
langsung berdiri dari kursi ruang tamu. Aku dan Mama membeku. Liem menempel pada
pinggang Mama, wajahnya memucat. Suara langkah kaki massa dari ujung jalan
berubah menjadi dentuman yang memenuhi gang kami, seperti gelombang yang sudah
kehilangan bentuk, menjadi hitam, padat, dan hidup.
Aku
mengintip dari celah jendela.
Mereka
datang.
Bukan
warga yang kukenal. Bukan tetangga. Ini orang-orang lain—wajah ditutup kain,
beberapa membawa bambu, botol bensin, batu sebesar genggaman tangan. Ada yang
tertawa, ada yang berteriak tanpa kata, seperti suara binatang liar yang
akhirnya dilepas dari kandangnya.
Teriakan
pertama terdengar dari ujung gang:
“BUKAAAN!
BUKAAAN!”
Aku
tidak tahu apakah perintah itu ditujukan kepada kami atau toko sebelah. Tapi
tak ada yang berani menunggu penjelasan.
Papa
mendorong kami ke arah dapur. “Masuk belakang! Sekarang!”
Namun
massa sudah keburu memenuhi depan toko. Suara rolling door kembali dihantam.
Keras. Gemuruhnya menggetarkan lantai seperti sedang ada truk lewat di dalam
rumah.
Kemudian
suara kaca pecah.
Aku
tahu suara itu: kaca etalase toko kami.
Pecahnya
seperti badai. Tajam, tinggi, dan pecah berseru-seru.
Mama menjerit kecil. Papa menoleh tajam. “Diam!”
Terdengar
suara laki-laki berteriak dari luar:
“AMBIL!
BAKAR! BAKAR!”
Aku
tidak tahu siapa yang menyalakan korek api terlebih dahulu. Tapi aku mencium
baunya—bensin yang disiramkan ke lantai toko. Bau yang menusuk dan hangat. Bau
yang biasa kupakai untuk mengingat masa itu: bau sebelum segalanya terbakar.
Papa
mengambil balok kayu yang biasa dipakai buat mengganjal pintu. Tangannya
gemetar, tapi matanya tetap fokus. Ia memerintah sekali lagi, keras tapi hampir
bergetar:
“Pegang
adikmu. Jangan lepas apa pun yang terjadi.”
Itu
perintah yang akhirnya tidak bisa kupenuhi.
Pintu
toko dihantam lebih keras. Kali ini dengan sesuatu yang lebih berat. Mungkin
linggis. Mungkin besi. Mungkin kaki puluhan orang yang menendang bersama.
Papa
berlari ke bawah menuju pintu toko untuk menahan dari dalam.
Namun
jumlah mereka terlalu banyak.
Linggis
menembus celah rolling door.
Massa
bersorak.
Mama memeluk Liem erat-erat. Aku berdiri di belakang mereka, mencoba menahan napas
agar tidak gemetar. Jantungku berdetak keras sampai rasanya tidak sinkron
dengan suara di luar.
Tiba-tiba
pintu belakang—yang menuju ruang penyimpanan toko—dihantam seseorang dari luar.
Mereka
berusaha masuk dari dua arah.
Papa
berteriak, suara yang belum pernah kudengar sebelumnya:
“SUSY!
LIDYA! AWAS!”
Tapi
sebelum kami sempat bergerak lebih jauh, rolling door toko akhirnya jatuh.
Suara besinya menabrak lantai seperti dunia runtuh.
Kami tak berkutik mengintip dari arah tangga atas.
Puluhan
kaki masuk.
Teriakan
memenuhi udara.
Benda-benda
dilempar, beberapa diambil.
Rak-rak
di dalam toko didorong ambruk.
Kotak-kotak
berisi barang dagangan diinjak.
Seperti
kawanan yang kehilangan kendali, massa merangsek.
Papa
mencoba menghadang, tapi seseorang menarik kerah bajunya dari belakang.
Aku melihat adegan itu dengan jelas—sejelas rekaman investigatif yang terlalu
sering kuputar ulang dalam pikiranku selama puluhan tahun.
Pukulan
pertama datang dari sisi kiri.
Keras.
Mengenai pipi Papa.
Ia
berlutut.
Pukulan
kedua datang dari batang kayu panjang. Mengenai tengkuknya. Kepala Papa
tersentak.
Setelah
itu, aku tidak bisa lagi melihat Papa sebagai Papa. Ia berubah menjadi
seseorang yang tidak kukenal, tubuhnya dilipat paksa oleh pukulan, serangan,
tendangan yang datang dari berbagai arah. Aku tidak bisa menghitungnya—terlalu
banyak, terlalu cepat.
Aku
mendengar suara Papa mencoba bicara. Tapi suaranya tenggelam oleh teriakan
massa.
“HUJANIN!
HANTAM!”
Seseorang
menyiramkan cairan dari botol ke rak kayu. Api menyala begitu cepat seperti
sudah menunggu dari tadi. Cahaya oranye memantul di dinding toko, membuat
bayangan-bayangan bergerak liar seperti makhluk lain yang ikut menonton.
Mama berlari menuruni tangga mencoba menarik Papa, tapi dua orang mendorongnya keras sampai ia jatuh menimpa
Liem yang tadi ikut turun bersama . Aku berlari ke arah mereka, menarik lengan mereka agar bisa berdiri. Mama memeluk adikku erat-erat, tubuhnya gemetar hebat.
Liem
menangis tanpa suara—hanya mulutnya terbuka, nafas terputus-putus.
Massa
semakin banyak masuk, mendorong ruangan menjadi sesak dan panas. Suara api
mulai stabil, seperti napas raksasa yang baru bangun dari tidur panjangnya.
Di
antara kekacauan itu, seseorang menabrak kami dari samping. Aku hampir jatuh.
Peganganku pada Liem goyah. Mama juga terdorong. Dan di momen itu—
Tangan
kami terlepas.
Aku
memegang pergelangan tangan Liem beberapa detik sebelumnya. Tapi satu dorongan
besar dari belakang memisahkan kami seperti potongan kertas yang disobek.
Aku
melihatnya tergelincir ke belakang.
Lalu
didorong lagi.
Dan
lagi.
Dan
lagi.
Sampai
tubuh kecilnya tenggelam dalam lautan kaki orang dewasa.
Aku
berteriak memanggilnya:
“LIEM!
LIEM!!”
Aku
mencoba menerobos, tapi tubuh-tubuh di depan seperti tembok. Tanganku meraba
udara kosong. Setiap dorongan membawaku semakin jauh darinya.
Sekilas
aku melihat tangan kecilnya terjulur di antara kaki-kaki yang berlari.
Lalu
lenyap.
Mama menjerit namanya begitu keras sampai suaranya pecah.
“LIEM
TAN! WEI! JIEEEE!”
Seorang
lelaki bertopeng menendang kami mundur, memerintahkan yang lain:
“MASUKIN
MEREKA! KE DALAM!”
Kami
didorong kembali ke ruang tengah. Mama berusaha melawan, tapi lengannya
dipelintir. Aku mencoba menarik bajunya tapi terpisah lagi oleh orang yang
berbeda.
Api
dari toko sudah merambat ke langit-langit depan. Asap mulai masuk ke ruangan,
membuatku batuk keras. Mata Mama berair.
Papa?
Aku tidak melihatnya lagi.
Massa
menutupinya.
Seseorang
menendang pintu ruang tengah kami. Engselnya bergetar. Setiap hentakan membuat
debu turun dari langit-langit.
Mama memanggil Liem terus-menerus, tanpa jeda, seperti mantra yang putus:
“Liem…
Liem … Liem … Di mana kamu… Liem Tan Wei-Jie…”
Aku
memegang tangan Mama. Untuk pertama kalinya, tangan Mama sedingin jendela pada
malam hujan.
Di
luar, massa berteriak semakin keras.
“BAKAR!”
“JARAH!”
“ROBOHKAN!”
Pintu
ruang tengah semakin dipukul, kayunya pecah sedikit demi sedikit.
Seseorang
di luar tertawa keras.
Seseorang
menendang lagi.
Engsel
terangkat.
Aku
tahu apa yang akan terjadi.
Kami
berdua tahu.
Mama menatapku, wajahnya putih seperti kapur. Napasnya pendek. Ia berkata dengan
suara yang bahkan tidak bisa disebut suara lagi:
“Lidya…
pegang mama… jangan lepas…”
Aku
mengangguk, meski tubuhku gemetar sampai lututku terasa tidak ada.
Pintu
itu dihantam sekali lagi.
Kayunya
retak penuh. Retakan seperti jaring laba-laba.
Satu
hentakan terakhir—
dan
pintu rumah kami dijebol.
Massa masuk bersamaan.
Seakan
dunia di luar akhirnya menelan rumah kami bulat-bulat.
Dan
segalanya berubah selamanya.
Dengan
tangan gemetar dan tenggorokan kering, hanya ada langkah kaki yang menusuk
lantai seperti derap sepatu tentara, tapi ini bukan tentara. Ini massa—dan
mereka tidak datang untuk melindungi.
Aku
tidak tahu siapa yang menarik rambutku lebih dulu. Tidak tahu tangan siapa yang
memisahkan aku dari Mama. Yang aku tahu hanya tubuhku yang terangkat, ditarik
ke ruangan samping seperti barang yang sudah tidak dianggap manusia. Mama
sempat menggenggam lenganku, tapi genggaman itu terlepas saat seseorang
mendorongnya keras, membuat tubuhnya menabrak dinding. Suara napasnya terengah,
tapi masih memanggil namaku.
Lalu
aku diseret ke ruangan belakang, tempat penyimpanan stok bahan kue. Pintu ditutup dari luar. Terkunci.
Bunyi
itu masih menjadi salah satu suara yang paling sulit kutelan—bukan karena
kerasnya, tapi karena maknanya: aku dan Mama dipisahkan agar tidak bisa saling
menjadi saksi. Atau mungkin agar kami justru menyaksikan dari jauh tanpa mampu
menolong.
Aku
mendengar suara Mama terlebih dulu. Terdengar seperti seseorang yang mencoba
tetap bermartabat meski sedang dicekik ketakutan. Ada suara tawa laki-laki,
suara gesekan keras, sesuatu jatuh menimpa lantai. Lalu suaranya
berubah—menjadi paduan antara memohon dan menahan sakit. Aku tidak bisa melihat
apa yang terjadi. Aku merapatkan tubuhku ke dinding, seolah bisa menembusnya
dan mencapai Mama. Tapi dinding itu dingin seperti logam, tidak peduli siapa
yang menangis di baliknya.
Suara
Mama terus menipis, lalu—di antara hiruk-pikuk—terdengar satu napas panjang
yang terdengar seperti orang yang melepaskan sesuatu yang terakhir. Setelah
itu… sunyi. Sebuah sunyi yang menggerus sarafku lebih tajam daripada teriakan
mana pun.
Aku
mencoba memanggilnya. “Ma—”
Tapi
suara itu mati di tenggorokan. Ketakutan terlalu tebal.
Tidak
ada waktu untuk menunggu. Tidak ada waktu untuk berdoa. Pintu dibuka
keras, dan cahaya remang dari luar masuk bersama tiga atau empat bayangan. Aku
tidak ingat jumlahnya dengan pasti—PTSD mengubah detail menjadi kabur, meski
rasa takut tetap setajam pisau.
Seseorang
mencengkeram bahuku. Seseorang lagi menahan kedua lenganku. Aku masih bisa
mencium bau mereka: keringat asam, debu jalanan, alkohol murahan. Bau bensin
menempel di baju salah satu dari mereka. Setiap napas mereka membuatku ingin
mual.
Aku
ingat gigiku bergemeletuk.
Aku
ingat mencoba menendang, memukul, menggigit.
Aku
ingat mereka tertawa.
Lalu
ingatan itu pecah—seperti kaca dilempar ke tanah.
Potongan
pertama:
Lantai
dingin menyentuh pipiku. Begitu dingin sampai aku hampir bisa menyamakan suhu
dingin itu dengan tubuhku sendiri. Aku ingat berusaha menggeser wajahku dari
lantai, tapi seseorang menekan bahuku hingga aku tidak bisa bergerak.
Potongan
kedua:
Ada
suara seperti kain disobek. Aku tidak tahu apa itu. Aku mencoba menutup
telingaku dengan kedua tangan, tapi lengan seseorang menariknya kembali,
memakuku seperti marionet yang dipaksa.
Potongan
ketiga:
Seseorang
berbisik di telingaku. Kalimat itu tidak jelas, tapi nadanya… nadanya membuat
seluruh tubuhku membeku. Bukan kata-katanya yang menghantuiku—karena sampai
sekarang aku tak bisa mengingat persisnya—melainkan rasa jijik yang
disuntikkannya ke dalam tulang-tulangku.
Potongan
keempat:
Aku
pingsan. Bukan sekali. Berkali-kali. Setiap kali sadar, ruangan berbeda: kadang
gelap, kadang bercahaya dari api di luar, kadang hanya bayangan orang-orang
yang bergerak cepat. Waktu hilang bentuknya; mungkin menit, mungkin jam.
Tubuhku terasa bukan tubuhku.
Potongan
kelima:
Rasa
metalik darah di mulutku. Aku menggigit sesuatu—atau mungkin seseorang. Aku
tidak tahu.
Tawa kasar sebagai balasannya.
Potongan
keenam:
Seseorang
menutup mulutku dengan sepotong kain. Kain itu bau bensin. Setiap tarikan napas
seperti menghirup ketakutan orang lain.
Yang
mengejutkan bukanlah rasa sakit. Melainkan rasa hampa yang muncul di
tengah-tengahnya. Aku ingat satu saat di mana aku berhenti merasakan seluruh
tubuhku. Seolah otakku memutuskan bahwa untuk bertahan, ia harus memisahkan
diriku ke tempat lain. Tempat tanpa suara. Tanpa sentuhan. Tanpa tubuh.
Sebuah
mekanisme yang kemudian kupelajari sebagai dissociation—cara alamiah
otak untuk menjaga sisa jiwamu tetap hidup ketika tubuh tak mampu lagi
menanggung realita.
Meski
begitu, aku tetap mendengar mereka.
Retakan
kayu.
Tawa
yang mabuk kekuasaan.
Langkah
kaki berpindah dari Mama ke aku dan sebaliknya seperti memilih korban berikut
di pasar gelap. Dan saat semuanya akhirnya tenang—benar-benar tenang—aku tidak
tahu apakah dunia sudah berhenti berputar atau aku yang berhenti menjadi
manusia.
Aku
terbangun dengan rasa perih di seluruh tubuh, seperti habis dilempar keluar
dari ketinggian. Ruangan itu hancur berantakan: lemari terbalik, kaca pecah di
lantai, kipas angin jatuh, bahan-bahan kue berserakan di lantai. Ada bercak-bercak gelap di dinding yang tidak ingin kuteliti
lebih lanjut.
Aku
tidak tahu berapa lama aku tidak sadarkan diri. Dari luar, suara massa sudah
menghilang. Yang tersisa hanya bunyi api menjilat udara, dan sesekali suara
bangunan runtuh di kejauhan.
Aku
mencoba duduk, tapi lantai terasa seperti menelan tubuhku. Aku menahan dinding,
mendorong diriku perlahan. Napasku tersengal, dada terasa sempit. Seluruh
tubuhku seperti memar yang menyatu.
Lalu
aku melihat sesuatu di ruang tengah.
Mama.
Tubuhnya
tergeletak menghadap pintu, seperti seseorang yang mencoba melindungi rumah
meski sudah tidak sanggup lagi berdiri. Rambutnya yang biasanya rapi kini kusut
dan tercabut di beberapa bagian. Tubuhnya tidak dibalut sehelai pun kain. Ada
bekas luka yang terlalu banyak untuk kuhitung.
Aku
merangkak mendekatinya.
Tapi
saat ujung jariku menyentuh tangannya, aku tahu tubuh itu sudah dingin.
Aku
tidak berteriak.
Tidak
menangis.
Tidak
melakukan apa pun.
Ada
satu titik patah dalam diriku yang terlalu dalam untuk bisa bereaksi. Aku hanya
menunduk dan menyentuhkan keningku ke lantai. Bukan berdoa—lebih seperti
menyerah.
Aku
tidak tahu bagaimana aku menemukan celah di samping ruko. Mungkin massa
merusaknya saat mencoba menembus dari berbagai sisi. Mungkin angin malam yang
membantu merobeknya. Aku tidak ingat. Yang kutahu hanya aku merangkak ke luar
seperti binatang yang keluar dari perangkap.
Udara
malam terasa pahit.
Asap
tebal menampar wajahku.
Tapi
setidaknya tidak ada lagi tangan yang menarikku.
Aku
merayap lewat pintu samping ruko, tubuhku goyah, darah mengering di kulitku.
Setiap langkah seperti menginjak bara.
Di
luar, Glodok sudah berubah menjadi reruntuhan hitam. Lampu padam. Api menyala
dari beberapa toko. Bau bensin, plastik terbakar, dan darah bercampur menjadi
aroma yang menusuk seperti luka yang dibuka paksa.
Aku
tidak tahu ke mana harus pergi.
Tidak
tahu apakah Liem Tan dan papa masih hidup.
Tidak
tahu apakah dunia masih punya ruang untukku setelah malam itu.
Yang
kutahu hanya satu:
Aku
berhasil keluar.
Setengah
hidup.
Separuh
mati.
Dan
gelap yang kutinggalkan di belakangku masih terus mengikutiku sampai hari ini.
Aku
tidak ingat bagaimana aku keluar dari rumah. Yang tersisa hanya potongan
ingatan seperti foto-foto yang dibakar: kilatan cahaya api, bau daging
terbakar, suara laki-laki tertawa, lalu tanah yang dingin menelan pipiku. Saat
aku terseret keluar atau saat aku merangkak sendiri, aku tidak pernah tahu.
Yang kutahu hanyalah aku berada di luar. Aku ingat lututku menghantam paving
kasar, ingat tanganku meraba tembok yang terasa basah entah oleh air atau
darah. Kemudian gelapnya jalan sempit di belakang toko seperti menelan tubuhku.
Aku
berjalan tanpa arah, atau mungkin tubuhku yang bergerak sendiri. Nafasku
terbakar. Kaki kiriku menyeret seperti bukan milikku. Setiap langkah terasa
seperti berjalan di atas kaca. Aku tidak bisa berhenti. Jika aku berhenti,
mereka akan menemukan aku seperti menemukan Mama—terbaring dengan mata setengah
terbuka, seolah masih mencoba memanggilku.
Aku
tidak bisa berhenti.
Lalu
gelap itu menjadi semakin pekat.
Sampai
semuanya padam.
Aku
sadar dengan sensasi aneh di kulitku—kain kasar, dingin, bukan bajuku. Hidupku
selama ini selalu dimulai dengan suara Papa memanggil, atau Mama mengetuk
pintu, atau Liem Tan yang menyeret bantal ke kamarku.
Tapi
pagi itu (atau malam?) aku terbangun dengan suara ember jatuh.
Dan
napas asing.
Aku
membuka mata.
Atap
kayu usang, dinding triplek tambal-sulam, lampu minyak yang berkedip. Bau anyir
bercampur kayu lembab memenuhi udara. Dan tiga wajah memandangku—wajah yang tak
kukenal, wajah yang langsung membuat detak jantungku meledak.
Aku
berteriak.
Meronta
seperti binatang yang terluka. Aku menyingkir ke sudut kasur tipis itu, menarik
baju lusuh yang bukan punyaku, memeluk tubuhku sekuat mungkin seolah baju itu
bisa melindungi.
“A-aku
tidak mau! Jangan sentuh aku! Jangan—jangan—”
Wajah-wajah
itu kaget. Laki-laki paruh baya, perempuan dengan kerudung lusuh, dan anak
kecil yang mengintip dari balik kaki ibunya.
Aku
melihat laki-laki itu, tubuhnya besar, kulitnya gelap terbakar matahari, tangan
kasarnya penuh kapalan.
Dan
sesuatu dalam otakku langsung terpicu: masa kemarin, suara tawa, tangan-tangan
yang menarik rambutku…
Aku
menjerit lagi, lebih keras dari yang pernah aku lakukan seumur hidup.
“JANGAN!
JANGAN—JANGAN SAKITI AKU!”
Perempuan
itu langsung menutup mulutnya sendiri, gemetar melihat reaksiku. Laki-laki itu
mengangkat kedua tangannya pelan, bukan mendekat, bukan mundur, hanya diam
seperti orang yang takut gerakannya akan membuatku pecah.
“Neng…
tenang dulu. Kami... Kami nggak akan sakiti kamu,” katanya dengan suara paling
pelan yang pernah kudengar dari seorang pria.
Tapi
suara pria—bahkan pelan—setelah semalam, terasa seperti pisau di tengkukku. Aku
menyusut ke pojok kasur, punggungku menempel ke dinding triplek yang goyah.
Perempuan
itu mendekat setengah langkah.
“Ini…
baju saya, Neng. Saya… saya cuma… saya cuma pakaikan karena… Neng kedinginan…,”
ucapnya terbata. Matanya berkaca-kaca, bukan karena takut padaku… tapi karena
takut aku takut padanya.
Tapi
aku tidak bisa berhenti gemetar.
Aku
masih ingat tangan-tangan itu. Nafas mereka. Berat tubuh mereka.
Aku
tidak bisa berhenti.
Aku
hanya menangis seperti anak kecil.
Aku
tidak tahu berapa lama aku menangis. Perempuan itu duduk di lantai, tidak
berani mendekat, hanya menjaga jarak, memegang semangkuk bubur tipis yang
uapnya mengepul pelan. Laki-laki itu berdiri di pintu, memalingkan wajahnya
seakan aku adalah makhluk rapuh yang bisa hancur hanya dengan tatapan.
Anak
kecil itu—laki-laki umur tujuh tahun, mungkin—mengintip dari balik pintu kamar
dengan boneka kayu patah di tangannya.
“Aku…
Dika,” katanya pelan, setengah berbisik.
Aku
tersentak mendengarnya. Wajah anak itu membuatku memikirkan Liem Tan.
Tulang-tulangku
langsung terasa runtuh.
Aku
menutup wajah dengan kedua tangan dan mulai menangis lagi.
Hari-hari
berikutnya tidak berlangsung seperti hidup, tapi seperti lembar-lembar catatan
yang hilang halamannya.
Aku
tahu nama perempuan itu adalah Bu Rina. Ia bergerak seperti orang yang takut
suaranya akan merusak sesuatu yang rapuh. Ia memberi bubur ke mulutku dengan
sendok kayu kecil, tapi setiap aku melihat tangan orang dewasa, tubuhku
langsung kaku.
Aku
memuntahkan buburnya.
Ia
tidak marah. Tidak tersinggung. Ia hanya menangis diam-diam sambil menyeka
mulutku yang belepotan.
Pak
Surya, suaminya, bekerja serabutan di pasar. Setiap ia pulang, ia selalu
mengetuk pintu dua kali sebelum masuk, seperti memberi kode agar aku bisa
bersiap. Ia menutup jendela dan pintu dengan kain-kain tebal agar tidak ada
tetangga tahu ada gadis Tionghoa setengah mati di rumah mereka.
“Kalau
ada orang tahu… kita bisa dibakar juga,” katanya ke istrinya dengan suara
rendah. Tapi aku mendengar.
Meski
begitu, ia tetap menyembunyikanku.
Hari
keempat, saat aku bangun dari demam panjang, Dika duduk di sisiku dengan boneka
kayu kecil. Wajahnya polos. Tidak mengerti dunia orang dewasa. Tidak mengerti
teror yang orang dewasa lakukan.
“Aku
bikin ini buat Kakak,” katanya sambil menyodorkan boneka kecil itu.
Aku
memandangnya lama. Tanganku gemetar saat menyentuh boneka itu. Dika tersenyum
lebar. Senyum yang terlalu bersih untuk dunia yang kotor.
Aku
mulai menangis.
Dika
bingung.
Bu
Rina menepuk punggungnya perlahan, lalu memeluknya agar ia mundur.
Tapi
entah bagaimana, boneka itu membuatku merasa… tidak sepenuhnya sendirian.
Aku
mulai sedikit bicara seminggu setelahnya.
Satu
kata.
“Sakit.”
Bu
Rina mengangguk tanpa bertanya bagian mana.
Ia
mengambil kain bersih, membasahi dengan air hangat, lalu mengusap pelipisku.
Gerakannya hati-hati, seperti menyentuh sayap kupu-kupu.
“Sebentar
lagi baikan, Neng…”
Tapi
aku tahu itu bohong. Aku tidak akan “baikan” seumur hidup.
Pada
hari kesembilan, aku mendengar suara logam beradu dari luar. Seperti pipa besi
dijatuhkan. Tubuhku langsung memaku kasur. Aku kembali ke mode bertahan hidup
tanpa sadar: napas menahan, tubuh kaku, mata mencari jalan keluar.
Pak
Surya masuk cepat-cepat.
“Itu
cuma gerobak jatuh, Neng. Bukan apa-apa.” Ia menatapku lama. “Neng masih aman.
Selalu aman di sini.”
Aman.
Itu
kata yang makin terasa asing.
Dua
minggu setelah mereka menemukan aku, mereka memutuskan membawaku ke sebuah
gereja kecil yang menjadi pos darurat untuk korban-korban.
Bu
Rina memakaikan aku baju lengan panjang miliknya.
“Saya
nggak bisa jaga kamu selamanya, Neng… nanti kalau ada yang lihat, keluarga saya
bisa mati.”
Aku
mengangguk. Meski berat, aku mengerti.
Pak
Surya mengantar dengan rute memutar, melewati lorong-lorong sempit yang seperti
labirin. Setiap suara keras membuatku kembali meremas lengannya.
Saat
tiba di gereja, relawan mencatat namaku dan beberapa orang lainnya.
Mereka
membaca daftar korban meninggal.
Ong
Yauw-Kin.
Andreas
Tjahjadi Tjong-Ho.
Wijaya
Lie Keng-Ho
Hendrik
Tan Kian-Hock.
Susy
Lie Yun-Xia.
Rusli
Ong Tiong-Kiat.
Lily
Zhi-Ling.
Halim
Hui-Zhen.
Yohan
Ming-Yu.
Steven
Cou...
Katanya,
korban-korban ditemukan di titik berbeda, dengan kondisi yang tidak dijelaskan
detailnya. Mereka tidak perlu menjelaskan; aku sudah melihat cukup banyak.
Air mataku mengalir begitu saja ketika mendengar nama orang tuaku disebutkan, lalu dengan terbata aku
menanyakan nama Liem Tan Wei-Jie.
Mereka
menggeleng.
Tidak
ada namanya di daftar korban, tidak ada di daftar selamat, tidak ada di daftar
hilang. Tidak ada apa-apa.
Seakan
ia diambil oleh gelap, dan gelap menelannya bulat-bulat.
Aku
tidak menangis.
Tidak
ada air mata tersisa.
Sebelum
aku dibawa ke ruang perawatan, aku menoleh.
Pak
Surya berdiri di ujung pintu gereja. Tangannya mengepal canggung, seperti
bingung harus apa. Bu Rina memeluk Dika yang melambai kecil ke arahku dengan
bonekanya.
Aku
ingin berlari ke mereka. Atau setidaknya mengatakan terima kasih. Tapi suara
tidak keluar. Tenggorokanku seperti tercerabut.
Yang
bisa kulakukan hanya menatap.
Menatap
tiga orang yang tidak pernah kukenal, tetapi menyelamatkan hidupku ketika dunia
ingin membunuhku.
Rasa
syukur itu jauh lebih sakit daripada luka mana pun.
Karena
aku tahu… tanpa mereka, aku tidak akan ada di sini.
Dan
tanpa mereka, tidak ada yang tersisa dari keluarga Tan.
2
tahun kemudian aku kembali ke Glodok sebelum matahari naik penuh, ketika
toko-toko belum membuka pintu, dan suara kota baru sedikit hidup. Dalam cahaya
yang belum stabil itu, semuanya terlihat seperti foto lama yang terlalu sering
disentuh—kusam, tapi masih memuat sesuatu yang terasa seperti kebenaran.
Aku
berdiri di depan ruko yang dulu milik keluargaku. Di masa kecilku, papan nama
kuning dengan huruf merah menyala itu selalu tampak seperti bendera kecil yang
menandai bahwa kami eksis, bahwa kami punya tempat di kota yang sering berkata
sebaliknya. Sekarang papan itu sudah tiada. Pemilik barunya mengecat dinding
depan dengan warna biru muda yang memantulkan sinar lampu toko elektronik
mereka.
Aku
menatap pintu besi itu lama sekali. Bagian bawahnya berkarat, tapi masih
terlihat kokoh—seperti seseorang yang menua tanpa sempat beristirahat.
“Rumah,”
gumamku kecil, meski kata itu sekarang lebih mirip reruntuhan daripada tempat
tinggal.
Orang-orang
lalu-lalang tanpa memperhatikan. Mungkin mereka mengira aku hendak membeli
sesuatu. Atau mereka sudah terlalu terbiasa melihat seseorang berdiri lama di
depan bangunan yang tidak lagi miliknya. Ini Jakarta: kota di mana kehilangan
adalah rutinitas seperti bus yang datang terlambat.
Aku
mengeluarkan sebungkus lilin kecil dari tas. Lilin warna putih, tipis, dibeli
dari toko hio di sudut pasar tadi. Aku menyalakannya, lalu meletakkannya di
trotoar tepat di sisi kiri pintu.
Lalu
aku menyebut nama itu. Nama yang jarang sekali berani kuucapkan dengan suara
penuh.
“Liem
Tan Wei-Jie.”
Angin
pagi membuat apinya goyah, tapi tetap bertahan. Aku jongkok di depan lilin itu.
Aku tidak menangis, setidaknya tidak pada awalnya. Tapi dadaku terasa seperti
ada batu yang pelan-pelan menggeser posisinya, menekan lebih dalam.
Sampai
hari ini, tidak ada satu pun surat resmi yang menyebut adikku meninggal. Tidak
ada pencarian. Tidak ada status korban. Hanya kata-kata samar dari saksi, rumor
dari tetangga, dan catatan LSM yang menuliskan namanya di daftar “diduga
hilang, kemungkinan tewas.” Tahun 1998 memakan ribuan cerita; adikku adalah
salah satu yang ditelan bulat-bulat.
Beberapa
bulan lalu, keluarga besar menawariku pindah ke Singapura. “Kau sudah terlalu
lama berjuang sendiri,” kata paman Eddie. “Kau berhak hidup tenang.”
Aku
ingat menatap kopinya yang sudah dingin. Butir-butir gula masih mengendap di
dasar gelas. Aku tidak menjawab cepat. Aku memikirkan semua hal yang seharusnya
membuatku bilang “ya”: rasa aman, jarak dari trauma, peluang kerja, lingkungan
yang tidak mempertanyakan darahmu.
Namun
ada bayangan Papa duduk di depan ruko ini, bercelana pendek kodok, membuka
kardus barang dagangan, tersenyum dengan percaya diri yang kini terasa naif.
“Papa
mati karena percaya negeri ini,” kataku pada paman. “Entah bodoh atau cinta…
tapi aku ingin menyelesaikan ceritanya di sini.”
Paman
terdiam. Tidak membantah. Tidak mengerti. Dan aku tidak menuntutnya mengerti.
Cinta
adalah sesuatu yang sering kali hanya bisa dibaca dari reruntuhan—dari apa yang
ditinggalkan orang-orang ketika mereka tidak lagi ada.
Pelanggan
pertama toko elektronik itu datang ketika lilinku tinggal separuh. Seorang
bapak dengan helm digantung di tangan. Ia menatapku sebentar—mungkin penasaran
kenapa ada seorang perempuan berdiri dan menatap lilin dengan begitu
serius—lalu masuk ke toko tanpa komentar. Pemiliknya membuka pintu dari dalam
dan memandang ke arahku sekilas. Tidak marah, tidak bingung. Hanya tatapan
cepat yang mengatakan: “Saya tidak mau terlibat.”
Aku
mengerti. Tahun 1998 mengajari banyak orang cara bertahan: diam.
Aku
berjalan ke sisi jalan, tempat dulu Mama sering menunggu angkot sambil memegang
jinjingan berisi roti sisa toko roti tua. Sekarang toko roti itu sudah berubah
menjadi tempat menjual suvenir.
Di
sana, aku berdiri diam. Aku mendengar suara pedagang bakso dorong. Juga suara
batuk seorang kakek yang duduk di kursi plastik biru. Aku mencatat semua itu di
kepalaku meski sesungguhnya yang ingin kucatat adalah ini: aku pulang, tapi
rumahku tidak lagi ada.
Seseorang
menyenggol bahuku ketika lewat. Aku menggumamkan “maaf” refleks. Mereka tidak
menoleh. Aku melangkah ke gang kecil di dekat pasar, tempat Mama dulu terakhir
terlihat menangis mencari tahu keberadaan Liem. Gang itu kini dipenuhi motor yang
diparkir, kabel menjuntai, dan bau gorengan yang tengik.
Aku
kembali ke ruko bekas keluargaku. Lilin itu akhirnya padam sepenuhnya,
meninggalkan jejak lilin meleleh yang memanjang seperti sungai kecil. Aku
mengambil sumbunya yang tersisa, menyimpannya dalam saku baju. Sesuatu yang
kecil. Sesuatu yang bisa kubawa pulang sebagai pengingat bahwa pagi ini
benar-benar terjadi.
Aku
berjalan perlahan meninggalkan ruko. Tidak ada upacara besar. Tidak ada momen
dramatis. Hanya langkah kaki yang terasa berat tapi mantap—seperti seseorang
yang akhirnya menerima bahwa hidup bukan tentang menemukan jawaban, tapi
merawat luka lama tanpa membiarkannya membusuk.
Di
ujung jalan, aku menoleh sekali lagi.
Bangunan
itu tetap berdiri. Tanpa nama keluargaku. Tanpa sejarah kami. Tanpa apa pun
yang tersisa kecuali dinding.
Tapi
aku tahu, di dalam diriku, ruko itu tidak pernah benar-benar hilang.
Aku
menarik napas. Lalu membiarkannya keluar perlahan.
“Setiap
langkahku melewati Glodok,” kataku pelan, “aku mendengar Mei 1998 berteriak.”
Aku
berhenti sejenak.
“Tapi
aku juga mendengar bisikan kecil…” Suaraku melembut. “Aku masih hidup.”
Dan
selama aku hidup, cerita kami tidak akan hilang.
Tidak
peduli apakah kota ini memaafkan atau tidak.
Tidak
peduli apakah sejarah ditulis ulang atau dihapus.
Tidak
peduli apakah dunia menganggap kami penting atau hanya koma kecil dalam sebuah
paragraf panjang tentang politik dan ekonomi.
Aku
ada.
Dan
itu cukup untuk hari ini.
Aku
menatap jalanan yang sibuk, lalu melangkah.
Kali
ini, langkahku tidak gemetar.
Kota
ini tidak pernah memintaku kembali.
Tapi
aku datang juga.
Dan
aku akan tetap berdiri.
Begitulah
kisah traumaku terhadap kerusuhan Mei 1998. Dulu aku mengira trauma hanya akan
hilang kalau berani melupakannya. Sekarang aku tahu: itu tidak akan hilang.
Tapi ia bisa belajar duduk diam di sudut ruangan kepala kita, tidak lagi
berteriak setiap kali ada suara keras.
Aku
pernah membaca koran yang mengatakan Mei 1998 adalah “tragedi.” Kata itu
terdengar bersih sekali dibanding apa yang sebenarnya terjadi. Tidak ada kata
yang cukup kotor untuk menggambarkan apa yang dilakukan orang-orang ketika
kemarahan massal menguasai tubuh mereka.
“Liem
Tan Wei-Jie,” gumamku lagi. “Aku masih mencarimu. Bahkan kalau dunia sudah
berhenti.”
Kadang
aku membayangkan kemungkinan yang berbeda: mungkin ia berhasil kabur. Mungkin
ia tinggal di kota lain, menyembunyikan nama, menikah, punya anak. Tapi
pikiranku selalu kembali pada satu hal: adikku tidak mungkin pergi tanpa
mengabari Mama. Ia terlalu setia untuk itu.
Dan
jadi aku tahu. Jawabannya itu.
Jawaban
pahit yang kota ini tidak pernah mau ucapkan.
