Mei 1998


 

Jakarta, 1998.

Aku adalah murid sekolah kelas dua SMU yang sering malas bangun pagi, punya adik laki-laki berumur sembilan tahun yang selalu ribut mencari kelerengnya, dan orang tua kami yang sibuk. Rumah kami ada di lantai dua ruko kecil di Glodok. Toko bahan kue milik keluarga—“Toko Manis Makmur”—ada di bawah, buka dari jam delapan pagi sampai sore.

Setiap pagi, sebelum aku berangkat sekolah, aku turun dulu ke toko untuk bantu sedikit. Kadang cuma merapikan rak atau mengecek stok gula. Papaku, Hendrik Tan Kian-Hock, selalu sudah berdiri di balik meja kasir sambil menghitung sesuatu dengan kalkulator kecil. Rambutnya mulai beruban tapi tubuhnya tetap tegap. Mamaku, Susy Lie Yun-Xia, sibuk menata pesanan pelanggan. Dari dulu mereka memang mendidik aku dan Liem Tan Wei-Jie supaya ikut “turun tangan,” katanya supaya kami tidak manja. Oh ya namaku Lydia Tan Mei-Lin.

Di toko, kami punya tiga karyawan: Bang Darma, Ujang, dan Nisa. Mereka sudah bekerja lama di keluarga kami. Kadang Bang Darma suka menggodaku dengan panggilan “Non Lydia mau jadi bos besar nih, cek stok melulu.” Ujang yang paling muda suka iseng ngajarin aku main gitar, sementara Nisa sering bantu Mama bikin kemasan parcel menjelang Imlek.

Aku nggak pernah merasa ada jarak di antara kami. Rasanya kayak keluarga besar—ya, keluarga yang berisik, saling negur kalau kerjaannya salah, tapi hangat.

Selesai sekolah, aku biasanya langsung pulang untuk jaga toko sebentar sampai jam tujuh. Malam hari, Papa suka ngajak kami makan bakso di gang belakang. Adikku selalu minta tambah mie, padahal tubuhnya kurus begitu. Mama sering memarahinya tapi tetap saja akhirnya mangkoknya ditambah sedikit.

Hari Sabtu sore, Papa suka memancing di Ancol. Kadang dia ngajakku dan Liem. Kami duduk lama di pinggir beton sambil makan roti sobek isi cokelat. Papa cerita soal masa kecilnya di Semarang, soal bagaimana dulu dia juga bantu jaga toko orang tuanya sejak kecil. Katanya, “Hidup itu keras, tapi kalau kita rajin, kita kuat.” Aku cuma mengangguk, karena belum paham apa maksud “keras” itu pada waktu itu.

Di rumah lantai dua, hidup kami sederhana. Mama menempelkan foto keluarga besar di papan dekat ruang makan. Banyak foto sepupu-sepupuku yang tinggal di luar negeri. Mereka sering menanyakan kapan kami menyusul pindah, tapi Papa selalu jawab, “Nanti.” Aku pikir itu cuma urusan orang dewasa.

Yang aku tahu, aku suka hidupku apa adanya. Aku suka dengar radio sambil belajar, suka lihat mama tertawa waktu melihat nilai ujianku lumayan, suka lihat Papa mencium kepala Liem sebelum tidur. Kadang aku merasa hidup kami akan terus begini.

Sampai suatu hari, sepertinya sekitar akhir Maret 1998, Papa pulang dengan wajah lebih tegang dari biasanya. Saat makan malam, ia membaca koran sambil mengernyit. Di sampingnya, radio kecil memutar berita politik yang suaranya terdengar makin gaduh belakangan ini.

Aku lihat headline besar:

“DEMO MAHASISWA MELUAS. SITUASI EKONOMI KIAN RUSUH.”

Mama bertanya pelan, “Ada apa lagi, Hock?”

Papa hanya menggeleng, “Harga naik terus. Rupiah makin jatuh.”

Mama ikut menghela napas. “Semoga cepat selesai…”

Papa menutup koran, tapi aku melihat dari sudut matanya: ada rasa takut.

Besoknya di sekolah, teman-temanku mulai membicarakan hal sama. Orang tua mereka katanya sudah siap-siap simpan uang dan bahan makanan. Ada juga yang bilang ada kerusuhan kecil di beberapa daerah. Waktu aku pulang, Papa sedang menurunkan papan kecil bertuliskan nama Tionghoa toko kami.

“Kenapa diturunin?” tanyaku.

Papa hanya menjawab, “Buat jaga-jaga.”

Di toko, Nisa terlihat lebih pendiam. Ujang bilang keluarganya di kampung mengeluh harga beras naik. Bang Darma ada yang bilang, “Hati-hati ya, Non. Situasi nggak enak.”

Aku bingung. Semua terasa aneh tapi belum benar-benar mengerikan. Yang jelas, mulai hari itu, malam terasa lebih sunyi. Radio tidak pernah dimatikan. Papa dan Mama sering berbisik di kamar. Dan entah kenapa, aku mulai bangun dengan perasaan tidak nyaman, seperti ada sesuatu yang besar dan gelap sedang bergerak menuju kami pelan-pelan.

Aku belum tahu apa itu.

 

Aku selalu mengira luka akan mengecil seiring usia. Bahwa jarak dan waktu akan meredam sesuatu yang dulu menggelegar seperti bom yang diledakkan terlalu dekat dengan dada. Tapi suara—ya, suara—rupanya punya cara yang lebih setia daripada ingatan. Ia bersembunyi, mengendap, menunggu. Dan ketika kondisi kota berubah, ketika udara kembali mengandung ketegangan yang sama seperti dua puluh tujuh tahun lalu, ia muncul. Utuh. Tanpa ampun.

Hari ini, awal September 2025, aku kembali mendengar teriakan massa di ujung Jalan Kramat Kwitang Raya. Bunyinya bukan baru; ritme itu terlalu familiar, seperti pola napas yang pernah nyaris merenggut hidupku. Aku sedang berjalan pulang dari pusat rehabilitasi kecil tempatku menjadi relawan—sebuah ruangan apartemen sederhana yang kami sulap menjadi pos konseling trauma kekerasan. Tempat yang, anehnya, seringkali lebih tenang dibandingkan dunia di luar pintunya. Klien terakhirkku barusan menangis sepanjang sesi, menceritakan bagaimana suaminya memecahkan piring tepat di samping telinganya. “Saya takut suara keras, Bu Lydia,” katanya. Aku hanya mengangguk dan menuliskan catatan. Kalau ia tahu, aku juga takut.

Di trotoar depan Stasiun Gambir, kerumunan orang mulai mempercepat langkah. Sebagian merekam dengan ponsel, sebagian buru-buru mencari jalur memutar. Aku tidak mencari tahu sumber keributan itu. Tidak perlu. Tubuhku bereaksi lebih cepat dari akal: napas terhenti, ujung jari mulai dingin, telinga berusaha menangkap suara lain—suara yang bukan berasal dari hari ini.

Tiga detik kemudian, aku mendengar letupan kecil. Entah petasan, entah ban pecah. Tapi bagiku, suaranya identik dengan sesuatu yang pernah membelah malam di tahun 1998. Lalu dunia retak.

Aku menepi, duduk di sebuah bangku dekat halte TransJakarta, menunduk, menarik napas panjang. Metode grounding. Fokus pada indera. “Sebutkan tiga hal yang bisa kamu lihat… tiga hal yang bisa kamu sentuh… tiga hal yang bisa kamu dengar…” Kalimat yang sering kuucapkan kepada klien-klienku seperti kembali menuntut agar kujalankan sendiri. Jari-jariku meraba tekstur bangku besi yang kasar; sepatu kulit seorang pegawai negeri lewat tergesa; klakson motor bersahut-sahutan. Suara keributan demonstrasi semakin jauh, atau mungkin aku yang menyingkir menjauhi pusat bunyinya.

Begitu tenang, begitu pelan, aku membuka tas dan menarik buku catatan bersampul cokelat—benda yang selalu kubawa sejak tiga tahun lalu. Di halaman paling belakang, ada sejumlah catatan lama yang masih kusimpan: laporan investigatif mini tentang diriku sendiri. Sebuah kebiasaan yang berawal saat aku membaca kembali transkrip wawancara para penyintas kekerasan massal.

Ada bagian diriku yang masih menyangkal bahwa seseorang bisa hilang begitu saja, tanpa jejak, tanpa jenazah, tanpa penjelasan. Hilang seperti asap, tapi meninggalkan bau yang tidak pernah pergi. Adikku, Liem Tan Wei-Jie, aku langsung menekan dadaku seperti batu basah.

Seorang ibu yang lewat sempat bertanya apakah aku baik-baik saja. Ia mungkin melihat wajahku lebih pucat daripada biasanya. Aku tersenyum tipis dan berkata sedang menunggu transportasi. Ia mengangguk, lalu berjalan pergi sambil menggandeng anaknya. Memandangi punggung mereka membuat dada kiriku berdenyut pelan. Normal, menurut terapis yang dulu menanganiku, bahwa tubuh akan bereaksi pada pemandangan tertentu.

Aku menutup buku catatan, bangkit, dan memutuskan berjalan kaki menuju halte berikutnya. Setiap beberapa meter, suara jauh dari kerumunan masih terdengar samar—orator lewat megafon dan hentakan sepatu bot petugas keamanan. Aku menarik napas dalam-dalam. Telingaku mengaduk semuanya menjadi campuran yang bukan dari tahun ini.

Jakarta selalu menjadi kota yang membingungkan bagiku. Kota ini tidak pernah benar-benar tidur, tapi juga tidak pernah benar-benar terjaga. Ada jam-jam tertentu ketika seluruh ambisi, amarah, dan mimpi warganya menumpuk menjadi suara latar yang sulit didefinisikan. Di tengahnya, aku berjalan seperti seseorang yang tersesat dalam masa lalu yang masih memiliki napas.

Sebuah motor melintas cepat, knalpotnya meledak keras. Aku spontan menunduk. Tubuhku membungkuk refleks, seakan kembali berumur enam belas tahun, menutupi kepala sambil merasakan panas api dari kejauhan. Bau ban terbakar tiba-tiba muncul di hidungku—padahal tidak ada apa pun terbakar di sekitar sini. Sensasi phantom. Flashback klasik.

Aku menghentikan langkah, memejamkan mata. Di balik kelopak, muncul potongan lain: bayangan merah-oranye, kerumunan yang berlari, suara seseorang memanggil “Liem! Liem!”—suara itu milikku, retak dan putus. Lalu gambaran adikku, tubuh kecilnya yang mengenakan kaus garis-garis hijau, berlari menembus orang-orang sebelum hilang di balik kepulan asap.

Aku membuka mata cepat-cepat. Dunia kembali normal, tapi tidak sepenuhnya. Seperti layar kaca yang sempat bergoyang karena gangguan sinyal.

Aku bersandar di tiang halte. Jakarta tahun 2025 tidak sama dengan Jakarta yang merebut adikku dua puluh tujuh tahun lalu. Tapi gema dari masa lalu itu tidak pernah benar-benar berhenti. Ia hanya berganti bentuk.

Sore menjelang. Langit di atas Monas tampak seperti kertas gosong di tepinya. Dalam pekerjaanku sebagai relawan konseling, aku selalu mendorong para penyintas untuk menghadapi ingatan mereka sebagai data, bukan sebagai mimpi buruk. Bukan untuk menghapusnya, tapi untuk memberi struktur. Agar mereka tahu apa yang harus dilakukan ketika gelombang itu kembali.

Satu hal yang sering kulupa: aku pun penyintas.

Beberapa klien pernah bertanya, bagaimana aku bisa tetap tenang mendengar cerita-cerita kekerasan mereka. Jawabannya sederhana: aku tidak tenang. Aku hanya sangat terbiasa mengatur ulang napasku.

Ketenanganku adalah bentuk lain dari bertahan hidup.

Sore itu, aku memutuskan pulang lebih cepat daripada biasanya menggunakan transportasi umum. Jalanan mulai kembali normal, meski sisa-sisa energi demonstrasi masih terasa seperti getaran kecil di udara. Aku berjalan melewati para pedagang kaki lima, deretan ojek online, dan pos keamanan yang baru saja ditutup kembali. Tidak ada lagi suara letupan, tapi tubuhku belum sepenuhnya percaya.

Sesampainya di apartemen kecilku di daerah Setiabudi, aku menyalakan lampu ruang tamu dan langsung duduk di sofa. Kelelahan datang terlambat, menghantamku seluruhnya. Aku membuka jendela sedikit, berharap angin malam membawa bau yang lebih netral.

Tapi ketika angin itu masuk, ia justru membawa sesuatu yang lain—satu ingatan yang sangat spesifik: bau kertas terbakar, seperti selebaran demonstrasi yang dulu dilemparkan ke udara sebelum ditarik oleh api.

Aku memejamkan mata.

“Liem berdiri hanya beberapa langkah di depanku,” kenangan itu mengalir tanpa izin. “Ia tersenyum kecil sebelum berlari mengikuti arus massa, menghilang seperti seseorang yang dilarikan waktu.”

Itu potongan terakhir yang benar-benar kuingat. Setelah itu, dunia hanya suara, suhu panas, dan gerakan kacau yang dicampur menjadi satu.

Lalu aku bangkit, menuju dapur, menuangkan segelas air dingin—minuman yang biasanya menurunkan ketegangan saraf cukup cepat.

Di luar jendela, sirene polisi terdengar jauh, seperti sayup-sayup dari mimpi buruk yang tidak pernah selesai. Jakarta tetap hidup, tetap bergerak, tetap berisik.

Tapi di dalam apartemen kecil ini, aku berdiri sendirian, mendengarkan satu-satunya suara yang selalu kupahami: gema masa lalu yang menolak hilang.

Dan malam pun turun perlahan, menutup hari yang terasa seperti serpihan sejarah yang ikut terulang.

 

Aku masih bisa mengingat detail suara itu: statis radio AM yang kadang lebih keras daripada berita yang ingin disampaikannya. Papa selalu menyalakan radio setiap pagi, menaruhnya di meja makan seperti anggota keluarga yang ikut sarapan. Tapi awal Mei tahun 1998 itu, suara radio bukan lagi pengisi keheningan—melainkan tanda peringatan kecil yang terus menggedor dinding rumah kami.

“…telah terjadi kerusuhan kecil di wilayah Senen… polisi masih menyelidiki provokator… harga bahan bakar kembali naik…”

Mama menghentikan gerakan tangannya mengoles selai ke roti. Tatapannya melirik Papa dengan cepat, seperti memeriksa apakah ia juga mendengar nada genting di balik siaran itu. Papa pura-pura tidak peduli. Ia mengambil koran, membukanya lebar-lebar, seakan berita cetak lebih aman daripada yang disiarkan langsung.

Aku, enam belas tahun, hanya diam. Tubuh belajar cepat ketika sedang takut: jangan bergerak, jangan membuat suara, dengarkan. Liem, yang baru berusia sembilan tahun, merangkak naik ke pangkuan Mama, kepalanya menempel pada lengan sang mama, seolah bisa bersembunyi dari suara radio.

Radio itu melanjutkan laporannya:

“…sejumlah toko di daerah Pecenongan dan Harmoni tutup lebih awal… warga diminta tetap tenang dan tidak melakukan tindakan yang memperkeruh keadaan…”

Kata tenang selalu menjadi tanda bahwa tidak ada yang benar-benar tenang.

Sore itu keluarga besar datang: Paman Eddie Tan Kian Seng dan istrinya Evelyn, lalu Paman Tony Lie Chong Wei. Mereka membawa tas belanja berisi roti, susu, dan beberapa kaleng sarden—bukan oleh-oleh, tapi bekal. Wajah mereka menunjukkan rasa panik yang ingin disembunyikan namun gagal total.

“Ko Hock, kita harus pikirkan ini serius,” kata Paman Eddie begitu masuk ruang tamu. “Di luar sudah tidak aman.”

Papa hanya mengangguk tipis, menggeser cangkir kopinya dan mempersilakan mereka duduk. Aku dan Liem duduk di tangga, berpura-pura tidak mendengarkan. Liem menggoyang-goyangkan kakinya, tapi aku melihat kedua tangannya saling menggenggam terlalu erat.

Bibi Evelyn berbicara paling hati-hati, namun nadanya tetap tajam. “Kami sudah urus dokumen sementara. Kalian semua ikut kami ke Singapura. Sementara saja. Sampai keadaan stabil.”

Mama menatap Papa, seolah meminta satu kata saja. Papa menghela napas panjang, memijit pelipisnya, kemudian berkata:

“Kalian ini panik terlalu cepat. Indonesia tanah lahir kita. Kita tidak kabur dari rumah sendiri.”

Suaranya tenang, berat, dan tegas seperti biasanya. Tapi aku bisa melihat sedikit gemetar di ujung jarinya. Ia tidak sedang marah—ia sedang memaksakan keyakinan pada dunia yang sudah berubah arah.

Paman Tony mencondongkan tubuh. “Ko, ini bukan soal kabur. Ini soal keselamatan. Lihat Glodok sekarang. Toko-toko tutup sebelum jam tiga. Papan tulisan Mandarin dilepas. Orang-orang sudah takut.”

Mama menatap lantai. Aku tahu ia setuju, tapi ia selalu mengikuti Papa dalam segala hal. Mereka sering bertengkar soal hal kecil, tapi soal keselamatan keluarga—itu medan perang yang berbeda.

Bibi Evelyn menambahkan, suaranya lembut namun menekan, “Anak-anak kalian masih kecil. Lydia belum lulus SMU. Liem masih SD. Kita tidak bisa ambil risiko.”

Papa menatap kami di tangga. Tatapannya lama, penuh sesuatu yang tidak sanggup kuartikan pada saat itu. Sekarang aku tahu: itu tatapan seseorang yang mencoba menghitung berapa besar dunia yang mampu ia lindungi sebelum semuanya runtuh.

Ia menggeleng pelan. “Kita tinggal. Ini rumah kita.”

Keluarga besar saling pandang. Tidak ada yang berani memaksa. Tapi ketakutan mereka menggantung di ruangan seperti asap tak terlihat.

Hari-hari berikutnya bergerak seperti rekaman yang dipercepat namun dalam suasana yang semakin redup. Glodok, tempat kami tinggal dan membuka toko, berubah lebih cepat daripada yang bisa kuikuti. Jalanan yang biasanya ramai pedagang kini tampak seperti kota yang menahan napas.

Toko kami mulai tutup lebih awal. Papa memasang gembok tambahan di pintu. Mama meminta agar lampu papan nama dimatikan saja. “Supaya tidak menarik perhatian,” katanya lirih.

Aku menyusuri gang-gang menuju sekolah dengan perasaan aneh: seakan setiap orang di jalan sedang memikirkan hal yang sama, tapi tidak ada yang ingin mengatakannya keras-keras. Aku melihat papan tulisan Mandarin diturunkan satu per satu. Aku juga melihat beberapa toko memasang tanda “Milik Pribumi”—entah benar, entah untuk menghindari sesuatu.

Rumor penjarahan menyebar cepat seperti angin panas. Ada yang bilang sudah mulai di Pasar Baru. Ada yang bilang di dekat Sawah Besar. Ada yang bilang ada truk-truk orang tak dikenal berkumpul di luar kota. Tidak ada bukti, tapi tidak ada yang membantah.

Aku mulai sulit tidur. Setiap suara di luar membuatku duduk, menunggu sesuatu terjadi. Mama sering masuk ke kamar memeriksa kami. Liem tidur memeluk bantal, menempel terus pada Mama seperti anak kecil yang takut gelap.

Suatu malam, Papa duduk sendirian di meja makan. Cahaya lampu kuning membuat wajahnya tampak lebih tua dari umur sebenarnya. Aku turun dan duduk di seberang.

“Pa,” kataku. “Kalau semua orang pergi, kenapa kita tetap tinggal?”

Papa menatapku lama. “Karena meninggalkan rumah bukan solusi. Kita tidak salah apa-apa.”

“Tapi kalau orang-orang marah…?”

Ia memotongku pelan. “Orang marah karena banyak hal, Lydia. Politik. Ekonomi. Harga yang naik. Tapi rumah kita ini… kita bangun dari awal. Kita kerja di sini. Ini hidup kita.”

Aku ingin mengatakan bahwa amarah massa tidak peduli pada alasan yang masuk akal, tidak peduli siapa yang benar atau salah. Tapi aku hanya anak enam belas tahun. Dan Papa tidak butuh kuliah tentang ketakutan dari seseorang yang bahkan belum mengerti dunia.

Mama muncul dari dapur, membawa dua gelas air hangat. Wajahnya memerah kelihatan lelah. Mereka saling memandang, seperti dua orang dewasa yang sedang menyembunyikan sesuatu dari anak-anak mereka.

Kemudian Mama duduk, menatap Papa dengan mata yang nyaris pecah. Suaranya kecil, namun tegang.

“Hock… kalau keadaan makin parah… kita gimana?”

Papa menjawab dengan suara rendah, serak, “Kita hadapi. Kita keluarga. Kita tetap bareng.”

Jawabannya indah. Tapi kosong. Karena tidak ada yang tahu apa yang akan datang.

Di sekolah, orang-orang mulai berbicara dengan nada yang berbeda. Bukan lagi tentang ulangan atau tugas kelompok, tapi tentang siaran radio. Tentang panasnya situasi politik. Tentang siapa yang salah. Tentang isu rasial yang dilempar seperti bensin ke api.

Ada teman sekelasku yang berbisik terlalu keras: “Katanya yang bikin kacau itu orang-orang tertentu… ya, kamu tahu lah.”

Aku tahu maksudnya. Aku juga tahu ia ingin aku mendengar. Tapi aku tidak mengangkat kepala.  Rumor, amarah, gosip, provokasi—semua bercampur menjadi satu. Psikologi massa mulai terasa, bahkan sebelum massa itu benar-benar berkumpul. Seakan semua orang sedang mencari alasan untuk meledak.

Liem pulang sekolah dengan cerita yang membuat Mama hampir menjatuhkan piring.

“Teman Liem bilang… katanya nanti orang-orang bakal marah sama orang keturunan…”

Mama langsung memeluknya. “Tidak apa-apa. Jangan dengarkan itu.”

Tapi matanya memohon pada Papa, seolah meminta jawaban yang lebih kuat daripada pelukan.

Papa diam.

Malam menjelang lagi. Dan malam adalah waktu ketika kota benar-benar berubah. Suara semakin jelas karena jalanan semakin kosong. Aku duduk dekat jendela, memandangi jalan kecil di depan rumah kami.

Lampu toko-toko padam lebih awal. Pintu-pintu digembok. Namun suara tetap ada—sayup-sayup percakapan orang yang jalan terburu-buru, suara radio dari rumah tetangga, dan sesekali suara motor yang melaju cepat.

Mama tidur di kamar Liem malam itu. Katanya untuk menenangkan anak bungsunya itu. Sebenarnya, aku tahu: Mama sendiri juga takut tidur sendirian.

Aku mendengar sesuatu. Suara samar, sangat jauh, seperti detak yang berulang-ulang. Aku menahan napas.

Langkah kaki. Banyak.

Aku membuka jendela sedikit. Angin membawa suara yang lebih jelas.

Ratusan kaki.

Bukan langkah biasa. Bukan orang pulang kerja. Ini suara massa—ritmenya, kekompakannya, gaungnya yang dalam. Seperti gelombang yang mendekat.

Dari ujung jalan, suara itu semakin keras. Degamannya terasa di lantai rumah. Aku memanggil Papa dengan suara gemetar. Ia datang, memandang ke luar jendela, dan air mukanya berubah pucat untuk pertama kalinya.

“Masuk kamar,” katanya pelan.

Langkah kaki itu semakin dekat. Semakin penuh. Semakin menyatu menjadi satu suara: suara sejarah yang sebentar lagi menabrak kami.

Dan di ruang tamu yang gelap itu, aku tahu—retakan yang kami dengar selama berminggu-minggu akhirnya akan berubah menjadi robohan. Yang tidak bisa dihentikan siapa pun.

 

Aku tidak pernah lupa suara pertama yang menandai awal semuanya: gedebuk—suara benda keras menghantam rolling door toko kami. Bukan sekali, tapi berulang, cepat, seperti palu raksasa menghajar logam tipis.

Papa langsung berdiri dari kursi ruang tamu. Aku dan Mama membeku. Liem menempel pada pinggang Mama, wajahnya memucat. Suara langkah kaki massa dari ujung jalan berubah menjadi dentuman yang memenuhi gang kami, seperti gelombang yang sudah kehilangan bentuk, menjadi hitam, padat, dan hidup.

Aku mengintip dari celah jendela.

Mereka datang.

Bukan warga yang kukenal. Bukan tetangga. Ini orang-orang lain—wajah ditutup kain, beberapa membawa bambu, botol bensin, batu sebesar genggaman tangan. Ada yang tertawa, ada yang berteriak tanpa kata, seperti suara binatang liar yang akhirnya dilepas dari kandangnya.

Teriakan pertama terdengar dari ujung gang:

“BUKAAAN! BUKAAAN!”

Aku tidak tahu apakah perintah itu ditujukan kepada kami atau toko sebelah. Tapi tak ada yang berani menunggu penjelasan.

Papa mendorong kami ke arah dapur. “Masuk belakang! Sekarang!”

Namun massa sudah keburu memenuhi depan toko. Suara rolling door kembali dihantam. Keras. Gemuruhnya menggetarkan lantai seperti sedang ada truk lewat di dalam rumah.

Kemudian suara kaca pecah.

Aku tahu suara itu: kaca etalase toko kami.

Pecahnya seperti badai. Tajam, tinggi, dan pecah berseru-seru.

Mama menjerit kecil. Papa menoleh tajam. “Diam!”

Terdengar suara laki-laki berteriak dari luar:

“AMBIL! BAKAR! BAKAR!”

Aku tidak tahu siapa yang menyalakan korek api terlebih dahulu. Tapi aku mencium baunya—bensin yang disiramkan ke lantai toko. Bau yang menusuk dan hangat. Bau yang biasa kupakai untuk mengingat masa itu: bau sebelum segalanya terbakar.

Papa mengambil balok kayu yang biasa dipakai buat mengganjal pintu. Tangannya gemetar, tapi matanya tetap fokus. Ia memerintah sekali lagi, keras tapi hampir bergetar:

“Pegang adikmu. Jangan lepas apa pun yang terjadi.”

Itu perintah yang akhirnya tidak bisa kupenuhi.

Pintu toko dihantam lebih keras. Kali ini dengan sesuatu yang lebih berat. Mungkin linggis. Mungkin besi. Mungkin kaki puluhan orang yang menendang bersama.

Papa berlari ke bawah menuju pintu toko untuk menahan dari dalam.

Namun jumlah mereka terlalu banyak.

Linggis menembus celah rolling door.

Massa bersorak.

Mama memeluk Liem erat-erat. Aku berdiri di belakang mereka, mencoba menahan napas agar tidak gemetar. Jantungku berdetak keras sampai rasanya tidak sinkron dengan suara di luar.

Tiba-tiba pintu belakang—yang menuju ruang penyimpanan toko—dihantam seseorang dari luar.

Mereka berusaha masuk dari dua arah.

Papa berteriak, suara yang belum pernah kudengar sebelumnya:

“SUSY! LIDYA! AWAS!”

Tapi sebelum kami sempat bergerak lebih jauh, rolling door toko akhirnya jatuh. Suara besinya menabrak lantai seperti dunia runtuh.

Kami tak berkutik mengintip dari arah tangga atas.

Puluhan kaki masuk.

Teriakan memenuhi udara.

Benda-benda dilempar, beberapa diambil.

Rak-rak di dalam toko didorong ambruk.

Kotak-kotak berisi barang dagangan diinjak.

Seperti kawanan yang kehilangan kendali, massa merangsek.

Papa mencoba menghadang, tapi seseorang menarik kerah bajunya dari belakang.
Aku melihat adegan itu dengan jelas—sejelas rekaman investigatif yang terlalu sering kuputar ulang dalam pikiranku selama puluhan tahun.

Pukulan pertama datang dari sisi kiri.

Keras.
Mengenai pipi Papa.

Ia berlutut.

Pukulan kedua datang dari batang kayu panjang. Mengenai tengkuknya. Kepala Papa tersentak.

Setelah itu, aku tidak bisa lagi melihat Papa sebagai Papa. Ia berubah menjadi seseorang yang tidak kukenal, tubuhnya dilipat paksa oleh pukulan, serangan, tendangan yang datang dari berbagai arah. Aku tidak bisa menghitungnya—terlalu banyak, terlalu cepat.

Aku mendengar suara Papa mencoba bicara. Tapi suaranya tenggelam oleh teriakan massa.

“HUJANIN! HANTAM!”

Seseorang menyiramkan cairan dari botol ke rak kayu. Api menyala begitu cepat seperti sudah menunggu dari tadi. Cahaya oranye memantul di dinding toko, membuat bayangan-bayangan bergerak liar seperti makhluk lain yang ikut menonton.

Mama berlari menuruni tangga mencoba menarik Papa, tapi dua orang mendorongnya keras sampai ia jatuh menimpa Liem yang tadi ikut turun bersama . Aku berlari ke arah mereka, menarik lengan mereka agar bisa berdiri. Mama memeluk adikku erat-erat, tubuhnya gemetar hebat.

Liem menangis tanpa suara—hanya mulutnya terbuka, nafas terputus-putus.

Massa semakin banyak masuk, mendorong ruangan menjadi sesak dan panas. Suara api mulai stabil, seperti napas raksasa yang baru bangun dari tidur panjangnya.

Di antara kekacauan itu, seseorang menabrak kami dari samping. Aku hampir jatuh. Peganganku pada Liem goyah. Mama juga terdorong. Dan di momen itu—

Tangan kami terlepas.

Aku memegang pergelangan tangan Liem beberapa detik sebelumnya. Tapi satu dorongan besar dari belakang memisahkan kami seperti potongan kertas yang disobek.

Aku melihatnya tergelincir ke belakang.

Lalu didorong lagi.

Dan lagi.

Dan lagi.

Sampai tubuh kecilnya tenggelam dalam lautan kaki orang dewasa.

Aku berteriak memanggilnya:

“LIEM! LIEM!!”

Aku mencoba menerobos, tapi tubuh-tubuh di depan seperti tembok. Tanganku meraba udara kosong. Setiap dorongan membawaku semakin jauh darinya.

Sekilas aku melihat tangan kecilnya terjulur di antara kaki-kaki yang berlari.

Lalu lenyap.

Mama menjerit namanya begitu keras sampai suaranya pecah.

“LIEM TAN! WEI! JIEEEE!”

Seorang lelaki bertopeng menendang kami mundur, memerintahkan yang lain:

“MASUKIN MEREKA! KE DALAM!”

Kami didorong kembali ke ruang tengah. Mama berusaha melawan, tapi lengannya dipelintir. Aku mencoba menarik bajunya tapi terpisah lagi oleh orang yang berbeda.

Api dari toko sudah merambat ke langit-langit depan. Asap mulai masuk ke ruangan, membuatku batuk keras. Mata Mama berair.

Papa?
Aku tidak melihatnya lagi.

Massa menutupinya.

Seseorang menendang pintu ruang tengah kami. Engselnya bergetar. Setiap hentakan membuat debu turun dari langit-langit.

Mama memanggil Liem terus-menerus, tanpa jeda, seperti mantra yang putus:

“Liem… Liem … Liem … Di mana kamu… Liem Tan Wei-Jie…”

Aku memegang tangan Mama. Untuk pertama kalinya, tangan Mama sedingin jendela pada malam hujan.

Di luar, massa berteriak semakin keras.

“BAKAR!”
“JARAH!”
“ROBOHKAN!”

Pintu ruang tengah semakin dipukul, kayunya pecah sedikit demi sedikit.

Seseorang di luar tertawa keras.

Seseorang menendang lagi.

Engsel terangkat.

Aku tahu apa yang akan terjadi.

Kami berdua tahu.

Mama menatapku, wajahnya putih seperti kapur. Napasnya pendek. Ia berkata dengan suara yang bahkan tidak bisa disebut suara lagi:

“Lidya… pegang mama… jangan lepas…”

Aku mengangguk, meski tubuhku gemetar sampai lututku terasa tidak ada.

Pintu itu dihantam sekali lagi.

Kayunya retak penuh. Retakan seperti jaring laba-laba.

Satu hentakan terakhir—

dan pintu rumah kami dijebol.

Massa masuk bersamaan.

Seakan dunia di luar akhirnya menelan rumah kami bulat-bulat.

Dan segalanya berubah selamanya.

 

Dengan tangan gemetar dan tenggorokan kering, hanya ada langkah kaki yang menusuk lantai seperti derap sepatu tentara, tapi ini bukan tentara. Ini massa—dan mereka tidak datang untuk melindungi.

Aku tidak tahu siapa yang menarik rambutku lebih dulu. Tidak tahu tangan siapa yang memisahkan aku dari Mama. Yang aku tahu hanya tubuhku yang terangkat, ditarik ke ruangan samping seperti barang yang sudah tidak dianggap manusia. Mama sempat menggenggam lenganku, tapi genggaman itu terlepas saat seseorang mendorongnya keras, membuat tubuhnya menabrak dinding. Suara napasnya terengah, tapi masih memanggil namaku.

Lalu aku diseret ke ruangan belakang, tempat penyimpanan stok bahan kue. Pintu ditutup dari luar. Terkunci.

Bunyi itu masih menjadi salah satu suara yang paling sulit kutelan—bukan karena kerasnya, tapi karena maknanya: aku dan Mama dipisahkan agar tidak bisa saling menjadi saksi. Atau mungkin agar kami justru menyaksikan dari jauh tanpa mampu menolong.

Aku mendengar suara Mama terlebih dulu. Terdengar seperti seseorang yang mencoba tetap bermartabat meski sedang dicekik ketakutan. Ada suara tawa laki-laki, suara gesekan keras, sesuatu jatuh menimpa lantai. Lalu suaranya berubah—menjadi paduan antara memohon dan menahan sakit. Aku tidak bisa melihat apa yang terjadi. Aku merapatkan tubuhku ke dinding, seolah bisa menembusnya dan mencapai Mama. Tapi dinding itu dingin seperti logam, tidak peduli siapa yang menangis di baliknya.

Suara Mama terus menipis, lalu—di antara hiruk-pikuk—terdengar satu napas panjang yang terdengar seperti orang yang melepaskan sesuatu yang terakhir. Setelah itu… sunyi. Sebuah sunyi yang menggerus sarafku lebih tajam daripada teriakan mana pun.

Aku mencoba memanggilnya. “Ma—”

Tapi suara itu mati di tenggorokan. Ketakutan terlalu tebal.

Tidak ada waktu untuk menunggu. Tidak ada waktu untuk berdoa. Pintu dibuka keras, dan cahaya remang dari luar masuk bersama tiga atau empat bayangan. Aku tidak ingat jumlahnya dengan pasti—PTSD mengubah detail menjadi kabur, meski rasa takut tetap setajam pisau.

Seseorang mencengkeram bahuku. Seseorang lagi menahan kedua lenganku. Aku masih bisa mencium bau mereka: keringat asam, debu jalanan, alkohol murahan. Bau bensin menempel di baju salah satu dari mereka. Setiap napas mereka membuatku ingin mual.

Aku ingat gigiku bergemeletuk.

Aku ingat mencoba menendang, memukul, menggigit.

Aku ingat mereka tertawa.

Lalu ingatan itu pecah—seperti kaca dilempar ke tanah.

Potongan pertama:

Lantai dingin menyentuh pipiku. Begitu dingin sampai aku hampir bisa menyamakan suhu dingin itu dengan tubuhku sendiri. Aku ingat berusaha menggeser wajahku dari lantai, tapi seseorang menekan bahuku hingga aku tidak bisa bergerak.

Potongan kedua:

Ada suara seperti kain disobek. Aku tidak tahu apa itu. Aku mencoba menutup telingaku dengan kedua tangan, tapi lengan seseorang menariknya kembali, memakuku seperti marionet yang dipaksa.

Potongan ketiga:

Seseorang berbisik di telingaku. Kalimat itu tidak jelas, tapi nadanya… nadanya membuat seluruh tubuhku membeku. Bukan kata-katanya yang menghantuiku—karena sampai sekarang aku tak bisa mengingat persisnya—melainkan rasa jijik yang disuntikkannya ke dalam tulang-tulangku.

Potongan keempat:

Aku pingsan. Bukan sekali. Berkali-kali. Setiap kali sadar, ruangan berbeda: kadang gelap, kadang bercahaya dari api di luar, kadang hanya bayangan orang-orang yang bergerak cepat. Waktu hilang bentuknya; mungkin menit, mungkin jam. Tubuhku terasa bukan tubuhku.

Potongan kelima:

Rasa metalik darah di mulutku. Aku menggigit sesuatu—atau mungkin seseorang. Aku tidak tahu.
Tawa kasar sebagai balasannya.

Potongan keenam:

Seseorang menutup mulutku dengan sepotong kain. Kain itu bau bensin. Setiap tarikan napas seperti menghirup ketakutan orang lain.

Yang mengejutkan bukanlah rasa sakit. Melainkan rasa hampa yang muncul di tengah-tengahnya. Aku ingat satu saat di mana aku berhenti merasakan seluruh tubuhku. Seolah otakku memutuskan bahwa untuk bertahan, ia harus memisahkan diriku ke tempat lain. Tempat tanpa suara. Tanpa sentuhan. Tanpa tubuh.

Sebuah mekanisme yang kemudian kupelajari sebagai dissociation—cara alamiah otak untuk menjaga sisa jiwamu tetap hidup ketika tubuh tak mampu lagi menanggung realita.

Meski begitu, aku tetap mendengar mereka.

Retakan kayu.

Tawa yang mabuk kekuasaan.

Langkah kaki berpindah dari Mama ke aku dan sebaliknya seperti memilih korban berikut di pasar gelap. Dan saat semuanya akhirnya tenang—benar-benar tenang—aku tidak tahu apakah dunia sudah berhenti berputar atau aku yang berhenti menjadi manusia.

Aku terbangun dengan rasa perih di seluruh tubuh, seperti habis dilempar keluar dari ketinggian. Ruangan itu hancur berantakan: lemari terbalik, kaca pecah di lantai, kipas angin jatuh, bahan-bahan kue berserakan di lantai. Ada bercak-bercak gelap di dinding yang tidak ingin kuteliti lebih lanjut.

Aku tidak tahu berapa lama aku tidak sadarkan diri. Dari luar, suara massa sudah menghilang. Yang tersisa hanya bunyi api menjilat udara, dan sesekali suara bangunan runtuh di kejauhan.

Aku mencoba duduk, tapi lantai terasa seperti menelan tubuhku. Aku menahan dinding, mendorong diriku perlahan. Napasku tersengal, dada terasa sempit. Seluruh tubuhku seperti memar yang menyatu.

Lalu aku melihat sesuatu di ruang tengah.

Mama.

Tubuhnya tergeletak menghadap pintu, seperti seseorang yang mencoba melindungi rumah meski sudah tidak sanggup lagi berdiri. Rambutnya yang biasanya rapi kini kusut dan tercabut di beberapa bagian. Tubuhnya tidak dibalut sehelai pun kain. Ada bekas luka yang terlalu banyak untuk kuhitung.

Aku merangkak mendekatinya.

Tapi saat ujung jariku menyentuh tangannya, aku tahu tubuh itu sudah dingin.

Aku tidak berteriak.

Tidak menangis.

Tidak melakukan apa pun.

Ada satu titik patah dalam diriku yang terlalu dalam untuk bisa bereaksi. Aku hanya menunduk dan menyentuhkan keningku ke lantai. Bukan berdoa—lebih seperti menyerah.

Aku tidak tahu bagaimana aku menemukan celah di samping ruko. Mungkin massa merusaknya saat mencoba menembus dari berbagai sisi. Mungkin angin malam yang membantu merobeknya. Aku tidak ingat. Yang kutahu hanya aku merangkak ke luar seperti binatang yang keluar dari perangkap.

Udara malam terasa pahit.

Asap tebal menampar wajahku.

Tapi setidaknya tidak ada lagi tangan yang menarikku.

Aku merayap lewat pintu samping ruko, tubuhku goyah, darah mengering di kulitku. Setiap langkah seperti menginjak bara.

Di luar, Glodok sudah berubah menjadi reruntuhan hitam. Lampu padam. Api menyala dari beberapa toko. Bau bensin, plastik terbakar, dan darah bercampur menjadi aroma yang menusuk seperti luka yang dibuka paksa.

Aku tidak tahu ke mana harus pergi.

Tidak tahu apakah Liem Tan dan papa masih hidup.

Tidak tahu apakah dunia masih punya ruang untukku setelah malam itu.

Yang kutahu hanya satu:

Aku berhasil keluar.

Setengah hidup.

Separuh mati.

Dan gelap yang kutinggalkan di belakangku masih terus mengikutiku sampai hari ini.

 

Aku tidak ingat bagaimana aku keluar dari rumah. Yang tersisa hanya potongan ingatan seperti foto-foto yang dibakar: kilatan cahaya api, bau daging terbakar, suara laki-laki tertawa, lalu tanah yang dingin menelan pipiku. Saat aku terseret keluar atau saat aku merangkak sendiri, aku tidak pernah tahu. Yang kutahu hanyalah aku berada di luar. Aku ingat lututku menghantam paving kasar, ingat tanganku meraba tembok yang terasa basah entah oleh air atau darah. Kemudian gelapnya jalan sempit di belakang toko seperti menelan tubuhku.

Aku berjalan tanpa arah, atau mungkin tubuhku yang bergerak sendiri. Nafasku terbakar. Kaki kiriku menyeret seperti bukan milikku. Setiap langkah terasa seperti berjalan di atas kaca. Aku tidak bisa berhenti. Jika aku berhenti, mereka akan menemukan aku seperti menemukan Mama—terbaring dengan mata setengah terbuka, seolah masih mencoba memanggilku.

Aku tidak bisa berhenti.

Lalu gelap itu menjadi semakin pekat.

Sampai semuanya padam.

Aku sadar dengan sensasi aneh di kulitku—kain kasar, dingin, bukan bajuku. Hidupku selama ini selalu dimulai dengan suara Papa memanggil, atau Mama mengetuk pintu, atau Liem Tan yang menyeret bantal ke kamarku.

Tapi pagi itu (atau malam?) aku terbangun dengan suara ember jatuh.

Dan napas asing.

Aku membuka mata.

Atap kayu usang, dinding triplek tambal-sulam, lampu minyak yang berkedip. Bau anyir bercampur kayu lembab memenuhi udara. Dan tiga wajah memandangku—wajah yang tak kukenal, wajah yang langsung membuat detak jantungku meledak.

Aku berteriak.

Meronta seperti binatang yang terluka. Aku menyingkir ke sudut kasur tipis itu, menarik baju lusuh yang bukan punyaku, memeluk tubuhku sekuat mungkin seolah baju itu bisa melindungi.

“A-aku tidak mau! Jangan sentuh aku! Jangan—jangan—”

Wajah-wajah itu kaget. Laki-laki paruh baya, perempuan dengan kerudung lusuh, dan anak kecil yang mengintip dari balik kaki ibunya.

Aku melihat laki-laki itu, tubuhnya besar, kulitnya gelap terbakar matahari, tangan kasarnya penuh kapalan.

Dan sesuatu dalam otakku langsung terpicu: masa kemarin, suara tawa, tangan-tangan yang menarik rambutku…

Aku menjerit lagi, lebih keras dari yang pernah aku lakukan seumur hidup.

“JANGAN! JANGAN—JANGAN SAKITI AKU!”

Perempuan itu langsung menutup mulutnya sendiri, gemetar melihat reaksiku. Laki-laki itu mengangkat kedua tangannya pelan, bukan mendekat, bukan mundur, hanya diam seperti orang yang takut gerakannya akan membuatku pecah.

“Neng… tenang dulu. Kami... Kami nggak akan sakiti kamu,” katanya dengan suara paling pelan yang pernah kudengar dari seorang pria.

Tapi suara pria—bahkan pelan—setelah semalam, terasa seperti pisau di tengkukku. Aku menyusut ke pojok kasur, punggungku menempel ke dinding triplek yang goyah.

Perempuan itu mendekat setengah langkah.

“Ini… baju saya, Neng. Saya… saya cuma… saya cuma pakaikan karena… Neng kedinginan…,” ucapnya terbata. Matanya berkaca-kaca, bukan karena takut padaku… tapi karena takut aku takut padanya.

Tapi aku tidak bisa berhenti gemetar.

Aku masih ingat tangan-tangan itu. Nafas mereka. Berat tubuh mereka.

Aku tidak bisa berhenti.

Aku hanya menangis seperti anak kecil.

Aku tidak tahu berapa lama aku menangis. Perempuan itu duduk di lantai, tidak berani mendekat, hanya menjaga jarak, memegang semangkuk bubur tipis yang uapnya mengepul pelan. Laki-laki itu berdiri di pintu, memalingkan wajahnya seakan aku adalah makhluk rapuh yang bisa hancur hanya dengan tatapan.

Anak kecil itu—laki-laki umur tujuh tahun, mungkin—mengintip dari balik pintu kamar dengan boneka kayu patah di tangannya.

“Aku… Dika,” katanya pelan, setengah berbisik.

Aku tersentak mendengarnya. Wajah anak itu membuatku memikirkan Liem Tan.

Tulang-tulangku langsung terasa runtuh.

Aku menutup wajah dengan kedua tangan dan mulai menangis lagi.

Hari-hari berikutnya tidak berlangsung seperti hidup, tapi seperti lembar-lembar catatan yang hilang halamannya.

Aku tahu nama perempuan itu adalah Bu Rina. Ia bergerak seperti orang yang takut suaranya akan merusak sesuatu yang rapuh. Ia memberi bubur ke mulutku dengan sendok kayu kecil, tapi setiap aku melihat tangan orang dewasa, tubuhku langsung kaku.

Aku memuntahkan buburnya.

Ia tidak marah. Tidak tersinggung. Ia hanya menangis diam-diam sambil menyeka mulutku yang belepotan.

Pak Surya, suaminya, bekerja serabutan di pasar. Setiap ia pulang, ia selalu mengetuk pintu dua kali sebelum masuk, seperti memberi kode agar aku bisa bersiap. Ia menutup jendela dan pintu dengan kain-kain tebal agar tidak ada tetangga tahu ada gadis Tionghoa setengah mati di rumah mereka.

“Kalau ada orang tahu… kita bisa dibakar juga,” katanya ke istrinya dengan suara rendah. Tapi aku mendengar.

Meski begitu, ia tetap menyembunyikanku.

Hari keempat, saat aku bangun dari demam panjang, Dika duduk di sisiku dengan boneka kayu kecil. Wajahnya polos. Tidak mengerti dunia orang dewasa. Tidak mengerti teror yang orang dewasa lakukan.

“Aku bikin ini buat Kakak,” katanya sambil menyodorkan boneka kecil itu.

Aku memandangnya lama. Tanganku gemetar saat menyentuh boneka itu. Dika tersenyum lebar. Senyum yang terlalu bersih untuk dunia yang kotor.

Aku mulai menangis.

Dika bingung.

Bu Rina menepuk punggungnya perlahan, lalu memeluknya agar ia mundur.

Tapi entah bagaimana, boneka itu membuatku merasa… tidak sepenuhnya sendirian.

Aku mulai sedikit bicara seminggu setelahnya.

Satu kata.

“Sakit.”

Bu Rina mengangguk tanpa bertanya bagian mana.

Ia mengambil kain bersih, membasahi dengan air hangat, lalu mengusap pelipisku. Gerakannya hati-hati, seperti menyentuh sayap kupu-kupu.

“Sebentar lagi baikan, Neng…”

Tapi aku tahu itu bohong. Aku tidak akan “baikan” seumur hidup.

Pada hari kesembilan, aku mendengar suara logam beradu dari luar. Seperti pipa besi dijatuhkan. Tubuhku langsung memaku kasur. Aku kembali ke mode bertahan hidup tanpa sadar: napas menahan, tubuh kaku, mata mencari jalan keluar.

Pak Surya masuk cepat-cepat.

“Itu cuma gerobak jatuh, Neng. Bukan apa-apa.” Ia menatapku lama. “Neng masih aman. Selalu aman di sini.”

Aman.

Itu kata yang makin terasa asing.

Dua minggu setelah mereka menemukan aku, mereka memutuskan membawaku ke sebuah gereja kecil yang menjadi pos darurat untuk korban-korban.

Bu Rina memakaikan aku baju lengan panjang miliknya.

“Saya nggak bisa jaga kamu selamanya, Neng… nanti kalau ada yang lihat, keluarga saya bisa mati.”

Aku mengangguk. Meski berat, aku mengerti.

Pak Surya mengantar dengan rute memutar, melewati lorong-lorong sempit yang seperti labirin. Setiap suara keras membuatku kembali meremas lengannya.

Saat tiba di gereja, relawan mencatat namaku dan beberapa orang lainnya.

Mereka membaca daftar korban meninggal.

Ong Yauw-Kin.

Andreas Tjahjadi Tjong-Ho.

Wijaya Lie Keng-Ho

Hendrik Tan Kian-Hock.

Susy Lie Yun-Xia.

Rusli Ong Tiong-Kiat.

Lily Zhi-Ling.

Halim Hui-Zhen.

Yohan Ming-Yu.

Steven Cou...

Katanya, korban-korban ditemukan di titik berbeda, dengan kondisi yang tidak dijelaskan detailnya. Mereka tidak perlu menjelaskan; aku sudah melihat cukup banyak.

Air mataku mengalir begitu saja ketika mendengar nama orang tuaku disebutkan, lalu dengan terbata aku menanyakan nama Liem Tan Wei-Jie.

Mereka menggeleng.

Tidak ada namanya di daftar korban, tidak ada di daftar selamat, tidak ada di daftar hilang. Tidak ada apa-apa.

Seakan ia diambil oleh gelap, dan gelap menelannya bulat-bulat.

Aku tidak menangis.

Tidak ada air mata tersisa.

Sebelum aku dibawa ke ruang perawatan, aku menoleh.

Pak Surya berdiri di ujung pintu gereja. Tangannya mengepal canggung, seperti bingung harus apa. Bu Rina memeluk Dika yang melambai kecil ke arahku dengan bonekanya.

Aku ingin berlari ke mereka. Atau setidaknya mengatakan terima kasih. Tapi suara tidak keluar. Tenggorokanku seperti tercerabut.

Yang bisa kulakukan hanya menatap.

Menatap tiga orang yang tidak pernah kukenal, tetapi menyelamatkan hidupku ketika dunia ingin membunuhku.

Rasa syukur itu jauh lebih sakit daripada luka mana pun.

Karena aku tahu… tanpa mereka, aku tidak akan ada di sini.

Dan tanpa mereka, tidak ada yang tersisa dari keluarga Tan.

 

2 tahun kemudian aku kembali ke Glodok sebelum matahari naik penuh, ketika toko-toko belum membuka pintu, dan suara kota baru sedikit hidup. Dalam cahaya yang belum stabil itu, semuanya terlihat seperti foto lama yang terlalu sering disentuh—kusam, tapi masih memuat sesuatu yang terasa seperti kebenaran.

Aku berdiri di depan ruko yang dulu milik keluargaku. Di masa kecilku, papan nama kuning dengan huruf merah menyala itu selalu tampak seperti bendera kecil yang menandai bahwa kami eksis, bahwa kami punya tempat di kota yang sering berkata sebaliknya. Sekarang papan itu sudah tiada. Pemilik barunya mengecat dinding depan dengan warna biru muda yang memantulkan sinar lampu toko elektronik mereka.

Aku menatap pintu besi itu lama sekali. Bagian bawahnya berkarat, tapi masih terlihat kokoh—seperti seseorang yang menua tanpa sempat beristirahat.

“Rumah,” gumamku kecil, meski kata itu sekarang lebih mirip reruntuhan daripada tempat tinggal.

Orang-orang lalu-lalang tanpa memperhatikan. Mungkin mereka mengira aku hendak membeli sesuatu. Atau mereka sudah terlalu terbiasa melihat seseorang berdiri lama di depan bangunan yang tidak lagi miliknya. Ini Jakarta: kota di mana kehilangan adalah rutinitas seperti bus yang datang terlambat.

Aku mengeluarkan sebungkus lilin kecil dari tas. Lilin warna putih, tipis, dibeli dari toko hio di sudut pasar tadi. Aku menyalakannya, lalu meletakkannya di trotoar tepat di sisi kiri pintu.

Lalu aku menyebut nama itu. Nama yang jarang sekali berani kuucapkan dengan suara penuh.

“Liem Tan Wei-Jie.”

Angin pagi membuat apinya goyah, tapi tetap bertahan. Aku jongkok di depan lilin itu. Aku tidak menangis, setidaknya tidak pada awalnya. Tapi dadaku terasa seperti ada batu yang pelan-pelan menggeser posisinya, menekan lebih dalam.

Sampai hari ini, tidak ada satu pun surat resmi yang menyebut adikku meninggal. Tidak ada pencarian. Tidak ada status korban. Hanya kata-kata samar dari saksi, rumor dari tetangga, dan catatan LSM yang menuliskan namanya di daftar “diduga hilang, kemungkinan tewas.” Tahun 1998 memakan ribuan cerita; adikku adalah salah satu yang ditelan bulat-bulat.

Beberapa bulan lalu, keluarga besar menawariku pindah ke Singapura. “Kau sudah terlalu lama berjuang sendiri,” kata paman Eddie. “Kau berhak hidup tenang.”

Aku ingat menatap kopinya yang sudah dingin. Butir-butir gula masih mengendap di dasar gelas. Aku tidak menjawab cepat. Aku memikirkan semua hal yang seharusnya membuatku bilang “ya”: rasa aman, jarak dari trauma, peluang kerja, lingkungan yang tidak mempertanyakan darahmu.

Namun ada bayangan Papa duduk di depan ruko ini, bercelana pendek kodok, membuka kardus barang dagangan, tersenyum dengan percaya diri yang kini terasa naif.

“Papa mati karena percaya negeri ini,” kataku pada paman. “Entah bodoh atau cinta… tapi aku ingin menyelesaikan ceritanya di sini.”

Paman terdiam. Tidak membantah. Tidak mengerti. Dan aku tidak menuntutnya mengerti.

Cinta adalah sesuatu yang sering kali hanya bisa dibaca dari reruntuhan—dari apa yang ditinggalkan orang-orang ketika mereka tidak lagi ada.

Pelanggan pertama toko elektronik itu datang ketika lilinku tinggal separuh. Seorang bapak dengan helm digantung di tangan. Ia menatapku sebentar—mungkin penasaran kenapa ada seorang perempuan berdiri dan menatap lilin dengan begitu serius—lalu masuk ke toko tanpa komentar. Pemiliknya membuka pintu dari dalam dan memandang ke arahku sekilas. Tidak marah, tidak bingung. Hanya tatapan cepat yang mengatakan: “Saya tidak mau terlibat.”

Aku mengerti. Tahun 1998 mengajari banyak orang cara bertahan: diam.

Aku berjalan ke sisi jalan, tempat dulu Mama sering menunggu angkot sambil memegang jinjingan berisi roti sisa toko roti tua. Sekarang toko roti itu sudah berubah menjadi tempat menjual suvenir.

Di sana, aku berdiri diam. Aku mendengar suara pedagang bakso dorong. Juga suara batuk seorang kakek yang duduk di kursi plastik biru. Aku mencatat semua itu di kepalaku meski sesungguhnya yang ingin kucatat adalah ini: aku pulang, tapi rumahku tidak lagi ada.

Seseorang menyenggol bahuku ketika lewat. Aku menggumamkan “maaf” refleks. Mereka tidak menoleh. Aku melangkah ke gang kecil di dekat pasar, tempat Mama dulu terakhir terlihat menangis mencari tahu keberadaan Liem. Gang itu kini dipenuhi motor yang diparkir, kabel menjuntai, dan bau gorengan yang tengik.

Aku kembali ke ruko bekas keluargaku. Lilin itu akhirnya padam sepenuhnya, meninggalkan jejak lilin meleleh yang memanjang seperti sungai kecil. Aku mengambil sumbunya yang tersisa, menyimpannya dalam saku baju. Sesuatu yang kecil. Sesuatu yang bisa kubawa pulang sebagai pengingat bahwa pagi ini benar-benar terjadi.

Aku berjalan perlahan meninggalkan ruko. Tidak ada upacara besar. Tidak ada momen dramatis. Hanya langkah kaki yang terasa berat tapi mantap—seperti seseorang yang akhirnya menerima bahwa hidup bukan tentang menemukan jawaban, tapi merawat luka lama tanpa membiarkannya membusuk.

Di ujung jalan, aku menoleh sekali lagi.

Bangunan itu tetap berdiri. Tanpa nama keluargaku. Tanpa sejarah kami. Tanpa apa pun yang tersisa kecuali dinding.

Tapi aku tahu, di dalam diriku, ruko itu tidak pernah benar-benar hilang.

Aku menarik napas. Lalu membiarkannya keluar perlahan.

“Setiap langkahku melewati Glodok,” kataku pelan, “aku mendengar Mei 1998 berteriak.”

Aku berhenti sejenak.

“Tapi aku juga mendengar bisikan kecil…” Suaraku melembut. “Aku masih hidup.”

Dan selama aku hidup, cerita kami tidak akan hilang.

Tidak peduli apakah kota ini memaafkan atau tidak.

Tidak peduli apakah sejarah ditulis ulang atau dihapus.

Tidak peduli apakah dunia menganggap kami penting atau hanya koma kecil dalam sebuah paragraf panjang tentang politik dan ekonomi.

Aku ada.

Dan itu cukup untuk hari ini.

Aku menatap jalanan yang sibuk, lalu melangkah.

Kali ini, langkahku tidak gemetar.

Kota ini tidak pernah memintaku kembali.

Tapi aku datang juga.

Dan aku akan tetap berdiri.

 

Begitulah kisah traumaku terhadap kerusuhan Mei 1998. Dulu aku mengira trauma hanya akan hilang kalau berani melupakannya. Sekarang aku tahu: itu tidak akan hilang. Tapi ia bisa belajar duduk diam di sudut ruangan kepala kita, tidak lagi berteriak setiap kali ada suara keras.

Aku pernah membaca koran yang mengatakan Mei 1998 adalah “tragedi.” Kata itu terdengar bersih sekali dibanding apa yang sebenarnya terjadi. Tidak ada kata yang cukup kotor untuk menggambarkan apa yang dilakukan orang-orang ketika kemarahan massal menguasai tubuh mereka.

“Liem Tan Wei-Jie,” gumamku lagi. “Aku masih mencarimu. Bahkan kalau dunia sudah berhenti.”

Kadang aku membayangkan kemungkinan yang berbeda: mungkin ia berhasil kabur. Mungkin ia tinggal di kota lain, menyembunyikan nama, menikah, punya anak. Tapi pikiranku selalu kembali pada satu hal: adikku tidak mungkin pergi tanpa mengabari Mama. Ia terlalu setia untuk itu.

Dan jadi aku tahu. Jawabannya itu.

Jawaban pahit yang kota ini tidak pernah mau ucapkan.


Share:
Location: Glodok, Kec. Taman Sari, Kota Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta, Indonesia